SENAPATI SURAWISESA





Perkelahian pecah dan terbukti ternyata Rukman dan istrinya bukanlah orang sembarangan, Keduanya mampu mengimbangi serangan-serangan dari Kala Ireng dan Demawa hingga puluhan jurus.

“Bangsat…siapa sebenarnya mereka? Jurus dan gerakannya tidak asing” batin Senapati Dangku.

“Trang..trang”

Golok Kala Ireng terpental, tangannya terasa kesemutan. Kala Ireng melompat mundur sambil mengusap-ngusap pergelangan tangannya, nyalinya meleleh.

“Aki-aki ini tenaga dalamnya ternyata tinggi sekali, siapa sebenarnya dia?” batin Kala Ireng.

Sementara itu keadaan Demawa tidak lebih baik bahkan serangan dari istri Rukman lebih ganas dan mematikan hingga akhirnya,

“Cras..!”

“Aaaaahhhhh…!!!” Demawan menjerit panjang, bahu kanannya putus ditebas pedang milik istrinya Rukman. Demawan melompat mundur sambil memegangi bahunya yang buntung dan mengucurkan darah dengan deras. Aria Sengka bergidik melihat Demawa yang buntung menjerit-jerit kesakitan. Sekali lompat Senapati Dangku sudah berada di samping Demawa dan menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan darah yang terus mengucur.


“Kala Ireng..segera kau tolong Demawa” ujar Senapati Dangku.

“Setan alas…kejam sekali!! Siapa kalian sebenarnya?” Senapati Dangku muntab melihat dua orang kepercayaannya dipecundangi oleh Rukman dan istrinya.

“Ha..ha..ha..Dangku, sepuluh tahun hidup di keraton ternyata membuatmu buta!” Rukman tertawa terbahak-bahak.

“Hari ini aku akan menuntaskan pertempuran kita sepuluh tahun lalu di Sipatahunan” sambung Rukman.

Wajah Senapati Dangku mendadak pucat, bayangannya langsung melayang ke peristiwa sepuluh tahun lalu di Karang Kamulyan, ibukota Karatuan Galuh.

“Apakah dia…ah, tidak mungkin. Bukankah dia sudah mati di tangan Prabu Purbasora” batin Senapati Dangku.

Melihat Senapati Dangku yang sepertinya terkejut,

“Betul sekali Dangku..aku adalah Surawisesa, Senapati kepercayaan Gusti Prabu Bratasenawa. Hari ini aku tidak akan mengampuni nyawamu lagi” lengking Rukman yang ternyata adalah Senapati Surawisesa.

Mendengar nama Senapati Surawisesa, Rahiang Sanjaya melengak tidak menyangka kalau nelayan tua itu adalah orang kepercayaan ayahnya. Sang Sena beberapa kali sempat menceritakan tentang kesetiaan dan kehebatan Senapatinya yang bernama Surawisesa.

Senapati Dangku terkejut bukan kepalang, tidak menyangka hari ini dia bertemu dengan Senapati Surawisesa yang dulu hampir membunuhnya andai saja saat itu tidak diselamatkan oleh Prabu Purbasora. Ditekannya rasa jerih yang muncul dihatinya.

“Ha..ha..ha..rupanya hari ini adalah hari keberuntunganku! Sekali tepuk dua ekor lalat bisa ku bunuh” suara Dangku terdengar bergetar, walaupun coba ditutupi tetapi rasa jerihnya dapat terbaca jelas.

Senapati Surawisesa tersenyum tipis lalu menghampiri ke arah Rahiang Sanjaya di ikuti oleh istrinya, mereka berdua lalu berlutut dan merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

“Gusti Rakean…hamba Senapati Surawisesa menghaturkan sembah hormat” ujar Senapati Surawisesa diikuti oleh istrinya yang ternyata bernama Puspasari.

“Gusti Rakean…hamba Puspasari menghaturkan sembah hormat”

Rahiang Sanjaya salah tingkah mendapat penghormatan seperti itu karena jika dia menerimanya maka akan membongkar penyamarannya selama ini.

“Eh..Amang dan Ibi jangan seperti ini, aku bukan orang yang kau maksud. Cepatlah berdiri” ujar Rahiang Sanjaya sambil menarik Senapati Surawisesa dan Puspasari untuk berdiri.

