KEBO SAKETI DAN ISTRINYA, NILAM!



Setelah tinggal beberapa hari tinggal di pondoknya Pwah Kenanga, pagi itu Rahiang Sanjaya akhirnya memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju Denuk untuk menemui Rahiangtang Kidul.

“Nyimas, saatnya aku pergi meneruskan perjalananku. Sudah terlalu lama tinggal di sini” ujar Rahiang Sanjaya kepada Pwah Kenanga yang sedang menyisir dan mengeringkan rambutnya yang basah.

“Kenapa harus secepat itu Raden, apakah aku kurang melayanimu?” jawab Pwah Kenanga yang sekarang memanggil Raden kepada Rahiang Sanjaya setelah mengetahui asal usulnya.

“Tidak..tidak..bukan seperti itu Nyimas, aku sangat senang berada di pondok bersamamu. Tapi aku punya tugas yang harus diselesaikan” Rahiang Sanjaya meyakinkan Pwah Kenanga sambil memandangnya mesra.

Setelah menggulung rambutnya di atas kepalanya, Pwah Kenanga bangkit dari duduknya menghampiri ke arah Rahiang Sanjaya yang sedang duduk bersila tidak jauh darinya. Pwah Kenanga berlutut di hadapannya lalu menggenggam tangan Rahiang Sanjaya dengan erat.

“Ah…Raden, berat sekali tugasmu. Andai saja aku dapat membantumu” lirih Pwah Kenanga yang sudah mendapat cerita dari Rahiang Sanjaya mengenai niatnya merebut kembali tahta Karatuan Galuh dari Purbasora.

“Tidak Nyimas, ini bukan tugas tapi adalah sebuah kewajiban buatku. Tidak menjadi sebuah beban” ujar Rahiang Sanjaya tersenyum sambil meremas tangan halus Pwah Kenanga.

“Raden, tidak bisa kah tinggal satu malam lagi? Biar aku bisa melayanimu untuk yang terakhir kali.” lirih Pwah Kenanga sambil menahan airmata yang mulai menggenang di sudut matanya. Walaupun perbedaan usia mereka sangat jauh bahkan usia Pwah Kenanga hampir 2 kali usia Rahiang Sanjaya, tetapi ikatan rasa sayang diantara mereka begitu kuat.

“Tidak Nyimas, hari ini adalah hari yang baik untuk memulai lagi perjalananku” suara Rahiang Sanjaya parau, berat baginya meninggalkan Pwah Kenanga yang selama beberapa hari ini telah merubahnya menjadi lelaki dewasa. Diciuminya kedua tangan Pwah Kenanga dengan mesra.


“Raden..” rintih Pwah Kenanga sambil memeluk Rahiang Sanjaya, disusupkannya wajahnya di dada anak muda yang entah mengapa sangat disayanginya.

Mereka berpelukan seolah tidak mau dipisahkan, berguling di atas lantai pondok yang dingin. Darah seolah mendidih oleh gairah yang selama berhari-hari tak jua surut, gemerisik angin menggoyangkan daun-daun di luar pondok seakan menyamarkan suara deru nafas yang berkejaran.
=======

“Raden…lebih baik merubah penampilanmu supaya tidak menarik perhatian orang” ujar Pwah Kenanga sambil membelai dada bidang Rahiang Sanjaya.

“Menurutmu aku harus berpenampilan seperti apa? Sejak aku kecil sudah terbiasa seperti ini” jawab Rahiang Sanjaya.

“Sebentar Raden….” Pwah Kenanga beringsut mendekati rak yang terdapat tumpukkan pakaian lalu mengambil beberapa helai dan diangsurkannya ke Rahiang Sanjaya.

“Pakailah Raden, badan dan wajahmu harus lebih tertutup supaya orang lain tidak bisa mengenali garis kebangsawananmu” ujar Pwah Kenanga.

“Pakai caping ini dan berhati-hatilah di jalan, jangan orang lain mengenali jati diri aslimu. Karena bisa saja mereka adalah mata-mata Kerajaan Galuh” ujar Pwah Kenanga sambil bergelayut di tangan kiri Rahiang Sanjaya. Mereka berjalan berdampingan mesra meninggalkan pondok menuju ke tepian sungai Lohku. Matahari sudah di atas kepala, namun teriknya seolah tidak terasa oleh mereka.

