MAHKOTA AYU KESULTANAN CIREBON


Malam itu suasana di Keraton Kesultanan Cirebon terlihat sepi hanya terdengar  suara binatang malam dan sesekali suara anjing liar dikejauhan. Gerimis yang turun membuat penghuni Keraton lebih memilih untuk tinggal di ruangannya masing-masing. Hanya di pendopo utama terlihat masih ada beberapa pengawal yang berjaga,

“Dingin sekali malam ini” ujar seorang penjaga yang bertubuh kurus sambil merapatkan baju menahan dingin.

“Betul kakang, alangkah nikmatnya jika malam ini berselimut di kamar tidur…ha..ha..” jawab temannya yang berbada sedikit tambun sambil tertawa.

“Hush..jangan macam-macam, nanti terdengar orang-orang Keraton bisa dihukum cambuk” seorang pengawal lain mengingatkan.

Saat para pengawal berbincang dan bergurau tanpa disadari oleh mereka, di atas atap pendopo utama berkelebat dua bayangan menuju ke arah keputren. Dua bayangan itu sesampainya di atas atap keputren terlihat saling berbisik,

“Hati-hati Kakang Patih” bisik sosok yang lebih muda.

“Jangan khawatir Gusti Prabu, semua penghuni Keputren sudah terkena sirep” jawab sosok yang bertubuh tinggi besar.

Ternyata kedua sosok yang berada di atas atap Keputren itu adalah Prabu Geusan Ulun bersama Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Lebih baik Gusti Prabu segera turun dan menemui Gusti Ratu Harisabaya di kamarnya. Hamba akan berjaga di sini” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Baiklah Kakang Patih, aku tidak akan lama. Segera kasih tanda jika ada masalah” bisik Prabu Geusan Ulun lalu melompat melayang turun, ringan sekali gerakannya.

“Jangan khawatir Gusti Prabu, nikmati saja malam ini bersama Gusti Ratu Harisbaya lirih Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil tersenyum.

Sepeninggal Prabu Geusan Ulun, Patih Batara Sang Hyang Hawu segera melompat ke atas pohon besar yang berada di samping Keputren. Lalu dengan entengnya bersila di atas sebuah dahan besar dan luar biasanya pohon itu tidak bergoyang sedikitpun, menunjukkan betapa tingginya ilmu meringankan tubuh Patih Batara Sang Hyang Hawu. Dipejamkan matanya sambil membatin,

“Kanjeng Gusti Prabu Surya Kancana, hamba haturkan sembah bakti semoga selalu bahagia di Nirwana. Sebentar lagi dendam kesumat Kanjeng Gusti Prabu kepada Kesultanan Cirebon dan seluruh keturunannya akan hamba balaskan”.

Sementara itu Prabu Geusan Ulun yang telah turun dan berjalan di dalam keputren mengendap-endap menuju kamar yang sudah digambarkan lokasinya oleh Patih Batara Sang Hyang Hawu. Dilihatnya di beberapa pojok Keputren bahkan ada yang dil lorong beberapa pengawal tertidur dengan pulas, sepertinya akibat ilmu sirep Patih Batara Sang Hyang Hawu.
“Hmmm…sepertinya ini kamar Harisbaya gumam Prabu Geusan Ulun sambil berhenti di depan sebuah kamar.

Didorongnya pintu kamar tersebut dan ternyata tidak kunci,

“Ah..tidak dikunci, apakah Harisbaya sudah mengetahui rencana kedatanganku?” batin Prabu Geusan Ulun sambil melangkah masuk dan menutup pintu kamar dan menguncinya.

Perlahan Prabu Geusan Ulun berjalan menuju ke bagian dalam kamar tercium wangi yang sangat dikenalnya, dadanya berdebar keras dan aliran darahnya seolah mengalir lebih cepat.

“Harisbaya..ternyata wangimu tidak berubah” batin Prabu Geusan yang mengenali bau wangi tersebut.

Sesampainya di bagian dalam kamar dilihatnya ada sebuah tempat tidur besar berkelambu sutra putih, Prabu Geusan Ulun tertegun sambil menahan gejolak rasa yang tertahan selama 5 tahun ini. Diambilnya sebuah kursi yang berada di pojok lalu ditarik ke depan tempat tidur lalu didudukinya sambil memejamkan matanya. Terjadi perang batin yang luar biasa karena walau bagaimanapun apa yang dilakukannya sudah merusak mahkota pernikahan Sultan Cirebon yang masih merupakan kerabatnya tetapi pengkhianatan yang sudah dilakukan dengan menikahi Harisbaya juga tidak bisa diterimanya.

“Kakang Sultan..aku hanya mengambil yang seharusnya menjadi milikku. Aku tidak bisa menerima pengkhianatanmu” batin Prabu Geusan Ulun sambil mengepalkan kedua tangannya.

