CINTA LAMA MEMBAWA PETAKA, SEBUAH SIASAT.
Sementara itu, Patih Batara Sang Hyang Hawu setelah keluar dari keputren Ratu Harisbaya bergegas menuju ke rumah yang disediakan oleh pihak keraton untuk dirinya dan ketiga patih Sumedang Larang lainnya. Di teras rumah dilihatnya Batara Pancar Buana sedng mundar-mandir gelisah, begitu dilihatnya Batara Sang Hyang Hawu datang,

“Kakang, kemana saja? Kami mengkhawatirkanmu” Batara Pancar Buana bertanya dengan nada kesal.

“Sudahlah rayi, lebih baik kita bicarakan di dalam rumah dan tolong bangunkan yang lainnya” Batara Sang Hyang Hawu menjawab sambil tersenyum.

Illustrasi Prabu Geusan Ulun dan kekasih lamanya Ratu Harisbaya

 Mereka berdua segera masuk ke dalam rumah, Patih Batara Sang Hyang Hawu segera duduk bersila di ruang tengah sambil mengambil kendi dan batok minum. Dengan tenang dikucurkannya air kendi ke dalam batok lalu meminumnya sampaitandas, sementara Batara Pancar Buana segera masu ke dalam kamar tempat tidurnya Batara Dipati Wiradjaya dan Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

Baca juga : PERLAWANAN TERAKHIR KSATRIA PAJAJARAN #4


Tak lama kemudian ke empat patih Kerajaan Sumedang Larang itu sudah berkumpul di ruang tengah.

“Rayi bertiga, aku mau bertanya pada kalian.” Batara Sang Hyang Hawu membuka pembicaraan sambil menatap wajah Batara Pancar Buana, Batara Dipati Wiradjaya dan Batara Sang Hyang Kondang Hapa dengan tajam.

“Namun sebelum itu, tolong amankan keadaan sekitar. Jangan sampai ada yang menguping pembicaraan ini.” Batara Sang Hyang Hawu menyambung ucapannya sambil melirik kepada Batara Dipati Wiradjaya.

Batara Dipati Wiradjaya mengerti arti lirikan dari Batara Sang Hyang Hawu, dengan mata terpejam dan mulut berkomat kamit merapal mantera, kedua telapak tangannya dirapatkan dan ajaib…perlahan-lahan dari telapak tangannya keluar asap tipis yang yang semakin lama semakin banyak dan memenuhi ruangan tersebut.

“Sudah aman Kakang Patih.” kata Batara Dipati Wiradjaya.
“Sekarang tidak ada seorangpun yang bisa melihat dan mendengar kita” sambung Batara Dipati Wiradjaya sambil membuka kedua matanya.

“Terima kasih rayi Batara Dipati Wiradjaya, semakin lama ilmu halimunan milikmu semakin hebat” kata Batara Sang Hyang Hawu sambil memuji kehebatan ilmu milik Batara Dipati Wiradjaya.

“Sekarang lebih baik Kakang jelaskan ada apa sebenarnya? Semenjak di perjalanan pulang dari Kesultanan Pajang sepertinya ada yang Kakang sembunyikan dari kami” Batara Sang Hyang Kondang Hapa bertanya dengan tidak sabar.

Batara Sang Hyang Hawu terlihat wajahnya berubah menjadi bengis matanya merah menyala, tangannya mengepal dengan kuat lalu berkata,

“Aku sebenarnya kecewa dengan kalian bertiga, kemewahan telah membuat kalian menjadi lupa segalanya. Lupa dari mana asal dan trah kita”

“Bagaimana mungkin, kita sebagai trah Kerajaan Pajajaran bisa tidur dengan nyenyak di dalam Keraton Cirebon!” sambung Batara Sang Hyang Hawu sambil memukulkan kepalan tangan kanannya ke lantai.

“Maksudmu apa Kakang?” Batara Sang Hyang Kondang Hapa sepertinya tersinggung dengan ucapan Batara Sang Hyang Hawu.

