Sampurasun…amit ampun nya paralun,Agungna ka wujud Gusti nu maha suci,Jembarna ka para karuhun sabuder awun,Ka Ibu agung ka Rama agung,Ka ibu anu teu muguran,Ka Rama anu munggaran,Deuheusna ka Ibu Rama nu jadi cukang lantaran urang gumelar di pawenangan.
Rahayu…rahayu..kersaning Gusti…rahayu..rahayu..mugi diaping dijaring!

“Kabadi” dalam bahasa Sunda berarti sakit karena disebabkan oleh gangguan makhluk halus di suatu tempat. Penyebabnya adalah karena dianggap mengganggu “penghuni” di wilayah itu.

Rabu, 29 January 2020 yang lalu tim ”Jejak Spiritual” melakukan perjalanan mengunjungi Nusa Larang yang berada di tengah-tengah Situ Lengkong di Panjalu, Kabupaten Ciamis. Di lokasi ini dipercaya tempat dimakamkannya salah satu tokoh yang mensyi’arkan agama Islam di wilayah Kerajaan Panjalu yaitu Prabu Hariang Kancana (putra dari Prabu Borosngora). Versi lain ada yang menyebut makam tersebut adalah makam Mbah Panjalu yang juga dianggap sebagai penyebar agama Islam.

Menuju ke Nusa Larang (Situ Lengkong) dari Jakarta dengan menggunakan kendaraan pribadi, bisa ditempuh sekitar 4~5 jam perjalanan. Cukup melelahkan tapi jangan khawatir sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan alam khas bumi parahyangan yang menyegarkan mata.

Kami tiba di lokasi Situ Lengkong sekitar pukul 10.00 WIB dan beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan di sekitar yang luar biasa indah. Sebagai sebuah tujuan wisata alam dan wisata rohani lokasi Situ Lengkong sudah dilengkapi fasilitas yang lengkap untuk pengunjung ataupun penziarah. Area parkir, rumah makan, penjual cinderamata khas Panjalu banyak dijajakan. Sementara untuk menyeberang ke Nusa Larang banyak tersedia perahu maupun “parahu gowes” yang bisa disewa.

Pemandangan dari tepi Situ Lengkong ke arah Nusa larang

Karena hari itu bukanlah hari libur ataupun hari besar yang biasa banyak penziarah datang, maka cukup sulit kita mencari perahu untuk menyebrang, perlu waktu lama menunggu rombongan atau pengunjung lain datang sehingga bisa memenuhi kuota penumpang perahu. Ataupun jika mempunyai dana lebih, bisa saja langsung mencarter perahu sebesar 250 ribu untuk antar jemput menuju ke Nusa Larang. Cukup mahal memang, mengingat jarak yang ditempuh tidak lebih dari 300 meter dari dermaga ke Nusa Larang, sebagai alternatif jika datang hanya berdua (seperti kami) bisa menyewa “parahu gowes” untuk dua orang bertarif 50 ribu dengan konsekwensi harus menggowes sendiri…hehe..

Setelah menggowes sekitar 15 menit ditengah terik matahari akhirnya kami tiba di dermaga Nusa Larang dan di sambut sebuah gapura cukup megah yang “dikawal” patung Harimau dan Naga di sisi kiri dan kanan.




Setelah “bubuka” minta perlindungan Yang Maha Kuasa dan kulonuwun kepada karuhun yang “ngageugeuh” di lokasi, kami mulai menaiki anak tangga yang lumayan banyak menuju ke lokasi ziarah.




Sesampainya di ujung atas anak tangga, kembali terdapat sebuah gapura terakhir sebelum menuju ke makam Prabu Rahiang Kancana atau Mbah Panjalu.



Saat itu di dalam makam yang berbentuk bangunan cukup megah, cukup banyak penziarah yang berdo’a baik bershalawat maupun melantunkan ayat-ayat suci (demi menghormati kekhusyu’an, kami tidak mengambil gambar).

Kami memilih duduk di teras mushola yang berada di depan bangunan makam sambil sedikit melepas lelah, sebagai bentuk “hadiah” kepada karuhun, menyalakan sebatang Gudang Garam merah (Gudmer) ditaburi bubuk menyan putih, matahari mulai tinggi menjelang tengah. Dari posisi kami duduk terlihat sebuah gapura kecil menuju ke luar area makam yang masih lebat oleh pepohonan, membuat kami penasaran untuk mendatanginya.

