#1 RATU GALUH YANG TERSINGKIRKAN





Sore itu di lereng Gunung Merapi yang sunyi terlihat kelebatan dua orang yang sedang bertarung dan saking cepatnya gerakan mereka tidak bisa terlihat siapa yang sebenarnya sedang bertarung. Setelah beberapa jurus berlalu, seorang dari mereka melompat mundur menjauhi lawannya sambil berteriak,

“Cukup Sanjaya, sekarang saatnya kita berlatih dengan senjata”

Ternyata laki-laki yang berteriak tersebut sudah kelihatan cukup umur, jambang dan rambut putihnya terikat rapi ke atas sedangan seorang lagi yang disebut Sanjaya adalah seorang anak muda yang gagah tampak tampan dan rupawan.

“Baiklah Ramanda” jawab pemuda itu sambil menghunus gobang (senjata khas Sunda yang berbentuk golok tapi lebih besar dan panjang) dari pinggangnya.

Sementara laki-laki yang lebih tua mengambil sebatang tongkat yang tergeletak di tanah.

“Sekarang serang aku dengan semua kemampuanmu” kata laki-laki tua itu.

“Hiyyaaa….” Sanjaya berteriak sambil berkelebat menyerang ke arah laki-laki tua yang tampak tersenyum menyambut serangannya.

Pertempuran seru kembali terjadi sampai hari menjelang gelap masih belum ada tanda-tanda siapa yang akan kalah. Sanjaya sudah mengerahkan segala kemampuan dan ilmu silat yang dimilikinya namun laki-laki tua dengan mudah dapat meladeninya.

“Hebat Sanjaya…ilmu silatmu sudah cukup hebat” terdengar laki-laki itu memuji Sanjaya.

“Tapi aku belum bisa mengalahkanmu Ramanda” Sanjaya menjawab pujian laki-laki tua itu sambil membabatkan gobangnya ke arah pinggang.

Dengan tenang laki-laki tua itu berkelit sambil menangkis gobang yang mengarah ke pinggangnya dan dengan kekuatan tenaga dalam yang luar biasa, gobang yang sedikit lagi akan melukai pinggangnya terpental dari genggaman tangan Sanjaya.

“Cukup..!!” teriak laki-laki tua itu sambil melemparkan tongkatnya ke tanah, sementara Sanjaya meringis menahan sakit di tangannya akibat gobang yang dipegangnya berbenturan dengan tongkat itu.

“Sekarang kita beristirahat dan nanti malam, aku tunggu di pondok kayu” kata laki-laki tua itu sambil berkelebat ke arah utara meninggalkan Sanjaya.

Sepeninggal laki-laki tua itu, Sanjaya bergegas mengambil gobangnya yang terpental dan menyarungkannya kembali.

“Luar biasa…semakin tua, Ramanda semakin tinggi ilmunya. Kapan aku bisa mengalahkannya” batin Sanjaya sambil bergegas menuju mata air yang berada di sebelah selatan tempat pertempuran mereka.

Malam itu di lereng Gunung Merapi terlihat sebuah pelita dari kejauhan yang ternyata berasal dari sebuah pondok kayu yang dibangun di antara pohon-pohon besar yang berdekatan. Pondok itu terlihat kokoh dan dibangun sekitar 15 meter tingginya dari permukaan tanah sehingga akan sulit bagi orang biasa untuk dapat masuk dan diperlukan ilmu meringankan tubuh untuk bisa mencapainya.
Didalam pondok terlihat Sanjaya sedang duduk bersila dengan takzim di depan laki-laki tua yang sebelumnya berlatih silat.

“Sanjaya anakku, sudah saatnya engkau meninggalkan lereng Gunung Merapi ini dan kembali ke Galuhsuara laki-laki tua itu terdengar bergetar.

“Buat apa kembali ke Galuh Ramanda? Hanya akan membuat keributan baru” jawab Sanjaya sambil menundukkan wajahnya tidak berani menatap laki-laki tua itu.

“Sanjaya, kau adalah anakku! Anak dari Sang Sena, Ratu Galuh yang Agung” ternyata laki-laki tua itu adalah Sang Sena, Ratu Galuh putra dari Rahiangtang Mandiminyak yang terkenal sebagai penguasa Karatuan Galuh.

“Aku tidak ingin, anakku, seorang Putra Mahkota dari Karatuan Galuh yang agung berjiwa kerdil!!! sambung Sang Sena terdengar marah kepada Sanjaya.

“Maafkan anakmu, wahai Sang Sena Ratu Galuh yang Agung, bukan aku berjiwa kerdil tapi aku merasa bekal ilmu kesaktianku belum cukup untuk kembali ke Karatuan Galuh” Sanjaya menjawab sambil tetap menundukkan wajahnya.

