Hotel Inna Samudera Beach adalah sebuah hotel yang didirikan pada tahun 1962 atas perintah Presiden pertama RI yaitu Bung Karno (Soekarno). Tentu menjadi pertanyaan menarik mengapa Bung Karno memilih lokasi ini sebagai tempat berdirinya hotel yang konon adalah salah satu yang termegah dan termewah di Asia Tenggara saat itu.

Dari berbagai sumber dikumpulkan informasi bahwa daerah Pelabuhan Ratu memang mempunyai peran dalam kehidupan Bung Karno. Seringkali Bung Karno bersembunyi di wilayah ini saat dikejar-kejar Belanda ataupun Jepang pada masa perjuangan kemerdekaan dulu. Bung Karno merasa bahwa wilayah Pelabuhan Ratu mempunyai daya magis yang luar biasa dan seringkali melakukan tapabrata/meditasi di sini. Bahkan dari laku tapabrata tersebut, Bung Karno bisa melakukan komunikasi dengan penguasa laut kidul yaitu Nyi Roro Kidul atau masyarakat Sunda mengenalnya dengan Ibu Ratu Laut Kidul. Bahkan di Pelabuhan Ratu kita bisa menemukan sebuah batu yang berbentuk kursi yang dipercaya sebagai tempat pertemuan Bung Karno dengan Nyi Roro Kidul saat membahas perjuangan bangsa Indonesia melepaskan diri dari belenggu asing (tentang batu kursi ini akan di bahas ditulisan tersendiri).

Mungkin saja pembangunan hotel ini sebuah persembahan dari Bung Karno kepada Nyi Roro Kidul yang secara spiritual banyak membantunya dalam perjuangan. Hal ini diperkuat dengan dikosongkannya sebuah kamar bernomor 308 dan diabadikan sebagai ruangan khusus untuk Nyi Roro Kidul.

Buat sebagian orang, hal ini dianggap sebagai mitos belaka bahkan tak kurang yang menyebutnya sebagai takhayul. Di bawah adalah pengalaman saya pribadi berziarah atau berdoĆ” di kamar 308 Hotel Inna Samudera Beach, Pelabuhan Ratu.

Kamis sore itu kami berempat, saya, Pak Ferdy dan dua orang asistennya yaitu Ahad dan Kikin berangkat ke Pelabuhan Ratu sekitar jam 15.00 dari kota Bandung untuk berziarah ke kamar 308 Hotel Samudera Beach, Pelabuhan Ratu.

“Kita langsung ke hotel, Pak?” tanya saya yang menyetir mobil kepada Pak Ferdy.

“Jangan kang masih terlalu sore , kita ke Karang Hawu saja dulu dan ke hotelnya nanti saja sekitar jam 11.00 malam” jawab Pak ferdy.

Sambil melirik jam yang ada di dashboard mobil saya pun mengarahkan mobil ke arah pantai Karang Hawu dan melintasi Hotel Inna Samudera yang berada di samping kiri jalan. Sesampainya di pantai Karang Hawu, saya segera memarkirkan mobil di area parkir yang cukup luas dan segera turun sambil melemaskan otot-otot yang pegal karena perjalanan yang cukup jauh dan medan yang lumayan berat.

“Kalian bawa pakaian ganti ga?” tanya Pak Ferdy pada kami bertiga.

“Ya bawa lah” kata Ahad dan Kikin hampir bersamaan.

Bagi saya yang memang awam tentang ritual ataupun adab dalam berziarah tentu saja tidak mempunyai persiapan yang baik bahkan sayapun tidak tahu kalau harus membawa pakaian ganti.

“Saya ga bawa Tadz” jawab saya sambil cengengesan.
“Emang buat apa pakaian ganti Tadz?” sambung saya.

“Buat mandi kang, nanti kita mandi dulu di sumur tujuh sebelum berziarah ke kamar 308” jawab Ahad menjelaskan.

Pak Ferdy hanya tersenyum sambil berkata,

“Ya udah akang beli aja celana pendek di sini, tuh banyak yang jualan” kata Pak ferdy sambil menunjuk warung-warung souvenir yang berada di seberang jalan dari tempat parkir.

“Kecuali akang mau kabulusan burungnya” sambung Pak Ferdy terkekeh.

