Bubuka
Sampurasun…amit ampun nya paralun,
Agungna ka wujud Gusti nu maha suci,
Jembarna ka para karuhun sabuder awun,
Ka Ibu agung ka Rama agung,
Ka ibu anu teu muguran,
Ka Rama anu munggaran,
Deuheusna ka Ibu Rama nu jadi cukang lantaran urang gumelar di pawenangan.
Rahayu…rahayu..kersaning Gusti…rahayu..rahayu..mugi diaping dijaring!

Dicerita sebelumnya, JEJAK SPIRITUAL : #1 DISAMBUT NYI RORO KIDUL DI KAMAR 308, telah disinggung sedikit mengenai keberadaan Batu Kursi yang dipercaya sebagai titik pertemuan antara Bung Karno (Presiden pertama RI) dengan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa laut selatan. Batu Kursi ini terletak di area patilasan Nyi Roro Kidul di atas karang yang menjorok langsung ke laut.

Sekembalinya dari kamar 308 yang ada di Hotel Inna Samudera Beach, terus terang telah memanggil rasa kepenasaran saya mengenai jejak Nyi Roro Kidul di Pelabuhan Ratu dan salah satunya yang membuat saya penasaran adalah Batu Kursi ini.

Setelah melalui persiapan yang panjang, saya bersama Ivan (jika ingin mengenal Ivan lebih jauh silakan buka kisah LEUWEUNG SANCANG “MENGHILANG” TANPA BEKAS #1) memutuskan untuk berangkat ke Pelabuhan Ratu hanya berdua saja. Untuk menghemat budget kami berangkat menggunakan sepeda motor berboncengan sekitar jam 8 pagi dan sampai di Karang Hawu Pelabuhan Ratu sekitar pukul 2 siang. Setelah parkir motor, kami berdua berjalan ke warung yang berada di dekat sumur tujuh untuk sekedar melepaskan lelah.

“A mau langsung ke Patilasan atau ke warung dulu” tanya Ivan sambil membereskan helm dan sarung tangannya ke dalam jok motor.

“Ke warung saja dulu, makan siang sekalian istirahat. Masih siang ini” jawab saya sambil melangkah meninggalkan parkiran motor menuju ke warung.

Sesampainya di warung ternyata cukup ramai mungkin karena malam itu adalah malam jumát sehingga banyak pengunjung yang datang. Setelah memesan kopi hitam, kami berdua duduk di atas kursi yang menghadap ke arah pantai sambil berdiskusi tentang acara kami selanjutnya.

“A rencana selanjutnya bagaimana?” tanya Ivan sesaat sebelum menyeruput kopi hitamnya.

“Sekarang mah kita istirahat saja dulu, nanti ba’da asyar kita tawasulan di patilasan”
“Setelah itu kita ikuti saja petunjuk kata hati” saya menjelaskan sambil menyalakan sebatang rokok untuk menemani secangkir kopi hitam yang telah tersaji.

Kami berdua larut dalam lamunan masing-masing sambil diselingi menyeruput kopi dan menarik asap dari sebatang rokok yang terselip di bibir. Hawar-hawar terdengar suara adzan asyar,

“Sudah adzan A” Ivan mengingatkan saya.

“Ya sudah kita sekarang ke patilasan, tapi naiknya jangan dari sini dari gerbang utama saja” kata saya sambil berdiri dan membayar bekas kami minum kopi ke pemilik warung.

Lalu saya berlalu diikuti Ivan menuju ke patilasan Nyi Roro Kidul melalui gerbang utama Gunung Haruman, patilasan ini berada di puncak Gunung Haruman, menurut saya lebih tepatnya bukit karena tidak terlalu tinggi. Setelah menaiki anak tangga yang cukup curam akhirnya kami sampai di puncak Gunung Haruman dan di luar ekspektasi kami ternyata patilasan itu berada di lingkungan pemukiman yang cukup padat. Tadinya harapan dan bayangan kami patilasan ini akan berada di bukit yang lebat oleh pepohonan dan bersuasana mistis…ternyata…ah sudahlah kita teruskan saja ceritanya.

Patilasan ini berada di samping kanan jalan setapak yang membelah Gunung Haruman dari kaki gunung di sebelah kanan yang berada di samping jalan raya sampai ke kaki gunung di sebelah kiri yang berada di sisi laut selatan.

“Van, tolong tanya siapa kuncennya” saya meminta Ivan untuk bertanya ke salah satu penunggu warung yang tetap berada di depan petilasan.

“Langsung aja A, kita tawasulan sendiri aja” jawab Ivan

“Eh..ga boleh begitu, walau bagaimanapun kita tamu di sini, harus kulo nuwun dulu” jawab saya mengingatkan Ivan.

Singkat cerita, kami diarahkan oleh Pak Mi’an penunggu warung yang ternyata merangkap keamanan di patilasan itu menuju ke rumah Pak Opi sang kuncen. Setelah berbasa-basi akhirnya kami mohon izin bertawasul sendiri karena melihat Pak Opi cukup sibuk melayani para tamu yang datang.