Perlahan-lahan bangkit dari kursi dan berjala menuju ke samping tempat tidur lalu dengan tangan bergetar disibakkan kelambu yang menutupinya.

“Hha…risbaya” bibir Prabu Geusan Ulun bergetar melihat tubuh sorang wanita cantik yang tergolek di atas tempat tidur. Bukan saja nafasnya yang serasa berhenti tetapi aliran darahnya serasa mengalir ratusan kali lebih cepat. Lalu cepat-cepat dipalingkan kepalanya ke arah lain tak berani menatap langsung ke atas tempat tidur. Betapa tidak, di atas tempat tidur tubuh Harisbaya yang tergolek dengan pakaian yang berantakan memperlihatkan beberapa lekuk tubuh indahnya.

Perlahan kakinya melangkah mundur menjauhi tempat tidur lalu wajahnya diusap oleh kedua telapak tangannya, keringat dingin mulai muncul di kening Prabu Geusan Ulun. Dipejamkan kedua matanya lalu bibirnya merapal mantra untuk melepaskan sirep yang membuat Harisbaya tertidur lalu ditiupkannya ke arah tempat tidur. Ajaib dalam sekejap mata terlihat tubuh Harisbaya mulai bergerak dan bangun sambil menggosok kedua matanya.

Prabu Geusan Ulun tak kuasa menahan rasa rindu yang sudah ditahannya selama ini, matanya mulai berkaca-kaca.

“Harisbaya..ini aku, Geusan Ulun” suaranya serak menahan tangis.

Sementara Harisbaya yang baru terbangun kaget bukan kepalang, dari balik kelambu yang tipis dilihatnya sosok yang selama ini memenuhi mimp-mimpinya.

“Kakang Geusan Ulun…” lirih Harisabaya yang tak kuasa membendung air mata yang mulai turun.

“Seharian aku menunggumu di taman Keputren, tapi dirimu tak kunjung datang…kupikir Kakang Geusan Ulun tidak akan menemuiku” sambung Harisbaya sambil turun dari tempat tidur dan berdiri mematung memandang ke arah Prabu Geusan Ulun yang juga sedang menatap sendu ke arah Harisbaya. Sesaat kedua manusia yang sedang diamuk rasa rindu itu berpandangan seolah ingin menyampaikan berjuta rasa yang bergolak di dada mereka masing-masing.

“Harisbaya..maafkan aku” lirih Prabu Geusan Uun sambil menjatuhkan tubuhnya berlutut di hadapan Harisbaya.

Harisbaya yang melihat Prabu Geusan Ulun berlutut segera menghambur memeluknya.

“Tidak Kakang..aku yang bersalah telah mau dinikahi oleh orang lain. Aku bukan wanita yang setia Kakang” isak Harisbaya ditengah tangisannya sambil memeluk Prabu Geusan Ulun.

Beberapa saat Harisbaya memeluk Prabu Geusan Ulun yang bersimpuh sambil menangis lalu ditariknya untuk berdiri, keduanya berdiri berhadapan dalam jarak yang begitu dekat, deru nafas mereka saling menghangatkan. Prabu Geusan Ulun mengusap lembut wajah Harisbaya yang basah oleh air mata,

“Harisbaya…aku merindukanmu…aku tidak bisa kehilanganmu” lirih Prabu Geusan Ulun sambil memandang dengan penuh rasa cinta.

“Kakang…aku telah bersalah..mengkhianatimu, tidak layak untuk dirindukan” balas Harisbaya sambil melangkah mundur mejauhi tapi kedua bahunya ditahan oleh Prabu Geusan Ulun.

“Tidak Harisbaya..kau tidak bersalah. Aku yang bersalah” ujar Prabu Geusan Ulun sambil menarik tubuh Harisbaya ke dalam pelukannya.

Prabu Geusan Ulun memeluk erat tubuh Harisbaya seakan tidak mau dilepaskan, tubuh Harisbaya seolah menyatu dengan tubuhnya. Sesaat tubuh mereka bergetar dan dada mereka serasa dialiri hawa hangat, perlahan Harisbaya mendongakkan wajahnya menatap Prabu Geusan Ulun,

“Kakang Geusan Ulun..” rintih Harisbaya matanya mulai meredup.

Hembusan hangat nafas Harisbaya di wajahnya seolah membutakan nalar dan akal sehat Prabu Geusan Ulun. Sambil tangan kirinya merengkuh pinggang Harisbaya, jari-jari tangan kanan Prabu Geusan Ulun bergetar mengusap bibir Harisbaya yang basah merekah.

“Harisbaya..” parau Prabu Geusan Ulun sambil mendekatkan wajahnya.

Panas di dalam Keputren, gerimis sudah berubah menjadi hujan yang sangat deras. Langit seolah menangis!