JERAT BIRAHI




“Lepaskan..lepaskan” jerit Nilam berusaha sekuat tenaga melepaskan tubuhnya dari panggulan orang yang tidak dikenalnya.

Namun sekuat apapun Nilam berteriak tapi tak sepatah katapun yang bisa keluar dari mulutnya, sekujur tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan. Sementara orang yang memanggulnya dengan enteng saja berlari dan berlompatan di antara lebatnya pepohonan. Nilam hanya bisa pasrah, perlahan air matanya mulai membasahi pipinya, teringat akan nasib suaminya, Kebo Saketi yang mati di tangan Ranggalewa.

“Sancaka..bagaimana nasibnya?” tiba-tiba Nilam teringat akan adiknya yang disuruhnya melarikan diri ke kaki Gunung Lawu. Air matanya semakin deras mengucur, sementara hari mulai gelap. Nilam memejamkan matanya menyesali nasib buruk yang menimpa keluarganya.

“Ah..hari semakin gelap, lebih baik beristirahat di sini” terdengar suara laki-laki yang memanggulnya. Lalu Nilam merasakan tubuhnya diturunkan dari pundak orang tersebut dan disandarkannya pada sebuah dinding yang terasa dingin.

“Siapakah orang ini? Apakah dia berniat jahat kepadaku?” batin Nilam khawatir sambil terus memperhatikan laki-laki yang telah membawanya lari dari cengkeraman Ranggalewa.

Tak lama kelihatan api mulai menyala menerangi sekitar dan rupanya mereka berada di dalam gua, sesekali terdengar suara gemuruh ombak. Laki-laki tersebut berbalik dan berjalan ke arah Nilam yang masih tergolek kaku di dinding goa.

“Mau apa laki-laki itu?” batin Nilam cemas.

Lalu laki-laki tersebut berjongkok di hadapan Nilam dan menotok beberapa urat di leher dan punggungnya. Seketika tubuh Nilam dapat bergerak dan menjauh dari laki-laki tersebut.

“Si..siapa dirimu? Dan kenapa membawaku kesini?” tanya Nilam bergetar ketakutan.

“Jangan takut Nyimas, aku tidak berniat jahat kepadamu. Namaku Rahiang” balas laki-laki tersebut sambil tersenyum dan ternyata laki-laki tersebut adalah Rahiang Sanjaya.

“Aku tidak sengaja melihatmu akan menyakiti diri sendiri. Jadi aku pikir lebih baik aku menyelamatkanmu” sambung Rahiang Sanjaya sambil berbalik menuju ke pintu gua dan memperhatikan keadaan disekitar gua.

“Di sini cukup aman dari gangguan binatang dan juga tiupan angin, Nyimas bisa beristirahat” ujar Rahiang Sanjaya sambil tersenyum ke arah Nilam yang masih terduduk di ujung gua. Hati Nilam bergetar melihat senyum Rahiang Sanjaya.

“Siapa sebenarnya anak muda tampan ini, aku yakin dia bukan orang sembarangan” batin Nilam sambil merapihkan pakaiannya yang berantakan.

“Kenapa Raden menolongku, aku ingin menyusul suamiku yang telah dibunuh oleh Ranggalewa. Hidup sudah tidak ada gunanya” ujar Nilam yang sepertinya sudah tidak ketakutan lagi oleh Rahiang Sanjaya.

“Lebih baik Nyimas mendekat ke arah perapian…di pojok sana dingin” Rahiang Sanjaya tidak menjawab pertanyaan malah menyuruh Nilam mendekat ke arah perapian.

Nilam yang memang mulai merasa kedinginan akhirnya beringsut mendekati perapian dan duduk bersebrangan dengan Rahiang Sanjaya. Mereka berdekatan hanya terpisahkan oleh perapian, pandangan mata mereka beradu membuat jantung mereka berdebar aneh.

“Ah…kenapa aku jadi teringat Pwah Kenanga” batin Rahiang Sanjaya sambil membuang pandangannya ke arah perapian. Sementara Nilam menundukkan kepalanya sambil mencoba menutupi betisnya yang terbuka dengan kedua tangnannya.