Singkat cerita setelah membeli celana pendek, kami pun bergegas menuju ke sebuah warung yang berada di pinggir pantai yang menurut Pak Ferdy adalah tempat sumur tujuh itu berada. Suasana warung cukup ramai oleh pengunjung dan sepertinya memang dipersiapkan untuk ritual mandi di sumur tujuh karena di sediakan 3 buah kamar mandi bilas yang cukup besar.

Konon katanya dengan mandi di sumur tujuh, yang menurut saya lebih mirip lubang  di batu karang daripada sumur, maka semua rereged dan kokotor diharapkan akan terbuang atau terbilas oleh air laut sehingga kita akan menjadi lebih enteng dan bersih.

Saya tidak merasakan ada kejadian mistis yang terjadi selama mandi di sumur tujuh selain ketakutan akan ombak yang semakin malam semakin besar, entahlah kalau Pak Ferdy dan dua anak buahnya.

Selesai mandi, Pak Ferdy meminta kami untuk segera bergegas beres-beres untuk menuju ke Hotel Inna Samudera Beach.

“Hayu siap-siap, kita segera menuju ke hotel. Sepertinya sudah ada penggilan” kata Pak Ferdy.

Setelah membayar semua makanan dan minuman di warung, kami bergegas menuju parkiran dan meluncur ke Hotel Inna Samudera Beach. Sesampainya di lobi Hotel, kami disambut oleh resepsionis dan ditanya maksud dan tujuan kami.

“Mau menginap atau berdo’a saja?” tanya seorang respsionis pria dengan ramah.

“Berdo’a” jawab Pak Ferdy singkat.

“Baik pak, sebelumnya sudah booking atau belum?” resepsionis itu kembali bertanya.

“Belum” jawab Pak Ferdy.

“Oh..begitu, ada waktu kosong di jam 3.00 pagi” kata resepsionis lagi.

“Tidak bisa jam 1.00 atau jam 2.00?” Pak Ferdy bertanya.

“Mohon maaf, jam segitu sudah ada yang booking. Kecuali kalau ada yang membatalkan kami akan beritahu, mohon tinggalkan saja nomer yang bisa dihubungi” dengan ramah resepsionis itu kembali menjelaskan.

“Ok, saya booking dulu yang jam 3.00” kata Pak Ferdy sambil melirik saya.

Saya segera faham maksud lirikan Pak Ferdy dan mengeluarkan dompet sambil bertanya,

“Berapa biayanya?” tanya saya kepada resepsionis.

“Biayanya 600 ribu perjam untuk 6 orang” jawab resepsionis.
(harga saat itu, sekarang mungkin sekitar 750ribu/jam)

“Kalo 4 orang berarti 400 ribu ya?” saya mencoba menawar.

“Hehe..mohon maaf pak, itu sudah harga paket” resepsionis menjawab sambil tersenyum.

Setelah membayar biaya booking kami duduk di kursi lobby yang berhadapan dengan cafe, sambil membuka handphone saya melihat bahwa waktu sudah menunjukkan jam 00.30 pagi.

“Kalau jam 3.00 sudah terlalu siang, Ibu Ratu sudah tidak ada di kamar, bagusnya maksimal jam 2.00” Pak Ferdy membuka percakapan.

“Lah terus gimana..apa kita ambil lagi saja uang bookingnya?” tanya saya heran, kenapa Pak Ferdy baru bicara seperti ini setelah biaya booking dibayar.

“Tenang aja kang, nanti Pak Ferdy yang ngurus” kata Kinkin menyambar pertanyaan saya.

Pak Ferdy terlihat memejamkan matanya sambil komat-kamit, entah apa yang sedang dilakukannya. Tak lama kemudian Pak Ferdy membuka matanya lalu berkata,

“Sebentar lagi resepesionis akan menelpon akang” Pak Ferdy sambil tersenyum ke arah saya.

Saya hanya mengangguk kepala, karena memang nomer handphone saya yang ditinggal di resepsionis. Tak lama berselang memang handphone saya berbunyi dan ternyata telpon dari resepsionis…entah ini adalah keberuntungan atau ada faktor lain…ajaib…tamu yang booking kamar jam 2.00 pagi membatalkan dan kami bisa masuk kamar jam 2.00. Amazing….!!!

Setelah mengucapkan banyak terima kasih pada resepsionis dan menutup telpon, dengan gembira saya berkata,

Pak Ferdy, tamu yang jam 2.00 membatalkan dan kita bisa masuk kamar sekarang”

“Tuh kan…ceuk sayah ge, serahkeun saja yang begini mah ke Pak Ferdy” kata KInkin dengan sengak.

