MENYUSUN KEKUATAN




Rahiang Sanjaya memacu kudanya mengikuti Puspasari yang melaju kencang seolah dikejar setan.

"Luar biasa ilmu meringankan tubuhnya Ibi Puspasari...bisa memacu kuda secepat ini dalam keadaan gelap" batin Rahiang Sanjaya.

Setelah memacu kuda ke arah timur meninggalkan wilayah Sagara Anakan, menjelang pagi Puspasari menghentikan laju kudanya lalu melompat turun diikuti oleh Rahiang Sanjaya.

"Gusti Rakean...sebentar kita berhenti di sini sambil menunggu Kakanda Surawisesa" ujar Puspasari

"Baiklah Ibi" Rahiang Sanjaya menjawab singkat.

Tak lama berselang muncul kuda yang ditunggangi Senapati Surawisesa.

"Ah...Dinda kenapa menunggu di sini, lebih baik langsung masuk saja" Senapati Surawisesa berkata kepada Puspasari sambil turun dari kudanya.

"Gusti Rakean, mohon ikuti saya. Di sini mungkin kita belum aman" sambungnya sambil mengangguk hormat ke arah Rahiang Sanjaya.

Senapati Surawisesa dan Puspasari menuntun kudanya ke balik tebing karang yang cukup tinggi diikuti oleh Rahiang Sanjaya.

"Hmm..kemana mereka akan membawaku? Sepertinya mereka sangat mengenal daerah ini" batin Rahiang Sanjaya.

Ternyata di balik tebing karang yang terhalang oleh ilalang yang cukup pekat terdapat sebuah pintu gua yang sangat besar.

"Dinda, ajaklah Gusti Rakean masuk dulu. Aku akan menyembunyikan kuda, khawatir ada yang melihat" ujar Senapati Surawisesa kepada Puspasari.

Setelah Puspasari dan Rahiang Sanjaya masuk ke dalam gua, Senapati Surawisesa bergegas menuntun kudanya ke tempat yang rimbun dengan pepohonan dan semak belukar yang rapat.

Rahiang Sanjaya melangkahkan kakinya mengikuti Puspasari masuk ke dalam gua. Suasana di dalam cukup terang karena di ujung paling dalam, bagian atasnya terbuka sehingga sinar matahari dan udara sejuk bisa masuk.

"Gusti Rakean silakan duduk beristirahat. Hamba akan menyiapkan minuman dan makanan untuk kita" berkata Puspasari sambil berjalan menuju ke pojok gua dimana terdapat perapian dan beberapa alat masak yang tergantung rapi.

Tak lama berselang Senapati Surawisesa datang menyusul.

"Gusti Rakean tidak usah sungkan. Silakan duduk sambil menunggu makanan siap" ujar Senapati Surawisesa kepada Rahiang Sanjaya yang masih berdiri termangu mengagumi isi gua tersebut.

"Ah...terima kasih Mamang" ujar Rahiang Sanjaya tergagap lalu duduk di atas sebuah batu yang cukup licin, sepertinya biasa di jadikan tempat duduk.

Senapati Surawisesa lalu duduk di atas batu lain yang berhadapan dengan Rahiang Sanjaya.

"Gusti Rakean, maafkan hamba berdua karena membawamu ke tempat seperti ini" berkata Senapati Surawisesa.

"Ini adalah tempat yang sangat aman, tidak ada orang lain yang tahu" sambungnya.

"Tidak apa-apa Mamang, malahan aku berterima kasih kepada kalian berdua yang telah menyelamatkanku" jawab Rahiang Sanjaya.

"Gusti Rakean, bagaimana keadaan Gusti Prabu Bratasenawa? Ah..aku merasa berdosa sekali tidak mampu menjaga kehormatannya" suara Senapati Surawisesa terdengar bergetar.

Rahiang Sanjaya tertegun sejenak,

"Rupanya mereka memang sudah tahu kalau aku adalah putra Sang Sena. Lagipula tidak enak rasanya membohongi orang yang sangat setia kepada ayahku" batin Rahiang Sanjaya.