“Sebenarnya apa masalah yang terjadi sehingga suami Nyimas di bunuh oleh laki-laki itu?” tanya Rahiang Sanjaya mencoba mencairkan suasana yang mendadak kaku.


Sesaat Nilam tertegun mendengar pertanyaan Rahiang Sanjaya, pikirannya kembali teringat pada Kebo Saketi, suaminya dan Sancaka, adiknya. Air mata mulai menggenang di sudut matanya dan tak tertahan lagi, Nilam menangis sesenggukan. Beberapa saat suasana menjadi senyap hanya terdengar suara tangisan Nilam yang menyayat hati.

Rahiang Sanjaya bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu gua, bersuit beberapa kali. Tak lama terdengar derap suara kuda mendekati dan ternyata Si Jagur yang datang. Ditepuk-tepuknya punggung Si Jagur sambil dituntunnya menuju ke dalam gua lalu diambilnya buntelan dan bumbung bambu tempat air minum yang terikat di punggungnya.

Rahiang Sanjaya mengeluarkan daging kering yang tersisa di buntelannya lalu di tusuknya dengan ranting pohon kering dan dipanaskan di atas perapian. Harum daging terbakar tercium seolah membangunkan cacing-cacing di dalam perut. Nilam yang sedang menangis sesenggukan mulai reda dan megusap kedua pipinya dengan lengan kebayanya.

Rahiang Sanjaya menyodorkan daging yang sudah selesai dipanggang ke arah Nilam,

“Makanlah Nyimas, tentu kau lapar. Aku berjanji tidak akan bertanya apa-apa lagi” ujar Rahiang Sanjaya yang menyangka bahwa Nilam menangis akibat pertanyaannya.

Nilam yang memang lapar menyambut daging panggang yang disodorkan Rahiang Sanjaya,

“Tidak Raden, aku bukan menangis karena pertanyaanmu. Hanya saja aku teringat mendiang suami dan adikku” ujar Nilam lirih.

“Laki-laki itu adalah Ranggalewa, dia adalah kakak iparku, suami dari kakak kandungku. Tapi entah kerasukan setan apa, dia menginginkan aku menjadi istrinya juga” sambung Nilam menahan geram.

“Nyimas tolong jangan panggil aku Raden, aku hanya rakyat jelata tidak pantas kau panggil Raden. Panggil saja Sanjaya” ujar Rahiang Sanjaya. Diamatinya Nilam yang lahap menyantap daging panggangnya, usianya mungkin tidak berbeda jauh dengan dirinya, kulitnya kecoklatan tapi bersih. Rambutnya yang hitam tergerai berantakan, wajahnya cukup manis dengan bibir tipis yang memerah ranum sementara tubuhnya tidak terlalu tinggi dengan sepasang buah dada membusung dan pinggul yang membulat.

“Hmmm..pantas saja Ranggalewa tergila-gila” batin Rahiang Sanjaya. Sebagai laki-laki yang baru dewasa, birahinya mudah sekali naik. Ditariknya nafas panjang-panjang lalu dibuangnya dengan keras untuk mengalihkan pikiran nakalnya.

“Ada apa Raden…ehm..maksudku Sanjaya?” tanya Nilam mendengar Rahiang Sanjaya menarik nafas panjang seperti sedang ada beban berat di pikirannya.

“Oh…tidak..tidak ada apa-apa, hanya saja aku tidak habis pikir kenapa Ranggalewa bisa berniat jahat kepada adik istrinya sendiri” Rahiang Sanjaya tergagap, khawatir Nilam bisa membaca pikiran nakalnya.

“Dari dulu sebelum aku menikah dengan Kakang Kebo Saketi, Ranggalewa memang selalu menggodaku. Bahkan dia lakukan di depan istrinya sendiri, kakakku” geram Nilam.