“Nyimas sepeninggal aku sebaiknya mencari laki-laki yang akan bisa menjagamu. Aku khawatir Aria Sengka masih tergila-gila kepadamu” Rahiang Sanjaya sengaja menggoda Pwah Kenanga.

Digoda seperti itu, wajah Pwah Kenanga memerah dadu sambil mencubit pinggang Rahiang Sanjaya.

“Sayangnya laki-laki yang kucintai masih terlalu muda, lebih cocok menjadi anakku” Pwah Kenanga balik menggoda Rahiang Sanjaya.

Sesampainya di tepi sungai Lohku sudah tersedia rakit yang akan dipakai Rahiang Sanjaya melintasi sungai. Dilepaskannya pelukan Pwah Kenanga di tangannya lalu menuntun Si Jagur naik ke atas Rakit, setelah itu Rahiang Sanjaya kembali menghampiri Pwah Kenanga.

“Nyimas aku pergi, terima kasih atas semua kebaikanmu” parau suara Rahiang Sanjaya menahan kesedihan.

“Selamat jalan Raden, semoga tujuanmu cepat tercapai” tangis Pwah Kencana pecah.

“Setelah berhasil, aku berjanji akan menemuimu lagi di sini” bisik Rahiang Sanjaya sambil mengusap pipi Pwah Kenanga yang basah oleh air mata.

“Tidak Raden, jangan pernah berjanji, carilah perempuan bangsawan yang sebanding dan sebaya dengamu” isak Pwah Kenanga.

“Pergilah Raden dan tetaplah berhati-hati. Jangan mudah percaya kepada orang lain” bisik Pwah Kenanga. Dikecupnya bibir Rahiang Sanjaya lalu secepat kilat Pwah Kenanga berkelebat meninggalkan meninggalkan tempat itu.

Sepeninggal Pwah Kenanga, Rahiang Sanjaya bergegas melompat ke atas rakit yang sudah berada Si Jagur kudanya. Dengan mengandalkan tenaga dalamnya, Rakit melaju cepat melintasi sungai Lohku. Sementara di balik rungkun ilalang, Pwah Kenanga mengawasinya dengan berurai air mata.

Sesampainya di seberang sungai, Rahiang Sanjaya melompat ke daratan lalu menarik Si Jagur turun dari atas rakit. Setelah menambatkan kembali rakit ke batang pohon, Rahiang Sanjaya melompat dengan enteng ke atas punggung Si Jagur, dilepaskannya pandangan ke arah seberang sungai.

“Terima kasih Nyimas” gumam Rahiang Sanjaya sambil mengangkat caping di atas kepalanya lalu memacu si Jagur ke arah barat.

Rahiang Sanjaya memacu kudanya secepat kilat, dibantu dengan ilmu meringankan tubuhnya yang cukup tinggi sehingga Si Jagur seolah tidak merasakan beban dipunggungnya. Menjelang malam Rahiang Sanjaya memasuki sebuah pedukuhan yang cukup padat. Rumah-rumah yang berjejer rapi di kiri kanan jalan menunjukkan bahwa pedukuhan itu cukup makmur.

“Lebih baik aku melewati saja pedukuhan ini” gumam Rahiang Sanjaya sambil memacu kudanya melintasi pedukuhan tersebut. Tidak berapa lama Rahiang Sanjaya sudah keluar dari pedukuhan tersebut menuju ke arah hutan yang cukup lebat dan sangat gelap. Rahiang Sanjaya melompat turun dari punggung Si Jagur lalu menuntunnya berjalan memasuki hutan dan berhenti di pinggir sebuah tegalan rumput yang cukup luas.

“Hush..sana Jagur..kita istirahat dan makan dulu di sini” ujar Rahiang Sanjaya sambil menepuk punggung Si Jagur. Lalu diambilnya buntelan berisi bekal yang diberikan oleh Pwah Kenanga.


