KESUMAT PATIH BATARA SANG HYANG HAWU


Matahari mulai meninggi, Patih Batara Sang Hyang Hawu bergegas menuju ke tempat tinggal sementara menunggu selesainya kunjungan Prabu Geusan Ulun ke Kesultanan Cirebon. Sultan Panembahan sengaja menempatkan Patih Batara Sang Hyang Hawu, Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa, Patih Batara Dipati Wiradjaya dan Patih Batara Pancar Buana di luar komplek keraton, hal ini tidak lain mempertimbangkan bahwa keempatnya adalah bekas petingi-petinggi Pajajaran yang secara histori mempunyai permusuhan dengan Kesultanan Cirebon.

“Kakang Patih kemana saja, kami mengkhawatirkanmu” sambut Patih Batara Dipati Wiradjaya yang sedang duduk-duduk di teras rumah melihat kedatangan Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Rayi Dipati, ada hal penting yang harus kita musyawarahkan. Tolong panggilkan Rayi Pancar Buana dan Rayi Kondang Hapa” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil berlalu masuk ke dalam rumah.

“Baik Kakang Patih, mereka ada di dalam” jawab Patih Batara Dipati Wiradjaya sambil mengikuti masuk ke dalam.

Setelah semuanya berkumpul di ruangan tengah, Patih Batara Sang Hyang Hawu bersila sambil memejamkan matanya sementara ketiga patih lainnya saling pandang penasaran apa sebenarnya yang ingin di musyawarahkan.

Setelah beberapa saat, Patih Batara Sang Hyang Hawu membuka matanya lalu berkata,

“Maaf Rayi, aku harus memastikan pembicaraan kita tidak ada yang mendengar atau melihat pertemuan ini”

“Kakang Patih…aku bisa menggunakan ajian halimunan untuk mengamankannya” balas Patih Batara Pancar Buana.

“Tidak perlu Rayi Pancar Buana, aku sudah mengatur semuanya” jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Baiklah Kakang Patih” ujar Patih Batara Pancar Buana sambil membatin,

“Ilmu apakah yang di pakai Kakang Patih Batara Sang Hyang Hawu…jangan-jangan dia sudah menguasai ilmu…” lamunan Patih Batara Pancar Buana terpotong oleh ucapan Patih BataraSang Hyang Hawu.

“Kanjeng Gusti Prabu Geusan Ulun, junjungan kita semua,meminta kita untuk membantunya” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil bergantian memandang ketiganya.

“Kenapa harus minta bantuan? Kanjeng Gusti Prabu Geusan Ulun tinggal memerintahkan saja maka kami akan melaksanakannya” jawab Patih Batara Kondang Hapa sambil menunduk jerih tidak berani memandang Patih Batara Sang Hyang Hawu. Sejak kejadian perselisihannya dengan Patih Batara Sang Hyang Hawu beberapa hari yang lalu, nyali Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa memang sudah lumer (baca di : PERLAWANAN TERAKHIR KSATRIA PAJAJARAN#6).

“Kalian bertiga masih ingat dengan tujuan kita berkunjung ke Kesultanan Pajang?” tanya Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Untuk mengunjungi Hadiwijaya, guru ngajinya Kanjeng Gusti Prabu Geusan Ulun” jawab Patih Batara Pancar Buana.

“Hahaha…betul..betul rayi Pancar Buana, tapi tahukah kalian kalau maksud yang sebenarnya adalah untuk mencari Harisbaya, kekasih lamanya Gusti Prabu Geusan Ulun” Patih Batara Sang Hyang Hawu terkekeh.

Patih Batara Pancar Buana, Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Patih Batara Dipati Wiradjaya saling berpandangan, tidak menyangka bahwa perjalanan mereka ke Kesultanan Pajang membawa misi lain.

“Kakang Patih sudah mengetahui rencana ini tapi tidak memberitahu kepada kami bertiga?” Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa gusar.

“Tidak..tidak..aku tidak tahu dan baru menyadarinya setelah tiba di Kesultanan Pajang. Salah satu pengawal tua di sana menceritakan tentang hubungan Harisbaya dengan Gusti Prabu Geusan Ulun” jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil tersenyum.

“Lalu berada di mana yang namanya Harisbaya itu sekarang? Aku tidak pernah melihat Kanjeng Gusti Prabu Geusan Ulun menemuinya?” tanya Patih Batara Dipati Wiradjaya penasaran.