“Apa rencanamu selanjutnya Nilam? Kupikir kau jangan kembali ke desamu, khawatir Ranggalewa akan mengganggumu lagi” tanya Rahiang Sanjaya sambil menyodorkan bumbung bambu berisi air minum kepada Nilam.

Nilam meneguk air dari bumbung bambu lalu menyeka mulutnya,

“Entahlah..aku bingung, mungkin aku akan menyusul adikku ke kaki Gunung lawu” lirih Nilam sambil menyerahkan kembali bumbung bambu kepada Rahiang Sanjaya.

“Menurutku itu yang terbaik untukmu..sekarang beristirahatlah. Besok pagi barulah berangkat” ujar Rahiang Sanjaya sambil menambah ranting kering ke dalam perapian. Api makin membesar sehingga udara di dalam gua terasa tambah hangat.

Rahiang Sanjaya membuka buntalannya dan mengeluarkan segulung kain dan menyerahkannya kepada Nilam,

“Pakailah kain ini sebagai alas” ujar Rahiang Sanjaya.

Nilam menyambut kain yang disodorkan oleh Rahiang Sanjaya lalu menghamparkannya agak jauh dari perapian.

“Kau sendiri bagaimana Sanjaya? Apakah kau ada alas yang lain?” tanya Nilam sambil melirik Rahiang Sanjaya yang masih duduk di depan perapian.

“Jangan khawatir…aku bisa tidur sambil duduk” jawab Rahiang Sanjaya sambil tersenyum kecil.

Nilam membalas senyum Rahiang Sanjaya lalu membaringkan dirinya di atas alas kain menghadap ke arah perapian, mencoba untuk tidur. Entah karena lelah atau kecapaian tak lama berselang, Nilam sudah mendengkur halus. Kain samping yang membungkus tubuh bagian bawahnya tersingkap memperlihatkan sepasang paha yang membulat, sementara itu baju kebayanya yang berdada rendah seolah mau meledak tidak mampu menampung sepasang dadanya yang membusung montok.

Rahiang Sanjaya menyandarkan tubuhnya ke dinding gua tak jauh dari tubuh Nilam yang tergolek pulas. Dipejamkan kedua matanya mencoba untuk tidak melihat ke arah Nilam, tetapi entah mengapa bayangan Pwah Kenanga tiba-tiba muncul di kepalanya. Dibukanya kedua matanya lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu gua, Rahiang Sanjaya berjalan menuju ke arah pantai, dicarinya batu karang yang agak tinggi.

Di atas batu karang yang menghadap ke laut, Rahiang Sanjaya duduk bersila lalu dipejamkannya matanya dan mulai bersemedi untuk membersihkan hati dan pikirannya. Angin yang berhembus kencang dan cipratan ombak tidak menggoyahkan semedinya.

“Sanjaya…Sanjaya…di mana kau?” terdengar suara Nilam berteriak-teriak.

Rahiang Sanjaya yang sedang bersemedi membuka kedua matanya,

“Aih…sudah pagi rupanya” batinnya sambil berdiri lalu dengan enteng melompat turun dari batu karang.

“Aku di sini Nilam” teriak Rahiang Sanjaya sambil melompat dengan sebat ke arah gua tempat semalam Nilam tidur.

“Ku pikir kau meninggalkanku, aku khawatir tidak bisa mengucapkan terima kasih kepadamu” ujar Nilam sambil menyambut Rahiang Sanjaya.

“Bagaimana apakah kau jadi menyusul adikmu ke kaki Gunung Lawu?” tanya Rahiang Sanjaya.

“Aku tidak punya pilihan lain, kecuali kalau dirimu sudi membawa diriku” suara Nilam terdengar manja seolah sudah melupakan kesedihan akibat kematian suaminya.

Rahiang Sanjaya mengangkat kedua alisnya, tidak menyangka Nilam bisa melupakan kesedihannya secepat itu.

“Perempuan memang aneh..tiba-tiba sedih..lalu tiba-tiba berubah ceria lagi” batin Rahiang Sanjaya sambil berjalan memasuki gua diikuti oleh Nilam.

