GERHANA DI BUMI CIREBON



Pagi itu suasana pendopo Kesultanan Cirebon cukup ramai, Sultan Panembahan didampingi oleh permaisuri Ratu Mas Glampok tampak berbincang cukup serius dengan Prabu Geusan Ulun. Setelah 3 hari kunjungannya ke Keraton Cirebon, hari itu Prabu Geusan Ulun mohon pamit untuk kembali ke kerajaannya, yaitu Kerajaan Sumedang Larang.

“Kakanda Sultan, kami atas nama pribadi dan seluruh rakyat Sumedang Larang mengucapkan banyak terima kasih atas sambutannya yang luar biasa menyenangkan. Aku banyak belajar tentang ketatanegaraan dan kesejahteraan rakyatujar Prabu Geusan Ulun sambil merangkapkan kedua tangannya di atas dada sementara ke-4 patihnya merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

“Jangan sungkan Rayi Prabu, malahan aku berharap kau akan tinggal beberapa hari lagi. Belum puas rasanya kita bercengkrama, lebih dari 5 tahun kita tidak bertemu. Betulkan Dinda Ratu?” jawab Sultan Panembahan Ratu sambil melirik permaisurinya.

“Betul Rayi…bahkan kita belum sempat berbincang, kau selalu sibuk dengan Kakanda Sultan” Ratu Mas Glampokk menimpali sambil tersenyum.

“Terima kasih banyak Kakanda Sultan dan Kakanda Ratu, hanya saja masih banyak pekerjaan di Sumedang Larang yang belum terselesaikan. Banyak ilmu yang aku pelajari selama aku disini dan semoga bisa diterapkan di Sumedang Larang” Prabu Geusan Ulun mencoba mengakhiri basa-basi ini. Hatinya berdegup kencang khawatir lenyapnya Ratu Harisbaya akan segera ketahuan.

“Aih..sepertinya Rayi Prabu sudah sangat merindukan Sumedang Larang. Tolong sampaikan salamku kepada Dinda Nyimas Gedeng Waru” Ratu Mas Glampokk menggoda Prabu Geusan Ulun.

“Apakah kau tidak ingin berjumpa dengan Dinda Harisbaya?” sambung Ratu Mas Glampokk sambil matanya mengerling kepada Sultan Panembahan. Jelas ada nada cemburu yang diarahkan ke arah Sultan Panembahan.

Deegg!!!

Wajah Prabu Geusan Ulun memerah lalu berubah menjadi pucat pasi begitu pula ke-4 patihnya, Patih Batara Sang Hyang Hawu meraba ujung kepala goloknya. Sementara wajah Sultan Panembahan merah padam, walau bagaimanapun dia merasa bersalah karena menikahi Ratu Harisbaya yang merupakan kekasih Prabu Geusan Ulun saat mereka sama-sama nyantri di Kesultanan Pajang.

“Sayang sudah beberapa hari ini Dinda Harisabaya sedang tidak baik kesehatannya sehingga tidak bisa keluar Kaputren” Ratu Mas Glampok seakan belum puas melihat Prabu Geusan Ulun dan Sultan Panembahan salah tingkah.

Suasana menjadi kikuk, Patih Batara Sang Hyang Hawu segera mengambil inisiatif untuk mengakhiri perbincangan yang akan membahayakan keselamatan mereka.

“Ampun Gusti Prabu, sebaiknya kita segera berangkat supaya sebelum petang kita sudah sampai di Kuta Maya (ibu kota Sumedang Larang)” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu kepada Prabu Geusan Ulun sambil merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

“Baiknya memang begitu, apa yang disampaikan Patihmu ada benarnya. Jangan sampai kemalaman sampai Kuta Maya ” ujar Sultan Panembahan kepada Prabu Geusan Ulun tanpa sekilaspun memandang kepada Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Sultan Panembahan memang tidak terlalu menyukai ke-4 patih Prabu Geusan Ulun, peristiwa penyerahan Makuta Binokasih Sang Hyang Pake dari Prabu Surya Kancana kepada Kerajaan Sumedang Larang. Sultan Panembahan khawatir penyerahan tanda kebesaran Raja Pajajaran tersebut akan merubah arah politik Kerajaan Sumedang Larang dan berbalik memusuhi Kesultanan Cirebon. Walaupun Kerajaan Sumedang Larang tidak terlalu besar tapi dengan kehadiran empat bekas Kandaga Lante Pajajaran jelas akan menambah kekuatan perangnya.

