PONDOK PWAH KENANGA



Bagai dicocok hidung Rahiang Sanjaya mengikuti Pwah Kenanga keluar dari warung lalu bergegas menuju tempat penambatan kuda,

“Raden, segera kita pergi sebelum bajingan tengik itu sadar dan minta tolong pada pasukannya” ujar Pwah Kenanga sambil melirik Rahiang Sanjaya lalu melompat ke atas sebuah kuda berwarna putih.

“B..baik nyimas” gagap Rahiang Sanjaya sambil menghampiri Si Jagur lalu melompat ke atasnya.

“Ikuti aku” teriak Pwah Kenanga sambil menepuk leher kudanya.

Untunglah cuaca malam itu bulan hampir sempurna cukup menerangi jalan sehingga kuda-kuda mereka tidak kesulitan walau dipacu secepat kilat. Beberapa kali Pwah Kenanga melirik ke belakang memastikan bahwa Rahiang Sanjaya masih mengikutinya.

Menjelang pagi mereka tiba pinggir sungai yang cukup besar dan berair jernih serta cukup rindang oleh pepohonan yang sangat lebat di bantarannya. Pwah Kenanga menghentikan laju kudanya lalu dengan sebat melompat turun dengan ringan, diikuti oleh Rahiang Sanjaya.

Dilepaskannya kuda-kuda mereka untuk merumput dan minum di bantaran sungai yang sejuk. Pwah Kenanga menghampiri Rahiang Santang sambil tersenyum,

“Anak muda, kita sudah berkuda hampir semalaman, kita beristirahat dulu” ujar Pwah Kenanga.

“Baiklah” Rahiang Kencana menjawab pendek sambil berlalu menghampiri pinggiran sungai dan berjongkok hendak mencuci mukanya.

“Anak muda, jangan membersihkan diri di sungai. Khawatir bajingan Aria Sengka masih mengejar kita” cegah Pwah Kenanga.

“Disekitar sini ada pondok yang cukup bersih, kita bisa membersihkan diri dan berisitirahat di sana.” sambung Pwah Kenanga sambil berjalan menuju ke arah rungkun-rungkun ilalang yang lebat.

Di sibakkannya rungkun tersebut dan ternyata di balik rungkun tersebut ada sebuah jalan yang cukup besar.

“Kau bawa kuda-kuda kita dan ikuti aku” perintah Pwah Kenanga halus namun tegas.

Lagi-lagi Rahiang Sanjaya tidak bisa menolak pesona Pwah Kenanga, di tariknya kedua kuda mereka lalu di bawa memasuki jalan di balik rungkun tersebut. Setelah Rahiang Sanjaya dan kuda-kudanya masuk, Pwah Kenanga menarik sebuah tali dan ajaibnya rungkun tersebut kembali tertutup.

“Siapakah perempuan ini? Dan apa maksudnya mengajakku ketempat ini?” batin Rahiang Sanjaya sambil berjalan mengikuti Pwah Kenanga.

Tak berapa lama mereka berjalan tampak sebuah pondok berdiri kokoh di hadapan mereka. Dengan lincah Pwah Kenanga membuka pintu pondok dan mempersilakan Rahiang Sanjaya masuk.


“Anak muda silakan masuk dan jika kau mau membersihkan diri, di belakang pondok ini ada air pancuran.” ujar Pwah Kenanga.

“Lebih baik aku membersihkan diri dulu” jawab Rahiang Sanjaya pendek sambil mengambil buntelan dari atas Si Jagur lalu tanpa menoleh ke Pwah Kenanga ngeloyor ke bagian belakang pondok.

“Baiklah..sementara kau membersihkan diri, aku akan menyiapkan makanan untuk kita” Pwah Kenanga tersenyum kecil melihat tingkah Rahiang Sanjaya yang kikuk.