“Hahaha..sabar..sabar..rayi Dipati” Patih Batara Sang Hyang tertawa puas.

“Harisbaya berada di sini.” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu setengah berbisik.

“Di sini? Apa maksudmu di sini?” kejar Patih Batara Dipati Wiradjaya penasaran.

Patih Batara Sang Hyang Hawu kembali memeandang wajah ketiga patih di hadapannya sambil tersenyum lalu berkata,

“Di sini..ya di sini. Harisbaya sekarang sudah menjadi istri kedua Sultan Panembahan”


Ketiga patih kaget sambil saling berpandangan, Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa memerah wajahnya.

“Kakang Batara Sang Hyang Hawu, jadi tujuanmu memaksa Kanjeng Prabu Geusan Ulun untuk datang ke Kesultanan Cirebon adalah untuk menemui Harisbaya?” Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa gusar. Sudah sejak di Kesultanan Pajang dia mencurigai ada sesuatu yang direncanakan oleh Patih Batara Sang Hyang Hawu dengan mengajak Prabu Geusan Ulun untuk mengunjungi Kesultanan Cirebon. Padahal rencana sebelumnya setelah mengunjungi Kesultanan Pajang mereka akan langsung kembali ke Kerajaan Sumedang Larang.

“Apakah itu tidak berbahaya Kakang Batara Sang Hyang Hawu? Bagaimana jika Sultan Panembahan mengetahui rencana ini?” tanya Patih Batara Pancar Buana khawatir.

“Rayi bertiga tenang dulu..aku sudah mengatur semuanya dan Kanjeng Prabu Geusan Ulun sudah berhasil menemui Harisbaya” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu lalu menceritkan tentang pertemuan antara Prabu Geusan Ulun dengan Harisbaya dan rencana untuk membawanya lari dari Kesultanan Cirebon.

“Gila..tidak patut Gusti Prabu Geusan Ulun berbuat seperti itu Kakang!” sembur Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa tidak senang.

“Betul Kakang..tak baik kita merusak pagar ayu. Jika Sultan Panembahan tahu pertemuan antara Harisbaya dengan Gusti Prabu Geusan Ulun…bisamenyebabkan peperangan antara dua kerajaan” Patih Batara Dipati Wiradjaya menambahkan. Sementara Patih Batara Pancar Buana hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya, tidak menyangka perjalanan ke Kesultanan Cirebon membawa misi lain.

Patih Batara Sang Hyang Hawu tergelak lalu berkata,

“Hahaha….! Nyali kalian bertiga sudah menciut rupanya..mungkin karena terlalu lama hidup dalam kesenangan, terlalu lama tidak mencium aroma peperangan! Kalian sudah melupakan jati diri kalian sebagai Ksatria Pajajaran!” suara Patih Batara Sang Hyang Hawu menggelegar.

“Aku tidak takut mati Kakang!!! Tapi sebagai Ksatria Pajajaran pantang bagiku untuk merusak pagar ayu! Itu perbuatan hina!!!” Patih Batara Kondang Hapa menyahuti tidak kalah keras.

“Rayi bertiga dengar..apakah kalian lupa, siapa yang telah menghancurkan Kerajaan Pajajaran? Apakah kalian lupa bagimana Kerajaan Pajajaran yang agung dihancurkan dengan cara-cara licik?” suara Batara Sang Hyang Hawu terdengar bergetar.

“Apakah mereka…orang-orang Banten dan Cirebon menggunakan cara-cara ksatria untuk mengalahkan Kerajaan Pajajaran?” sambung Batara Sang Hyang Hawu sambil menatap tajam ke arah Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

“Jadi Kakang Patih sengaja menjebak Gusti Prabu Geusan Ulun dan Harisbaya untuk membalaskan dendam kepada Banten dan Cirebon?” tanya Batara Pancar Buana gusar.

“Aku tidak menjebak…semua ini adalah kemauan Prabu Geusan Ulun sendiri dan aku hanya memanfaatkan keadaan untuk membalaskan sakit hati Kanjeng Gusti Prabu Surya Kancana dan seluruh rakyat Kerajaan Pajajaran kepada keturunan Banten dan Cirebon” jawab Patih Batara Sang Hyang Hapa tajam.