Akhirnya Sultan Panembahan dan Ratu Mas Glampok di dampingi oleh beberapa petinggi Kesultanan Cirebon melepas kepergian Prabu Geusan Ulun untuk kembali ke Kerajaan Sumedang Larang.

Prabu Geusan Ulun bergegas melompat ke atas kudanya di ikuti oleh ke-4 patihnya melompat ke atas kudanya masing-masing. Setelah menyampaikan penghormatan kepada Sultan Panembahan dan Ratu mas Glampokk, Prabu Geusan Ulun memacu kudanya di ikuti oleh ke-4 patihnya.

Setelah cukup jauh dari Keraton Kesultanan Cirebon, Patih Batara Sang Hyang Hawu mempercepat lari kudanya menjajari kuda Prabu Geusan Ulun.

“Ampun Kanjeng Gusti Prabu, hamba mohon izin untuk menjemput Gusti Ratu Harisbaya” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Kakang Patih di mana Harisbaya? Aku khawatir dia cemas menunggu kita” Prabu Geusan Ulun terlihat gelisah.

“Jangan khawatir Gusti Prabu, lebih baik lanjutkan perjalanan dengan ke-3 rayi patih. Nanti kita bertemu di Maja” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Apa rencanamu Kakang Patih? Kenapa kita tidak bersama-sama menemui Harisbaya sekarang?” Prabu Geusan Ulun gusar.

“Terlalu bahaya Gusti Prabu, hamba khawatir Sultan Panembahan akan segera menyadari hilangnya Ratu Harisbaya dan mengirim pasukan mengejar kita” jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Jadi sebaiknya Gusti Prabu segera sampai di Maja, kalaupun pasukan Cirebon mengejar…..masih bisa menggunakan pasukan telik sandi kita di Talaga untuk menghambat laju pasukan mereka” Patih Batara Sang Hyang Hawu menjelaskan.

“Hmmm…baiklah kalau begitu, tolong kau berhati-hati saat membawa Harisbaya. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak baik” akhirnya Prabu Geusan Ulun menyetujui rencana Prabu Geusan Ulun.

“Baik Gusti Prabu. Hamba pamit” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil mengurangi kecepatan lari kudanya. Dijajarkan lari kudanya dengan ke-3 patih yang lain,

“Rayi bertiga harap jaga keselamatan Gusti Prabu, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Rayi Kondang Hapa ku percayakan kau memimpin pengawalan Gusti Prabu, kita akan bertemu di Maja lewat tengah hari” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu kepada Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

“Baik Kakang Patih, kau juga harus berhati-hati” jawab Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa singkat.

Patih Batara Sang Hyang Hawu memisahkan diri dengan berbelok ke kanan menuju ke bukit tempat menyembunyikan Ratu Harisbaya. Setelah beberapa saat dia menghentikan lari kudanya lalu melompat turun, diperhatikannya keadaan sekitar sambil mengikatkan kudanya di pohon yang sehari sebelumnya dipakai untuk mengawasi Keraton Cirebon bersama Batara Dipati Wiradjaya. Setelah dirasa cukup aman, Patih Batara Sang Hyang Hawu menggenjot kakinya dan melayang turun ke lembah yang cukup curam. Dengan enteng kakinya menjejak tanah melompati gundukan ilalang yang cukup lebat dan tidak berapa lama sudah sampai di dasar lembah.

Diawasinya lagi keadaan sekitar, Patih Batara Sang Hyang Hawu memang berlaku sangat hati-hati. Sengaja dia melewati gubuk di lereng lembah dan melompat ke dasar lembah untuk memastikan di sekitar gubuk tidak ada yang mengawasi. Setelah yakin keadaan cukup aman, Patih Batara Sang Hyang Hawu kembali melompat ke atas lereng tempat gubuk itu berada.