“Bagaimana Sanjaya, maukah kau membawa diriku yang jelek ini?” Nilam mengejar langkah Rahiang Sanjaya sambil bergelayut manja. Dadanya yang membusung besar menempel di sikunya, terasa hangat dan empuk…Rahiang Sanjaya panas dingin!

Namun Rahiang Sanjaya masih mampu mengatasi gejolak birahinya, dilepaskannya pelukan Nilam di tangannya,

“Nilam, lebih baik kau susul adikmu, khawatir ada apa-apa di jalan. Kasihan dia masih kecil” ujar Rahiang Sanjaya menolak dengan halus permintaan Nilam.

Mendengar jawaban Rahiang Sanjaya, wajah Nilam berubah menjadi murung lalu berkata,

“Ah..memang siapalah yang mau dengan janda jelek sepertiku” 

“Tidak seperti itu, Nyimas seorang perempuan yang sangat cantik dan menarik…hanya saja aku memang tidak mungkin untuk membawamu bersamaku” ujar Rahiang Sanjaya mencoba menghibur Nilam.

“Kenapa tidak mungkin Sanjaya? Ah…tentu saja kau malu dilihat orang pergi bersama perempuan buruk rupa” ujar Nilam sambil duduk di depan perapian yang mulai padam.

“Nyimas, perjalananku masih sangat jauh dan pasti akan menyusahkanmu, lebih baik kau menyusul adikmu ke kaki Gunung Lawu” Rahiang Sanjaya mencoba memberi pengertian kepada Nilam.

“Adikku pasti akan di urus oleh kakek dan nenekku, aku tidak mengkhawatirkannya. Hanya saja bagaimana dengan diriku..Ranggalewa tentu tidak akan melepaskanku” Nilam masih tetap berusaha untuk meruntuhkan hati Rahiang Sanjaya.

Sejak menerima kebaikan Rahiang Sanjaya semalam, entah mengapa Nilam merasa jatuh cinta. Dirinya seolah buta melupakan suaminya, Kebo Saketi, yang belum sehari meninggal. Sejak semalam, Nilam berusaha menggoda Rahiang Sanjaya dengan berpura-pura tidur dan sengaja memperlihatkan pahanya yang membulat mulus dan buah dadanya yang membusung ranum.

“Ranggalewa pasti akan mengejarku tapi…ah..apa pedulimu? Lebih baik kau segera pergi, aku akan di sini saja” sambung Nilam merajuk.

“Aku tidak bisa memaksamu untuk berbuat apa Nyimas..tapi mohon maaf aku tidak bisa membantumu lagi” ujar Rahiang Sanjaya mulai gusar dengan kelakuan Nilam.

Rahiang Sanjaya mulai membereskan buntalan dan bumbung bambunya lalu menghampiri Si Jagur dan mengikat semua barangnya di atas punggung kuda kesayangannnya tersebut. Rahiang Sanjaya benar-benar tidak peduli dan sudah tidak melihat lagi ke arah Nilam.

Nilam yang melihat Rahiang Sanjaya seolah acuh tak acuh mencoba jalan terakhir untuk menggodanya.

“Sanjaya…kalau kau tidak peduli lagi kepadaku, maka jangan halangi aku untuk bunuh diri” suara Nilam melengking.

Mendengar ucapan Nilam, Rahiang Sanjaya tersentak dan segera berbalik melihat ke arah Nilam,

“Deg…” jantung Rahiang Sanjaya seolah berhenti berdetak, kedua bola matanya melotot seolah tidak mau berkedip melihat ke arah Nilam, aliran darahnya mengalir deras ke pusat kehidupan di bawah perutnya.

Yang dilihatnya bukanlah Nilam yang akan bunuh diri, tetapi Nilam yang hampir telanjang. Kebaya dan kain kembennya sudah tergelak di lantai gua, tidak selembar benangpun menutupi tubuh bagian atasnya. Memperlihatkan kulit tubuhnya yang coklat bersih dengan bulu-bulu halus di atas buah dadanya yang tegak membusung.