"Mamang, aku memang Rakean Jambri putra Sang Sena. Sejak aku meninggalkan lereng Gunung Merapi, ayahku memintaku agar menggunakan nama Rahiang Sanjaya" berkata Rahiang Sanjaya dengan mata berkaca-kaca teringat akan ayahnya.

"Ayahku memutuskan untuk ngahyang untuk kembali ke swargaloka" sambungnya.

"Benar rupanya apa yang aku dengar, Gusti Prabu Bratasenawa mengasingkan diri dan menjadi resi" batin Senapati Surawisesa sambil tercenung.

"Gusti Rakean..mohon ampun kalau lancang, hamba dengar akan menuju ke Denuh. Ada tujuan apa gerangan?" Senapati Surawisesa mencoba menyelidik.

"Ya Mamang, aku hendak menuju Denuh. Sesuai permintaan ayahku untuk menemui Aki Jantaka Sang Rahyangtang Kidul" ujar Rahiang Sanjaya.

"Ah..Gusti Prabu Bratasenawa memang berhati mulia, walaupun disakiti tapi ajrih dan hormatnya pada  orangtua tidaklah hilang. Semoga Gusti Rakean bisa mencontohnya" ujar Senapati Surawisesa lirih.

Baca juga : Rahiang Sanjaya #7

"Tadi aku sempat mendengar kalau Mamang adalah Senapati di Karatuan Galuh, bagaimana ceritanya sampai jadi nelayan seperti ini" Rahiang Sanjaya bertanya penasaran.

Baru saja Senapati Surawisesa akan menjawab, Puspasari datang menghampiri sambil membawa dua buah batok kelapa yang berisi air teh dan potongan gula aren di atas nampan.

"Silakan Gusti Rakean, sekedar menghangatkan tubuh sembari menunggu makanan siap" ujar Puspasari lembut.

Rahiang Sanjaya menganggukan kepalanya terkagum melihat Puspasari dan Senapati Surawisesa, ternyata keduanya setelah melepas samaran nelayan yang kumuh, terlihat masih cantik dan gagah diusia mereka yang tidak muda lagi.

"Iya Gusti Rakean silakan dicicipi, tempat ini sudah kami persiapkan untukmu jauh hari sebelum hari ini" Senapati Surawisesa mempersilakan.

"Apa maksudmu sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya? Apakah Mamang sudah tahu saya akan datang?" Rahiang Sanjaya keheranan.

Senapati Surawisesa menarik nafas panjang lalu matanya memandang langit-langit seperti mencoba menarik kembali ingatan yang sudah lama tersimpan.

"Gusti Rakean tentu masih ingat...peristiwa sepuluh tahun lalu, hamba dipercaya oleh Gusti Prabu Bratasenawa untuk menjadi Senapati yang bertugas untuk menjaga keamanan seluruh keluarga karatuan....tapi..." ucapan Senapati Surawisesa terhenti, air matanya sudah mendahului jatuh tanpa bisa ditahannya. Sementara Puspasari tersedu-sedu menangis di depan perapian, entah kenapa setiap kali mengingat masa-masa bersama Prabu Bratasenawa selalu membuatnya sedih tak berujung.

"Tapi apa Mamang? tolong ceritakan semuanya" Rahiang Sanjaya penasaran.

Setelah menenangkan diri, Senapati Surawisesa melanjutkan ceritanya.

"...tapi hamba gagal. Dimalam itu tiba-tiba Purbasora dengan didukung oleh pasukan dari Indraprahasta menyerang keraton. Pasukan pengawal diluar keraton telah hancur dan Purbasora menerobos masuk dan mencari Gusti Prabu Bratasenawa dan keluarga terutama mencari Gusti Rakean" Senapati Surawisesa menarik nafas panjang sebelum melanjutan ceritanya.

