SENAPATI DANGKU




Rahiang Sanjaya memacu kudanya ke arah timur dengan harapan akan secepatnya sampai di Denuk untuk menemui kakeknya yaitu Rahiangtang Kidul sesuai dengan petunjuk dari ayahnya. Sudah hampir seharian berkuda akhirnya Rahiang Sanjaya memilih untuk beristirahat di sekitar muara suangai yang teduh oleh pepohonan. Dilihatnya banyak nelayan yang sedang mempersiapkan jaring dan perahunya untuk pergi melaut.

Rahiang Sanjaya mengarahkan kudanya mendekati perahu-perahu tersebut lalu melompat turun dari kudanya,

“Mamang, mohon maaf aku hendak bertanya?” Rahiang Sanjaya bertanya dengan sopan kepada salah seorang nelayan tua yang sedang melipat jala.

Sesaat nelayan itu menatap Rahiang Sanjaya dari ujung kepalake ujung kaki terutama keris panjangnya yang ter-soren di pinggang,

“Raden siapa dan apa yang hendak kau tanyakan?” nelayan itu merasa sedikit was-was karena belakangan ini banyak pendatang di wilayahnya dengan tujuan yang kurang baik.

“Aku Sancaka..bolehkah aku tahu apa nama daerah ini?” Rahiang Sanjaya sengaja meminjam nama adiknya Nilam (baca Rahiang Sanjaya #4) untuk menghindari perhatian dari orang-orang Karatuan Galuh.

“Ini wilayah Sagara Anakan..hendak menuju kemana gerangan? Sepertinya Raden bukan orang wilayah ini” nelayan itu menjawab sambil tidak lepas memandang Rahiang Sanjaya dengan pandangan penuh selidik.

“Betul Mang…aku berasal dari wetan hendak menuju ke wilayah Denuk, apakah masih jauh dari sini?” jawab Rahiang Sanjaya tenang.

Mendengar tujuan anak muda ini ke wilayah Denuk, nelayan itu semakin yakin bahwa Rahiang Sanjaya bukanlah orang sembarangan.

“Siapakah anak muda ini? Dan apa tujuannya menuju ke Denuk? Aku yakin dia bukan anak muda sembarangan” nelayan itu membatin.

“Denuk masih sangat jauh Raden…kalau berkuda mungkin masih perlu waktu 4 hari ke sana” jawab nelayan itu sambil memasukkan jalanya ke dalam perahu.


“Lebih baik Raden beristirahat saja dulu, besok baru melanjutkan perjalanan. Berbahaya kalau berkuda malam-malam” sambung sang nelayan.

“Ternyata masih jauh….” desis Rahiang Sanjaya sambil menarik nafas panjang.

“Kalau Raden berkenan, silakan beristirahat di rumahku. Di sana Raden bisa beristirahat dan mengisi perut dengan makanan buatan istriku yang sangat lezat” nelayan itu kembali meyakinkan Rahiang Sanjaya untuk menginap di rumahnya.

“Mungkin itu memang lebih baik…sebaiknya aku beristirahat dulu sebelum meneruskan perjalanan” ujar Rahiang Sanjaya.

“Bagus itu Raden…tunggu sebentar aku akan menarik perahu dulu ke darat” nelayan itu terlihat gembira mendengar Rahiang Sanjaya bersedia menginap di rumahnya.

“Tidak usah Mamang..tidak usah merepotkan. Lebih baik Mamang tetap melaut untuk mencari ikan, biar aku mencari tempat beristirahat sendiri” Rahiang Sanjaya menahan nelayan itu yang akan menarik perahunya ke darat.

“Tidak Raden, aku tidak jadi melaut…lagipula cuaca sepertinya akan buruk malam ini” ujar nelayan itu sambil menunjuk ke tengah lautan. Walaupun langit terlihat biru dan tidak ada tanda-tanda akan ada hujan atau badai, tetapi karena Rahiang Sanjaya yang memang tidak mengerti tentang laut hanya mengangguk-ngangguk saja.

Akhirnya Rahiang Sanjaya membantu nelayan tersebut mendorong perahu ke daratan lalu mengikatnya di sebuah pohon kelapa, khawatir akan terbawa ombak saat gelombang pasang datang.

“Ah…iya Raden, perkenalkan namaku Rukman” ujar nelayan tersebut sambil menundukkan badannya.