Senapati Surawisesa dan Puspasari berdiri,

“Gusti Rakean, biar aku selesaikan dulu begundal-begundalnya Purbasora ini” ujar Senapati Surawisesa sambil menghunus golok panjangnya.

“Dangku…ayo kita selesaikan semuanya hari ini. Aku akan mempersembahkan kepalamu sebagai hadiah untuk junjunganku Gusti Rakean Jambri” ujar Senapati Surawisesa sambil tersenyum merendahkan. Dia sudah bisa mengukur kemampuan silat dan kesaktian Senapati Dangku.

Sementara itu Senapati Dangku yang tidak menyangka akan bertemu dengan Senapati Surawisesa mulai merasa khawatir. Melawan Senapati Surawisesa saja dirinya belum tentu menang ditambah lagi Puspasari yang ilmu silatnya juga tidak rendah. Sementara dipihaknya kekuatannya sudah berkurang karena Demawa sudah tumbang di ujung pedang Puspasari.

“Kala Ireng jangan diam saja….bunuh mereka!!” Senapati Dangku memerintahkan Kala Ireng agar menyerang Senapati Surawisesa.

Walaupun nyalinya sudah terbang namun Kala Ireng tidak mungkin melawan perintah Senapati Dangku. Dikuatkannya hatinya lalu dengan nekat di serangnya Senapati Surawisesa dengan goloknya.

“Rasakan ini tua bangka” jerit Kala Ireng membabibuta menyerang.

“Haha..cecunguk tidak tahu diri, kuberi kesempatan hidup malahan minta mati” lengking Senapati Surawisesa menyambut serangan Kala Ireng.

Pertarungan kembali pecah tapi sepertinya Senapati Surawisesa tidak mau lagi bermain-main, dikeluarkannya jurus-jurus andalannya untuk segera menghabisi Kala Ireng. Tidak sampai lima jurus,

“Arghhh……..” Kala Ireng menjerit setinggi langit, golok Senapati Surawisesa membabat putus lengan kanannya. Sepertinya Senapati Surawisesa ingin segera menyelesaikan pertarungan itu, dialirkannya seluruh tenaga dalam ke tangan kirinya dan dengan sebat tubuhnya melayang mengejar Kala Ireng yang sedang sempoyongan menahan sakit. Tangan kiri Senapati Surawisesa yang berisi tenaga dalam tinggi menghantam kening Kala Ireng.

“Krackk…” kepala Kala Ireng rengkah dan tubuhnya ambruk tidak bergerak.

Semuanya yang ada di situ tercekat tidak menyangka Senapati Surawisesa akan menurunkan tangan sekeras itu kepada Kala Ireng. Demawan menggigil ketakutan sambil menahan sakit di bahunya yang buntung, Aria Sengka bergidik sambil membuang muka tidak mau melihat keadaan Kala Ireng yang mengenaskan.

“Ha..ha…Dangku!! Tunggu apalagi? Ayo kita selesaikan pertarungan kita” ujar Senapati Surawisesa sambil memandang tajam ke arah Senapati Dangku.

“Aria Sengka…jangan kau diam saja! Cepat bunuh aki-aki itu” perintah Senapati Dangku kepada Aria Sengka.

Walaupun Aria Sengka adalah salah satu petinggi pasukan Kerajaan Kalingga tetapi melihat jurus serta kesaktian Senapati Surawisesa nyalinya juga langsung terbang. Belum lagi dia mendengar dari Senapati Dangku kalau Rakean Jambri adalah cucu buyut dari Ratu Shima penguasa Kalingga.

“Aku tidak ada urusan dengan kalian, selesaikan saja sendiri Dangku” jawab Aria Sengka sambil melompat ke atas kudanya lalu kabur meninggalkan tempat tersebut.

“Bajingan pengecut..!!” Senapati Dangku merutuki kepergian Aria Sengka.

“Rupanya kematianmu sudah ditentukan Sang Hyang Widhi akan datang hari ini” ejek Senapati Surawisesa sambil mengelus janggutnya.

“Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin cecunguk sepertimu bisa menjadi seorang Senapati” sambung Senapati Surawisesa.

“Jangan banyak bicara Surawisesa, aku akan mengadu nyawa denganmu” pekik Senapati Dangku sambil menyerang dengan menggunakan kapak besarnya.

“Ah..Dangku, kapak pemotong pohon saja kau banggakan” cibir Senapati Surawisesa menyambuti serangan yang datang dengan tenang.

