AIR KAJAYAAN YANG TAK LAGI JAYA

Sesampainya di rumah Kang Asep, kami ngobrol ngaler ngidul menunggu matahari terbit ditemani kopi hitam dan rokok yang tidak ada putusnya kami hisap. Menjelang jam 9.00 pagi setelah sarapan dan cuci muka, saya bersama tim menuju ke Leuweung Sancang 4 yang menurut arahan dari Kang Asep, kami harus menuju ke “air kajayaan”. Sayangnya Kang Asep tidak ikut bersama kami karena ada keperluan lain, hanya saja beliau sempat berpesan,

“Nanti kalau sampai pintu gerbang masuk, bilang saja arahan dari Kang Asep biar gak usah bayar tiket masuk”

Sesampainya di gerbang masuk Leuweung Sancang, ,memang ada pos yang dijaga oleh beberapa penduduk dan setiap peserta diharuskan membayar 5ribu rupiah. Setelah menghitung jumlah rombongan, saya pun menyodorkan uang pecahan 50ribu rupiah.

“Teu kedah diangsulan kang” kata saya sambil tersenyum.

Toha segera menghampiri saya sambil berbisik,
“Kenapa bayar A? Bilang aja arahan Kang Asep”.

“Gapapa atuh Toha, cuman 5 ribu ini. Lagian kalo semua orang gak bayar darimana biaya buat ngerawat tempat ini, jangan dibiasakan berkunjung ke tempat wisata manapun maunya gratisan” kata saya mengingatkan Toha.

Setelah melewati pos jaga, kamipun mulai menyusuri jalan setapak yang menurun tetapi untungnya dilapisi beton sehingga cukup nyaman untuk dipakai berjalan. Di samping kiri-kanan hutan masih cukup lebat sehingga udaranya sangat sejuk, hanya saja untuk para perokok harus hati-hati kalau mau membuang puntung rokok bisa menyebabkan kebakaran, jadi lebih baik jika membawa kantong untuk membuang sampah sehingga tidak mengotori ataupun membahayakan hutan.

Setelah berjalan menyusuri jalan setapak, kami menemukan petunjuk arah ke “air kajayaan” yang berada di belokkan ke kiri dan ternyata menuju lembah yang jalannya sangat curam. Walaupun sudah dibuat tangga dari beton tetap saja harus berhati-hati karena kecuramannya sekitar 45 derajat dan satu hal yang mengganggu pikiran saya sejak dari pintu gerbang masuk Leuweung Sancang adalah tidak ada “getaran atau aura” mistis yang terasa. Entah kenapa….

Akhirnya dengan perjuangan yang tidak mudah, kami sampai di dasar lembah yang berada di samping sebuah sungai atau mungkin muara yang mengarah ke arah pantai Sancang. Dan ternyata “air kajayaan” itu berada di seberang sehingga kami harus melintasi sungai menggunakan rakit yang sudah tersedia di sana.

Melintasi  sungai menggunakan rakit


Buat kami yang dibesarkan di daerah pegunungan, tentu saja tidak familiar dengan transportasi air seperti ini, beberapa kali rakit hampir terbalik karena posisi berdiri kami yang tidak seimbang.

Sesampainya di seberang sungai, kami masih harus berjalan melalui jalan setapak sekitar 200 meter dan tibalah kami di “air kajayaan” yang konon bertuah kaena bisa membawa kejayaan, entahlah! Dilokasi yang disebut tempat “air kajayaan” ada beberapa bangunan permanen dari tembok yang sepertinya sengaja dibuat untuk mandi pengunjung. Ivan dan Yukay bergegas menuju ke tempat yang berbentuk pemandian itu sementara saya melihat-lihat sekeliling sambil “nyambat” tapi tetap saja tidak terasa ada getaran atau aura bersih yang terasa malahan beberapak kali tertangkap di sudut pandang sekelebatan bayangan hitam yang sepertinya tidak baik untuk diajak komunikasi.


Lokasi "Air Kajayaan"

“Caina ge garing uy..” teriak Yukay kecewa. (airnya juga kering)

“Enya malahan loba runtah kieu” sambung Ivan sambil keluaran dari pemandian. (iya malahan banyak sampah)

“Gara-gara halodo meureun” sambung Toha sambil nyengir. (gara-gara kemarau mungkin)

Saya tidak menghiraukan pembicaraan mereka karena pandangan saya terpaku pada sebuah plang yang ditempel di sebuah pohon. Akhirnya saya mendapat jawaban kenapa tidak ada getaran atau aura mistis positif di sekitar “air kajayaan”, pantesan batin saya.

“Ya sudah kita kembali pulang saja” kata saya pelan, hilang sudah harapan mendapatkan pengalaman spiritual yang diimpikan

“Kenapa A?. Baru juga sebentar.” tanya Ivan kecewa.

“Iya A, kita tawasul aja dulu siapa tahu ada petunjuk” kata Toha.

Saya nyengir kuda sambil berkata,
“Kalian lihat dulu plang ini” 

“Plang apaan?” kata Yukay penasaran.

“Itu plang di atas kepala Toha” kata saya sambil menunjuk sebuah plang yang berada di atas kepala Toha.

Ivan dan Yukay bergegas turun menuju ke arah Toha sementara Toha mendongakkan kepalanya melihat plang yang ada di atas kepalanya.

“Coba baca isinya Ha” kata saya pada Toha

“Perhatian Ibu & Bapak, jangan buang celana dalam dan kutang” Toha membaca isi tulisan yang tertera di plang.

Toha, Ivan dan Yukay tertawa.

Plang pengumuman yang ditempel di sebuah pohon

“Nah..dari pengumuman itu saja sudah jelas. Lebih baik kita pulang saja” kata saya sambil berbalik berniat untuk kembali.

“A…ke heula, maksudna kumaha?” tanya Ivan. (sebentar A, maksudnya bagaimana?)

“Maksudnya, menurut saya tempat ini sudah tidak ada karomahnya. Sudah hilang karena perbuatan pengunjung atau penziarah seperti kita ini” kata saya.

“Bagaimana mungkin Kanjeng Gusti Prabu Siliwangi seorang Maharaja yang sangat agung mau tinggal di tempat seperti ini. Orang sembarangan buang celana dalam dan kutang bahkan lihat di sekeliling kita, sampah dimana-mana” panjang lebar saya menjelaskan.

“Van, menurut kamu gimana?” tanya saya pada Ivan.

“Iya sih A, udah ga enakeun hawanya dari tadi kokolebatan wae” kata Ivan

“Itulah yang kata saya tempat ini sudah tidak ada karomahnya, karena hanya jurig jarian yang mau tinggal di tempat sejorok dan sekotor ini. Jangan sampai tertipu pandangan” kata saya sambil meninggalkan “air kajayaan” yang sudah tak lagi jaya.

“LEUWEUNG SANCANG NGAHIANG, HILANG TANPA KARANA”
(Hutan Sancang menghilang tanpa bekas)

#SELESAI#