Rahiang Sanjaya dengan penuh penasaran menunggu kelanjutan cerita Senapati Surawisesa karena selama ini Sang Sena, ayahnya, tidak pernah menceritakan secara detail peristiwa tersebut. Yang dia ingat adalah sepanjang waktu Rahiang Sanjaya harus belajar ilmu agama bersama resi keraton, bahkan dirinya tidak mengenal banyak petinggi-petinggi di keraton ayahnya. Yang dia ingat adalah siang itu Sang Senna, ayahnya, memerintahkan dirinya untuk pergi ke wetan untuk belajar ilmu agama bersama guru resinya.

"Ditengah kekacauan itu, hamba melihat si jahanam Dangku (baca : Rahiang Sanjaya #6) akan membunuh ibunda Gusti Rakean...Gusti Ratu Sannaha..maka dengan segala kemampuan hamba menghalanginya. Hampir saja berhasil membunuh Dangku tiba-tiba Purbasora datang membantu sehingga akhirnya hamba terluka parah dan tidak sadarkan diri" Senapati Surawisesa kembali menarik nafas panjang.

"Dinda tolong kau ceritakan kejadian selanjutnya..." lirih suara Senapati Surawisesa meminta Puspasari melanjutkan ceritanya.

Puspasari yang sedang terisak-isak menangis di depan perapian bangkit berdiri lalu menghampiri Rahiang Sanjaya dan Senapati Surawisesa dan duduk andeprok.

Setelah mengusap mata dan wajahnya yang berurai air mata, Puspasari mulai bercerita.

"Setelah Kakanda Surawisesa berhasil menahan Dangku, hamba membawa Gusti Ratu Sannaha bersama bersama satu pasukan kecil pengawal ke luar keraton. Gusti Ratu Sannaha meminta hamba untuk menemaninya ke Kerajaan Kalingga meminta perlindungan" Puspasari menarik nafas panjang sambil kembali mengusap matanya yang kembali bercucuran air mata.

"Hamba dengan sangat terpaksa tidak bisa memenuhi keinginan Gusti Ratu Sannaha karena harus kembali ke dalam keraton untuk membantu Kakanda Surawisesa menyelamatkan Gusti Prabu Bratasenawa. Akhirnya Gusti Ratu Sannaha melanjutkan perjalanan ke Kalingga bersama 10 orang pengawal" Puspasari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Hamba merasa bersalah kepada Gusti Ratu Sannaha....karena tidak bisa menemaninya" lalu kembali Puspasari menangis.

Rahiang Sanjaya merasa terenyuh melihat dua orang kepercayaan ayahnya yang sepertinya sangat menyesal karena merasa gagal melindungi keluarga kerajaan.

"Sudahlah Ibi..tidak usah menyesal, ibundaku sudah aman di Kerajaan Kalingga. Tidak usah lagi dirisaukan" ujar Rahiang Sanjaya mencoba menghibur.

Puspasari menarik nafas panjang lalu meneruskan ceritanya.

"Menjelang tengah malam, hamba kembali ke keraton untuk ikut bertempur melawan pasukan Purbasora tetapi pertempuran sudah usai. Mayat berserakan, darah dimana-mana.....yang terdengar hanya teriakan-teriakan kemenangan dari pasukan Purbasora. Seluruh pasukan kami telah gugur...hamba mencoba mencari Kakanda Surawisesa dan Gusti Prabu Bratasenawa di antara mayat-mayat bergelimpangan"  Puspasari terdengar bergetar karena dendam yang membuncah.

"Menjelang pagi akhirnya hamba berhasil menemukan Kakanda Suawisesa yang terluka parah di pinggiran kali Sipathunan bertumpuk dengan mayat-mayat prajurit yang dibuang namun sayangnya tidak berhasil menemukan Gusti Prabu Bratasenawa" suara Puspasari terdengar sangatmenyesal.

"Dengan menggunakan kuda curian dari prajurit Purbasora, hamba membawa Kakanda Surawisesa ke wetan menemui guru kami berdua di Pananjung. Selama masa pengobatan, hamba mendapat kabar kalau Gusti Prabu Bratasenawa berhasil meloloskan diri ke wilayah wetan" Puspasari meneruskan ceritanya.