Di depan gubuk tampak Jantaka dan Sakuntala sedang berjaga-jaga dengan golok terhunus. Keduanya memang orang-orang kepercayaan Patih Batara Sang Hyang Hawu, mereka berdua digembleng ilmu silat dan kesaktian langsung olehnya.

“Jantaka, bagaimana keadaan sekitar? Apakah ada yang mencurigakan?” tanya Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil menepuk pundak Jantaka.

Jantaka dan Sakuntala kaget bukan kepalang, sama sekali tidak disadarinya kehadiran Batara Sang Hyang Hawu.

“A..ah..Gusti Patih. Se…semua aman” jawab Jantaka gagap. Sementara Sakuntala segera menyarungkan goloknya dan merangkapkan kedua tangannya di atas kepala.

“Sudah..sudah..jangan segala pakai peradatan” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil mengibaskan tangannya.

“Dimana kuda yang ku minta?” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu bertanya kepada Jantaka dan Sakuntala.

“Disembunyikan di bawah bukit bersama kuda kami berdua” jawab Sakuntala.

“Bagus..sekarang bawa ketiga kuda tersebut ke atas bukit. Kita akan segera kembali ke Kuta Maya” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Ampun Gusti Patih, siapkah kiranya yang berada di dalam gubuk tersebut” tanya Jantaka.

“Kau tidak usah banyak tanya! Semakin kau tidak tahu maka akan semakin aman untuk kalian berdua” jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Sekarang tunggu apa lagi? Segera laksanakan perintahku!” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu gusar.

“B..baik Gusti Patih, hamba berdua segara laksanakan perintah” ujar Sakuntala bergetar ketakutan sambil bergegas menuruni bukit diikuti Jantaka untuk mengambil kuda.

Sepeninggal Jantaka dan Sakuntala, Patih Batara Sang Hyang Hawu pelan-pelan berjalan ke arah gubuk dan mengetuk pintu sambil memanggil Ratu Harisbaya.

“Duk..duk..duk”

“Gusti Ratu, tolong kau buka pintunya. Hamba datang untuk menjemputmu” kata Patih Batara Sang Hyang Hawu.

===============
Sementara itu di Keraton Kesultanan Cirebon sepeninggal Prabu Geusan Ulun mendadak gempar, emban tua yang biasa melayani Ratu Harisbaya ditemani kepala pengawal keputren tergopoh-gopoh mendatangi pendopo.

Keduanya langsung menjatuhkan badan dan bersujud di hadapan Sultan Panembahan dan Ratu Mas Glampokk yang sedang duduk bercengkrama.

“Ampun Kanjeng Sultan…ampun Kanjeng Ratu..hamba mohon izin untuk melapor” emban tua bernama Juminah tidak berani mengangkat kepalanya. Sementara Kepala Pengawal yang bernama Damiun terlihat badannya menggigil ketakutan.

“Ada apa sebenarnya emban, kenapa kau terlihat begitu panik. Tolong bicara yang jelas” tanya Sultan Panembahan tenang.

“Ampun..ampuni hamba yang teledor ini Kanjeng Sultan. Hari ini hamba tidak menemukan Kanjeng Ratu Harisbaya” suara Juminah bergetar nyaris menangis.

“Pagi ini..hamba mendatangi keputren Kanjeng Ratu Harisbaya tapi beberapa kali diketuk pintunya tidak ada jawaban. Hamba pikir Kanjeng Ratu Harisbaya masih tertidur tapi ditunggu sampai siang ini masih tetap belum keluar kamar. Hamba khawatir Kanjeng Ratu Harisbaya…… ucapan Juminah terpotong oleh tangisnya yang pecah, dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Ratu Harisbaya.

“Sudah kau coba buka pintu kamarnya emban?” Permaisuri Ratu Mas Glampok bertanya dengan gusar merasa terganggu waktunya dengan Sultan Panembahan.

“Mohon maaf Kanjeng Ratu..kami sudah membuka paksa pintu kamarnya ta..tapi… Damiun menimpali.