“Tidak usah begitu Mamang, tidak usah sungkan dan jangan panggil aku raden. aku hanya orang biasa dari gunung” Rahiang Sanjaya merasa sungkan dengan perlakuan berlebihan nelayan yang bernama Rukman tersebut.

“Ayo..kita ke rumah reyotku” ajak Rukman sambil tersenyum dan menunjuk ke arah sebuah rumah yang terletak di antara pohon-pohon kelapa cukup jauh dari garis pantai.

Beberapa nelayan yang melihat Rukman tidak jadi melaut merasa keheranan,

“Euleuh..euleuh…Rukman, kenapa tidak jadi melaut sira?” tanya salah satu nelayan yang bernama Mahruk.

“Ehhh…Mahruk, Aing aya sedulur ti wetan, tak baik jika tidak menyambutnya” jawab Rukman sambil menunjuk ke arah Rahiang Sanjaya.

Mahruk mengacungkan jempol tangannya sambil matanya tajam memandangi Rahiang Sanjaya, sekilas ada kilatan aneh di bola matanya. Dipandang sedemikian rupa, Rahiang Sanjaya menjadi jengah dan memilih untuk menunduk dan pura-pura menepuk-nepuk leher Si Jagur, kuda kesayangannya..

Rukman berjalan diikuti oleh Rahiang Sanjaya menuju ke sebuah rumah yang cukup besar dan  kokoh dengan tiang-tiang yang terbuat dari batang pohon kelapa dan posisinya cukup tinggi dari permukaan tanah. Dari kejauhan terlihat asap mengepul dari atap rumah sepertinya ada seseorang yang sedang menyalakan perapian.

“Bu’e..bu’e…buka pintu cepat, kita kedatangan tamu” Rukman berteriak-teriak sambil tergopoh-gopoh naik ke atas tangga rumah.

Tak lama pintu rumah terbuka dan muncul seorang perempuan yang sudah cukup tua yang sepertinya kaget dengan kedatangan suaminya yang rencananya malam itu akan melaut.

“Pa’é ono opo toh? Teriak-teriak tidak karuan, bukannya pa’e mau melaut” tanya perempuan itu yang ternyata adalah istrinya Rukman.

“Iya Bu’e, tadinya hendak melaut tapi kita kedatangan tamu jauh dari wetan” jawab Rukman sambil masuk ke dalam rumah dan memanggil Rahiang Sanjaya untuk masuk.

“Ayo Den Sancaka..cepat masuk, jangan sungkan” ujarnya.

Rahiang Sanjaya menepuk pundak si Jagur kudanya,

“Malam ini kita bermalam di sini saja Jagur, sana kau cari makan dulu” ujar Rahiang Sanjaya sambil mengambil buntalan dari atas punggung si Jagur.

Lalu Rahiang Sanjaya menaiki tangga menyusul Rukman masuk ke dalam rumah.

“Sampurasun” Rahiang Sanjaya memberikan salam lalu duduk di hadapan Rukman yang sudah lebih dulu duduk di lantai pondok.

“Ah..rampes..rampes silakan duduk” jawab Rukman dan istrinya hampir berbarengan.

Rukman mengambil batok kelapa yang dijadikan tempat minum lalu diisinya dengan air yang mengepul panas dari kendi.

“Silakan minum dulu Raden, sambil nunggu Bu’e membakar ikan kering utuk kita makan” ujar Rukman sambil menyodorkan batok yang berisi air panas.

Rahiang Sanjaya menyambut batok tersebut lalu,

“Terima kasih Mamang, tapi sekali lagi mohon jangan panggil aku Raden, panggil saja Sancaka. Aku hanya orang biasa tidak pantas dipanggil seperti itu” jawab Rahiang Sanjaya memegang batok yang berisi air panas.

“Baiklah Sancaka” ujar Rukman sambil menuangkan air dari kendi ke dalam batok kelapa miliknya lalu dengan tenang menyeruputnya.

Rahiang Sanjaya melengak melihat air yang masih panas di dalam batok kelapa di seruput oleh Rukman seolah-olah air dingin saja.

“Hmm..luar biasa, air sepanas itu bisa diminumnya. Pasti Mamang Rukman bukan orang biasa” batin Rahiang Sanjaya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di dalam rumah tersebut.

“Bu’e cepatlah kemari, kau belum berkenalan dengan tamu kita ini” Rukman memanggil istrinya yang sedang sibuk membolak-balik ikan kering di atas hawu.

