Sepeninggal Senapati Anggawirya dan Ki Demang Ranggajati, Sultan Panembahan memanggil semua petinggi Kesultanan Cirebon dan mengumpulkannya di balariung. Suasana terasa sangat tegang dan mencekam, melihat wajah Sultan Panembahan yang legam karena amarah yang tertahan membuat tidaka ada yang berani buka suara.

"Kalian tentu sudah faham, mengapa aku memanggil kalian semua" ujar Sultan Panembahan dengan suara bergetar.

"Ampun Kanjeng Sultan...kami semua sudah mengetahuinya dan siap menunggu perintahmu" jawab Patih Aryatedja.

"Baiklah..aku tidak akan berpanjang-panjang cerita, Senapati Anggawirya mencurigai kalau Geusan Ulun dari Sumedang Larang yang menculik Harisbaya" suara Sultan Panembahan tercekat menahan amarah.

"Jika hal tersebut benar adanya...ini adalah sebuah penghinaan terhadap kehormatan Kesultanan Cirebon, khususnya terhadap diriku!" sambung Sultan Panembahan.

"Ampun Kanjeng Sultan....perintahkan sekarang juga hamba untuk menghukum Sumedang Larang atas penghinaan ini, tidak akan kuberi ampun!" geram Patih Aryatedja.

Suasana balariung mendadak riuh, beberapa Patih Jero yang hadir terdengar bergumam menunjukkan amarahnya.

"Patih Aryatedja, aku minta kau sekarang juga perintahkan semua Patih Jero dan Pangeri untuk mempersiapkan pasukan dan tunggu perintah selanjutnya. Tutup Gerbang Jaga Bayan dan tidak boleh seorangpun masuk atau keluar dari kota kecuali senapati dan prajurit yang sedang bertugas!!!"  perintah Sultan Panembahan dengan suara yang keras.

"Aku masih harus menunggu kabar dari Senapati Anggawirya dan Ki Demang Ranggajati. Jangan sampai kita salah menurunkan tangan" sambung Sultan Panembahan.

==

Senapati Anggawirya ditemani oleh empat orang prajurit pilihan yang ahli dalam mencari jejak dan teliksandi, memacu kudanya dengan cepat ke arah (bukit) Pasir Batang sesuai informasi dari Ki Demang Ranggajati. Sesampainya di puncak bukit, Senapati Anggawirya meompat turun diikuti oleh empat orang prajuritnya.

"Kalian berpencar, cari jejak atau tanda apapun yang mencurigakan" ujar Senapati Anggawirya.

Mendengar perintah Senapati Anggawirya, keempat prajurit tersebut bergegas berpencar searah mata angin.

"Hmmm...kemana kira-kira perginya Sang Hyang Hawu, tidak mungkin jejaknya tidak terlihat" batin Senapati Anggawirya gusar.

"Kanjeng Senapati...di sini ada jejak kuda" teriak Setyaka, salah satu anggota teliksandi yang memeriksa ke arah selatan.

Senapati Anggawirya bergegas menyusul ke arah Setyaka.

"Apa yang kau temukan Setyaka?" tanya Senapati Anggawirya tidak sabar.

"Lihat Kanjeng Senapati...ini ada beberapa bekas kotoran kuda dan juga jejak kuda. Perkiraan hamba ada sekitar empat ekor kuda" ujar Setyaka sambil menunjuk beberapa jejak kuda yang sepertinya sengaja di tutupi atau disamarkan dengan tumpukan daun pohon jati.

"Ah...kau betul Setyaka, mereka mencoba menutupinya" ujar Senapati Anggawirya girang karena berhasil menemukan jejak yang dicarinya.

"Tapi apa tujuan mereka datang ke sini dan mengapa ada empat ekor jejak kuda? Bukankah Sang Hyang Hawu pergi seorang diri?" gumam Senapati Anggawirya merasa penasaran.

"Kanjeng Senapati..." tiba-tiba Setyaka berteriak kegirangan sambil menunjuk ke lereng bukit.