Sultan Panembahan mengerutkan dahinya dan menatap tajam ke arah Damiun, tiba-tiba saja hatinya merasa tidak enak.

“Tapi apa…pengawal?!!!” suara Sultan Panembahan menggelegar karena marah.

Ampunkan kelalaian saya, Kanjeng Sultan….tapi Kanjeng Ratu Harisbaya sudah tidak ada di dalam kamar” jawab Damiun bergetar ketakutan.

“Apa?…bagaimana mungkin? Mungkin dia pergi ke taman atau…sudah kau cari ke semua tempat di keraton ini?” Sultan Panembahan sangat khawatir. Sementara itu Ratu Mas Glampok tersenyum sinis.

“Mungkin Dinda Harisbaya ikut dengan kekasih lamanya” ujar Ratu Mas Glampok dingin.

“Dinda Ratu…jangan kau berbicara sembarangan!!” Sultan Panembahan setengah membentak kepada Ratu Mas Glampok.

Mendengar suara Pangeran Panembahan yang tinggi dan sepertinya sangat marah, Ratu Mas Glampok sangat tersinggung. Belum pernah dirinya dibentak sedemikian rupa, Ratu Mas Glampok segera berdiri dan meninggalkan pendopo dengan mata memerah menahan tangis sambil mengajak emban tua pelayan Ratu Harisbaya,

“Emban cepat ikuti aku…”

“Dinda…mau kemana?” Sultan Panembahan sangat menyesal karena telah berkata kasar kepada Ratu Mas Glampok.

Baru saja Sultan Panembahan hendak berdiri untuk mengejar Ratu Mas Glampok tiba-tiba datang tergesa-gesa Senapati Anggawirya yang merupakan kepala pasukan perang Kesultanan Cirebon diikuti oleh beberapa pejabat tinggi lainnya. Mereka menjura ke arah Sultan Panembahan lalu duduk bersila. Sultan Panembahan mengurungkan niatnya dan kembali duduk.

“Ampun Kanjeng Sultan…hamba baru saja menerima laporan dari kepala pengawal kaputren Damiun dan langsung memerintahkan seluruh pasukan menutup jalan keluar dari keraton” ujar Pangeran Anggawirya memberikan laporan.

“Kau sudah periksa semuanya..Senapati? Bagaimana mungkin Dinda Harisbaya bisa hilang?” Sultan Panembahan bertanya kepada Senapati Anggawirya.

“Ampun Kanjeng Sultan, hamba sudah periksa seluruh kamar Kanjeng Ratu Harisbaya. Sepertinya ada orang asing yang masuk ke dalam kamar melalui atap kaputren lalu membawa pergi Kanjeng Gusti Ratu Harisbaya” sambung Senapati Anggawirya.

“Haladah….Senapati, bagaimana mungkin ada orang asing bisa masuk ke dalam kaputren?!! Bagaimana dengan anak buahmu yang bertugas menjaga kaputren dan seluruh keraton ini?!! amarah Sultan Panembahan kembali menguntab.

“Sepertinya orang tersebut berilmu sangat tinggi Kanjeng Sultan. Menurut laporan dan hamba juga rasakan sendiri..tadi malam terasa sangat mengantuk sekali dan semua pengawal kaputren tertidur” Senapati Anggawirya menjelaskan.

Dada Sultan Panembahan seakan mau meledak, giginya bergemeletuk menahan amarah.

“Siapa yang berani mengganggu kehormatanku dan kehormatan seluruh rakyat Kesultanan Cirebon?” dengusnya sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Senapati…kau tahu siapa yang berani melakukan ini?” suara Sultan Panembahan bergetar menahan amarah.

“Ampun Kanjeng Sultan..ampunkan hamba yang tidak bisa menjalankan tugas dengan baik…hamba siap menerima hukuman” ujar Senapati Anggawirya bukannya menjawab pertanyaan Sultan Panembahan.

“Sudah..sudah..lupakan dulu masalah hukuman…Senapati cepat bangun… kau juga pengawal!” Sultan Panembahan coba menenangkan dirinya sendiri dan menyuruh agar Senapati Anggawirya dan Damiun bangun dari sujudnya.