Di patilasan itu ada dua bangunan mirip rumah yang bersebelahan, di bangunan pertama terdapat makam,
1. Eyang Rembang Sanca Manggala,
2. Eyang Lendra Kusumah,
3. Eyang Jalak Matamakuta,
4. Syech Hasan Ali,

Sedangkan di bangunan yang kedua terdapat makam atau lebih tepatnya patilasan,
1. Nyi Mas Ratu Dewi Roro Kidul,

Karena tujuan utama kami adalah mengunjungi petilasan Nyi Roro Kidul maka saya putuskan untuk bertawasul di bangunan yang kedua. Suasana di bangunan yang kedua hampir mirip dengan suasana kamr 308 di Hotel Inna Samudera Beach. Seluruh tembok di dalam bangunan dicat warna hijau dan terdapat dua buah makam yang ditutupi kelambu hijau dengan banyak sesajen dan dupa yang mengeluarkan wangi yang menurut saya agak menyeramkan. Di pojok sebelah kanan terdapat cermin dan tiga buah kursi dan di hiasi oleh 2 buah lukisan besar Nyi Roro Kidul.

Selesai bertawasul saya dan Ivan kembali ke warung yang berada di sisi pantai untuk makan sambil menunggu malam. Setelah memesan makanan kami duduk sambil menunggu makanan datang, suasana di warung sudah lebih ramai dari sebelumnya. Terlihat sekelompok orang di meja yang berlawanan dengan kami sedang membahas benda pusaka dan juga ilmu-ilmu kanuragan,

Batu Kursi berada di atas tebing yang menjorok ke laut

“Saya punya golok yang jangankan di tebaskan ke pohon, tergores saja maka pohon itu bisa mati apalagi manusia” kata seorang pria berambut gondrong dan berpakaian hitam-hitam, kelihatannya cukup menyeramkan.

Disambut oleh decak kekaguman teman-temannya, laki-laki itu kembali bercerita yang entah apa karena kami memutuskan untuk tidak terlalu mempedulikannya. Setelah makanan datang kamipun fokus untuk mengisi perut daripada mendengarkan bualan lelaki itu, sudah bukan hal yang aneh jika di tempat-tempat seperti ini ada saja pembual seperti dia.

Selesai makan, kamipun minta segelas teh hangat untuk menemani kami menikmati sebtang rokok sambil menikmati semburat warna matahari yang akan tenggelam.
“Berdua saja pak?” tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara dari arah belakang.

Kamipun membalikkan badan ke arah suara tersebut dan ternyata laki-laki yang sebelumnya terlihat sedang bercerita tentang goloknya itu sudah berada di belakang kami.

“Oh..iya Kang” jawab saya sambil tersenyum.

“Ada maksud apa ke sini? Ingin bertemu Ibu Ratu” laki-laki itu kembali bertanya.

“Jalan-jalan saja Kang” jawab saya pendek, malas meladeninya lebih jauh.

“Oh..jalan-jalan, kalau bapak mau, saya bisa mempertemukan bapak dengan Ibu Ratu” kata laki-laki itu lagi.

Saya yang sebelumnya malas meladeninya menjadi penasaran dengan omongannya, penasaran ingin membuktikan.

“Begitu Kang? Boleh lah kami dibantu” jawab saya.

Ivan yang mendengar ucapan saya terlihat tidak senang, sambil berbisik dia berkata,

“Apa-apaan sih A? Orang seperti itu mah belum tentu berniat baik”

Saya hanya tersenyum sambil memberi kode supaya Ivan diam saja,

“Jadi gimana Kang? Kapan saya dipertemukan dengan Ibu Ratu” tanya saya mengejar laki-laki gondrong itu.

“Nanti habis magrib, kita bertawasul di batu kursi. Jangan lupa membawa dupa” kata laki-laki gondrong itu.

“Baiklah, sekarang saya mau ambil pakaian dulu di motor, nanti kita ketemu di sini abis maghrib” kata saya.

Sesuai perjanjian sebelumnya kami bertemu dengan laki-laki gondrong itu setelah maghrib,
“Sudah siap?” laki-laki gondrong bertanya dengan jumawa begitu kami sampai di warung.

Saya tidak menjawab hanya tersenyum saja sambil menganggukan kepala, sementara Ivan hanya diam.

“Ayo kita ke batu kursi supaya cepat bertemu” kata laki-laki gondrong itu lagi.

Saya dan Ivan mengikuti laki-laki itu menaiki jalan bertangga yang ada di samping warung menuju ke batu kursi. Hari mulai gelap bahkan sudah gelap sehingga kami harus berhati-hati menaiki anak tangga takut terpeleset. Batu Kursi ini terletak di di atas tebing curam yang langsung berbatasan dengan laut berkarang dengan ombak yang cukup ganas. Sesampainya di Batu Kursi, laki-laki gondrong itu duduk bersila di samping sebelah kiri diikuti saya dan Ivan berjejer ke kanan menghadap laut lepas. Kondisi saat itu sangat gelap hanya terdengar suara deburan ombak di bawah sana yang menyiutkan nyali saya, terbayang jika sampai terjatuh maka dapat dipastikan akan hancur terhempas di atas karang-karang tajam.