Istri Rukman segera menghampiri Rukman dan duduk di sampingnya,

“Ah..sungguh tampan dan gagah tamu kita ini Pa’e” ujar istri Rukman sambil tersenyum. Walaupun sudah berusia cukup matang, garis-garis kecantikan masih nampak di wajah tuanya.

“Terima kasih ibi, mohon maaf aku sudah merepotkan kalian berdua” ujar Rahiang Sanjaya sambil merangkapkan kedua tangan di depan dadanya.

“Aih…Pa’e, sungguh anak muda yang sopan andai saja anak kita masih hidup…” istri Rukman mendadak menghentikan ucapannya.

“Ah..sudahlah Bu’e, jangan bicara macam-macam. Lebih baik kau segera siapkan makanan supaya kita bisa makan sama-sama” ujar Rukman.

Istrinya Rukman begegas kembali ke perapian sambil mengusap kedua matanya yang sekilas terlihat sembab lalu menyajikan makanan di hadapan Rukman dan Rahiang Sanjaya. Tanpa banyak bicara mereka segera menyantap makanan tersebut, Rahiang Sanjaya yang memang sedari pagi belum makan, terlihat sangat lahap.

“Ayo..Sancaka, jangan malu-malu ditambah lagi makannya” ujar Rukman sambil menyodorkan periuk nasi ke arah Rahiang Sanjaya.

“Cukup..cukup Mamang, perutku terasa mau pecah karena terlalu banyak makan. Makanan Ibi ini luar biasa enak” jawab Rahiang Sanjaya sambil menepuk-nepuk perutnya.

Belum kering bibir Sancaka tiba-tiba di luar terdengar derap kuda dan suara orang yang berteriak-teriak minta tolong. Rukman dan istrinya saling pandang,

“Ah..Pa’e rupanya mereka datang lagi, kita harus bagaimana?” istri Rukman sambil membereskan wadah bekas mereka makan.

“Biarkan saja Bu’e..kita jangan bertindak gegabah” jawab Rukman pelan.

“Sebenarnya di luar ada apa Mamang?” tanya Rahiang Sanjaya penasaran.

Rukman saling berpandangan dengan istrinya seolah meminta persetujuan, setelah istrinya mengangguk akhirnya,

“Begini Sancaka, sudah beberapa waktu di sekitar wilayah ini ada sekelompok orang yang mengaku dari Karatuan Galuh” ujar Rukman pelan.

“Karatuan Galuh?” suara Rahiang Sanjaya bergetar.

“Benar Sancaka, kabarnya mereka sedang mencari Rakean Jamri putra dari Sang Sena” jawab Rukman berbisik seolah takut di dengar orang lain.

“Rakean Jamri…” desis Rahiang Sanjaya dengan wajah mendadak pucat.

“Betul Sancaka…kabarnya mereka baru saja kembali dari Gunung Merapi di wilayah wetan tapi tidak berhasil menemukan Rakean Jamri” ujar Rukman masih tetap berbisik.

“Sekarang mereka menyisir seluruh wilayah pesisir untuk mencarinya karena menurut informasi yang mereka terima, Rakean Jamri sedang menuju kulon” sambung Rukman lagi.

Suara derap kuda semakin medekati rumahnya Rukman,

“Rukman…keluar kau, ada yang ingin aku tanyakan” tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari luar rumah.

“Pa’e..” istri Rukman terlihat sangat khawatir.

“Tenang Bu’e..aku akan keluar menemuinya. Sancaka kau tunggu di sini” ujar Rukman sambil berdiri dan berjalan menuju pintu rumah.

Rukman berdiri di depan pintu rumah sambil memandang keluar, dilihatnya ada 4 orang berkuda sambil membawa obor yang menerangi pekarangan rumah, salah satunya yang bertubuh tinggi besar terlihat menggusur seorang nelayan yang merintih kesakitan.

“Ada apa Kisanak? malam-malam seperti ini membuat gaduh saja” tanya Rukman mencoba untuk tetap tenang.

“Aku hanya bertanya satu kali Rukman, dimana anak muda asing yang tadi kau bawa pulang?” tanya laki-laki tinggi besar itu tanpa melepaskan tangan nelayan yang digusurnya.

“Dia bukan orang asing Kisanak, dia adalah keponakanku yang baru datang dari wetan” jawab Rukman dengan tenang.

“Kenapa kau siksa Mahruk seperti itu” sambung Rukman sambil menunjuk nelayan yang digusur oleh laki-laki tinggi besar itu.