"Ada apa Setyaka?" Senapati Anggawirya kaget.

"Di bawah sana...di bawah sana.., ada gubuk. Mungkin mereka bersembunyi di sana" ujar Setyaka sambil bergegas hendak menuruni lereng bukit.

"Sebentar Setyaka...jangan gegabah. Mungkin saja ini jebakan" Senapati Anggawirya menahan Setyaka agar tidak bertindak sembrono.

"Sekarang panggil ketiga temanmu dan berkumpul di sini. Aku akan memeriksa keadaan sekitar" sambung Senapati Anggawirya sambil melompat dengan ringan ke atas sebuah pohon yang paling tinggi.

Dengan ringan Senapati Anggawirya hinggap di atas dahan pohon yang paling besar, lalu di edarkannya pandangan ke seluruh penjuru Pasir Batang. Sejauh mata memandang tidak terlihat ada yang mencurigakan lalu pandangannya di alihkan ke arah gubuk yang dari tempatnya sekarang terlihat sangat jelas.

"Siapa yang berada di gubuk itu? Apakah Kanjeng Ratu Harisbaya disembunyikan di sini?" beribu pertanyaan berkecamuk di kepala Senapati Anggawirya.

Setelah dirasa tidak ada yang mencurigakan di sekitar puncak bukit, Senapati Anggawirya melayang turun dari atas pohon. Sesampainya di bawah dilihatnya keempat prajurit pendampingnya sudah menunggu.

"Setyaka dan Dirun, kalian segera turun ke dasar lembah dan sisir balik sampai di gubuk" ujar Senapati Anggawirya memerintahkan Setyaka dan salah satu prajurit bernama Dirun untuk memeriksa keadaan di dasar lembah.

"Arahan dan Badik, kalian periksa tigaratus deupa dari arah timur dan sisir balik sampai ke gubuk itu. Aku akan menyisir dari arah barat" sambungnya memberi perintah kepada kedua parajurit lainnya.

Setelah mendapat perintah dari Senapati Anggawirya, keempat prajurit tersebut segera berpencar sesuai tugas masing-masing. Sementara Senapati Anggawirya bergerak menjauh sekitar empat ratus deupa ke arah barat dari gubuk tersebut. Lalu berbalik menyisir sekitar gubuk memastikan tidak ada bahaya yang akan mengancam mereka.

Senapati Anggawirya menempelkan telinganya ke dinding gubuk, mencoba mendengar apa yang ada di dalamnya.

"Hmmm...sepertinya gubuk ini tidak ada penghuninya" batin Senapati Surawisesa lalu berputar ke arah pintu gubuk. Dilihatnya Setyaka dan Dirun sudah berjaga-jaga dengan golok terhunus dan tak lama kemudian Arahan dan Badik muncul memberi tanda bahwa semuanya aman.

"Dirun...kau dobrak pintu itu! Kalian bertiga tetap waspada" ujar Senapati Anggawirya memberi perintah.

Dengan sekali terjang, pintu gubuk itu hancur berantakan lalu Dirun masuk memeriksa ke dalam gubuk.

"Disini tidak ada orang" teriak Dirun dari dalam gubuk.

"Kalian bertiga tunggu di sini dan awasi..jangan sampai kecolongan" ujar Senapati Anggawirya kepada Setyaka dan kedua temannya.

Senapati Anggawirya bergegas masuk ke dalam gubuk, dilihatnya kondisi gubuk tersebut memang kosong. Hanya ada perapian dan sebuah belanga tanah di atasnya.

"Dirun, kau periksa perapian itu...sepertinya baru saja di pakai" ujar Senapati Anggawirya sambil memeriksa dengan cermat setiap jengkal gubuk tersebut.

"Betul Kanjeng Senapati, perapiannya disiram air tetapi belanganya masih terasa hangat" jawab Dirun.

"Sepertinya aku kalah cepat. Lebih baik aku menyusul Ki Demang Ranggajati ke perbatasan" batin Senapati Anggawirya sambil mengepalkan tangannya geram. 