“Maksudku adalah kalian bertiga sudah melupakan siapa yang telah menghancurkan keagungan Kerajaan Pajajaran. Kalian bertiga telah nyata-nyata mengkhianati mendiang Gusti Prabu Surya Kancana!!!” suara Batara Sang Hang Hawu bergetar menahan amarah sambil memandang tajam ke arah Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

“Aku tidak terima dengan tuduhanmu Kakang!” Batara Sang Hyang Kondang Hapa meradang sambil berdiri.

Batara Sang Hyang Hawu yang melihat Batara Sang Hyang Kondang Hapa berdiri semakin terpancing emosinya, dia ikut berdiri sambil mencabut kujang dari pinggangnya. Melihat suasana yang semakin memanas, Batara Dipati Wiradjaya segera menarik tangan Batara Sang Hyang Kondang Hapa.

“Kakang Batara lebih baik kita bicarakan baik-baik, kita dengarkan maksud dari Kakang Patih” Batara Dipati Wiradjaya mencoba menenangkan sambil menarik tangan Batara Sang Hyang Kondang Hapa supaya duduk kembali.

“Aku minta maaf Kakang Patih jika itu pendapatmu tentang kami, kami berada di sini atas welas asih Gusti Prabu Surya Kancana dan dirimu. Kami bertiga akan melaksanakan apapun titahmu seperti kami melaksanakan titah Gusti Prabu Surya Kancana” lirih suara Batara Pancar Buana sambil memeluk kaki Batara Sang Hyang Hawu.

“Lepaskan kakiku rayi, akan kuberi pelajaran orang tidak tahu diri ini!!!” Batara Sang Hyang Hawu sambil mencoba melepaskan kakinya dari pelukan Batara Pancar Buana.

“Tidak kakang Patih, lebih baik bunuh saja aku daripada kalian berkelahi seperti ini” Batara Pancar Buana sambil mempererat pelukannya ke kaki Batara Sang HYang Hawu.

Melihat kemarahan Batara Sang Hyang Hawu yang membuncah, akhirnya Batara Sang Hyang Kondang Hapa ciut juga nyalinya, karena walau bagaimanapun tingkat kesaktianya masih jauh berada di bawah Batara Sang Hyang Hawu.

“Maafkan atas kelancanganku Kakang Patih” kata Batara Sang Hyang Kondang Hapa sambil kembali duduk di samping Batara Dipati Wiradjaya sambil menundukkan kepalanya.

Perlahan-lahan amarah Batara Sang Hyang Hawu mulai mereda, disarungkannya kembali kujang pusakanya dan duduk di samping Batara Pancar Buana berhadapan dengan Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Batara Dipati Wiradjaya.

Dengan tajam kedua mata Batara Sang Hyang Hawu bergantian menatap Batara Sang Hyang Kondang Hapa dan Batara Dipati Wiradjaya. Batara Sang Hyang Hawu mulai merasakan tidak percaya kepada kedua koleganya tersebut dan akhirnya memutuskan untuk menjalankan rencananya sendiri. Dengan menarik nafas panjang akhirnya Batara Sang Hyang Hawu berkata,

“Aku hanya ingin kalian mengingat sejarah dan tidak melupakan bahwa Kerajaan Pajajaran yang agung telah dihancurkan oleh anak cucu dari Cirebon.” suara Batara Sang Hyang Hawu bergetar menahan dendam dan amarah.

“Kakang Patih….” Batara Pancar Buana menjawab tapi keburu dipotong oleh Batara Sang Hyang Hawu.

“Sudahlah..kalian bertiga lebih baik kembali beristirahat dan jangan lupa tetap waspada menjaga keselamatan Gusti Prabu Geusan Ulun” ujar Batara Sang Hyang Hawu memotong ucapan Batara Pancar Buana sambil berdiri meninggalkan ketiga temannya yang termangu karena tidak mengerti dengan kelakuan Batara Sang Hyang Hawu.

Batara Sang Hyang Kondang Hapa yang memang sejak awal tidak terlalu suka dengan Batara Sang Hyang Hawu akhirnya ikut berdiri dan menuju kembali ke kamarnya. Tinggal Batara Pancar Buana dan Batara Dipati Wiradjaya yang masih duduk bersila di ruang tengah itu.