“Aku masih ingat bagaimana kita dihancurkan dari dalam kerajaan oleh orang-orang susupan dari Banten dan Cirebon. Kita dihancurkan secara licik dan ditikam oleh orang-orang sendiri yang telah diperdaya untuk bergabung dengan Banten dan Cirebon!!” sambung Patih Batara Sang Hyang Hapa bergetar menahan dendam dan amarah yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun.

“Tapi Kakang…semuanya sudah berlalu dan sekarang kita ditugaskan oleh Gusti Prabu Surya Kancana untuk menjaga Gusti Prabu Geusan Ulun untuk membesarkan Kerajaan Sumedang Larang sebagai penerus Kerajaan Pajajaran” Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa mencoba membantah.

“Membesarkan Kerajaan Sumedang Larang katamu Rayi Kondang Hapa? Lalu apa yang kau lakukan untuk membesarkan Kerajaan Sumedang Larang? Bersembunyi di dalam keraton dan mengeong seperti kucing?” Patih Batara Sang Hyang Hawu sinis.

“Kalau kau ingin membesarkan Kerajaan Sumedang Larang, keluarlah dari keraton dan mengaumlah seperti Maung Pajajaran sejati!!!” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu seolah belum puas.

Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa terdiam, hati kecilnya tetap tidak bisa menerima rencana Patih Batara Sang Hyang Hawu yang akan membawa lari Harisbaya.

“Kakang Patih Batara Sang Hyang Hawu…aku mengerti maksud dan tujuanmu. Hanya saja aku tidak setuju dengan rencanamu membawa lari Harisbaya. Dia sudah menjadi istri orang lain” Patih Batara Pancar Buana mencoba mengingatkan.

“Betul Kakang Patih, lebih baik kita langsung saja sekarang menyerang Cirebon tanpa harus merusak pagar ayu. Ini sangat memalukan” Patih Batara Dipati Wiradjaya menimpali.

“Hahahaha…aku mengerti maksud kalian bertiga tapi kalau hanya menghancurkan Cirebon dengan berperang sangatlah mudah. Aku ingin mereka saling berperang dan membunuh antara keturunan sendiri, seperti kita yang saling bunuh dengan orang sendiri” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu tergelak.

“Itu maksudku Kakang, kita serang saja Cirebon sekarang juga. Itu akan lebih ksatria daripada kita berperang karena melarikan istri orang. Kita adalah Ksatria Pajajaran pantang melakukan hal-hal yang akan melanggar Palakerta” Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa mencoba mengingatkan.

“Berperang secara Ksatria katamu Rayi Kondang Hapa? Selama ini kita ksatria Pajajaran selalu menjunjung tinggi etika peperangan. Tapi apa yang Kesulatanan Banten dan Cirebon lakukan kepada kita?” Patih Batara Sang Hyang Hawu mencengkram lengan Patih Batara Sang Hyang Kondang Hawu.

“Dan siapa yang melanggar pagar ayu? Siapa yang melarikan istri orang?” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu meradang.

“Apakah kalian lupa siapa Prabu Geusan Ulun? Dia adalah keturunan Keraton Cirebon! Jadi yang melarikan istri Sultan Cirebon adalah keturunan orang Cirebon sendiri. Kita hancurkan mereka dengan cara yang sama seperti mereka menghancurkan Kerajaan Pajajaran” geram Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Melihat bahwa pendirian Patih Batara Sang Hyang Hawu tidak mungkin lagi berubah, Patih Batara Pancar Buana segera menengahi,

“Baiklah Kakang Patih, jika menurutmu itu adalah jalan yang terbaik, aku akan mengikuti semua rencanamu dan aku yakin yang lain juga akan begitu” ujar Patih Batara Pancar Buana sambil memberi kode kepada Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Patih Batara Dipati Wiradjaya agar menuruti saja kemauan Patih Batara Sang Hyang Hawu dan tidak berlarut-larut dalam perdebatan.

Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Patih Batara Pancar Buana menganggukan kepalanya walaupun hati mereka tidak sepenuhnya setuju dengan rencana Prabu Geusan Ulun membawa lari Harisbaya.

“Hahaha…bagus, nyali kalian bertiga ternyata masih Maung Pajajaran yang perkasa. Sekarang juga kita menghadap Gusti Prabu Geusan Ulun untuk membahas rencana ini” Patih Batara Sang Hyang Hawu bersemangat.