“Sanjaya, apa yang kau ucapkan memang betul adanya, semua ilmu kesaktian yang sudah kuwariskan kepadamu belum cukup untuk dapat menguasai kembali Karatuan Galuh.” Sang Sena menghela nafas panjang, pikirannya menerawang kejadian 10 tahun yang lalu saat Rahiang Purbasora dari Gunung Galunggung menyerang ke Istana Galuh dan merebut kekuasaan darinya. Saat itu Sang Sena bertempur dengan Rahiang Purbasora di alun-alun Karatuan Galuh, sayang ilmu Rahiang Purbasora begitu tinggi hingga akhirnya Sang Sena terkapar dan diasingkan ke lereng Gunung Merapi ini. Beruntung salah-satu abdi dalemnya yang bernama Aria Dawiji berhasil menyelamatkan putra tunggalnya yaitu Sanjaya dari istana dan mengantarkannya ke Sang Sena di Lereng Gunung Merapi. Sejak saat itu Sanjaya yang masih berusia di bawah 7 tahun sudah digemblengnya dengan ilmu kesaktian hingga saat ini Sanjaya berusia sekitar 17 tahun.

“Sanjaya anakku, saat ini usiamu sudah masuk dewasa maka keadaan di sini mungkin sudah tidak aman bagimu” suara Sang Sena berat seperti menahan beban yang luar biasa.

“Apa maksud Ramanda? Aku akan selalu merasa aman selama ada di samping Ramanda” Sanjaya menjawab sambil mengangkat mukanya memandang wajah teduh ayahnya, Sang Sena.

“Sanjaya, kau adalah putra dari seorang Ratu Galuh yang disingkirkan oleh Rahiang Prabusora, jadi mungkin saja Rahiang Purbasora merasa ketakutan kau akan membalaskan dendamku.” Sang Sena menjelaskan.

“Apakah Ramanda meminta aku untuk membalas dendam?” Sanjaya bertanya sambil menahan air mata yang sdah menggenang di sudut matanya. Bukan…bukan karena takut untuk bertempur melawan Rahiang Purbasora yang membuat Sanjaya menangis, tetapi membayangkan akan berpisah dengan ayahnya, Sang Sena yang membuat hati Sanjaya hancur.
Sang Sena menghela nafas panjang sambil mengusap wajahnya seolah ingin membuang beban yang sangat berat,

“Sanjaya…aku tidak akan memintamu untuk membalaskan dendam, tetapi alam semesta yang akan menuntut untuk memenuhi takdirmu sebagai Putra Mahkota Karatuan Galuh” suara Sang Sena lirih sambil mengusap kepala anak tunggalnya itu.

Mendengar ucapan Sang Sena, air mata perlahan turun dari kelopak mata Sanjaya, dia sangat memahami maksud dari kata-kata ayahnya.

“Ramanda, tidak sedikitpun aku takut untuk memenuhi takdir sebagai putra Sang Sena Ratu Galuh yang agung, tapi yang aku pikirkan hanyalah bagaimana dengan dirimu” Sanjaya semakin jatuh dalam kesedihan karena tidak mau berpisah dengan ayahnya.

“Aku tahu Sanjaya, darahmu adalah darah ksatria Galuh yang tidak akan mungkin takut memenuhi takdirnya. Dan aku sangat bangga kepadamu!” suara Sang Sena seolah tertahan di tenggorokan.

Sejenak suasana di pondok itu mencekam, Sang Sena dan Sanjaya larut dalam kesedihan yang sangat mendalam. Walau bagaimanapun kebersamaan mereka selama lebih dari 10 tahun sudah membuat ikatan rasa mereka, sebagai ayah dan anak, begitu kuat.

“Sanjaya…” akhirnya suara Sang Sena memecah kesunyian.

“Besok pagi, berangkatlah dirimu ke kulon lalu sebelum Galuh berbeloklah ke kidul menuju daerah Denuk dan temuilah Batara Hiang Buyut. Sampaikanlah bahwa kau adalah putra Sang Sena dan cucu dari Rahiangtang Mandiminyak. Mintalah beliau untuk mengajarimu ilmu kesaktian” sambung Sang Sena sambil memegang bahu Sanjaya.

“Baiklah Ramanda, aku akan menjalankan semua perintahmu dan berjanji untuk segera menuntaskan semuanya dan secepatnya menemuimu kembali di sini” ujar Sanjaya sambil menjatuhkan kepalanya ke dalam pangkuan Sang Sena.

“Sanjaya, jangan kau pikirkan tentang diriku. Sejak langkah pertama besok pagi jangan pernah memalingkan muka ke belakang, ikuti semua takdir yang akan membawamu menuju kejayaan” Sang Sena tersenyum sambil mengusap kepala Sanjaya yang ada dipangkuannya.

“Aku akan menyempurnakan diri dengan bertapa, lebih mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widi, sekarang bangunlah wahai ksatria gagah” ujar Sang Sena sambil mengangkat bahu Sanjaya.

Sanjaya lalu mengangkat kepalanya dari pangkuan Sang Sena lalu menatap wajah ayahnya yang entah mengapa malam ini terlihat sangat bersih dan seolah bercahaya.

“Sanjaya, ingatlah selalu kata-kataku, ikuti takdirmu dan jangan pernah takut pada apapun dan siapapun. Selamat tinggal Sanjaya” ujar Sang Hyang Sena sambil tersenyum dan perlahan-lahan tubuhnya seolah menjadi tipis dan tembus pandang.

Sanjaya yang tahu bahwa ayahnya, Sang Sena sebentar lagi akan “ngahiang” (hilang raga dari muka bumi) segera bersujud memberikan penghormatan terakhirnya.

RAHIANG SANJAYA : PERJALANAN MEREBUT TAHTA KARATUAN GALUH #2