LUKA DI HATI PERMAISURI 


Menjelang fajar menyingsing, rombongan Senapati Anggawirya yang terkantuk-kantuk karena kelelahan sampai ke batas wilayah Maja. 

"Setyaka...sudah sejauh ini tapi kita belum bisa menyusul rombongan Ki Demang Ranggajati" Senapati Anggawirya setengah menggerutu kepada Setyaka yang dianggap paling unggul dalam mencari jejak.

"Jangan-jangan kau salah arah" sambungnya kesal.

"Ampun Kanjeng Senapati, dari jejak dan tanda di pohon yang diberikan oleh Ki Demang Ranggajati jelas kalau mereka melalui jalur ini" Setyaka yang sudah kelelahan tidak senang dengan pertanyaan Senapati Anggawirya yang seolah meragukan kemampuannya.

"Bahkan dari jejak kuda yang ada di tanah, baru saja ada sekitar tiga rombongan yang melalui jalur ini" sambungnya gusar.

"Kanjeng Senapati, apakah tidak lebih baik kita istirahat dulu? Untuk mengembalikan tenaga dan konsentrasi" Badik yang sudah sangat lelah dan ngantuk akhirnya buka suara.

Senapati Anggawirya menarik tali kekang kudanya.

"Badik kau bicara sambil tidur rupanya, matamu terpejam tapi mulutmu masih saja banyak bicara" Senapati Anggawirya sebal melihat Badik yang hampir tertidur di atas kuda yang ditungganginya.

"Setyaka, kau cari tempat yang aman untuk beristirahat" sambungnya kepada Setyaka.

Setyaka hanya mengangguk lalu mengarahkan kudanya beberapa ratus deupa ke depan untuk memastikan tempat itu aman. Senapati Anggawirya melompat turun dari kuda diikuti  Badik, Dirun dan Arahan.

"Kanjeng Senapati..cilaka..cilaka...!!!" tiba-tiba terdengar suara Setyaka yang berteriak histeris.

Senapati Anggawirya terkejut mendengar suara Setyaka lalu dengan sebat melompat ke atas punggung kudanya. Sekali sentak, kudanya langsung menghambur ke arah suara Setyaka diikuti oleh Dirun, Arahan dan Badik. Kantuk dan lelah yang mereka rasakan seolah sirna mendengar jeritan histeris Setyaka.

"Setyaka...ada apa?" teriak Senapati Anggawirya.

Senapati Anggawirya melengak melihat ada beberapa tubuh yang tergolek di tanah, salah satunya dipeluk Setyaka, sekali lompat tubuhnya turun melayang dari punggung kuda yang ditungganginya.

"Kanjeng Senapati...Ki Demang..Ayahanda..." suara Setyaka terpotong-potong sambil berlutut memeluk sesosok mayat.

Senapati Anggawirya bergidik ngeri melihat tubuh gosong yang dipeluk Setyaka. Diedarkan pandangannya lalu menghampiri 3 sosok tubuh yang tergeletak di tanah lainnya. Semantara Arahan, Badik dan Dirun segera mengangkat ketiga mayat tersebut dan meletakkannya berdampingan di bawah sebuah pohon besar.

"Sungguh kejam...perbuatan siapa ini?" desisnya sambil membuang muka melihat salah satu mayat yang kepalanya rengkah.

Sementara itu Setyaka melepaskan tubuh yang dipeluknya dan berdiri sambil menghunus goloknya.

"Keparat..siapa yang berani berbuat kejam kepada ayahku" teriaknya sambil membabatkan goloknya membabi buta.

Ternyata yang ditemukan oleh Setyaka adalah mayat Ki Demang Ranggajati dan tiga anak buahnya yang tewas ditangan Patih Batara Sang Hyang Hawu. Dan siapa yang nyana kalau Setyaka adalah putra Ki Demang Ranggajati.

Setyaka yang dilanda amarah dan dendam yang luar biasa akhirnya tidak bisa berfikir jernih, dengan sekali lompat ke atas kudanya dan langsung memacunya ke arah wilayah Talaga.

"Bajingan..aku akan membalaskan dendamku...rasakan pembalasanku" teriak Setyaka sambil mengacungkan goloknya.