Cahaya matahari yang malu-malu muncul dari arah timur membangunkan Rahiang Sanjaya yang pulas tertidur beralaskan daun di bawah sebuah pohon Kiara. Dipicingkannya matanya karena silau lalu bangun dari tempatnya tidur sambil menggosok-gosok kedua matanya.

“Ah..aku kesiangan” batin Rahiang Sanjaya yang sejak tinggal di pondok bersama Pwah Kenanga seringkali terbangun setelah matahari terbit. Sebuah kebiasaan yang berlawanan dengan kehidupannya di lereng Gunung Merapi, biasanya sebelum matahari terbit Sang Sena, ayahnya, sudah akan menggemblengnya dengan latihan silat.

Setelah membereskan buntelannya dan mencuci mukanya dengan cireumis yang menggenang di atas daun-daun, Rahiang Sanjaya mengencangkan caping yang menutup kepala dan sebagian mukanya lalu bersiul memanggil Si Jagur, kuda tunggangannya.

Si Jagur yang mendengar siulan majikannya berlari menghampiri Rahiang Sanjaya, sekali lompat sudah bertengger di atas punggungnya. Ditepuk-tepuknya leher Si Jagur sambil berkata,

“Ayo Jagur, berlarilah secepat kilat supaya kita segera sampai di tujuan”

Seolah mengerti apa yang di ucapkan oleh Rahiang Sanjaya, Si Jagur melompat dan berlari dengan kencang seolah berkejar-kejaran dengan matahari menuju ke arah barat. Seolah tidak merasakan lelah dan capai, seharian Si Jagur terus memacu langkahnya, menjelang petang sampailah mereka di sebuah bukit yang cukup tinggi. Rahiang Sanjaya menepuk punggung Si Jagur memintanya berhenti,

“Hush..hush..berhentilah dulu, kita istirahat dan bermalam saja di sini” ujar Rahiang Sanjaya berbicara kepada Si Jagur seolah berbicara dengan manusia. Si Jagur memperlambat langkahnya lalu berhenti di bawah sebuah pohon besar. Rahiang Sanjaya sebat melompat turun dan membiarkan Si Jagur beristirahat sambil makan rumput-rumput yang tumbu lebat.

“Hmmm..sepertinya terdengar suara gemuruh, tapi suara dari mana?” Rahiang Sanjaya membatin.

“Lebih baik aku melihatnya dari atas pohon saja” sekali genjot, tubuh Rahiang Sanjaya seolah terbang melayang ke atas pohon yang paling tinggi dan hinggap di atas dahan. Diedarkannya pandangan ke arah selatan dilihatnya garis pantai dengan riak ombaknya yang sangat besar, lalu di sebelah barat terlihat sebuah pedukuhan yang sangat besar dan juga sungai yang cukup lebar.

“Ah…ternyata sudah dekat dengan pantai, lebih baik aku menyusuri pantai ini saja untuk menghindari orang-orang Kerajaan Galuh” batin Rahiang Sanjaya sambil melompat turun.

Baru saja kakinya menginjak tanah, terdengar teriakan-teriakan orang saling memaki. Rahiang Sanjaya menajamkan pendengarannya mencari dari mana arah suara tersebut. Dengan berhati-hati diikutinya arah suara tersebut, dari balik pohon yang besar dilihatnya sedang terjadi perkelahian antara dua orang lelaki yang tidak jelas telihat karena gerakan mereka cukup cepat. Sementara tak jauh dari arena pertempuran terlihat sebuah pedati yang ditarik seekor kerbau dan juga seorang perempuan cantik bersama seorang anak kecil yang tidak berhenti menangis.

“Ah..ada apa lagi ini?” gumam Rahiang Sanjaya gusar.

Sementara di arena pertempuran rupanya sudah berjalan tidak seimbang, gerakan mereka sudah tidak secepat tadi bahkan seorang dari mereka tersungkur sambil memegangi dadanya yang terkena pukulan, dari sudut bibirnya meleleh darah segar.

“Mau lari kemana kau Kebo Saketi, aku tidak akan melepaskanmu” teriak laki-laki yang bertubuh tinggi besar.

“Aku sudah membayar semua utangku Ranggalewa, jadi jangan ganggu lagi keluargaku” jawab lelaki yang dipanggil Kebo Saketi sambil mencoba berdiri.