Walaupun silat dan kesaktian Senapati Dangku tidaklah rendah tetapi nyalinya sudah musnah dan membuat gerakan-gerakannya ngawur. Mudah saja Senapati Surawisesa meladeninya bahkan seperti mempermainkannya.


“Awas kepala…” golok Senapati Surawisesa menyasar kepala Senapati Dangku.

Panik, Senapati Dangku mengibaskan kapaknya ke atas kepala mencoba menangkis arah golok tetapi tiba-tiba arah golok berbalik menukik ke arah kakinya.

“Crash…” paha Senapati Dangku robek mengucurkan darah.

“Ha..ha…ternyata silat dan kesaktianmu tidak lebih dari tingkatan kepala prajurit. Tidak pantas menyandang jabatan Senapati Karatuan Galuh” Senapati Surawisesa terkekeh.

Rahiang Sanjya melengak melihat kehebatan silat Senapati Surawisesa.

“Ah..ternyata benar cerita Ayahanda tentang kehebatan Senapati Surawisesa” batin Rahiang Sanjaya.

“Kanda..tunggu apalagi? Cepat selesaikan” teriak Puspasari yang gemas melihat suaminya yang sepertinya hanya bermain-main. Dia tidak lagi memanggil Senapati Surawisesa dengan pa’e.

Senapati Surawisesa melirik ke arah istrinya.

“Dinda jangan khawatir, aku hanya ingin mengukur kemampuan yang katanya Senapati Karatuan Galuh. Ternyata tidak lebih dari ilmu seorang kepala prajurit” Senapati Surawisesa tidak henti merendahkan Senapati Dangku.

Senapati Dangku benar-benar sudah putus harapan, tidak ada lagi kesempatan untuk lolos.

“Aku akan mengadu nyawa denganmu Surawisesa” suara Senapati Dangku bergetar, ketakutannya berubah menjadi kenekatan.

Senapati Dangku membuang kapaknya, mulutnya komat-kamit merapal mantera lalu tangannya dirangkapkan di depan dada, asap tipis terlihat keluar dari sela-sela jarinya.

Bukannya jerih, Senapati Surawisesa tertawa melihat Senapati Dangku yang sepertinya akan mengeluarkan kesaktiannya.

“Ilmu mainan seperti itu kau pertontonkan di hadapanku” dengus Senapati Surawisesa.

Tangannya di kepalkan lalu bibirnya terlihat merapal mantera dan perlahan-lahan kedua kepalan tangannya berubah menjadi merah membara.

“Ajian Sangkala Geni” desis Rahiang Sanjaya yang pernah mendengar kehebatan ilmu andalan Senapati Surawisesa dari ayahandanya.

Senapati Dangku meraung sambil mendorong kedua tapak tangannya ke arah Senapati Surawisesa. Selarik sinar putih meluncur dan menebarkan hawa panas tetapi dengan sekali genjot, tubuh Senapati Surawisesa melayang menyambut sinar putih itu.

“Desss..dess..” terdengar suara benturan keras, tubuh Senapati Dangku terjajar ke belakang sementara Senapati Surawisesa tetap meluncur dan,

“Bug..bug” kedua kepalan tangan Senapati Surawisesa yang berwarna merah membara menghantam dada Senapati Dangku.

“Hoek..argh” Senapati Dangku hanya bisa mengeluarkan suara pendek, kedua matanya melotot dan dadanya hangus seperti terbakar. Sangit bau daging terbakar tercium. Senapati Dangku mati ditangan Senapati Surawisesa.

Senapati Surawisesa melompat mundur mengatur nafas dan mengambil goloknya yang tergolek ditanah lalu disarungkannya kembali.

“Dinda..tolong siapkan semua perlengkapan, kita harus segera pergi sebelum pasukan Karatuan Galuh datang. Aku akan membereskan bangkai keroco-keroco ini” ujar Senapati Surawisesa kepada istrinya.

Senapati Surawisesa mencari kuda yang sebelumnya dipakai oleh Senapati Dangku dan kawan-kawannya. Untunglah kuda-kuda itu tidak pergi jauh, ditariknya seekor kuda berwarna hitam lalu dengan ujung kakinya dicongkelnya tubuh Senapati Dangku yang terbujur kaku. Luar biasa..hanya dengan cungkilan kecil, tubuh Senapati Dangku terlempar ke atas punggung kuda. Lalu dihampirinya tubuh Kala Ireng dan dilemparkannya bertumpuk di atas tubuh Senapati Surawisesa.

