MENANTANG KEHENDAK LANGIT


Matahari mulai tergelincir ke arah barat, ke-4 patih dari Kerajaan Sumedang Larang bergegas menemui Prabu Geusan Ulun di Pendopo Tamu Negara yang berada di komplek Keraton Kesultanan Cirebon.

Prabu Geusan Ulun menyambut kedatangan mereka dengan penuh semangat dan menyampaikan rencananya untuk membawa Harisbaya ke Kerajaan Sumedang Larang.

“Ampun Gusti Prabu, apakah ini sudah benar-benar dipertimbangkan baik buruknya? Hamba khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak baik” ujar Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa sambil merangkapkan tangannya di atas kepala. Walau bagaimanapun Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa tetap merasa bahwa tindakan Prabu Geusan Ulun tidak layak dlakukan.

Mendengar ucapan Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa tersebut, Prabu Geusan Ulun terlihat wajahnya memerah dan melirik kepada Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Rayi Kondang Hapa…!! Apalagi yang kau pertanyakan? Aku sudah menjelaskan semuanya!! Kalau kau tidak mau menerima perintah Kanjeng Gusti Prabu..silakan kau pergi!!!” suara Patih Batara Sang Hyang Hawu terdengar menggelegar, marah besar atas pertanyaan Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

Suasana mendadak menjadi tegang, semua mata memandang ke arah Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa yang tertunduk.

“Ampun Gusti Prabu…tidak sedikitpun hamba berniat membangkang. Kalau itu adalah titahmu, hamba akan mempertaruhkan nyawa untuk melaksanakannya” ujar Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dengan suara bergetar.

Prabu Geusan Ulun hanya melirik sekilas ke arah Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

“Baiklah..semua sudah mengerti maksud dan tujuanku. Aku minta Kakang Patih Batara Sang Hyang Hawu memimpin rencana ini” ujar Prabu Geusan Ulun memandang kepada ke-4 patihnya.

“Terima kasih Gusti Prabu” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Rencana hamba, sore ini Gusti Prabu lebih baik mohon izin kepada Gusti Sultan Panembahan untuk kembali ke Sumedang Larang besok pagi. Lalu malam ini, hamba dengan Rayi Batara Dipati Wiradjaya akan menemui Gusti Ratu Harisbaya dan membawanya ke luar keraton” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu membeberkan rencananya.


“Lalu bagaimana dengan kalian? Tentu akan menimbulkan kecurigaan dari pihak Kesultanan Cirebon jika Kakang berdua tidak hadir saat kita berpamitan” Prabu Geusan Ulun masih khawatir dengan rencana tersebut.

“Jangan khawatir Gusti Prabu, setelah hamba berdua menempatkan Gusti Ratu Harisbaya di tempat yang aman, hamba berdua akan kembali” jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Oh..baiklah, sepertinya Kakang Patih telah mengatur semua ini dengan matang” Prabu Geusan Ulun sangat senang mendengar rencana pelarian Harisbaya telah diatur dengan sangat matang oleh Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Setelah sekali lagi mematangkan rencana pelarian Ratu Harisbaya dengan Parabu Geusan Ulun, ke-4 patih kembali ke tempat semula.

Sesampainya di rumah peristirahatan yang terletak di luar komplek keraton,

“Rayi Batara Wiradjaya, kau ikut aku sebentar dan kalian berdua…bersiap-siaplah untuk besok kita kembali ke Sumedang Larang” ujar Patih Batar Sang Hyang Hawu tegas.

“Kita akan kemana Kakang Patih?” tanya Batara Dipati Wiradjaya sambil mengikuti langkah Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Ikuti saja…aku akan menunjukkan posisi dan arah kita nanti malam membawa kijang buruan kita” Patih Batara Sang Hyang Hawu menyebut Harisbaya dengan sebutan “kijang” untuk menghindari bocornya rencana mereka.

Banyaknya lalu lalang pengawal dan penduduk di sekitar keraton membuat Batara Sang Hyang Hawu sangat berhati-hati karena sekali saja rencana ini bocor maka keselamatan Prabu Geusan Ulun, junjungan mereka, akan terancam. Batara Sang Hyang Hawu membawa Batara Dipati Wiradjaya menjauh ke arah selatan dari keraton menuju sebuah daerah yang cukup tinggi. Setelah dirasa cukup aman, Batara Sang Hyang Hawu melompat ke atas sebuah pohon besar dan sangat tinggi, gerakkannya sangat enteng menandakan ilmu meringankan tubuhnya sudah sangat mumpuni.

“Ikuti aku Rayi” ujar Batara Sang Hyang Hawu sebat melayang bagaikan seekor garuda.