"Seperti itulah ceritanya Gusti Rakean, kami berada di Pananjung hampir sekitar 2 tahun selain untuk memulihkan luka hamba juga untuk menyempurnakan ilmu kesaktian bersama guru kami" Senapati Surawisesa menimpali.

"Pananjung di wilayah mana kah Mamang?" Rahiang Sanjaya penasaran.

"Di sini Gusti Rakean, dulu tempat ini adalah tempat bertapa guru kami berdua. Sekarang beliau sudah kembali ke swargaloka" jawab Senapati Surawisesa.

"Lalu bagaimana bisa Mamang dan Ibi menjadi nelayan di Sagara Anakan?" Rahiang Sanjaya makin penasaran.

"Setelah guru ngahyang, kami memutuskan untuk mencari Gusti Prabu Bratasenawa. Kami sudah mencari kemana-mana bahkan kami cari ke kerajaan Kalingga, tapi tidak berhasil kami temukan. Akhirnya dua tahun lalu kami memutuskan untuk menunggu Prabu Gusti Bratasenawa atau keturunannya di Sagara Anakan. Hamba berdua yakin, suatu waktu kami akan dipertemukan dengan Gusti Prabu Bratasenawa atau keturunannya" ujar Senapati Surawisesa.

"Dan rupanya Dewata mendengar permohonan kami, saat Gusti Rakean menghampiri hamba entah kenapa yang terlihat di mata adalah Gusti Prabu Bratasenawa. Kalian sangat mirip. Ditambah lagi mendengar tujuannya hendak menuju Denuh, hamba tambah yakin kalau Gusti Rakean adalah orang yang hamba berdua tunggu sejak lama" sambung Surawisesa.

Rahiang Sanjaya mengangguk-ngangguk sambil hatinya tidak henti mengagumi kesetiaan Senapati Surawisesa dan Puspasari kepada ayahnya.

"Sudah dulu ceritanya Gusti Rakean...sekarang kita makan dulu" Puspasari datang memotong sambil membawa bakul nasi yang mengepul panas dan potongan ikan kering yang telah dibakar.

"Ah..iya Gusti Rakean, mari kita makan dulu. Nanti kita sambung ceritanya" ujar Senapati Surawisesa.

Mereka makan dengan lahap mengisi perut yang memang terasa keroncongan setelah perjalanan berkuda hampir semalaman dari Sagara Anakan. Setelah selesai bersantap, Senapati Surawisesa kembali membuka pembicaraan deng Rahiang Sanjaya.

"Gusti Rakean, sebelum berangkat ke Denuh ada beberapa hal yang harus hamba sampaikan" ujar Senapati Surawisesa.

"Iya Mamang sampaikanlah...jangan sungkan" jawab Rahiang Sanjaya.

"Hamba mendengar kabar bahwa putra dari Resi Guru Wanayasa atau Rahyangtang Kidul yang bernama Bimaraksa membantu Purbosara saat penyerangan dulu. Bahkan konon Bimaraksa sudah diangkat menjadi Patih Karatuan Galuh yang baru, mendampingi Purbasora" urai Senapati Surawisesa.

"Hamba khawatir akan keselamatan Gusti Rakean jika mengunjunginya. Apalagi hamba mendengar kalau Patih Bimaraksa telah memerintahkan Dangku untuk menangkap Gusti Rakean" sambung Senapati Surawisesa.

"Betul Gusti Rakean, apalagi saat ini berita kematian Dangku tentu sudah sampai ke Keraton Galuh...hamba takut mereka akan mengerahkan pasukan yang lebih besar" ujar Puspasari menimpali.

Sesaat Rahiang Sanjaya tercenung, apa yang disampaikan oleh Senapati Surawisesa dan Puspasari semuanya masuk akal. Tetapi kesetiaan atas perintah ayahandanya, Sang Senna, untuk mengunjungi salah satu kakeknya tersebut telah mengubur kekhawatirannya.

"Mamang dan Ibi jangan khawatir, aku akan lebih berhati-hati. Lagipula hidup dan mati bukanlah urusan kita. Aku sudah mendapat perintah ayahanda untuk menemuinya mana mungkin tidak dilaksankan" ujar Rahiang Sanjaya tenang.