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #11

==

Menjelang petang Prabu Geusan Ulun dan ketiga patihnya sudah sampai Maja yang merupakan perbatasan Kesultanan Cirebon dengan Talaga.

"Lebih baik kita beristirahat di sini sambil menunggu Kakang Patih Batara Sang Hyang Hawu" teriak Prabu Geusan Ulun sambil menarik kekang kudanya diikuti oleh ketiga patihnya.

"Lihat di sebelah sana, sepertinya ada situ (danau). Kita bermalam di sana" ujar Prabu Geusan Ulun sambil mengarahkan kudanya ke sebelah barat menuju ke situ yang dikelilingi pohon-pohon besar.

"Tunggu Gusti Prabu" cegah Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

"Rayi Pancar Buana...kau periksa dulu keadaan di sekitar situ (danau)" sambung Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa memerintahkan Patih Batara Pancar Buana memeriksa keadaan. Patih Batara Pancar Buana memacu kudanya mendahului Prabu Geusan Ulun untuk memeriksa keadaan.

Setelah memutari Situ dan memeriksa keadaan sekelilingnya, Patih Batara Pancar Buana memberi kode bahwa keadaan aman.

"Silahkan Gusti Prabu menyusul Rayi Pancar Buana" ujar Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa mempersilakan.

Selanjutnya Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa mematahkan sebuah ranting pohon dan membuat tanda di sebuah pohon yang cukup besar. Malam itu Prabu Geusan Ulun dan ketiga patihnya menghabiskan malam di pinggir situ (danau) sambil menunggu kedatangan Patih Batara Sang Hyan Hawu dan Ratu Harisbaya.

Menjelang tengah malam, Patih Batara Dipati Wiradjaya yang bertugas untuk berjaga lamat-lamat mendengar suara derap kuda mendekati ke arah mereka. Dengan segera dibangunkannya Patih Batara Pancar Buana,

"Kakang Pancar Buana...cepat bangun" bisik Patih Batara Dipati Wiradjaya sambil menggoyangkan bahu Patih Pancar Buana.

"Ada apa Rayi...aku baru saja mau tidur" jawab Patih Batara Pancar Buana gusar karena baru saja terlelap.

"Jangan keras-keras Kakang...aku mendengar suara derap kuda menuju kemari" ujar Patih Batara Dipati Wiradjaya tetap berbisik.

"Aku khawatir itu adalah pasukan Kesultanan Cirebon yang mengejar kita" sambungnya.

Mendengar hal itu, Patih Batara Pancar Buana setengah melompat lalu berkata,

"Cepat kau matikan api dan bangunkan Kakang Kondang Hapa. Aku akan menghadang mereka sebelum sampai kemari" ujarnya sambil mengusap mukanya.

Dengan sekali lompat Patih Batara Pancar Buana melesat di antara rimbunnya pepohonan menuju ke arah suara derap kaki kuda yang terdengar semakin jelas.

==

Sementara itu Ki Demang Ranggajati bersama tiga orang anggota telik sandi terbaiknya berusaha mengejar rombongan Pabu Geusan Ulun.

"Ah...malam sudah larut sekali, tapi aku belum bisa menyusul rombongan mereka" batin Ki Demang Ranggajati sambil menarik kekang kudanya yang mulutnya sudah berbusa karena kelelahan.

"Huuuupp..." Ki Demang Ranggajati memberi kode kepada semua anak buahnya untuk berhenti.

"Romdah...kau lihat di depan sepertinya ada asap yang mengelun" ujar Ki Demang Ranggajati kepada Romdah salah satu anak buahnya yang membawa obor.

"Betul Ki Demang dan sepertinya tidak jauh dari sini. Lebih baik kita segera kejar ke sana" jawab Romdah.

"Sabar...jangan terburu-buru yang kita kejar bukan orang sembarangan" ujar Ki Demang Ranggajati menahan Romdah.