“Sanjaya..kalau kau tidak mau membawaku bersamamu, ijinkan aku untuk berterima kasih kepadamu. Aku akan melayanimu sepuasmu” bibir merah Nilam bergetar dengan pandangan yang sayu setengah tepejam.

“Perempuan mesum…kalian benar-benar bejat” tiba-tiba dari arah pintu gua terdengar suara menggelegar.

“Tidak ku sangka kau Nilam, kau berpura-pura sedih dengan kematian suamimu dan menolak untuk aku nikahi…nyatanya kau sudah berbuat bejat dengan laki-laki asing” suara itu kembai terdengar mengutuki Nilam.

Tak lama kemudian berkelebat seorang laki-laki masuk ke dalam gua dengan wajah yang legam menahan amarah.

“Ranggalewa…” desis Nilam sambil segera menyambar baju kebayanya dari lantai gua dan segera mengenakannya kembali.

Sementara Rahiang Sanjaya yang tidak terima mendengar segala tuduhan miring tersebut segera melompat ke arah Ranggalewa dan menjura hormat.

“Maaf Kisanak, tolong tarik semua tuduhanmu itu. Kami tidak berbuat seperti yang kau tuduhkan itu” ujar Rahiang Sanjaya sabar.

“Halah…tidak usah kalian berbohong. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, wanita jalang itu telanjang bersamamu” bentak Ranggalewa sambil melirik ke arah Nilam penuh kebencian.

“Kau adalah perempuan paling menjijikkan yang pernah aku kenal. Menyesal aku mencintaimu hingga harus meninggalkan kakakmu dan membunuh suamimu” lengking Ranggalewa sambil menunjuk ke arah Nilam.

Nilam menggigil ketakutan dan juga merasa malu yang luar biasa tertangkap basah oleh Ranggalewa nyaris telanjang bersama Rahiang Sanjaya.

“Kakang Ranggalewa…maafkan aku, tapi aku tidak serendah yang kau pikirkan” parau Nilam, tangisnya pecah.

“Kau memang perempuan jalang…lebih baik kau mati” Ranggalewa makin gusar, ditariknya golok panjang yang terikat di pinggangnya. Dengan sekali sentak, tubuhnya melayang ke arah Nilam sambil menusukkan goloknya ke arah Nilam. Nilam tidak berdaya untuk menghindar, dipejamkan matanya menyambut datangnya golok Ranggalewa. Nilam sudah pasrah,

“Maafkan aku Kakang Kebo Saketi, aku akan segera menemuimu di alam lain” batin Nilam.

Sesaat lagi ujung golok Ranggalewa akan menembus dada Nilam,

“Trang..” sekelebat cahaya terang menyambar ke arah golok Ranggalewa, saking kerasnya benturan tersebut membuat Ranggalewa terjajar ke belakang, goloknya hampir lepas. Didepannya Rahiang Sanjaya berdiri tegak sambil memegang keris panjang berwarna kebiru-biruan.

Amarah Ranggalewa segera menggelegak,

“Bajingan kau…rupanya kalian sepasang kekasih yang sama-sama bejat” maki Ranggalewa sambil meringis kesakitan. Benturan goloknya dan keris Rahiang Sanjaya telah mengganggu aliran pernafasannya pertanda bahwa tenaga dalam yang dimiliknya jauh di bawahnya.

“Kisanak harap kau jaga amarahmu, aku tidak hubungan apa-apa dengan Nilam” ujar Rahiang Sanjaya mencoba menjelaskan.

“Kemarin aku menyelamatkan Nilam dari pisau yang akan membunuh dirinya sendiri dan paksaan Kisanak” sambung Rahiang Sanjaya.

“Jadi kau yang kemarin mencampuri urusanku…tidak mungkin kalian tidak saling mengenal. Kalian pasti sudah merencanakan ini semua” sengit Ranggalewa nguntab. Ranggalewa yakin Nilam dan Rahiang Sanjaya sudah merencakan ini semua.