Sesampainya di belakang pondok, Rahiang Sanjaya melihat ada sebuah pancuran yang airnya sangat jernih sekali di atas sebuah kolam kecil. Rahiang Sanjaya bergegas dan meletakkan buntelannya di samping pancuran. Rahiang Sanjaya yang sudah hampir dua hari tidak mandi seperti kalap karena senangnya, dilepaskannya pakaian yang melekat ditubuhnya lalu mandi di bawah pancuran. Tidak disadarinya ternyata dari pondok bisa melihat jelas ke arah pancuran tersebut. Pwah Kenanga yang diam-diam mengawasi dari jendela tersenyum kecil sambil bergumam,

“Pemuda yang gagah dan tampan, sepertinya bukan keturunan rakyat biasa. Sayang terlalu muda untukku” Pwah Kenanga tersenyum-senyum sendiri sambil berlalu menuju perapian untuk menyiapkan makanan.

Tak lama kemudian, Rahiang Sanjaya yang selesai membersihkan dirinya masuk ke dalam pondok lalu duduk bersila di samping pintu. Rahiang Sanjaya sepertinya bingung harus memulai percakapan, selama ini dia hanya terbiasa berkomunikasi dengan ayahnya, Sang Sena.

Pwah Kenanga yang melihat kedatangan Rahiang Sanjaya segera menyajikan teh panas di hadapannya.

“Anak Muda, silahkan diminum dulu tehnya sambi menunggu nasinya matang” ujar Pwah Kenanga sambil memandang Rahiang Sanjaya dengan hangat.

Rahiang Sanjaya semakin salah tingkah dipandang seperti itu oleh Pwah Kenanga,

“B..baik, terima kasih” jawab Rahiang Sanjaya sambil mengambil poci dan menuangkannya ke dalam cangkir.

“Kau tunggulah sebentar, nanti kita bicara lagi” lirih Pwah Kenanga sambil berlalu menuju pintu belakang pondok.

Sepeninggal Pwah Kenanga, Rahiang Sanjaya mengedarkan pandangannya menyelidik ke setiap sudut pondok. Pondok itu hanya ada satu ruangan, disalah satu sudut terdapat perapian yang saat ini sedang menyala dipakai untuk memasak nasi oleh Pwah Kenanga. Di sudut yang lainnya hanya ada rak kayu yang berisi beberapa lembar pakaian yang terlipat rapi.

“Apakah pondok ini kediaman wanita itu? Lalu apakah dia tinggal seorang diri?” berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam kepala Rahiang Sanjaya.

Perlahan Rahiang Sanjaya bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah perapian, maksudnya akan menambahkan kayu bakar. Baru saja dua langkah, matanya tertuju ke arah jendela yang tembus pandang ke arah pancuran…deg!!!..jantungnya seolah mau copot, di bawah pancuran terlihat Pwah Kenanga sedang berjongkok mandi tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Dari arah samping, Pwah Kenanga seolah tidak menyadari kalau mata Rahiang Sanjaya melotot melihat putih molek tubuh, dada yang membusung indah dan paha mulus yang membulat padat. Darah muda Rahiang Sanjaya bergejolak!!

Rahiang Sanjaya memalingkan wajahnya dan segera berbalik menuju ke pintu depan pondok, mencoba meredakan gemuruh di dadanya dengan berjalan menjauhi pondok. Diamatinya sekeliling pondok itu yang dipenuhi oleh pohon-pohon lebat dan seolah ada benteng dari rungkun-rungkun pohon yang mengelilingi area tersebut sehingga kalau dari luar sulit untuk mengetahui keberadaan pondok tersebut.

Berkali-kali Rahiang Sanjaya menarik nafas panjang sambil mencoba membuang bayangan tubuh telanjang Pwah Kenanga, namun sia-sia bayangan itu semakin kuat merasuki pikirannya. Dihampirinya Si Jagur, kuda kesayangannya lalu dengan licah melompat ke atasnya, Rahiang Sanjaya sudah memutuskan akan meninggalkan pondok itu. Baru saja si Jagur berjalan bebeapa langkah,

“Anak muda, jangan pergi dulu” teriak Pwah Kenanga melihat Rahiang Sanjaya akan pergi.