"Lebih baik kita selidiki terlebih dahulu" sambungnya sambil melompat turun dari kuda.

Romdah dan kedua temannya yaitu Raka dan Damiri menyusul turun dari kuda.

"Raka sembunyikan dan ikat kuda-kuda di sini" ujar Ki Demang Ranggajati memerintahkan untuk menyembunyikan kuda mereka.

Setelah kuda-kuda mereka terikat di tempat yang dianggap aman, Ki Demang Ranggajati mengatur siasat untuk menyelidiki tempat yang dicurigai. Tanpa sepengetahuan mereka, di atas pohon Kiara yang sangat rimbun sepasang mata mengawasi gerak-gerik mereka.

"Hmmm..tepat dugaanku, mereka adalah prajurit Kesultanan Cirebon" batin orang yang di atas pohon Kiara yang ternyata adalah Patih Batara Pancar Buana. Setelah yain bahwa mereka adalah prajurit Kesultanan Cirebon, Patih Batara Pancar Buana melesat tanpa menimbulkan suara menuju ke tempat mereka beristirahat. Dengan ajian meringankan tubuh yang luar biasa gerakannya sehalus angin tanpa disadari oleh prajurit-prajurit Kesultanan Cirebon di bawahnya.

Patih Batara Pancar Buana melayang turun dan dilihatnya Prabu Geusan Ulun dan kedua patih lainnya sudah dalam posisi siaga dengan kuda masing-masing.

"Ah....Rayi Pancar Buana, bagaimana hasil pengamatanmu?" tanya Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa tidak sabar.

Setelah menjura hormat kepada Prabu Geusan Ulun,

"Ampun Gusti Prabu...ada empat orang prajurit Kesultanan Cirebon yang sepertinya mengejar kita" ujar Patih Batara Pancar Buana.

"Hmmm...apakah mereka sudah mengetahui kalau Harisabaya melarikan diri?" gumam Prabu Geusan Ulun.

"Lebih baik kita bergegas pergi sebelum mereka tiba....." sambungnya sambil melompat ke atas punggung kudanya.

"Betul Gusti Prabu...tidak baik kita berselisih di tanah mereka" jawab Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

Namun baru kering bibir Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa tiba-tiba dari kegelapan muncul tiga orang berpakaian prajurit Kesultanan Cirebon menghalangi langkah kuda Prabu Geusan Ulun dan ketiga patihnya.

"Mengapa hendak terburu-buru pergi Kanjeng Prabu, hari masih gelap" ujar salah satu dari mereka yang tak lain adalah Ki Demang Ranggajati.

Prabu Geusan Ulun kaget bukan kepalang, ditarik kekang kudanya sambil melompat turun. Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa segera melompat ke depan melindungi Prabu Geusan Ulun sementara Patih Batara Pancar Buana dan Patih Dipati Wiradjaya waspada mengawasi sekeliling.

 "Siapa kau? Berani-beraninya menghalangi jalan kami!" bentak Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

"Hamba adalah Ki Demang Ranggajati, prajurit rendahan dari Kesultanan Cirebon" jawab Ki Demang Ranggajati merendah.

"Hamba kebetulan lewat dan tidak mengira bisa bertemu dengan penguasa Kerajaan Sumedang Larang yang agung" sambungnya sambil merangkapkan kedua tangannya.

"Ah..begitu kiranya, kami memang harus segera kembali ke Kuta Maya, sudah terlalu lama ditinggalkan" Prabu Geusan ulun mencoba mencairkan suasana.

Ki Demang Ranggajati tersenyum sambil tetap waspada karena walau bagaimanapun yang dihadapinya adalah seorang Raja dan tiga orang patih yang tentu ilmu dan kesaktiannya sulit untuk diukur.

"Damiri, nyalakan api obor. Tidak sopan rasanya kita berbicara dengan seorang Prabu dalam gelap seperti ini" Ki Demang Ranggajati memerintahkan salah seorang anak buahnya menyalakan obor.

