BENCANA MEMBAYANGI BUMI SUMEDANG LARANG



“Gusti Prabu segera tinggalkan Keputren, hari sudah menjelang pagi”

Suara yang terdengar seperti dengungan nyamuk terdengar jelas ditelinga Prabu Geusan Ulun yang sedang berada di dalam kamar Ratu Harisbaya. Suara itu berasal dari Patih Batara Sang Hyang Hawu dengan menggunakan ilmu bayuswara yaitu ilmu menyusupkan suara dari jarak jauh.

Prabu Geusan Ulun lalu berbisik kepada Harisbaya,

“Harisbaya, hari sudah menjelang pagi…aku harus segera pergi”

“Kakang Geusan Ulun...aku ikut denganmu” pinta Harisbaya memohon sambil memegang lengan Prabu Geusan Ulun.

“Tidak mungkin Harisbaya, dirimu sudah menjadi Ratu dari Kesultanan Cirebon” ujar Prabu Geusan Ulun parau.

Mendengar penolakan dari Prabu Geusan Ulun, Harisbaya langsung ambruk bersimpuh di lantai, kakinya lemas tak mampu lagi menopang tubuhnya. Air mata mengucur deras, dengan suara yang serak Harisbaya berbicara kepada Prabu Geusan Ulun,

“Apa maksudmu Kakang Geusan Ulun? Setelah kau membakar mahkota ayu lalu aku ditinggalkan menjadi arang?”

“Bukan seperti itu maksudku Harisbaya, entah apa yang akan terjadi antara Kerajaan Sumedang Larang dengan Kesultanan Cirebon jika kau ikut” jawab Prabu Geusan Ulun sambil mengangkat Harisbaya untuk berdiri. Namun Harisbaya bergeming, tetap duduk bersimpuh dengan tangan mendekap dadanya.

“Kakang Geusan Ulun, hampir 5 tahun aku mencoba melupakanmu dan mengabdi pada Kakang Ratu Panembahan … tiba-tiba kau datang menyalakan kembali api asmara kita…lalu setelah semuanya terjadi..aku akan ditinggalkan” disela tangisnya suara Harisbaya terdengar meninggi.

“Bunuh saja aku Kakang Geusan Ulun, bunuh saja aku!!! Tidak mungkin aku kembali kepada Kakang Ratu Panembahan” sambung Harisbaya sambil mencoba menarik keris yang terselip di pinggang Prabu Geusan Ulun.

Prabu Geusan Ulun menangkap lengan Harisbaya yang akan merebut kerisnya lalu menggenggamnya erat dan berlutut di depan Harisbaya yang sedang bersimpuh.

“Harisbaya jangan kau berfikiran seperti itu, aku mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku. Selama aku bisa bersamamu tidak ada yang bisa menghalangiku” suara Prabu Geusan Ulun terdengar bergetar.

“Kakang Geusan Ulun, bawa aku atau kau bunuh aku sekarang juga” rintih Harisbaya menghiba.

“Baiklah Harisbaya, aku akan membawamu setelah berunding dengan ke-4 patihku” akhirnya Prabu Geusan Ulun tidak mampu menolak permintaan perempuan yang sangat dicintainya.

“Baik Kakang Geusan Ulun, aku akan menunggumu dengan keris terhunus. Jika janjimu dusta maka aku akan menjadi mayat” isak Harisbaya sambil memeluk Prabu Geusan Ulun

Setelah berhasil meyakinkan Harisbaya, Prabu Geusan Ulun bergegas menuju pintu keluar kamar tetapi dicegah oleh Harisbaya.

“Kakang Prabu Geusan Ulun lewat jendela samping saja supaya lebih aman” bisik Harisbaya sambil bergelayutan manja di lengan Geusan Ulun.

Prabu Geusan Ulun dengan mesra melepaskan tangan Harisbaya lalu mengusap pipi Harisbaya yang basah oleh air mata.