Di depan gapura kecil, sekali lagi memanjatkan do’a pada yang kuasa dan mohon izin kepada “karuhun” sekitar. Setelah mendapat “lampu hijau” kami berjalan keluar komplek makam melalui gapura kecil tersebut dan ternyata terdapat sebuah jalan setapak yang sebagian masih terbuat dari tanah. Sekelebat di ujung mata kami terlihat bayangan orang tua berpakaian putih dengan rambut yang diikat seperti resi-resi jaman dahulu…entahlah! 


Demi mengikuti “petunjuk” kami tidak mengambil foto di lokasi ini, jika ada yang penasaran dengan lokasi ini silahkan datang langsung, lokasinya di pinggir kiri bangunan makam (kalau kita berdiri menghadap bangunan makam).

Kami ikuti jalan tersebut dan setelah berjalan kurang lebih 200 meter, jalan tersebut berujung di sebuah bangunan kecil (seperti pendopo) yang terdapat sebuah prasasti/batu bertulis dengan tulisan (mungkin) sunda kuno (kami tidak bisa membacanya).

Sayangnya pendopo kecil tersebut kondisinya tidak terawat dengan baik, lantainya kotor bekas tapak sandal/sepatu serta ceceran sampah puntung rokok maupun bekas pembakaran dupa. Setelah membersihkan lantai sebisanya, kami berdua duduk bersila, menyalakan dupa lalu memanjatkan do’a, tiba-tiba jatuh seekor ulat bulu berwarna hitam persis di depan saya. Ulat tersebut bergerak mendekati ke arah saya, karena berada di tempat yang keramat, saya tidak berani membunuhnya. Dengan dus bekas pembungkus dupa saya geser ulat itu menjauh.

Setelah dirasa ulat itu berada pada jarak yang aman, saya memejamkan mata untuk lebih khusyu meditasi. Setelah di rasa cukup, meditasi kami akhiri lalu menyalakan sebatang Gudmer sebagai “hadiah”. Saat sedang menghisap Gudmer, terasa ada sesuatu yang merayap di tengkuk, panik saya kibaskan dan ternyata……ulat hitam tadi yang tadi coba disingkirkan. Mungkin ulat hitam itu terbawa angin dan menclok di tengkuk saya….entahlah!

Lagi-lagi karena berada di tempat keramat, saya tidak bunuh ulat itu hanya dikibaskan saja…dan setelah jatuh ke lantai, ulat hitam itu hilang, mungkin terbawa terbawa angin (lagi). Saya gosok-gosok tengkuk khawatir akan terasa gatal tapi syukurlah itu tidak terjadi. Kami berdua bergegas meninggalkan lokasi menuju bangunan makam. Kami sempatkan untuk bersilaturahim dengan masuk ke dalam bangunan makam, berdo’ a dan berpamitan pulang.

Kami kembali harus menggowes “parahu” menuju kembali ke daratan, sesaat kami terpesona melihat keindahan alam di sekitar Situ Lengkong dan melupakan “insiden” ulat bulu hitam tadi.


Selanjutnya selesai dari Situ Lengkong, kami melanjtukan perjalanan menuju dua lokasi lain yaitu Karang Kamulyaan (bekas ibukota Kerajaan Galuh) dan bekas Kabataraan Galunggung, akan diceritakan di episode berikutnya.

Kami selesai melakukan meditasi di bekas Kabataraan Galunggung pas jam 12 malam dan bergegas kembali ke Bandung untuk beristirahat sebelum kembali ke Bekasi.

Kamis, 30 January 2019 pas bertepatan dengan malam Jum├ít tiba-tiba tengkuk saya terasa gatal. Ah…bekas mencloknya ulat hitam itu mungkin baru bereaksi, pikir saya sambil menggosok dengan kayu putih dan menaburinya dengan bubuk bedak bayi. Gatalnya mereda tapi mulai muncul bentol-bentol merah menyebar dari tengkuk ke arah leher, setiap hari saya cuci dengan sabun antispetik dan obat anti alergi…hasilnya sampai hari ini Rabu, 05 February 2019, bentol-bentol belum hilang dan gatalnya masih terasa.


Mungkin ini yang namanya “kabadi”?….entahlah!