Sekali tepuk, kuda itu berlari kencang menembus kegelapan malam membawa jasad Senapati Dangku dan Kala Ireng. Sementara itu Demawan yang tergolek lemah memandanginya dengan ketakutan.

“Ampun Senapati..ampuni selembar nyawaku yang tidak berharga ini” ujar Demawan kepada Senapati Surawisesa sambil merinti menahan sakit.

Senapati Surawisesa berjalan mendekati Demawan dan dengan kaki kanan ditendangnya.

"Bajingan sepertimu lebih baik mati menyusul begundal-begundalmu" bentak Senapati Surawisesa.

Tubuh Demawan melayang lalu menghantam pohon kelapa dan jatuh berdebam ke tanah. Tidak bergerak lagi.

Senapati Surawisesa berjalan ke arah Rahiang Sanjaya lalu berlutut,

“Gusti Rakean…kita harus segera meninggalkan tempat ini. Tak lama lagi pasti akan datang pasukan Karatuan Galuh” ujarnya sambil tetap berlutut.

Rahiang Sanjaya segera menarik bahu Senapati Surawisesa untuk berdiri.

“Mamang..sudah hentikan segala peradatan. Aku akan segera berangkat ke Denuk tapi bagaimana nasib Mamang dan Ibi?” ujar Rahiang Sanjaya.

“Karatuan Galuh pasti akan memburu kalian berdua” sambung Rahiang Sanjaya cemas.

“Gusti Rakean, jangan dulu pergi ke Denuk. Ada beberapa informasi yang harus hamba sampaikan demi keselamatanmu” lirih Senapati Surawisesa.

“Sebaiknya Gusti Rakean siapkan kuda, kita pergi ke tempat yang aman” sambung Senapati Surawisesa.

Tak lama kemudian Puspasari turun dari rumah sambil membawa beberapa buntelan.

“Kanda cepat ambil kuda mereka, kita harus segera pergi” ujar Puspasari sambil menunjuk dua ekor kuda yang sebelumnya ditunggangi Senapati Dangku dan Demawa.

Senapati Surawisesa segera menarik kedua kuda tersebut lalu mengikat buntelan-buntelan yang diseahkan Puspasari di atas punggung kuda. Sementara Rahiang Sanjaya bersuit tiga kali memanggil Si Jagur, kuda kesayangannya.

Tak lama terdengar derap kuda dan terlihat Si Jagur muncul dari kegelapan menghampiri Rahiang Sanjaya.

“Dinda, pergilah duluan aku akan membereskan gubuk ini dulu” ujar Senapati Surawisesa.

“Gusti Rakean..mohon ikuti istri hamba” sambungnya sambil menundukkan kepala ke arah Rahiang Sanjaya.

“Baiklah Mamang” jawab Rahiang Sanjaya pendek lalu dengan sebat melompat keatas punggung Si Jagur.

Puspasari dengan tidak kalah gesit melompat ke atas punggung kudanya lalu dengan sekali tepuk melesat menembus kegelapan malam.

“Gusti Rakean…cepat ikuti Puspasari, hamba akan segera menyusul” ujar Senapati Surawisesa.

“Baik Mamang” jawab Rahiang Sanjaya lalu memacu Si Jagur mengejar laju kuda yang ditunggangi Puspasari.

Sepeninggal Puspasari dan Rahiang Sanjaya, Senapati Surawisesa mencabut obor yang tertancap di pohon kelapa lalu melemparkannya ke atap gubuk yang terbuat dari daun rumpia. Seketika api membesar dan membakar seluruh bangunan gubuk tersebut.

Kemudian Senapati Surawisesa menengadahkan mukanya ke langit, matanya bekaca-kaca dan berbisik pelan,

“Gusti Prabu Bratasenawa, terimalah sembah hormat hamba. Hamba berjanji akan membantu Gusti Rakean Jambri untuk merebut kembali tahta Karatuan Galuh”

Lalu dengan sebat melompat ke atas punggung kuda yang tersisa dan memacunya menyusul Puspasari dan Rahiang Sanjaya.


*Kemana Senapati Surawisesa dan Puspasari membawa Rahiang Sanjaya?"