Suasana yang sangat gelap membuat saya dan Ivan berhati-hati, tak lama terlihat nyala korek api gas milik laki-laki gondrong itu menyala dan membakar dupa yang sudah kami kami sediakan. Setelah dupa terbakar, laki-laki gondrong itu terdengar merapal mantra dalam bahasa sunda,

“.…………….jelema ieu sing nurut ka kaula” itu adalah kalimat terakhir yang saya dengar dan fahami sampai tiba-tiba laki-laki gondrong berteriak meraung-raung minta ampun.

Saya yang sedang memejamkan mata kaget bukan kepalang termasuk Ivan juga pasti kaget, saya langsung membuka mata dan Ivan menyalakan korek api gas untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam temaram cahaya korek api gas terlihat, laki-laki gondrong itu sedang meringis karena tangan kanannya terjulur ke depan seperti di pelintir,

“Ampun..ampun…tolong lepaskan tangan saya, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi” kata laki-laki gondrong itu dalam bahasa sunda, memelas seperti menahan sakit yang teramat sangat.

Saya dan Ivan saling pandang, tidak mengerti apa yang terjadi tehadap laki-laki gondrong itu. Saat itu sangat panik, bukan apa-apa jika lai-laki gondrong itu sampai tertarik ke depan maka niscaya akan jatuh ke tebing curam. Kurang lebih 5 menit laki-laki gondrong itu berteriak-teriak mohon ampun dengan tangan yang seperti dipelintir (entah siapa yang memelintir tangannya), keringat dingin mulai terlihat di dahinya, saya dan Ivan bergantian menyalakan korek api gas untuk menerangi.

“Hatur nuhun..hatur nuhun..saya berjanji tidak akan mengulangi lagi” akhirnya tangan laki-laki gondrong itu terkulai lemas.

“Ada apa Kang?” tanya saya setelah laki-laki gondrong itu terlihat tenang.

“Tidak apa-apa, lebih baik bapak berdua turun saja ke warung. Saya akan berdo’a dulu disini” ujar laki-laki gondrong itu dengan suara pelan seperti ketakutan.

“Tidak apa-apa kami tinggal?” tanya saya menyakinkan.

“Sudah tinggalkan saja saya sekarang” laki-laki gondrong itu sambil menundukkan kepala keuekeuh meminta saya dan Ivan meninggalkannya.

Akhirnya saya mencolek Ivan memberi kode untuk segera meninggalkan tempat itu dan berjalan beriringan kembali ke warung. Sambil berjalan menuruni tangga, Ivan berkata pelan,

“Tuh kan A, sudah saya peringatkan pasti orang ini berniat jahat”

“Tahu jahat dari mana?” sambil tersenyum kecil saya bertanya ke Ivan.

“Aa dengerkan mantra terakhir dia?” Ivan mengejar ucapan saya, sepertinya kesal karena ucapannya tidak saya indahkan.

“Mantra yang mana?” saya pura-pura tidak tahu maksud Ivan.

“Itu yang…jelema ieu sing nurut ka kaula” Ivan menegaskan.

“Itu tandanya dia mau menghinotis kita supaya menurut semua omongan dia. Untung saja karuhun menyelamatkan kita” sambung Ivan semakin berapi-api.

Karena kami sudah sampai di warung, saya tidak segera menjawabnya hanya memberinya kode untuk duduk di kursi yang agak jauh dari kerumunan orang.

“Aa tahu semua yang Ivan omongkan itu benar, hanya saja kita tidak boleh berprasangka dulu sebelum benar-benar terjadi” kata saya kepada Ivan setelah duduk.

“Ya..tapi waspada mah kudu atuh A. Penampilan jambrong begitu mana bisa berkomunikasi dengan Ibu Ratu” kata Ivan sepertinya masih kesal.

“Memang apa yang kamu lihat dan rasakan di atas?” tanya saya mengetes Ivan.

“Waktu orang itu selesai baca mantra, dalam bayangan saya tangannya mau menepuk punggung Aa tapi tiba-tiba muncul bayangan laki-laki tua menyambar tangan dan memelintirnya” jelas Ivan.

“Hmm…bagus” saya senang Ivan bisa merasakan persis sama dengan apa yang saya rasakan.

Saat sedang asyik diskusi dengan Ivan, di sudut pandang saya terlihat laki-laki gondrong itu memasuki warung dengan wajah kuyu dan memelas dan langsung duduk di kursi yang agak jauh dari kami berdua. Tidak ada lagi wajah jumawa seperti yang terlihat saat pertama laki-laki gondrong itu mendatangi kami.

Apa yang kami alami adalah sebuah kebesaran Tuhan, seperti halnya pengalaman spiritual lainnya, sulit untuk diterima logika tetapi nyata buat yang mengalaminya!!!