“Baik Kakang Patih” jawab Batara Dipati Wiradjaya sambil sekali genjot tubuhnya melayang ke atas pohon yang sama, walaupun ilmu meringankan tubuhnya tidak sehebat Batara Sang Hyang Hawu.

Batara Sang Hyang Hawu bertengger di atas dahan sebelah kiri sementara Batara Sang Hyang Hawu di sebelah kanan menghadap ke arah utara, walaupun dahannya terlalu besar tetapi tidak sedikitpun goyang. Tidak percuma dulu mereka menyandang kedudukan yang cukup tinggi di balatentara Kerajaan Pajajaran.

“Perhatikan komplek keraton itu Rayi…” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil menunjuk komplek keraton Cirebon yang terlihat jelas dari posisi mereka.

“Keputren berada di tengah-tengah komplek keraton, kau bisa lihat ada empat bangunan yang berjejer di antara taman dan pendopo utama” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Iya..Kakang Patih aku bisa melihatnya jelas” jawab Patih Batara Dipati Wiradjaya sambil menatap tajam ke arah komplek keraton.

“Nah..perhatikan! Bangunan kedua dari kiri adalah keputren tempat tinggalnya Ratu Harisbaya” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu.
“Sepertinya tidak akan mudah membawa Ratu Harisbaya keluar dari keraton..aku yakin akan banyak pengawal yang menjaga di sekitarnya” Patih Batara Dipati Wiradjaya mulai cemas membayangkan ketatnya penjagaan.

“Jangan bodoh Rayi…kau pikir kita akan menerobos ke keputren begitu saja? Pengawal di sekitar keraton hanya mempunyai sedikit ilmu silat kasar…bagaimana mungkin bisa menghadapi kita” Batara Sang Hyang Hawu gusar.

“Nanti malam…aku akan menyirep semua pengawal di sekitar kaputren lalu membawa Ratu Harisbaya melalui taman yang berada di sebelah selatan. Tugas Rayi adalah mengamankan jalan antara taman dengan tembok pagar keraton” sambung Batara sang Hyang Hawu sambil melirik ke Batara Dipati Wiradjaya.

“Baik Kakang…aku akan mengawasi dari luar pagar selatan, sepertinya ada pohon yang cukup tinggi di situ” jawab Patih Batara Dipati Wiradjaya.

“Ha..ha..ha..betul Rayi..betul, kau sangat cerdas! Disebelah selatan tembok pagar keraton ada sebuah pohon Beringin yang sangat rimbun, gunakan semua kesaktianmu untuk mengamankan rencana ini” Batara Sang Hyang Hawu merasa senang mendengar Dipati Wiradjaya memahami rencana yang sudah dibuatnya.

“Aku akan membawa Ratu Harisbaya melompati tembok pagar lalu tugasmu adalah membawanya ke sini. Kau lihat di bawah bukit itu ada sebuah gubuk milik petani, kau tinggalkan dia di situ lalu segera kembali ke keraton” sambung Batara Sang Hyang Hawu menjelaskan sambil menunjuk ke sebuah gubuk di bawah bukit.

“Baik Kakang Patih…aku mengerti” Batara Dipati Wiradjaya mengangguk-angguk.

“Bagus…sekarang lebih baik kita segera kembali, hari sudah mulai gelap” ujar Batara Sang Hyang Hawu sambil melayang turun diikuti oleh Batara Dipati Wiradjaya dan keduanya berkelebat lari kembali ke arah Keraton Cirebon.

Malam mulai menaungi bumi Cirebon, sesekali terdengar suara anjing hutan di kejauhan ditingkahi suara burun hantu. Malam itu terasa mencekam, alam seolah bersedih karena tingkah manusia yang mengumbar nafsu tidak lagi mengindahkan aturan dan kebaikan dari Sang Hyang Widi. Gelap!!

Sementara itu di rumah tempat tinggal sementara keempat patih Sumedang Larang terlihat sepi tidak ada tanda-tanda kegiatan yang mencurigakan sesekali pengawal keraton melintas.

“Rayi Batara Sang Hyang Kondang Hapa..aku dan Rayi Batara Dipati Wiradjaya akan segera meloloskan Ratu Harisbaya ke luar keraton, kuharap kau dan Rayi Batara Pancar Buana berjaga-jaga” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil menarik nafas panjang sambil memandang ketiga patih yang lain.

“Jika ternyata rencana ini gagal, segera bawa Gusti Prabu Geusan Ulun ke luar keraton dan kembali ke Sumedang Larang. Jangan pedulikan kami berdua” sambung Batara Sang Hyang Hawu sambil merapikan ikat kepalanya.