“Harisbaya, aku akan segera menjemputmu” ujar Prabu Geusan Ulun singkat sambil melompat ke luar kamar melalui jendela yang sudah dibuka oleh Harisbaya. Sesampainya di luar kamar terdengar suara berdengung halus diteling kanannya,

“Gusti Prabu, segera kembali ke Pendopo Tamu Negara, aku akan menyusulmu. Sebentar lagi pengaruh sirepku akan hilang” suara Patih Batara Sang Hyang Hawu mengingatkan.

Seolah terbang tubuh Prabu Geusan Ulun melompat ke atas atap Keputren lalu bergerak ringan menuju ke arah Pendopo Tamu Negara dan segera masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya di kamar, Prabu Geusan Ulun tercenung memikirkan semua yang baru saja terjadi.

“Kenapa aku melakukan ini? Bagaimana reaksi Kakang Sultan Penembahan jika tahu?” Prabu Geusan Ulun seolah menyesali tindakannya menemui Ratu Harisbaya.

Saat Prabu Geusan Ulun sedang menyesali diri, tiba-tiba terdengar ketukan halus di pintu kamarnya. Bergegas Prabu Geusan Ulun berdiri dan membuka pintu, dilihatnya Patih Batara Sang Hyang Hawu berdiri sambil tersenyum penuh arti.

“Hamba datang menghadap Gusti Prabu” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil merangkapkan kedua tangan di atas dadanya.

“Silakan masuk Kakang Patih” Prabu Geusan Ulun mempersilakan Patih Batara Sang Hyang Hawu masuk sambil berlalu menuju kursi yang ada di dalam kamarnya.

Setelah dipersilakan masuk, Patih Batara Sang Hyang Hawu segera menutup pintu dan mengikuti masuk ke dalam kamar dan duduk di hadapan Prabu Geusan Ulun.

Prabu Geusan Ulun tidak berbicara sepatah katapun raut wajahnya menunjukkan bahwa hati dan pikirannya sedang tidak tenang. Patih Batara Sang Hyang Hawu segera membuka pembicaraan.

“Kanjeng Gusti Prabu, gerangan apa yang menggganggu pikiranmu? Hamba pikir setelah bertemu Gusti Ratu Harisbaya, maka akan membuat Paduka berbahagia.” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu menatap Prabu Geusan Ulun dengan mata menyelidik.

“Kakang Patih, aku bahagia sekali bisa menemui Harisbaya…hanya saja…” Prabu Geusan Ulun tidak meneruskan ucapannya, diarahkannya pandangan ke langit-langit kamar seolah ada beban yang sangat berat dalam pikirannya.
“Ada apa Gusti Prabu?” tanya Patih Geusan Ulun penasaran.

Sebelum menjawab, Prabu Geusan Ulun membuang nafas panjang mencoba melepaskan beban yang ada di dadanya.

“Hanya saja..aku merasa bahwa ini adalah kesalahan besar dan dosa yang sangat besar. Tidak seharusnya aku mengganggu Harisbaya yang sudah menjadi istri dari Kakang Sultan Panembahan” parau suara Prabu Geusan Ulun sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Gusti Prabu, ampuni hamba…ini semua adalah kesalahan hamba yang telah menyampaikan pesan Gusti Harisbaya kepada paduka” Patih Batara Sang Hyang Hawu beranjak dari kursinya dan segera berlutut di hadapan Prabu Geusan Ulun.

“Jika saja hamba tidak menyampaikan pesan itu, pasti semua ini tidak terjadi. Hukumlah hamba Gusti Prabu” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil tetap berlutut.

“Berdiri Kakang Patih, semua sudah terlanjur terjadi” ujar Prabu Geusan Ulun.

Patih Batara Sang Hyang Hawu segera bangkit dan kembali duduk di kursi.

“Kakang Patih..ada satu hal yang ingin aku bicarakan denganmu” ujar Prabu Geusan Ulun.

“Ada apa Paduka Gusti Prabu, semua titahmu akan hamba laksanakan dengan selruh jiwa hamba” Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil menunduk.

“Harisbaya ingin ikut denganku ke Sumedang Larang” suara Prabu Geusan Ulun parau.

