#Sponsored


Pemakaian sepeda motor dewasa ini bukanlah sesuatu yang mewah tetapi sudah menjadi sebuah kebiasaan dan kebutuhan. Di Indonesia hampir setiap tahun bertambah sekitar 5~6 juta units, sebuah angka yang fantastis. Hampir disetiap rumah terdapat minimal 1 unit sepeda motor, penggunanya dari mulai anak-anak SMP sampai emak-emak pengajian.

Termasuk penulispun setiap hari beraktifitas menggunakan sepeda motor yang diberi nama si Jagur sebuah motor yang digunakan relatif sepuh yaitu Honda Tiger tahun 1997. Bukannya tidak mau ganti dengan motor yang baru tetapi memang si Jagur ini adalah kuncian dari jaman kuliah, istilah kerennya saksi sejarah. Entah sudah berapa orang teteh-teteh cantik di Bandung yang sudah saya boncengi. Jadi walaupun sudah langanan bulak-balik bengkel tetap saja tak mau dijual karena kalaupun saya jual harganya tidak sebanding dengan nilai kenangannya.

Seperti pagi itu saya minta bantu Kang Adun (tetangga samping rumah) untuk menyetut si Jagur ke bengkel Kang Teten di ujung jalan sana karena dari kemarin motor saya sering brebet bahkan mati sendiri. Sesampainya di bengkel, Kang Teten yang melihat motor saya bertanya,

Kunaon deui Wa, motor teh?”

Ngebrebet malahan kadang mati kalo lagi jalan” kata saya lesu sambil mendorong si Jagur ke dalam bengkel.

Kang Teten lalu memeriksa si Jagur dan berkata,

“Kayanya dari kiprok…sebentar saya cek”

“Waduh…mahal atuh kang kiprok mah” jawab saya sambil meringis.

“untung Kiproknya masih bagus Wa, cuman kabelnya kayanya udah jelek..jadi kadang nyambung kadang enggak” kata Kang Teten menjelaskan.

Socket Kiprok Honda Tiger


“Jadi kumaha Kang, kudu ganti kiprok ga?” saya penasaran karena membayangkan harga kiprok yang lumayan.

“Teu kudu Wa, cuman socket kiproknya aja yang musti ganti, udah jelek” kata Kang Teten.

“Berapa harganya kang?” tanya saya.

“Mau Ori, Super Bima Elektrik atau KW3” kata Kang Teten.

“Kalau Ori mahal ya Kang? Menurut akang gimana” tanya saya waswas.

“Ga usah Ori, pake aja yang super Bima Elektrik…sama aja asal jangan yang KW 3 saja..hehe.” jawab Kang Teten sambil nyengir.

“Bener nih kang, yang super Bima Elektrik juga bagus. Soalnya kalo jelek mending yang ori aja biar ga sering ganti” kata saya.

“Dijamin soalnya saya tahu yang produksinya, dia bekas teknisi di perusahaan kabel Jepang yang supply ke Honda dan Yamaha” kata Kang Teten meyakinkan.

“Ya udah pake Bima Elektrik aja” jawab saya.

“Eh..kang, emang akang tahu dibuatnya dimana?” tanya saya penasaran.

“Itu gudang yang di samping rumah Pak Haji Gagan, di situ ada workshop yang buat kabel-kabel buat motor” jawab Kang Teten sambil terus menggarap motor saya.

“Emang itu punya siapa kang? Koq saya tidak tahu?” saya makin penasaran.

“Haduh..Wa, kamu mah tidak gaul, workshop itu sudah lima tahun jalan. Punya si Ivan” jawab Kang Teten.

“Ivan yang dulu kerja di perusahaan kabel Ewindo itu?” saya heran karena selama ini tidak tahu kalau Ivan buka usaha sendiri.

“Iya…sekarang dia buat sendiri namanya Bima Elektrikal, kan dulu juga waktu di perusahaan lamanya biasa buat kabel-kabel yang di supply ke Yamaha dan Honda” Kang Teten menjelaskan.

“Emang kalo Ivan mah udah ahli atuh dalam bidang perkabelan motor mah” jawab saya.

Tidak heran sebenarnya kalau Ivan membuka usaha elektrikal motor karena dia sangat berpengalaman bahkan tidak aneh juga kalau kualitasnya mendekati originalnya. Karena Ivan dulu bekerja sebagai QC di perusahaan yang merupakan supplier resmi kabel ke Yamaha dan Honda.