"Anak yang luar biasa, tidak percuma Gusti Prabu Bratasenawa mempunyai anak sepertinya. Aku yakin suatu saat, anak ini akan menjadi raja yang besar" batin Senapati Surawisesa.

"Gusti Rakean jika memang itu sudah menjadi kehendakmu, maka bolehkah hamba memohon satu hal kepadamu?" akhirnya Senapati Surawisesa tidak bisa mencegah niat Rahiang Sanjaya untuk pergi ke Denuh.

Rahiang Sanjaya tersenyum.

"Apa permintaanmu Mamang? Jangan sungkan, jika mampu pasti akan aku kabulkan" Rahiang Sanjaya terdengar tenangdan menyejukkan.

"Gusti Rakean...hamba berdua sudah berjanji untuk mengabdi kepada Gusti Prabu Bratasenawa dan keturunannya. Oleh sebab itu perkenanlah hamba mendampingi dan menjaga Gusti Rakean dalam perjalanan ini" suara Senapati Surawisesa terdengar bergetar.

Rahiang Sanjaya terkejut mendengar permintaan Senapati Surawisesa, tidak menyangka bahwa keduanya akan sejauh itu kesetiaannya. Dipejamkan kedua matanya mencoba untuk berfikir dan mengambil keputusan yang tepat supaya tidak melukai dua orang tua ini. Ditariknya nafas panjang.

"Mamang..kalian berdua adalah abdi yang luar biasa, kesetiaan kalian kepada ayahanda sungguh membuat hatiku menangis bahagia. Namun..." Rahiang Sanjaya menghentikan ucapannya lalu dipandanginya Senapati Surawisesa dan Puspasari.

"Namun apa Gusti Rakean? Apakah kami berdua tidak layak mendampingimu?" Puspasari setengah histeris takut permintaannya ditolak. Senapati Surawisesa yang melihat istrinya sepertinya sangat kecewa mencoba untuk menenangkannya.

"Dinda...sabar..Dinda, tidak baik bicara seperti itu kepada Gusti Rakean. Apapun keputusannya harus kita terima" ujar Senapati Surawisesa sambil mengusap kepala Puspasari yang duduk di sampingnya.

Rahiang Sanjaya menarik nafas panjang.

"Mamang..Ibi..aku sangat menerima kesetiaan kalian bahkan saat ini ayahandapun mungkin sedang tersenyum bahagia melihat kita berada di sini" Rahiang Sanjaya menunjukkan kedewasaannya.

"Perjalananku masih jauh karena setelah dari Denuh masih harus lanjut ke kulon menemui Tohaan. Jika kalian berdua mengikuti perjalananku pasti akan sangat membuang waktu oleh sebab itu aku punya tugas lain untuk Amang dan Ibi"  sambungnya.

"Tugas apa Gusti Rakean? Tolong sampaikan, kami akan laksanakan dengan seluruh jiwa dan raga" Senapati Surawisesa antusias.

"Mamang dan Ibi...aku minta supaya berangkat ke Kabuyutan Sawal dan temuilah Rabuyut Sawal yang berkuasa di sana. Sampaikan salam hormat dari ayahku, Sang Senna, kepadanya" ujar Rahiang Sanjaya.

"Keahlian Mamang dan Ibi pasti akan dibutuhkan di Kabuyutan Sawal, kalau saatnya sudah tiba...aku pasti datang ke sana" sambungnya.

Senapati Surawisesa dan Puspasari saling pandang, tidak menyangka akan mendapat tugas seperti itu.

"Ampunkan hamba Gusti Rakean, hamba masih belum jelas maksud dari perintah ini" Surawisesa masih belum mengerti.

Rahiang Sanjaya tersenyum, sebelum menjawab pertanyaan Senapati Surawisesa diambilnya batok kelapa yang berisi air minum lalu diseruputnya dengan nikmat.

**Apa maksud perintah Rahiang Sanjaya kepada Senapati Surawisesa dan Puspasari?

Baca juga : Rahiang Sanjaya #2