“Ha..ha..jangan kau berdusta Rukman, aku adalah prajurit Karatuan Galuh tidak mungkin bisa kau bohongi” laki-laki tinggi besar itu tertawa.

Sementara itu tiga orang penunggang lainnya berputar-putar mengitari rumah Rukman.

“Sudah Kakang Dangku…bunuh saja nelayan itu kalau dia tidak mau menunjukkan orang asing itu” timpal salah seorang dari mereka yang berkumis tebal dengan muka penuh baret mengerikan kepada laki-laki tinggi besar itu yang ternyata bernama Dangku.

“Rukman…tolong cepat tunjukkan anak muda itu pada mereka, aku tidak mau mati” nelayan yang digusur itu memohon.

“Mahruk..kenapa kau berkata seperti itu? Siapa anak muda yang kau maksud?” Rukman menghardik Mahruk dengan keras.

“Ah…sudahlah, buat apa kalian berdebat! Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi” ujar Dangku sambil melempar Mahruk ke salah satu pohon kelapa.

“Blug..krek” kepala Mahruk menghantam pohon kelapa lalu jatuh berdebam dan tidak bergerak lagi.

“Biadab…!!!” seru Rukman marah melihat Mahruk sudah tergolek mati. Dengan sekali genjot tubuhnya melayang turun dari pintu menuju ke hadapan Dangku.

“Ha..ha..ha…bagus, rupanya kau juga ingin segera mati Rukman!!!” pekik Dangku sambil menarik kapak besar dari pinggangnya.

“Cepat katakan dimana anak muda asing itu atau aku akan menggorok lehermu itu” sambung Dangku sambil melompat turun dari kudanya.

Tiba-tiba dari arah pintu rumah berkelebat sebuah bayangan ke arah Rukman,

“Mamang tidak usah kau ladeni begundal-begundal ini, lebih baik masuk ke dalam rumah bersama Ibi” ternyata bayangan tersebut adalah Rahiang Sanjaya yang meminta Rukman agar masuk ke dalam rumah menemani istrinya.

“Tidak Sancaka…leih baik kau tunggu saja di dalam, biar aku ladeni mereka. Aku ini sudah tua..tidak takut mati” ujar Rukman keukeuh.

“Ha…ha..ha…lihat Dangku, itu adalah anak muda yang aku katakan kepadamu” tiba-tiba salah seorang dari ketiga teman Dangku berteriak sambil melompat turun dari kuda.

Rahiang Sanjaya tersentak, dia merasa mengenali suara itu.

“Aria Sengka…” desis Rahiang Sanjaya (baca Rahiang Sanjaya #2)

“Benarkah?…ternyata tidak sia-sia kami membawamu jauh-jauh dari wetan, wahai Aria Sengka” ujar Dangku sambil melemparkan obor yang di pegangnya ke salah satu pohon kelapa dan luar biasa..obor itu menancap dalam kondisi tetap menyala. Itu menunjukkan bahwa tenaga dalam Dangku sudah mencapai tingkatan yang cukup tinggi.

Rahiang Sanjaya tidak mempedulikan kehadiran Aria Sengka, dia hanya fokus kepada Dangku.

“Kisanak, aku tidak pernah mengenalmu dan juga tidak pernah ada perselisihan di antara kita. Tolong kau jelaskan apa maksud dan tujuanmu mencariku” tanya Rahiang Sanjaya sambil memberi isyarat agar Rukman menjauh.

“Baiklah anak muda, agar kau tidak mati penasaran aku akan memberitahu siapa kami sebenarnya” ujar Dangku sambil mengusap-ngusap goloknya.

“Aku adalah Senapati Dangku dari Karatuan Galuh yang diperintahkan oleh Gusti Ratu Purbasora untuk membawamu ke Karang Kamulyaan. Kedua prajurit itu adalah anak buahku, Kala Ireng dan Demawa sedangkan yang satu orang lagi, tentu kau sudah kenal sebelumnya” ujar Dangku memperkenalkan diri dan komplotannya.

“Karatuan Galuh? Apa hubungannya denganku? Aku hanyalah orang biasa mungkin kau salah orang” ujar Rahiang Sanjaya.

“Lebih baik kau mengaku saja Rakean Jamri, supaya tidak membuang waktu” tiba-tiba Kala Ireng menyela sambil tersenyum sinis.

“Rakean Jamri? Siapa dia? Aku adalah Sancaka bukan Rakean Jamri” Rahiang Sanjaya mencoba menyangkal.