Damiri sigap menggunakan paneker untuk menyalakan obornya, keadaan seketika menjadi terang sehingga Ki Demang Ranggajati merasa lebih leluasa mengawasi Prabu Geusan Ulun dan ketiga patihnya.

Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa sudah membaca bahwa Ki Demang Ranggajati memang sengaja menerangi tempat tersebut untuk mempersempit gerak mereka.

"Ki Demang...sepertinya kami harus segera pergi, supaya pagi sudah sampai di Kuta Maya" ujar Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa secepatnya ingin meninggalkan tempat itu.

"Hmm..baiklah kalau seperti itu, hamba tidak akan menghalangi. Namun izinkan hamba bertanya" ujar Ki Demang Ranggajati.

"Hendak bertanya apa? Cepat kau katakan" Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa tidak sabar.

Ki Demang Ranggajati tersenyum mencoba sabar menghadapi kebrangasan Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa. Dia menyadari bahwa mereka bukanlah tandingan jika harus bertempur.

"Hamba sedang mengejar penjahat mesum yang telah menculik banyak wanita, apakah Kanjeng Prabu dan rombongan melihatnya?" ujar Ki Demang Ranggajati sambil tersenyum sinis.

Prabu Geusan Ulun melengak, wajahnya terasa panas.

"Sepanjang jalan kami tidak melihat ataupun bertemu dengan orang yang Ki Demang maksud" jawab Prabu Geusan Ulun bergetar.

Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa meraba gagang goloknya sementara Patih Batara Pancar Buana dan Patih Dipati Wiradjaya saling berpandangan. Bukan karena ketakutan tetapi tidak menyangka secepat ini Kesultanan Cirebon bisa mencurigai dan mengejar mereka.

"Hmm..aneh juga, padahal menurut informasi mereka lari ke arah Kerajaan Talaga" ujar Ki Demang Ranggajati sambil matanya liar mengawasi sekitar.

"Dan setahu kami, Kanjeng Prabu pergi bersama dengan keempat patihnya yang gagah perkasa, tapi sepertinya hanya ada bertiga saja?" sambungnya menyelidik.

Patih Sang Hyang Kondang Hapa meradang mendengar pertanyaan Ki Demang Ranggajati,

"Apa maksudmu bertanya seperti itu Ki Demang? Bukan urusanmu bertanya-tanya kepada kami!" semburnya.

Tiba-tiba dari kegelapan berkelebat sebuah benda hitam menyambar ke arah Ki Demang Ranggajati.

"Wuuttt.." 

Ki Demang Ranggajati adalah seorang petinggi telik sandi Kesultanan Cirebon tentulah mempunai ilmu kesaktian yang cukup tinggi,

"Pengecut...!" makinya sambil dengan tenang menggeser tubuhnya sambil mendorongkan tangannya ke arah benda yang meluncur deras ke arahnya.

"Buk..."
"Arghhhh.."

Selarik angin bertenaga dalam tinggi berhawa panas menghantam dan terdengar suara benturan dan erangan suara manusia. 

Ki Demang, Damiri dan Romdah melengak kaget begitu melihat benda hitam tersebut jatuh berdebum ke tanah. Ternyata yang meluncur ke arah Ki Demang Ranggajati dan di hantam oleh tenaga dalam tingkat tinggi tersebut adalah Raka. Tubuhnya tergolek mati tidak bergerak!.

"Bajingan pengecut, siapa yang berani berbuat sekeji ini?" amarah Ki Demang Ranggajati muntab.

Tiba-tiba terdengar suara tawa keras yang menggocang gendang telinga tanda disertai oleh tenaga dalam yang sangat tinggi.

"Ha...ha...ha..."

Ki Demang segera menutup jalur pendengarannya sambil menyalurkan tenaga dalam ke tangan kanannya bersiap-siap menghantam. Sementara Damiri dan Romdah menghunus goloknya masing-masing.

Sejurus kemudian melayang turun sesosok tubuh dari sebuah pohon yang sangat tinggi lalu mendarat di tanah sambil terkekeh.