Melihat Setyaka yang histeris seolah kehilangan nalar, Senapati Anggawirya segera mengambil dua buah batu kecil dan salah satunya dijentikkannya ke arah kuda yang ditunggangi Setyaka. Seketika kuda tersebut kaku seolah patung tidak bisa bergerak, Setyaka yang sedang diamuk amarah langsung membalikan badannya ke arah Senapati Anggawirya.

"Senapati..jangan kau halangi langkahku, aku harus membalaskan kematian ayahku" rasa sakit hati dan amarah yang membuncah membuatnya melupakan tata krama kepada Senapati Anggawirya.

Senapati Anggawirya yang memaklumi amarah Setyaka hanya menggelengkan kepalanya lalu dijentikan jari tangan kanannya,

"Desss...jleebbb" sebuah batu kecil meluncur dengan deras dan menghantam urat leher Setyaka yang tidak sempat menghindarinya. Setyaka pun kaku mematung di atas kudanya yang juga kaku tidak bergerak.

Setelah memastikan Setyaka tidak bisa bergerak, Senapati Anggawirya memerintahkan Dirun, Arahan dan Badik untuk mengurus keempat mayat tersebut.

"Kalian urus keempat mayat itu dan kuburkan dengan layak" ujarnya pelan.

==

Sementara itu menjelang petang di Kuta Maya, sepanjang jalan mendadak gaduh karena kedatangan Patih Batara Sang Hyang Hawu bersama Jantaka dan Sakuntala mengawal seorang perempuan berpakaian ringkas seperti laki-laki. Sepanjang jalan dari perbatasan Kuta Maya sampai ke keraton, banyak rakyat yang memandang heran dan bertanya-tanya.

"Mohon ampun Gusti Ratu..lebih baik kita secepatnya sampai di keraton untuk menghindari pertanyaan dan kecurigaan rakyat" bisiknya kepada Ratu Harisbaya yang laju kudanya terlihat semakin pelan dan mulai tertinggal cukup jauh dari kuda-kuda Jantaka dan Sakuntala yang bertugas mengawal di depan sedangkan Patih Batara Sang Hyang Hawu mengawal di belakang..

Ratu Harisbaya menganggukan kepalanya ke arah Patih Batara Sang Hyang Hawu, lalu memacu kembali kudanya menyusul Jantaka dan Sakuntala. Derap langkah kuda mereka semakin cepat meninggalkan kepulan debu dibelakangnya.

Di pintu gerbang keraton, Sakuntala memberi tanda agar pengawal membuka pintu gerbang. Mereka berempat menghentikan laju kudanya di depan pendopo utama.

Patih Batara Sang Hyang Hawu segera melompat turun dari atas kuda diikuti oleh Jantaka dan Sakutala. Lalu Patih Batara Sang Hyang Hawu menghampiri Ratu Harisbaya dan membantunya turun dari atas kuda.

"Sakuntala..Jantaka...bawa kuda-kuda ini ke belakang dan kalian boleh pulang untuk beristirahat. Dan ingat..tutup mulut kalian" perintahnya.

Setelah Jantaka dan Sakuntala pergi, Patih Batara Sang Hyang Hawu mempersilakan Ratu Harisbaya untuk masuk ke dalam pendopo.

"Silakan masuk Gusti Ratu...hamba akan menyuruh emban agar mempersiapkan tempat untuk beristirahat sambil menunggu Gusti Prabu Geusan Ulun" ujarnya.

Ratu Harisbaya sejenak merasa canggung namun dikuatkan hatinya dan masuk ke dalam pendopo diikuti Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil memerintahkan salah satu pengawal pendopo untuk memanggil emban. Tak lama seorang emban yang cukup berumur tergopoh-gopoh masuk ke dalam pendopo dan langsung berlutut di hadapan Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Ampun Gusti Patih..hamba menghadap dan siap menerima perintah" ujarnya sambil merangkapkan kedua tangannya.

"Ah..Emban, tolong kau bawa tamu agung ini ke keputren dan layani segala kebutuhannya dengan baik" Patih Batara Sang Hyang Hawu memerintahkan Emban tersebut untuk melayani Ratu Harisbaya.