“Aku sudah mandi dan beristrahat, lebih baik meneruskan perjalanan. Perjalananku masih jauh” balas Rahiang Sanjaya tanpa berani melihat ke arah Pwah Kenanga.

“Makan dulu anak muda, aku tidak berniat jahat kepadamu. Aku hanya ingin membalas pertolonganmu kemarin” suara Pwah Kenanga seolah memelas.

Rahiang Sanjaya sejenak tertegun sambil menarik tali kudanya dan baru saja berniat untuk menjawab, Pwah Kenangan sudah berkelebat menghalangi jalan sambil berlutut.

“Anak muda, aku Pwah Kenanga mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu” ujar Pwah Kenanga sambil tetap berlutut di tanah.

Rahiang Sanjaya adalah pemuda polos yang jarang bersentuhan dengan dunia luar, selama hampir 10 tahun dirinya digembleng oleh ayahnya, Sang Sena, di lereng gunung Merapi. Rahiang Sanjaya hanya diajarkan mengenai kitab-kitab agama dan ilmu silat saja, belum pernah dia diajarkan cara menghadapi makhluk yang berwujud perempuan.

Rahiang Sanjaya segera melompat turun dari punggung Si Jagur dan menghampiri Pwah Kenanga.

“Nyimas jangan berlutut seperti itu, aku tidak bermaksud…” ucapan Rahiang Sanjaya terputus, tenggorokannya seolah tercekat melihat dada Pwah Kenanga. Dengan posisi Pwah Kenanga berlutut, Rahiang Sanjaya melihat dengan jelas gundukan putih di dada Pwah Kenanga yang mengenakan kebaya berdada rendah warna ungu, sangat kontras dengan kulitnya yang putih.

Rahiang Sanjaya segera membalikan badannya sambil berkata,

“Nyimas lebih baik segera berdiri, tidak baik berlutut seperti itu”

“Aku akan berdiri, asalkan kau mau berjanji untuk tinggal sejenak di pondok” jawab Pwah Kenanga dengan suara yang renyah menggoda.

Rahiang Sanjaya benar-benar bingung, kalau tinggal untuk makan bersama Pwah Kenanga, dia khawatir tidak bisa mengendalikan diri sedangkan jika dia bersikukuh pergi takut akan melukai hati perempuan itu. Akhirnya setelah mempertimbangkan segalanya, Rahiang Sanjaya menyerah,

“Baiklah nyimas, aku akan menemanimu makan tapi setelah itu akan segera pergi” suara Rahiang Sanjaya bergetar.

“Terima kasih anak muda, sekarang mari masuk ke dalam pondok” Pwah Kenanga segera berdiri dan menghampiri Rahiang Sanjaya yang sedang membelakanginya. Digodanya Rahiang Sanjaya dengan mengusap punggungnya sambil berlalu,

“Cepat masuk, nanti nasinya keburu dingin” bisik Pwah Kenanga di telinga kiri Rahiang Sanjaya.

Tubuh Rahiang Sanjaya seolah tersengat aliran listrik ribuan volt, bulu di sekujur tubuhnya seolah berdiri, usapan tangan lembut dan bisikan mesra Pwah Kenanga membakar gairah mudanya. Diikutinya langkah Pwah Kenanga menuju pondok, dari belakang diamatinya wanita setengah baya yang masih sangat cantik ini rambutnya yang hitam digulung ke atas memperlihatkan rambut-rambut halus di punduknya yang putih, kebaya ketat warna ungu berdada rendah membungkus tubuhnya yang sintal dan kain samping sebatas betis membentuk pinggul bulat yang seolah bergoyang setiap kakinya melangkah. Rahiang Sanjaya merinding…panas dingin!!!