“Lebih baik jangan banyak cingcong Dangku…lebih baik kau bunuh saja anak muda ini” tiba-tiba Aria Sengka memotong pembicaraan.

“Diam kau…Sengka!!!” bentak Dangku sambil melotot ke arah Aria Sengka, tersinggung dengan perilakunya yang seolah-olah menganggap dirinya bawahan dia.

“Kalau kau berani…bunuh saja sendiri. Asal kau siap dikejar-kejar oleh seluruh Kerajaan Kalingga, karena anak muda ini masih keturunan bangsawan Kalingga…ha…ha..” sambung Dangku sambil terkekeh melihat wajah Aria Sengka yang mendadak pucat.

“Apa maksudmu Dangku?” Aria Sengka penasaran dengan ucapan Dangku.

“Ha..ha..kalau benar anak muda ini adalah Rakean Jamri maka dia adalah buyut dari Ratu Shima…Ratu dari Kerajaan Kalingga. Maka jangan harap kau bisa kembali ke Kalingga” Dangku terkekeh merendahkan Aria Sengka.

Mendengar penjelasan Dangku, nyali Aria Sengka langsung menciut, wajahnya berubah pucat pasi.

Sementara itu Rukman diam-diam mendekati Rahiang Sanjaya lalu berbisik,

“Sancaka lebih baik segera tinggalkan tempat ini, biar kami berdua yang menghadapi mereka”

“Tidak Mamang, biar aku hadapi sendiri lagipula mereka ini salah orang. Aku bukan Rakean Jamri” ujar Rahiang Sanjaya sambil mengusap gagang keris panjangnya.

“Kisanak kudengar dirimu adalah Senapati dari Karatuan Galuh, hamba menghaturkan sembah hormat. Tapi sayangnya hamba bukanlah orang yang kau cari” ujar Rahiang Sanjaya sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala ke arah Dangku.

“Jangan kau berdusta anak muda, wajah tampan dan tubuhmu yang tegap tidak akan bisa kau sembunyikan. Kau mirip sekali dengan ayahmu Sang Sena, pecundang yang lari dari arena pertempuran” sengit Dangku sambil meludah.

Wajah Rahiang Sanjaya memerah, tubuhnya bergetar menahan amarah mendengar hinaan Dangku kepada Sang Sena ayahnya. Seumur hidup baru hari ini ada orang yang menghina ayahnya sedemikian rupa, amarahnya membuncah.

“Dangku…jaga ucapanmu, walaupun aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu tapi menghina dan merendahkan orang lain bukanlah suatu hal yang baik” suara  Rahiang Sanjaya bergetar menahan amarah.

“Ha…ha..ha…sungguh mulia hatimu tidak percuma ayahmu menjadi resi” ujar Dangku dengan suara yang tetap merendahkan.

“Kau harus tahu Rakean Jamri, sepuluh tahun yang lalu, aku bersama-sama dengan Gusti Ratu Purbasora mempecundangi ayahmu dan seluruh pasukannya. Hari ini aku mendapat kehormatan untuk meringkusmu…ha..ha…” sambung Dangku dengan congkak.

“Kala Ireng…Demawa…tunggu apa lagi? Cepat ringkus anak muda ini” sambung Dangku memerintahkan anak buahnya menangkap Rahiang Sanjaya.

Mendengar perintah Senapatinya, Kala Ireng dan Demawa dengan sebat mencabut goloknya masing-masing dan menyerang ke arah Rahiang Sanjaya. Golok Kala Ireng menyerang ke arah kaki sebelah kiri sedangkan golok Demawa mengincar bahu kanan Rahiang Sanjaya.

Tiba-tiba dari belakang tubuh Rahiang Sanjaya berkelebat dua bayangan menyambut serangan dari Kala Ireng dan Demawa.

“Sancaka…serahkan dua keroco ini kepada kami, tanganmu tidak layak dikotori darah mereka” suara Rukman sambil menyambut serangan Kala Ireng, sementara istrinya yang entah kapan keluar dari rumahnya, menyambut serangan Demawa.

Perkelahian pecah dan terbukti ternyata Rukman dan istrinya bukanlah orang sembarangan, Keduanya mampu mengimbangi serangan-serangan dari Kala Ireng dan Demawa hingga puluhan jurus.

“Bangsat…siapa sebenarnya mereka? Jurus dan gerakannya tidak asing” batin Dangku.

**Siapa sebenarnya Rakean Jamri, Rukman dan istrinya?? tunggu di episode selanjutnya….