"Dan ingat...jangan sampai membuatnya kecewa" sambungnya tegas.

"Baik Gusti Patih, hamba akan laksanakan sebaik mungkin" jawab Emban sambil bangkit dari berlututnya lalu menjura ke arah Ratu Harisbaya.

"Gusti Putri...silakan ikuti hamba" ujarnya kepada Ratu Harisbaya.

Ratu Harisbaya mengikuti langkah Emban yang akan membawanya ke keputren khusus tamu-tamu negara.

Sepeninggal Emban dan Ratu Harisbaya, Patih Batara Sang Hyang Hawu bangkit dari duduknya lalu berjalan ke halaman pendopo. Ditengadahkan wajahnya menghadap langit yang mulai redup menyambut kedatangan malam.

"Rencanaku berhasil...akan kuhancurkan Kesultanan Cirebon sebagai pembalasan atas runtuhnya Kerajaan Pajajaran" batinnya sambil menahan haru yang luar biasa mengingat bagaimana Gusti Prabu Surya Kancana dihinakan oleh Kesultanan Banten yang dibantu oleh pasukan dari Kesultanan Cirebon.

"Kakang Patih...siapa yang kau bawa? Dimana Kakang Prabu Geusan Ulun"

Patih Batara Sang Hyang Hawu tersentak dari lamunannya karena tiba-tiba suara seorang perempuan terdengar dari arah pendopo. Bergegas berjalan kembali ke arah pendopo yang mana di dalam sudah berdiri tegak permaisuri, Nyi Mas Gedeng Waru (Baca : Perlawanan Terakhir Ksataria Pajajaran #11).

Setelah menjura ke arah Nyi Mas Gedeng Waru, Patih Batara Sang Hyang Hawu menjawab,

"Ampun Gusti Permaisuri...hamba haturkan sembah hormat hamba"

"Gusti Prabu Geusan Ulun memerintahkan hamba untuk berjalan lebih dulu karena harus mengawal tamu istimewa" sambungnya sambil menunduk.

"Tamu istimewa..seorang putri cantik. Siapa dia sebenarnya Kakang Patih?" Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru rupanya sudah mengetahui kedatangan Ratu Harisbaya.

"Ampun Gusti Permaisuri, hamba tidak berani menjawabnya. Lebih baik menunggu Gusti Prabu Geusan Ulun" jawabnya pelan.

Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru mengerutkan kedua alisnya, hati kecilnya sudah bisa merasakan ada sesuatu yang tidak baik. Namun sebagai seorang permaisuri yang berbudi pekerti tinggi, Nyi Mas Gedeng Waru mencoba meredam kepenasarannya.

"Baiklah Kakang Patih..aku bisa memahami. Aku akan tunggu kedatangan Kakang Prabu Geusan Ulun" ujarnya lirih.

===

Sultan Panembahan mengepalkan kedua tangannya dengan gigi bergemeletuk menahan amarah yang membuncah. Patih Aryatedja yang duduk disampingnya tampak wajahnya legam membesi.

Sementara di hadapan mereka, duduk bersimpuh Senapati Anggawirya yang baru saja melaporkan hasil penelusuran keberadaan Ratu Harisbaya.

"Senapati...aku merasa kecewa sekali, bukan Harisbaya yang kau bawa tapi...malah mayat Ki Demang Ranggajati yang kau temukan" suara Sultan Panembahan bergetar.

"Ampun Kanjeng Sultan..ampuni hamba yang gagal melaksanakan tugas" jawab Senapati Anggawirya sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Kau layak dihukum berat Senapati...tapi..." ujar Sulta Panembahan terputus lalu menarik nafas panjang.

"Aku akan pikirkan nanti hukuman untukmu Senapati, sekarang yang lebih penting adalah menemukan dan menghukum yang telah menculik Harisbaya dan membunuh Ki Demang Ranggajati" sambungnya sambil melirik ke arah Patih Aryatedja.

"Betul Kanjeng Sultan...kita harus secepatnya menemukan mereka yang telah mengotori kehormatan Kesultanan Cirebon" Patih Aryatedja menimpali.