“Baik Kakang, kami berdua akan melaksanakan semua perintahmu. Kuharap Kakang dan Rayi Batara Dipati Wiradjaya bisa menjaga diri dengan baik” jawab Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

Sementara Batara Pancar Buana hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya,

“Kakang Patih Batara Sang Hyang Hawu, kenapa aku tidak diajak meloloskan Ratu Harisbaya. Aku tidak bisa hanya tinggal diam sementara Kakang berdua menghadapi bahaya” ujar Batara Pancar Buana sambil menatap ke arah Batara Sang Hyang Hawu dan Batara Dipati Wiradjaya.

“Tidak…tidak…bukan seperti itu Rayi Pancar Buana, justru tugas kalian berdua yang paling berat karena harus menjaga keselamatan Gusti Prabu Geusan Ulun. Kita semua mempunyai tugas yang sama beratnya” Batara Sang Hyang Hawu menjelaskan.

Malam semakin larut, dua bayangan hitam berkelebat cepat di antara wuwungan atap-atap bangunan yang ada di komplek keraton Cirebon. Kedua bayangan itu berhenti di atas atap sebuah bangunan yang cukup bagus di tengah-tengah komplek keraton.

“Rayi…bangunan ini adalah keputren kediaman Ratu Harisbaya. Perhatikan jalan yang ada di sebelah sana..itu menuju ke arah tembok pagar selatan” ternyata kedua sosok hitam itu adalah Patih Batara Sang Hyang Hawu dan Patih Batara Dipati Wiradjaya.

“Aku akan masuk ke dalam kaputren dengan membobol atap ini, Rayi segera bergerak dan amankan jalan menuju ke sana. Gunakan aji Halimunan dan aji Sirep” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil menunjuk ke arah selatan.

“Baik Kakang…aku segera menuju ke sana” jawab Patih Batara Dipati Wiradjaya dan dengan sekali genjotan tubuhnya sudah melayang ke atap bangunan di samping keputren Ratu Harisbaya.

Sementara itu Batara Sang Hyang Hawu mengeluarkan golok panjangnya lalu memotong tali-tali yang mengikat atap kaputren, sesaat kemudian meluncur turun ke dalamnya.

“Aaaahhh..siapa kau?” terdengar jerit tertahan seorang perempuan begitu kaki Batara Sang Hyang Hawu menyentuh lantai keputren.

“Jangan takut Gusti Ratu…aku datang untuk menjemputmu” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil membuka penutup wajahnya. Ternyata Patih Batara Sang Hyang Hawu tepat turun ke dalam kamar Ratu Harisbaya.

Ratu Harisbaya terlihat sudah berpakaian singset seperti pakaian seorang laki-laki berwarna hitam-hitam.

“Aih…Kakang Patih, syukurlah kau segera datang. Aku sudah lama menunggumu” ujar Ratu Harisbaya sambil tersenyum

“Gusti Ratu sepertinya sudah bersiap, lebih baik kita segera pergi” Patih Batara Sang Hyang Hawu mengajaknya bergegas pergi.

“Sebentar Kakang Patih, aku harus membereskan sesuatu dulu” ujar Ratu Harisbaya sambil berjalan menuju tempat tidur mengambil sebuah buntelan kecil lalu memeriksa kunci kamarnya memastikan sudah terkunci dengan baik.

Ratu Harisbaya mendekati Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil bertanya,

“Bagaimana caranya kita pergi dari sini Kakang Patih? Di luar tentu banyak pengawal yang berjaga-jaga” Ratu Harisbaya khawatir.

“Kami sudah mengamankan semuanya Gusti Ratu, ikuti saja semua petunjuk kami” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu meyakinkan.

“Maafkan kelancangan hamba harus memegang pinggang Gusti Ratu supaya bisa meloloskan diri ke luar keraton” Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil merangkapkan tangannya di atas kepala.

Ratu Harisbaya tersentak mendengar kata-kata Patih Batara Sang Hyang Hawu, tidak terbayangkan dirinya harus disentuh laki-laki lain.

“Apakah tidak ada jalan lain Kakang Patih? Aku tidak nyaman harus dipeluk laki-laki lain” Ratu Harisbaya merasa keberatan.

“Sebenarnya ada…tapi hamba tidak yakin Gusti Ratu akan setuju” Patih Batara Sang Hyang Hawu tersenyum kecil.

“Gusti Ratu akan hamba sirep sampai tertidur pulas, setelah itu akan hamba bungkus dengan kain dan hamba pikul” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Ratu Harisbaya tertegun sesaat, kedua cara itu bukan pilihan yang menyenangkan untuknya. Ratu Harisbaya merasa jengah tetapi tidak ada pilihan lain.