“Aku tidak mengerti dengan Kakang Patih, apa maksudnya mengumpulkan kita bertiga tapi tidak menyampaikan apa-apa” Batara Pancar Buana berkata kepada Batara Dipati Wiradjaya sambil menghela nafas panjang.

“Entahlah..aku merasakan Kakang Patih sedang merencanakan sesuatu tapi tidak mempercayai kita” jawab Batara Dipati WIradjaya lirih.

Sementara itu, Batara Sang Hyang Hawu sesampainya di luar rumah bergegas menuju ke pendopo tamu negara tempat beristirahatnya Prabu Geusan Ulun. Beberapa pengawal yang sedang berjaga baik dari Kesultanan Ciebon maupun pengawal Prabu Geusan Ulun dari Kerajaan Sumedang Larang terlihat heran melihat Patih Batara Sang Hyang Hawu malam-malam mendatangi pendopo. Seorang kepala pengawal dari Kerajaan Sumedang Larang yang bernama Arya Suta segera menghampirinya dan menundukkan badannya,

“Gusti Patih, ada apa gerangan malam-malam mengunjungi pendopo?” tanya Arya Suta.

“Aku harus menemui Gusti Prabu karena ada urusan yang sangat penting” Batara Sang Hyang Hawu menjawab sambil menghentikan langkahnya.

“Mohon ampun Gusti Patih, tidak bisa kah di bicarakan nanti pagi saja. Karena Gusti Prabu mungkin masih tidur” Arya Suta mencoba menghalangi Batara Sang Hyang Hawu.

“Tidak Arya Suta…sekarang juga aku harus menemui Gusti Prabu” tegas Batara Sang Hyang Hawu sambil meraba kepala kujangnya.

Melihat Batara Sang Hyang Hawu yang berkeras menemui Prabu Geusan Ulun, nyali Arya Suta jerih juga.

Batara Sang Hyang Hawu melanjutkan langkahnya menuju ke arah pendopo diiringi oleh Arya Suta yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala karena tidak bisa mencegahnya. Sesampainya di pendopo, Batara Sang Hyang Hawu segera duduk bersila di ruangan depan pendopo.

“Arya Suta, tolong kau bangunkan Gusti Prabu dan sampaikan aku ingin bertemu. Ada masalah penting yang harus dibicarakan” tegas Batara Sang Hyang Hawu sambi menatap tajam kepada Arya Suta.

Arya Suta yang sudah jerih nyalinya segera berlalu menuju ke kamar Gusti Prabu Geusan Ulun yang berada di bagian dalam pendopo itu. Tak lama kemudian Arya Suta muncul di hadapan Batara Sang Hyang Hawu sambil berkata,

“Gusti Patih dipersilakan masuk dan menunggu di ruang dalam”

Batara Sang Hyang Hawu segera berdiri dan duduknya dan berlalu menuju ke ruangan dalam. Dilihatnya di dalam ruangan, Prabu Geusan Ulun sedang menunggunya dengan wajah yang tidak terlalu senang karena waktu istirahatnya di ganggu.

Sesampainya di hadapan Prabu Geusan Ulun, Batara Sang Hyang Hawu segera berlutut dan mengangkat kedua tangannya di atas kepala,

“Mohon ampun Gusti Prabu”  hornmat Batara Sang Hyang Hawu

“Duduklah Kakang Patih, ada apa gerangan malam-malam menemuiku?” Prabu Geusan Ulun mempersilakan.

Setelah duduk di hadapan Prabu Geusan Ulun, Batara Sang Hyang Hawu berkata,

“Gusti Prabu mohon izin, hamba akan menggunakan ilmu halimunan. Karena kita sedang bertamu kawatir ada yang mendengar pembicaraan kita”

“Tidak Kakang Patih, biar aku saja yang menggunakan ilmu halimunan. Sekalian aku ingin kau menilai kehebatanku dalam menguasai ilmu itu” kata Prabu Geusan Ulun sambil tersenyum senang karena dia bisa mempraktekkan ilmu itu di hadapan Batara Sang Hyang Hawu yang mengajarinya ilmu itu.