Akhirnya kami masuk ke dalam kamar yang semuanya berwarna serba hijau, disamping kanan pintu terdapat tempat tidur yang dihiasi oleh kelambu serta di sampingnya ada foto/gambar Nyi Roro Kidul yang berukuran cukup besar. Sebuah perapian dupa yang masih mengepulkan asap yang wangi terletak dilantai yang beralaskan karpet, terdapat beberapa sesajen dan rangkaian bunga melati yang mungkin bekas tamu/penziarah sebelumnya. (Demi menghormati Nyi Roro Kidul saya sengaja tidak mengambil foto di dalam kamar, jika anda ingin mengetahui suasana di dalam kamar akan lebih baik jika anda mengunjunginya langsung).

Pak Ferdy mematikan lampu lalu duduk bersila didepan perapian dupa sementara kami bertiga pun duduk bersila persis di belakangnya. Pak Ferdy segera merapal do’a dan memperkenalkan kami satu per satu kepada Nyi Roro Kidul, seolah ada sesosok makhluk kasat mata di depan kami. Lalu Pak Ferdy mulai berdo’a diikuti oleh kami dengan takzim, kami berempat larut dalam suasana mistik yang temaram dengan wangi melati yang menyengat ditingkahi suara deburan ombak laut selatan yang menggelora.

Saya pun tenggelam dalam do’a dan penyerahan diri sambil memohon pertolongan, entah ini benar atau tidak biarlah Tuhan yang memutuskan, pandangan saya tiba-tiba gelap, pendengaran seolah hilang lalu seperti ada tenaga dari dalam diri yang mendorong saya untuk bangkit dari duduk saya. Untungnya kesadaran saya  tidak hilang, saya masih sadar sesadar-sadarnya, saya masih menyadari atas apa yang terjadi hanya saja saya kehilangan kontrol atas diri saya. Kedua tangan saya mencengkram paha dengan kuat lalu seperti didorong oleh kekuatan yang dahsyat, tubuh saya mulai bergetar dan dari mulut saya keluar suara menggeram. Ahad dan Kinkin yang berada di samping kiri dan kanan saya dengan sigap segera memegangi tubuh saya, tetapi entah kekuatan dari mana kedua orang itu terpental. Pak Ferdy yang mendengar geraman saya segera membalikan badannya dan mengusap tengkuk dan bahu saya, tapi tubuh saya masih bergetar dan mengeluarkan suara menggeram yang semakin kuat. Sadar bahwa usapan pertamanya gagal menyembuhkan saya, Pak Ferdy segera bangkit dari duduk sila-nya dan mengusap kepala saya sebanyak tiga kali, ajaib tiba-tiba tubuh saya terasa lemas dan saya pun tergeletak tidak mampu duduk lagi.

Pak Ferdy segera menyalakan lampu dan duduk di depan tubuh saya yang tergeletak lemas,

“Kin, coba menta cai aqua” kata Pak Ferdy kepada Kinkin.

Kinkin segera mengeluarkan air mineral dari tas ransel lalu menyerahkannya kepada Pak Ferdy, sementara itu Ahad yang merupakan tangan kanan Pak Ferdy terlihat duduk bersila sambil mulutnya komat-kamit, entah apa yang sedang dirapalnya. Pak Ferdi menyodorkan botol air mineral kepada saya,

“Cobi di minum heula kang, jangan lupa selalu sebut dan ingat nama Tuhan” kata Pak Ferdy.

Pelan-pelan saya memaksakan diri untuk duduk dan minum air mineral yang disodorkan oleh Pak Ferdy, perlahan-lahan kekuatan saya muncul lagi.

“Duh..koq bisa begini ya Pak Ferdy, mohon maaf saya jadi mengganggu” kata saya pelan.

“Ga apa-apa kang, lebih baik kita segera keluar kamar, waktu satu jam kita hampir habis” kata Pak Ferdy sambil berdiri.

Di perjalanan pulang, Pak Ferd menjelaskan apa yang terjadi pada diri saya di kamar 308 Hotel Inna Samudera Beach, Pelabuhan Ratu. Sungguh sebuah perjalanan spiritual yang berkesan karena inilah pertama kalinya saya merasakan apa yang namanya berziarah ke tempat keramat bahkan langsung dapat “penyambutan” yang luar biasa.

Di episode selanjutnya saya akan menceritakan pengalaman spiritual yang tidak kalah mencekam bahkan bisa membahayakan jiwa.

Cag..sampai sini dulu!