“Ha..ha..ha..tidak semudah itu Kebo Saketi. Kau harus menyerahkan istrimu dan pedati kerbau itu kepadaku. Baru bisa melunasi semua hutang-hutangmu” dengus Ranggalewa bengis.

“Kau boleh mengambil pedati dan kerbaunya tapi lepaskan keluargaku.” suara Kebo Saketi memelas.

Tiba-tiba perempuan yang berdiri dekat pedati kerbau menghambur ke arah mereka dan berlutut di hadapan Ranggalewa.

“Kakang Ranggalewa..tolong ampuni dan biarkan kami pergi. Kami sudah tidak mempunyai harta lagi untuk diserahkan kepadamu” ujar perempuan cantik itu sambil bercucuran air mata.

“Nilam..cepat kau menyingkir, aku akan mengurusmu setelah membunuh suamimu yang tidak becus ini” bentak Ranggalewa kepada perempuan yang ternyata adalah istri dari Kebo Saketi.

Melihat istrinya berlutut di depan Ranggalewa, Kebo Saketi segera menariknya dan mendorongnya ke arah pedati.

“Nilam cepat minggir dan bawa Sancaka lari dari sini” perintah Kebo Saketi pada istrinya.

Nilam memeluk adik laki-lakinya yang bernama Sancaka sambil berbisik.

“Sancaka, cepat kau pergi dari sini dan pergilah ke kakek di kaki Gunung Lawu. Belajarlah ilmu silat dan kesaktian pada kakek”

“Tapi keuceu (panggilan kakak perempuan), bagaimana dengan dirimu dan kakang?” Sancaka bergeming.

“Jangan pikirkan kami, tapi kau harus ingat bahwa yang membunuh keuceu dan kakangmu adalah Ranggalewa….balaskan dendam kami!!!” ujar Nilam bergetar.


Setelah dipaksa oleh Nilam, Sancaka akhirnya bersedia untuk melarikan diri.

“Baiklah keuceu, Sancaka berjanji untuk membalaskan dendam ini” suara Sancaka parau sambil memeluk Nilam, setelah itu berlari kencang ke arah timur.

“Nilam, kau juga segera pergi” teriak Kebo Saketi lemah lalu menyemburkan darah segar dari mulutnya. Kebo Saketi ambruk tidak bergerak.

“Tidak Kakang..aku akan bersamamu menyambut maut” ujar Nilam sambil mencabut pisau yang terselip di pinggangnya.

“Ha…ha..ha..Nilam aku akan mengampuni nyawamu asalkan kau mau menjadi istriku” Ranggalewa tergelak.

“Kakang Ranggalewa..aku adalah adik dari istrimu, bagaimana mungkin kau menginginkan aku jadi istrimu?” lengking Nilam sambil memandang penuh kebencian pada Ranggalewa.

“Nilam…wajah dan tubuhmu jauh lebih indah daripada kakakmu. Sejak lama aku ingin memperistrimu tapi Kebo Saketi sialan itu telah mengancurkan rencanaku” jawab Ranggalewa sambil berjalan mendekati Nilam.

“Berhenti Kakang..jangan mendekat atau aku akan membunuh diriku” ujar Nilam sambil mendekatkan pisau ke lehernya.

“Nilam..kau jangan bodoh, aku akan membahagiakanmu kalau perlu aku akan meninggalkan kakakmu” teriak Ranggalewa sambil menghentikan langkahnya.

“Jangan mimpi Kakang, kau telah menjebak suamiku dengan hutang yang sangat besar, hanya untuk memuaskan nafsu binatangmu. Terkutuk kau!!!” jerit Nillam sambil mengayunkan pisau ke arah lehernya sendiri.

“Jangan Nilam….!!!” teriak Ranggalewa kaget.

Di saat yang kritis tiba-tiba,

“Trang…” pisau di tangan Nilam terpental sebelum menyentuh lehernya yang jenjang. Sebuah caping telah menghantam pisau di tangan Nilam disusul sebuah bayangan berkelebat cepat menyambar Nilam dan menghilang di balik pepohonan.