Tanpa menunggu jawaban dari Batara Sang Hyang Hawu, Prabu Geusan Ulun memejamkan mata dan kedua telapak tangannya di satukannya sambil bibirnya koma-kamit merapalkan mantera. Asap tipis mulai keluar dari telapak tangannya dan semakin lama asap itu semakin tebal memenuhi ruangan.

“Luar biasa, ilmu halimunan Gusti Prabu hampir sempurna” Batara Sang Hyang Hawu senang melihat kemampuan Prabu Geusan Ulun.

“Terima kasih Kakang Patih, ini semua berkat bimbinganmu” Prabu Geusan Ulun menjawab Batara Sang Hyang Hawu yang selain menjadi Patih juga adalah guru ilmu kanuragan bagi dirinya.

“Sekarang sampaikan maksud kedatanganmu Kakang Patih” Prabu Geusan Ulun meminta Batara Sang Hyang Hawu menyampaikan maksudnya.

“Hamba datang ke sini untuk menyampaikan pesan dari Gusti Ratu Harisbaya” ujar Batara Sang Hyang Hawu pelan.

Mendengar nama Harisbaya di sebut, seketika muka Prabu Geusan Ulun memerah dan berkata,

“Apa maksudmu Kakang Patih, Harisbaya sudah menjadi istri dari Kakanda Sultan Panembahan. Tidak elok jika aku menemuinya” suara Prabu Geusan Ulun bergetar menahan gejolak di dalam dadanya.

“Sebentar Gusti Prabu, Gusti Ratu Harisbaya hanya ingin bertemu dan tidak ada maksud lain” Batara Sang Hyang Hawu mencoba menyakinkan.

“Gusti Ratu Harisbaya hanya ingin memastikan kalau Gusti Prabu baik-baik saja. Beliau sangat menyesal telah melukai hati Kanjeng Gusti Prabu” sambung Batara Sang Hyang Hawu.

“Tidak Kakang Patih, Harisbaya tidak bersalah. Aku yang telah menyia-nyia kan dia” parau suara Prabu Geusan Ulu.

“Gusti Prabu, hamba sudah mengatur waktu yang baik untuk pertemuan ini” Batara Sang Hyang Hawu terus menekan Prabu Geusan Ulun.

“Tapi bagaimana kalau orang Cirebon tahu? Tentu akan menjadi masalah yang besar diantara kedua kerajaan.” Prabu Geusan Ulun masih ragu.

“Gusti Prabu adalah pewaris sah dari Kerajaan Pajajaran, pantang bagi trah Pajajaran diganggu kehormatannya” Batara Sang Hyang Hawu mulai menghasut Prabu Geusan Ulu.

“Apa maksudmu Kakang Patih? Bukankah aku yang akan mengganggu kehormatan Kakanda Sultan Panembahan?” Prabu Geusan Ulun heran mendengar ucapan Batara Sang Hyang Hawu.

“Ingatkah Gusti Prabu saat mondok di Pajang, Gusti Ratu Harisbaya adalah kekasihmu? Dan ingatkah juga kalau Sultan Panembahan mengetahui hubungan itu? Lalu apa yang dilakukan Sultan Panembahan? Dia meminang Harisbaya tanpa memberitahu kepada Gusti Prabu” Batara Sang Hyang Hawu terus menghasut Prabu Geusan Ulun.

“Cukup Kakang Patih!!!” Prabu Geusan Ulun nyaris berteriak memerintahkan Batara Sang Hyang Hawu untuk behenti bicara. Mukanya memerah, giginya terdengar bergemeletuk menahan amarah, rupanya hasutan Batara Sang Hyang Hawu berhasil.

“Pertemukan aku dengan Harisbaya!” suara Prabu Geusan Ulun bergetar.

Baca juga : PERLAWANAN TERAKHIR KSATRIA PAJAJARAN #1