“Aku terjebak oleh permainan kalian sehingga aku membunuh Kebo Saketi. Setelah berhasil memperdayaiku, kalian enak-enak ngalekuy di sini. Dasar bejat!!!” sambung Ranggalewa makin membabi buta menuduh Rahiang Sanjaya dan Nilam.

“Hentikan omong kosongmu Ranggalewa” lengking Rahiang Sanjaya marah tidak terima, sementara Nilam menangis sejadi-jadinya mendengar tuduhan keji Ranggalewa.

“Jangan bersilat lidah anak muda..terima golokku!!! jerit Ranggalewa sambil membabatkan goloknya ke arah Rahiang Sanjaya.

Dengan sekali lompatan, Rahiang Sanjaya menyambut serangan Ranggalewa dengan keris panjangnya. Keduanya terlibat pertempuran yang seru dan jelas terlihat masing-masing berniat mengambil nyawa musuhnya.

“Lebih baik aku membunuh Ranggalewa, kalau tidak dia bisa menyebarkan kebohongan ini” batin Rahiang Sanjaya sambil dengan gencar menyerang Ranggalewa yang mulai terdesak.

Ranggalewa yang sadar bahwa ilmu silat dan juga tenaga dalamnya jauh berada di bawah mulai jerih, beberapa kali lengan dan badannya tergores oleh keris panjang Rahiang Sanjaya. Hingga akhirnya di jurus ke sepuluh,

“Argh..hoek..hoek” dada Ranggalewa terkena gedoran siku tangan kanan Rahiang Sanjaya hingga terjajar beberapa langkah ke belakang. Darah segar menyembur dari mulutnya, dadanya berdenyut sakit.

“Ah…sialan, ilmu silatnya bukan tandinganku. Aku harus mencari jalan agar bisa lolos” batin Ranggalewa sambil mengatur pernafasannya.

“Ha..ha..ha..anak muda, ilmu silatmu sangat tinggi, sayangnya kau gunakan untuk berbuat bejat. Biarlah aku pergi supaya kalian bisa meneruskan kemesraan kalian” ujar Ranggalewa sinis.

“Ranggalewa..aku dan Nilam tidak melakukan perbuatan kotor seperti yang kau tuduhkan. Tapi sepertinya matamu sudah buta oleh rasa benci dan cemburu” suara Rahiang Sanjaya bergetar.

“Jangan salahkan aku menurunkan tangan keras kepadamu” sambung Rahiang Sanjaya sambil melompat mengayunkan keris panjangnya ke arah Ranggalewa. Baru saja serangan Rahiang Sanjaya setengah jalan, tiba-tiba Ranggalewa ambruk dengan mata melotot dan darah yang menyembur dari mulutnya.

Rupanya diam-diam Nilam menusuk punggung Ranggalewa dengan pisau yang sehari sebelumnya akan dipakainya untuk bunuh diri.

“Kakang Kebo Saketi..aku berhasil membalaskan dendam untukmu, maafkan aku yang telah mengkhianatimu” isak Nilam sambil mencabut pisau yang tertancap di punggung Ranggalewa.

Nilam menjatuhkan badannya berlutut sambil berurai air mata dengan tangan kanan menggenggam pisau yang berlumuran darahnya Ranggalewa.

“Kakang Kebo Saketi…aku menyusulmu..kakang…arrgh” secepat kilat Nilam menikam dadanya sendiri. Darah menyembur deras dari dadanya, matanya terpejam sementara bibirnya mengembangkan senyum lalu tubuhnya ambruk tak bergerak.

“Nilam…!” Rahiang Sanjaya berteriak tertahan tidak menyangka Nilam akan mengambil tindakan senekat itu.

“Ah…dunia luar ternyata sangat aneh. Aku harus lebih berhati-hati” batin Rahiang Sanjaya sambil menyarungkan kembali kerisnya.

Baca juga : RAHIANG SANJAYA : PERJALANAN MEREBUT TAHTA KARATUAN GALUH #3https://www.bedapandang.com/2020/02/rahiang-sanjaya-perjalanan-merebut.html