"Senapati Anggawirya tidak berhasil mengetahui siapa yang menculik Harisbaya dan membunuh Ki Demang Ranggajati. Menurutmu bagaimana Patih Aryatedja?" Sultan Panembahan bertanya kepada Sang Patih.

"Ampun Kanjeng Sultan...hari ini hamba menerima laporan dari telik sandi kita yang berada di Kuta Maya bahwa kemarin sore Patih Batara Sang Hyang Hawu bersama dua petinggi prajurit Sumedang Larang datang membawa seorang perempuan berpakaian ringkas seperti laki-laki " Patih Aryatedja melaporkan hasil pengamatan telik sandi Kesultanan Cirebon di Kuta Maya.

"Hamba yakin perempuan berpakaian ringkas seperti laki-laki tersebut adalah Kanjeng Ratu Harisbaya" sambungnya meyakinkan.

"Bagaimana kau bisa berpendapat seperti itu Patih Aryatedja? Kita tidak boleh sembarangan menuduh karena bisa menyebabkan peperangan antara kedua wilayah" Sultan Panembahan mencoba mengorek analisa Patih Aryatedja.

"Ampun Kanjeng Sultan..kecurigaan hamba tidaklah sembarangan. Yang pertama, hilangnya Kanjeng Ratu bersamaan dengan pulangnya orang-orang Sumedang Larang dari keraton dan yang kedua....." Patih Aryatedja menarik nafas panjang sebelum meneruskan kalimatnya. Dia berniat mengatakan kalau sebelumnya Prabu Geusan Ulun adalah kekasih Harisbaya, namun diurungkan niatnya itu.

"Yang kedua..Ki Demang Ranggajati bukanlah orang sembarangan, ilmu kesaktiannya sangat tinggi dan hanya sedikit lebih rendah dari ilmu kesaktian hamba. Jadi tidak mungkin ada orang dari Kesultanan Cirebon yang mampu membunuhnya. Dan yang ketiga..Ki Demang Ranggajati dibunuh di perbatasan menuju ke Sumedang Larang" sambungnya panjang lebar.

Sultan Panembahan mengangguk-anggukan kepalanya sambil memejamkan matanya, mencoba untuk berfikir mencari cara membalaskan penghinaan yang sudah diterimanya. Dirinya masih sulit menerima kenyataan bahwa Ratu Harisbaya akan mengkhianatinya.

"Patih Aryatedja, semua penjelasanmu dapat aku mengerti dan sangat masuk akal" ujar Sultan Panembahan. Hatinya berkecamuk oleh rasa marah karena dipermalukan oleh orang-orang yang sangat dipercayainya yaitu Prabu Geusan Ulun yang kedatangannya diperlakukan dengan sangat terhormat olehnya. Dan terutama merasa dipermalukan oleh Ratu Harisbaya, istrinya sendiri.

Patih Aryatdja merasa senang karena pendapatnya di dengar oleh Sultan Panembahan, selain dia merasa terhina oleh kejadian hilangnya Ratu Harisbaya tetapi sudah sejak lama dia ingin menguasai Sumedang Larang sehingga semua wilayah bekas kekuasaan Pajajaran bisa dikuasai Kesultanan Cirebon.

"Kanjeng Sultan...perintahkan sekarang juga untuk menyerang Sumedang Larang" pintanya sambil merangkapkan kedua tangannya.

Sultan Panembahan berdiri dari duduknya lalu berjalan mondar-mandir sambil mengusap-ngusap dagunya.

"Patih Aryatedja, menurutmu berapa kekuatan prajurit Kerajaan Sumedang Larang?" tanyanya kepada Patih Aryatedja. Sementara Senapati Anggawirya yang masih duduk bersimpuh diam-diam merasa senang karena dia punya kesempatan untuk membalas sakit hati yang diterimanya akibat hilangnya Ratu Harisbaya.

"Menurut laporan telik sandi, kekuatan prajurit Kerajaan Sumedang Larang tidak lebih dari seribu orang" jawab Patih Aryatedja.

"Hmmm...cukup besar, tidak kusangka kekuatan prajurit mereka meningkat sepesat itu" gumam Sultan Panembahan.