“Apakah kau sudah memeriksa seluruh kota dan juga mengiriman pasukan ke perbatasan? Aku yakin penculiknya belum pergi jauh!” geram Sultan Panembahan.

“Semua tinggalkan pendopo kecuali Senapati Anggawirya! Dan ingat jangan sampai masalah ini bocor, semua harus tutup mulut” Sultan Panembahan memerintahkan Damiun dan semua petinggi keraton agar meninggalkan pendopo.

Baru saja semua orang keluar pendopo kecuali Sultan Panembahan dan Senapati Anggawirya, dari arah gerbang keraton datang seekor kuda yang dipacu sangat kencang dan langsung memasuki komplek keraton. Di depan pendopo kuda tersebut berheti dan penunggangnya dengan sebat melompat turun dan berlari memasuki pendopo. Ternyata yang datang adalah kepala teliksandi Kesultanan Cirebon yaitu Ki Demang Ranggajati.

Ki Demang Ranggajati segera menjatuhkan tubuhnya dan duduk bersila di hadapan Sultan Panembahan dan Senapati Anggawirya sambil menjura.

“Ampun Kanjeng Sultan, hamba datang atas panggilan Senapati Anggawirya. Hamba siap menerima titahmu” ujar Ki Demang Ranggajati.

“Bagus kau datang Ki Demang, memang ada hal yang sangat penting” ujar Sultan Panembahan.

“Lebih baik kita pindah ke ruangan dalam saja” sambung Sultan Panembahan sambil berdiri dan berjalan masuk ke ruangan tengah.

Senapati Anggawirya dan Ki Demang Ranggajati bergegas bangkit dan mengikutinya. Sesampainya di dalam ruangan tengah, Senapati menjelaskan masalah yang terjadi kepada Ki Demang Ranggajati.

“Kurang ajar…siapa yang telah berani merusak kehormatan Kanjeng Sultan. Aku bersumpah akan memotong-motong tubuhnya” geram Ki Demang Ranggajati sambil mengepalkan tangannya.

“Ki Demang…aku ingin agar semua ini dirahasiakan sebelum segalanya menjadi jelas” ujar Sultan Panembahan.

“Senapati..menurutmu siapa kira-kira yang berani menculik Harisbaya” sambung Sultan Panembahan bertanya kepada Senapati Anggawirya.

“Ampunkan hamba Kanjeng Sultan, hamba khawatir Kanjeng Ratu Haisbaya tidak diculik tetapi….” Senapati Anggawirya menarik nafas panjang tidak menyelesaikan ucapannya.

“Apa maksudmu Senapati? Apakah menurutmu Harisbaya melarikan diri?” Sultan Panembahan gusar mendengar ucapan Senapati Anggawirya.

“Ampun Kanjeng Sultan, hamba sudah memeriksa seluruh petunjuk yang ada di kamar Kanjeng Ratu Harisbaya. Kamarnya masih dalam keadaan rapi dan tidak ada tanda-tanda keributan, jadi menurut hamba..mungkin saja Kanjeng Ratu Harisbaya pergi bersama penculiknya dengan sukarela” Senapati Anggawirya menjelaskan.

“Jaga mulutmu Senapati…Harisbaya tidak mungkin berbuat seperti itu!!!” suara Pangeran Panembahan terdengar gusar.

“Bukankah menurutmu seluruh kaputren disirep oleh penculik itu? Berarti Harisbaya juga dalam kondisi tersirep. Aku tidak mau kau menyebarkan cerita karangan seperti itu!” sambung Sultan Panembahan sambil menggebrak meja dengan tangan kanannya.

“Ampun Kanjeng Sultan…maafkan kesalahan hamba” ujar Senapati Anggawirya, tidak meyangka reaksi Sultan Panembahan akan sekeras itu.

“Sudahlah…sekarang apa rencanamu untuk mencari Harisbaya?” pungkas Sultan Panembahan kepada Senapati Anggawirya.

“Hamba mencurigai tamu dari Kerajaan Sumedang Larang terlibat dalam masalah ini. Oleh karena itu hamba mohon izin untuk mengejar mereka” jawab Senapati Anggawirya.