"Kakang Batara Sang Hyang Hawu..." desis Patih Batara Sang Hyang Kondan Hapa.

Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa melihat hal tersebut segera meminta Prabu Geusan Ulun untuk mundur.

"Gusti Prabu, lebih baik segera menyingkir sepertinya keadaan akan kacau" bisiknya sambil memberi kode kepada Patih Pancar Buana dan Patih DIpati Wiradjaya untuk mengamankan Prabu Geusan Ulun.

Sementara itu Ki Demang Ranggajati mendadak pucat, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Tidak menyangka kalau anak buah Prabu Geusan Ulun akan berani berbuat sekejam itu kepada prajurit Kesultanan Cirebon.

"Ki Demang bukankah kau menanyakan keberadaanku? Sekarang aku ada di hadapanmu" ujar sosok yang ternyata adalah Patih Batara Sang Hyag Hawu sambil terkekeh geli.

"Ki Sanak...kenapa kau kejam sekali menurunkan tangan kepada prajurit Kesultanan Cirebon seperti itu?" tanya Ki Demang Ranggajati gusar.

"Ha..ha..ha..dia mengendap-ngendap seperti maling ayam di sekitar tempat ini, aku tidak tahu kalau dia adalah prajuritmu" jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu dengan nada yang merendahkan.

Mendengar jawaban Patih Batara Sang Hyang Hawu yang sangat tidak enak didengar telinga, Ki Demang Ranggajati meradang. Namun diredamnya emosi yang sudah membuncah, dia menyadari posisinya sangat tidak menguntungkan.

"Ah...walaupun begitu tetapi seharusnya Ki Sanak cukup menangkapnya saja tidak perlu menurunkan tangan terlalu keras" jawab Ki Demang Ranggajati.

Prabu Geusan Ulun yang melihat kedatangan Patih Batara Sang Hyang Hawu mulai gelisah karena tidak melihat Ratu Harisbaya bersamanya. Sementara Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa bergegas maju menengahi.

"Ki Demang, kami mohon maaf atas kesalahan tangan ini dan izinkan kami pergi meninggalkan tempat ini" ujarnya sambil memberi kode kepada Patih Batara Sang Hyang Hawu untuk mundur.

Namun rupanya Patih Batara Sang Hyang Hawu tidak senang dengan sikap mengalah Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

"Apa-apaan Rayi? Sudah jelas mereka mencurigai kita" bisik Batara Sang Hyang Hawu.

"Maafkan Kakang..tapi kita masih berada di wilayah mereka, lebih baik kita menghindari bentrokan" jawab Batara Sang Hyang Kondang Hawu sambil berbisik.

Ki Demang Ranggajati bimbang, keadaan sangat tidak menguntungkan bagi diri dan anak buahnya namun sebagai pimpinan telik sandi yang sangat berpengalaman, dicobanya untuk bernegoisasi.

"Sebenarnya kami tidak ada maksud untuk menghalangi tapi tentu kesalahpahaman ini perlu dijelaskan kepada junjungan kami, Kanjeng Sultan Panembahan" jawabnya sambil memberi kode kepada Romdah untuk mendekat. Romdah beringsut menghampiri Ki Demang Ranggajati.

"Kau segera kembali ke Semanan temui Patih Jero Ki Darga dan minta bantuan pasukan" bisiknya.

"Baik Ki Demang" jawab Romdah sambil berbalik hendak meninggalkan tempat itu.

Namun baru saja Romdah melangkah tiba-tiba sebuah batu kecil menghantam tengkuknya dan tubuhnya menjadi kaku.

"Kakang Sang Hyang Hawu apa yang kau lakukan" Patih Batara Sang Hyang Hawu terkejut melihat Patih Batara Sang Hyang Hawu melemparkan batu untuk menotok Romdah.

"Ki Sanak mengapa kau selalu berlaku keras kepada anak buahku?" Ki Demang Ranggajati meledak amarahnya.