"Betul Kanjeng Sultan...mereka agresif membangun kekuatan sejak kedatangan empat kandaga lante dari Pajajaran" Patih Aryateda menambahkan.

"Patih Aryatedja..dua hari dari sekarang pimpin dua ribu pasukan kita ke perbatasan Maja. Dan kau..Senapati Anggawirya, besok pagi bawa lima ratus orang prajurit menemui penguasa di sekitar Maja dan minta mereka membuka perbatasan untuk prajurit kita yang akan masuk, jika mereka menolak...kau tahu apa yang harus dilakukan!!" perintah Sultan Panembahan kepada Patih Aryatedja dan Senapati Anggawirya.

"Senapati...selanjutnya kau tunggu pasukan Patih Aryatedja di perbatasan, dan minta tambahan lima ratus prajurit untuk menyerang ke Kerajaan Sumedang Larang. Sementara Patih Aryatedja kau pimpin seribu lima ratu pasukan di perbatasan untuk berjaga-jaga jika Senapati Anggawirya terdesak" sambungnya memberi perintah khusus kepada Senapati Anggawirya dan Patih Aryatedja.

"Baik Kanjeng Sultan..hamba akan melaksanakan semua titahmu" Patih Aryatedja dan Senapati Anggawirya menjawab hampir bersamaan.

===

Sementara itu di Keraton Kerajaan Sumedang Larang tepatnya di dalam kamar keputren utama tempat tinggalnya Permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru.

"Kakanda Prabu...apa yang kau lakukan itu sangat tidak patut. Membawa lari istri orang apalagi istri kerabat sendiri..ini aib yang sangat besar dan sangat tercela" isak Permaisuri Nyi Mas Gendeng Waru di hadapan Prabu Geusan Ulun.

"Kakanda Prabu boleh saja memperistri siapapun..aku tidak akan melarang. Tapi kenapa harus istrinya Kakang Sultan Panembahan" sambungnya tidak bisa menerima apa yang telah dilakukan oleh Prabu Geusan Ulun.

Prabu Geusan Ulun menarik nafas panjang lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru yang duduk tidak jauh darinya. Dengan penuh kasih sayang diusapnya kepala permaisurinya itu.

"Dinda..aku harap kau bisa memaklumi yang sudah terjadi dan menerima Harisbaya sebagai istri keduaku" ujar Pabu Geusan Ulun tidak mau berpanjang lebar.

"Kakanda Prabu..apakah kau sudah memikirkan semua akibatnya? Aku yakin Kakang Sultan akan marah besar dan mungkin akan menyerang kita" Nyi Mas Gedeng Waru bertanya lirih. Dia sudah tahu bahwa tidak mungkin merubah kehendak Prabu Geusan Ulun.

"Dinda jangan khawatir...semuanya sudah diatur supaya tidak ada yang tahu atas kejadian ini. Dan kuharap Dinda bisa menutup rapat hal ini supaya jangan bocor keluaran" Prabu Geusan Ulun menenangkan Permaisuri Nyi Mas Gendeng Waru.

Permaisuri Nyi Mas Gendeng Waru tidak lagi menjawab, wajahnya dibenamkan diatas kedua lengannya di atas meja. Hatinya khawatir dan malu bukan kepalang membayangkan akibat yang akan terjadi karena dia yakin suatu saat rahasia ini pasti akan diketahui oleh Kesultanan Cirebon.

Selain masalah dengan Kesultanan Cirebon, hatinya juga sangat teriris bukan karena Prabu Geusan Ulun akan menikah lagi, tapi kenapa harus Harisbaya. Dia sudah mendengar tentang hubungan percintaan Prabu Geusan Ulun dengan Harisbaya di masa lalu. Hati Prabu Geusan Ulun pasti akan lebih condong ke Harisbaya daripada ke dirinya.

Prabu Geusan Ulun meninggalkan Permasiuri Nyi Mas Gendeng Waru yang masih menelungkupkan wajahnya di atas meja. Prabu Geusan Ulun sudah tidak sabar ingin menemui Ratu Harisbaya, diarahkan langkahnya ke kaputren khusus tamu negara.