“Maksudmu Rayi Prabu Geusan Ulun yang menculik Harisbaya? Tapi apa mungkin dia tega merusak kehormatanku” suara Sultan Panembahan melemah mencoba membantah, walaupun kecurigaan Senapati Anggawirya sangat masuk akal mengingat hubungan Prabu Geusan Ulun dengan Harisbaya di masa lalu.

“Hamba yakin Kanjeng Gusti Prabu Geusan Ulun hanya dimanfaatkan oleh patih-patihnya saja. Kanjeng Sultan tentu ingat, mereka adalah orang-orang Pakwan Pajajaran, hamba khawatir mereka memanfaatkan ini untuk membalas dendam ke Kesultanan Cirebon” urai Senapati Anggawirya.

“Hmmm…mungkin saja, ilmu dan kesaktian ke-4 Kandaga Lante dari Pakwan memang sangat sulit diukur. Hanya mereka yang bisa menerobos penjagaan tanpa diketahui” gumam Sultan Panembahan.

“Tapi sebentar Senapati…bukankah aku sudah memerintahkanmu untuk mengawasi gerak-gerik mereka selama disini? Ki Demang apa saja kerjamu sehingga bisa terjadi seperti ini?” Sultan Panembahan beralik kepada Ki Demang Ranggajati yang memang bertugas mengawasi seluruh yang terjadi di Kesultanan Cirebon.

“Ampun Kanjeng Sultan..hamba dan 10 orang anggota teliksandi paling hebat sudah mengawasi gerak-gerik mereka..siang dan malam. Tetapi ilmu mereka sangat luar biasa, beberapa kali hamba kehilangan jejak” ujar Ki Demang Ranggajati ketakutan.

“Memalukan..sangat memalukan, bagaimana mungkin seluruh Keraton Cirebon bisa dipermainkan oleh 4 orang saja. Aku sangat kecewa dengan kalian” ujar Sultan Panembahan sambil menepuk dahinya.

“Pagi ini setelah mereka meninggalkan keraton, apakah kau awasi mereka….Ki Demang?” sambung Sultan Panembahan sambil menatap tajam ke arah Ki Demang Ranggajati.

“Sesuai perintah Senapati Anggawirya, hamba menyebar anggota teliksandi untuk mengawasi mereka tetapi….” ucapan Ki Demang Ranggajati terpotong.

“Tapi apa lagi Ki Demang? Apakah kau melihat mereka membawa Harisbaya??” Sultan Panembahan tidak sabar memotong ucapan Ki Demang Ranggajati.

“Di pertigaan setelah kampung Semanan, salah satu dari mereka berbelok ke pasir (bukit) batang. Hamba ikuti dan tetap mengawasinya tetapi menjelang puncak bukit...dia menghilang dan hamba kehilangan jejak” Ki Demang Ranggajati meneruskan laporannya.

“Siapa yang ke pergi ke Pasir Batang? Geusan Ulun kah?” tanya Sultan Panembahan tambah gusar.

“Bukan..bukan..Kanjeng Sultan, yang menuju ke Pasir Batang adalah Sang Hyang Hawu sedangkan Prabu Geusan Ulun bersama 3 orang lainnya meneruskan perjalanan ke arah Sumedang Larang” jawab Ki Demang Ranggajati.

“Sang Hyang Hawu…aku sudah mencurigainya sejak lama. Pantas saja….ilmunya memang sangat tinggi” gumam Sultan Panembahan.

“Senapati..sekarang juga kau kejar Sang Hyang Hawu ke Pasir Batang dan kau..Ki Demang kejar Geusan Ulun dan rombongannya. Dan ingat…jangan kembali sebelum mendapatkan informasi yang ku butuhkan” Sultan Panembahan memerintahkan Senapati Anggawirya dan Ki Demang Ranggajati menyusul rombongan Prabu Geusan Ulun.

“Baik Kanjeng Sultan..” jawab Senapati Anggawirya dan Ki Demang Ranggajati hampir bersamaan lalu secepatnya bergegas keluar pendopo.