Patih Batara Sang Hyang Hawu tercenung, dalam hatinya membatin,

“Hmmm…sesuai rencanaku. Rasakan pembalasanku wahai Kesultanan Cirebon dan seluruh keturunannya”

Prabu Geusan Ulun yang melihat Patih Batara Sang Hyang Hawu hanya tercenung dan diam saja merasa khawatir. Karena walau bagaimanapun Patih Batara Sang Hyang Hawu adalah andalan dan orang kepercayaannya. Jika saja Patih Batara Sang Hyang Hawu menolak rencananya membawa Harisbaya, dia merasa tidak akan sanggup melakukannya sendiri.

“Kakang Patih, kenapa diam? Bagaimana menurut pendapatmu” tanya Prabu Geusan Ulun Gusar.

Patih Batara Sang Hyang Hawu menarik nafas panjang,

“Gusti Prabu..ini sangat membahayakan untuk paduka dan seluruh Kerajaan Sumedang Larang” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu seolah menolak rencana Prabu Geusan Ulun membawa Harisbaya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan Kakang Patih? Harisbaya mengancam akan melakukan bunuh diri jika aku tidak membawanya” ujar Prabu Geusan Ulun suaranya terdengar seperti memohon bantuan dari Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Hmmm..ini seperti buah simalakama Gusti Prabu. Jika Gusti Prabu membawa Gusti Ratu Harisbaya ke Kerajaan Sumedang Larang tentu akan menyebabkan kemarahan dari Kesultanan Cirebon bahkan bisa saja mereka menyerang Kerajaan Sumedang Larang” jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Tapi jika Gusti Ratu Harisbaya melakukan bunuh diri tentu akan membuat geger seluruh Keraton dan jika mereka tahu penyebabnya adalah Gusti Prabu…maka akibatnya juga akan sama saja” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu seolah tidak memberikan solusi.

“Lalu apa saranmu Kakang Patih” suara Prabu Geusan Ulun tidak sabar.

“Tidak ada jalan lain…Gusti Prabu harus membawa Gusti Ratu Harisbaya ke Kerajaan Sumedang Larang. Karena apapun yang Gusti Prabu lakukan hasilnya akan sama” akhirnya Patih Batara Sang Hyang Hawu menyetujui untuk membawa Ratu Harisabaya ke Sumedang Larang.

“Jika Kesultanan Cirebon menyerang Kerajaan Sumedang Larang, maka hamba yang akan menghadapinya” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu meyakinkan.

Mendengar jawaban Patih Batara Sang Hyang Hawu, Prabu Geusan Ulun merasa sedikit lebih tenang. Karena dia tahu bahwa sebagai bekas kandaga lante, petinggi Pasukan Kerajaan Pajajaran, kesaktian Patih Batara Sang Hyang Hawu sangatlah tinggi. Dia yakin bahkan di Kesultanan Cirebon pun tidak akan ada yang sanggup menandinginya.

“Lalu apa rencanamu Kakang Patih? Tentu tidak mudah membawa Harisbaya melewati penjagaan Keraton” tanya Prabu Geusan Ulun, suara dan mimik wajahnya sudah jauh lebih tenang.

“Gusti Prabu lebih baik hamba bermusyawarah dengan ketiga patih lainnya untuk menjalankan rencana ni” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Betul Kakang Patih, lebih baik panggil mereka bertiga ke sini” perintah Prabu Geusan Ulun.

“Baiklah Gusti Prabu, hamba amit mundur utuk memangil mereka” ujar Patih Batara Sang Hyang sambil berdiri dan merangkapkan kedua tangan di depan dadanya lalu berbalik menuju pintu keluar untuk memanggil ketiga patih yang lain.

Sepeninggal Patih Batara Sang Hyang Hawu, Prabu Geusan Ulun tenggelam dalam lamunan. Terbayang kembali pertemuannya yang hangat dengan Harisbaya dan kini Harisbaya akan kembali menjadi miliknya seutuhnya. Prabu Geusan Ulun tersenyum bahagia seolah lupa dengan bencana yang akan terjadi.