“Baiklah Kakang Patih..sirep saja aku. Tapi jangan coba-coba berbuat yang tidak baik” Ratu Harisbaya masih merasa kawatir.

“Jangan khawatir Gusti Ratu, hamba adalah ksatria yang menjunjung tinggi kehormatan wanita” Patih Batara Sang Hyang Hawu menundukkan badannya ke arah Ratu Harisbaya.

Patih Batara Sang Hyang Hawu mengeluarkan golok panjangnya dan merobek kelambu dan seprai tempat tidur Ratu Harisbaya lalu menghamparkannya di lantai. Sesaat Ratu Harisbaya meragu tetapi cintanya kepada Prabu Geusan Ulun mengalahkan segalanya. Perlahan-lahan dibaringkan tubuhnya di atas kain lalu Patih Batara Sang Hyang Hawu berlutut di sampingnya dan merapal mantra. Diusapnya wajah Ratu Harisbaya dan sekejap kemudian telah tertidur lelap.

“Ah…tak kusangka..semudah ini mengadu domba Cirebon dengan Sumedan Larang” batin Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil membungkus tubuh Ratu Harisbaya dengan robekan kain kelambu dan sprei. Sekali lompat, Patih Batara Sang Hyang Hawu melayang ke atas wuwung keputren sambil memikul bungkusan tubuh Ratu Harisbaya.

Sesampainya di atas atap dipandanginya keadaan sekeliling keraton sambil tetap memikul tubuh Ratu Harisbaya. Dipejamkan kedua matanya lalu bibirnya mulai merapal aji Halimunan, sesaat tubuhnya menghilang dari pandangan mata manusia biasa.

Dengan ringan Patih Batara Sang Hyang Hawu melompat di antara atap-atap bangunan yang ada di komplek keraton, tubuhnya yang sudah bisa terlihat makin memperlancar rencananya. Tidak sampai sepenimuman teh, dirinya sudah berada di atas tebok pagar kaputren, diedarkannya pandangan ke sekitar mencari Patih Batara Dipati Wiradjaya.

“Kakang…kakang…aku ada di atas pohon beringin yang paling besar” terdengar suara halus ditelinganya. Rupanya Patih Batara Dipati Wiradjaya yang telah mengirimnya pesan melalui aji mindah sora.

Patih Batara Sang Hyang Hawu melayang ke atas pohon beringin lalu mendarat di atas sebuah dahan yang cukup tinggi. Dilepaskannya aji Halimunan sambil tetap memikul Ratu Harisbaya. Sesaat kemudian sesosok bayangan hitam melayang dari puncak pohon beringin dan mendarat di atas dahan, tepat di hadapan Patih Batara Sang Hyang Hawu berdiri.

“Kakang..mana Ratu Harisbaya? Apakah Kakang gagal membawanya lari?” ujar Patih Batara Dipati Wiradjaya khawatir dan was-was karena tidak dilihatnya ada orang selain Patiih Batara Sang Hyang Hawu.

“Rayi..jangan khawatir, Ratu Harisbaya ada dalam buntelan kain ini. Sekarang kau bawalah ke gubuk yang kemarin aku telah tunjukkan” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil menyerahkan buntelan kain yang berisi ratu Harisbaya kepada Patih Batara Dipati Wiradjaya.

“Apakah dia mati Kakang” suara Patih Batara Dipati Wiradjati terdengar kawatir.

“Jangan goblok Rayi…dia tidak mati hanya tidur” Patih Batara Sag Hyang Hawu gusar lalu menceritakan kenapa ratu Harisbaya harus disirepnya.

“Ohh..begitu Kakang. Baiklah aku segera membawanya pergi” ujar Patih Batara Dipati Wiradjaya sambil bersiap untuk melompat.

“Sebentar Rayi…di gubuk telah aku tugaskan Sakuntala dan Jantaka untuk menjaga Ratu Harisbaya. Kau secepatnya kembali ke keraton” Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil menahan bahu Patih Batara Dipati Wiradjaya.

“Baik Kakang…aku segera berangkat” jawab Batara Dipati Wiradjaya sambil melompat melayang turun dari batang pohon Beringin lalu berkelebat lari menggunakan aji Kijang Kancana menuju gubuk yang akan dijadikan tempat penyimpanan Ratu Harisbaya. Sementara Patih Batara Sang Hyang Hawu melayang turun dan berkelebat menuju ke rumah peristirahatan yang terletak di samping komplek keraton.

Tidak seorangpun penghuni keraton maupun para pengawalnya yang sadar bahwa malam itu sudah terjadi sebuah peristiwa yang akan menghebohkan dan menjatuhkan harga diri Sultan dan seluruh rakyat Kesultanan Cirebon.