"Ki Demang kau bermaksud tidak baik rupanya..sudah tida perlu berbasa-basi lagi, aku mendengar kau menyuruh anak buahmu untuk memanggil pasukan bantuan" jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Sekarang tidak ada seorangpun yang boleh meninggalkan tempat ini!" sambungnya sambil mengalirkan tenaga dalam ke tangan kanannya. Asap tipis mulai mengepul dari sela-sela jarinya lalu dengan sekali genjotan tubuhnya meluncur ke arah Ki Demang Ranggajati dengan kedua tangan mengembang.

Mendapat serangan seperti itu, Ki Demang Ranggajati tidak ada pilihan lain selain menyambut serangan tersebut. Seluruh tenaga dalamnya di pusatkan di tangannya.

"Desss...desss..bug"

Kedua tangan berisi tenaga dalam tingkat tinggi itu beradu, terdengar suara dentuman lalu diikuti oleh asap yang tebal. Tubuh Ki Demang Ranggajati membatu dengan kaki yang terbenam di tanah dari kepalanya keluar asap. Sementara Patih Batara Sang Hyang Hawu terjajar satu langkah ke belakang.

Damiri segera memburu ke arah Ki Demang Ranggajati namun kembali mundur begitu meilhat tubuh yang kaku terbakar. Nyalinya seketika lumer dilemparkannya obor ditangan kanannya lalu berbalik mengambil langkah seribu.

Patih Batara Sang Hyang Hawu tidak mau melepaskan begitu saja dengan sebat tubuhnya melayang mengejar Damiri.

"Krakkk"

Kepala Damiri rengkah tanpa mengeluarkan suara. Patih Batara Sang Hyang Hawu berbalik ke arah Romdah yang berdiri mematung. Sentak tangan kanannya menghantam dada Romdah yang langsung mencelat dan jatuh berdebum...tapak merah jari tangan membekas di dadanya.

"Kakang Patih..kenapa mereka semua harus di bunuh?" Prabu Geusan Ulun gusar melihat kekejaman Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Patih Batara Sang Hyang Hawu segera menghampiri Prabu Geusan Ulun lalu berlutut di hadapannya.

"Ampunkan hamba Gusti Prabu..kita harus bertindak cepat. Hamba khawatir jika lolos, mereka akan kembali membawa pasukan yang lebih besar dan akan menyulitkan kita" ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Lagi pula sepertinya Kesultanan Cirebon sudah tahu mengenai keterlibatan kita dalam menghilangnya Gusti Ratu Harisbaya" sambungnya sambil tetap berlutut.

"Ya sudah Kakang Patih...dimana Harisbaya sekarang" Prabu Geusan Ulun seolah tersentak mendengar nama Harisbaya, sehingga lupa kekesalannya atas kekejaman Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Gusti Ratu Harisbaya sedang dalam perjalanan menuju Kuta Maya bersama Jantaka dan Sakuntala" jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Prabu Geusan Ulun tersentak.

"Kenapa kau biarkan Harisbaya bersama orang lain Kakang Patih? Aku khawatir akan keselamatannya" Prabu Geusan Ulun terkejut mendengarnya.

"Menurut hemat hamba, Gusti Prabu tidak boleh terlihat bersama dengan Gusti Ratu Harisbaya untuk menghindari masalah" ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu.

"Sekarang hamba akan menyusul Gusti Ratu Harisbaya. Gusti Prabu lebih baik tetap di belakang rombongan Gusti Ratu" sambungnya menjelaskan.

"Hmmm..baiklah kalau begitu. Sekarang lebih baik Kakang Patih menyusul Harisbaya, secepatnya aku sampai ke Kuta Maya" Prabu Geusan Ulun memahami rencana Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Patih Batara Sang Hyang Hawu melesat meninggalkan Prabu Geusan Ulun, tubuhnya dengan ringan menerobos lebatnya pepohonan dan pekatnya malam. Prabu Geusan Ulun dan ketiga patihnya bergegas meninggalkan tempat tersebut.

==