Dikutip dari detik.com (November 24, 2019), Setara Institute menyebut Jawa Barat atau Tatar Sunda sebagai daerah dengan tingkat intoleransi tertinggi di Indonesia. Intoleransi itu, menurut Setara Institute, terutama dalam hal pelanggaran kebebasan beragama. Hal ini sangat bertolak belakang dengan karakter masyarakat urang Sunda yang lemah lembut dan sopan santun, someah hade kasemah.

Illustrasi sumber kerisku.id

Tetapi sebenarnya jika kita tarik jauh ke belakang, ke masa beberapa ratus tahun yang lalu di masa kejayaan Kerajaan Pajajaran, jejak intoleransi itu sebenarnya sudah tergembarkan. Tentu ini tidak menunjukkan bahwa secara umum karakter urang Sunda, hanya mungkin yang kita bisa tarik benang merahnya adalah urang Sunda jika sudah menyangkut kepercayaan/agama mereka akan mengabdikan dirinya secara total.

Jejak intoleransi itu bisa kita telusuri dari kisah kehidupan Prabu Siliwangi (seorang raja yang beragama Hindu) yang mempersunting Nyi Subang Larang (yang beragama Islam) yang merupakan putri Kiai Tapa, seorang Syah Bandar di Karawang. Lalu dari pernikahan tersebut lahirlah 3 orang anak yang bernama Pangeran Walangsungsang, Nyi Lara Santang dan Rakean Santang. Kepada putra-putrinya yang lahir dari Nyi Subang Larang, Prabu Siliwangi memberikan kebebasan untuk menganut agama Islam. Bahkan ketiga putra-putrinya tersebut dibesarkan dalam tradisi Islam yang kuat oleh Nyi Subang Larang.

Secara politik, Prabu Siliwangi menikahi putri seorang Syah Bandar adalah sebuah langkah strategis untuk memperlancar distribusi penjualan hasil bumi dari Kerajaan Pajajaran ke luar daerah melalui pelabuhan Karawang. Hanya saja satu hal yang tidak disadari oleh Prabu Siliwangi adalah militansi dari anak-anaknya terhadap agama yang mereka anut pada akhirnya akan membawa kehancuran kepada Kerajaan Pajajaran.

Karena di lingkungan keraton sangat kuat pengaruh agama Hindu, maka Nyi Subang Larang memerintahkan ketiga putra-putrinya ke Syekh Datuk Kahfi di Cirebon untuk berguru agama Islam secara lebih mendalam. Atas petunjuk Syekh Datuk Kahfi lah maka ketiga putra-putri Prabu Siliwangi dari istri Nyi Subang Larang berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Sekembalinya dari ibadah haji, Pangeran Walangsungsang mendirikan babakan atau wilayah pemukiman baru di daerah Pakungwati Cirebon dan diangkat menjadi seorang Kuwu (oleh karena sebagian orang menyebut Raden Walangsungsang dengan sebutan Kuwu Sangkan). Sedangkan adiknya, Nyi Larang Santang sekembalinya dari tanah suci kemudian dipersunting oleh Syarif Abdullah dari Mesir, dari perkawinan ini lahirlah Syarif Hidayatullah yang kelak dikenal dengan nama Sunan Gunung Djati. Lalu adik paling kecilnya yaitu Rakean Santang lebih suka mengembara dalam menyebarkan agama Islam.

Keberhasilan Pangeran Walangsungsang membangun babakan baru di Pakungwati Cirebon, telah sampai ke telinga Prabu Siliwangi dan hal ini jelas membawa kebanggaan tersendiri bagi Raja Pajajaran yang berjiwa besar ini. Prabu Siliwangi menganugerahkan gelar Sri Mangana kepada Pangeran Wlangsungsang. Tetapi kebesaran jiwa dari Prabu Siliwangi ini dikhianati oleh putranya sendiri, secara diam-diam Pangeran Walangsungsang menyusun kekuatan balatentara dan bekerjasama dengan Kesultanan Demak. Setelah dirasa mempunyai kekuatan yang cukup dan didukung oleh Kesultanan Demak, Pangeran Walangsungsang mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Cirebon dan menolak untuk melaksanakan seluruh kewajiban administratif sebagai wilayah bawahan Kerajaan Pajajaran. Hal ini tentu mengejutkan bagi Prabu Siliwangi, bagaimana bisa anak yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang melakukan pembangkangan kepadanya. Namun lagi-lagi Prabu Siliwangi menunjukkan kebesaran hatinya dengan membiarkan Kesultanan Cirebon hidup berdaulat, padahal semestinya menurut aturan kerajaan saat itu, jika ada satu wilayah yang berada di bawah kekuasaanya melakukan pembangkangan maka akan dilakukan serangan militer untuk menyelesaikannya.

Sedangkan Kian Santang yang saat itu sedang berkelana menyebarkan agama Islam mendengar tentang berdirinya Kesultanan Cirebon yang dididirikan oleh kakak sulungnya Pangeran Walangsungsang. Dia merasa senang karena ayahandanya yaitu Prabu Siliwangi sepertinya merestui berdirinya Kesultanan Cirebon. Tetapi lagi-lagi kebesaran jiwa Prabu Siliwangi disalahartikan oleh putra-putranya, Kian Santang merasa bahwa setelah keberhasilan kakaknya mendirikan Kesultanan Cirebon, maka dirinya wajib melakukan hal yang lebih besar lagi yaitu meng-Islamkan seluruh wilayah Kerajaan Pajajaran dan itu bisa di mulai dengan meng-Islamkan ayahandanya yaitu Prabu Siliwangi.

Maka bergegaslah Kian Santang menuju ke Dayeuh Pakuan tempat tinggalnya Prabu Siliwangi dan menyampaikan tujuannya untuk mengajaknya masuk agama Islam. Ajakan ini ditanggapi dengan bijaksana oleh Prabu Siliwangi,

“Anaking, aku memberi kebebasan kepada siapapun untuk memeluk agama yang diyakininya termasuk kepada ibumu, dirimu dan kakak-kakakmu. Yang aku cemaskan hanyalah sifat keserakahan manusia, setelah memilih yang satu lalu memilih yang baru dan begitu seterusnya. Sementara aku adalah seorang Raja yang menempatkan keyakinan sebagai sebuah kehormatan, tidak mudah bagiku untuk membola-balikkannya.”

Namun Kian Santang tetap berkeras bahkan semakin lama ajakan itu berubah menjadi sebuah ancaman dan paksaan. Prabu Siliwangi adalah seorang raja yang bijaksana dan mempunyai ilmu kebatinan yang sangat tinggi, sehingga dia bisa merasakan bahwa Kian  Santang sudah tidak bisa lagi diajak berbicara baik-baik. Prabu Siliwangi akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Kian Santang, pesisir kidul Garut. Namun Kian Santang seperti sudah gelap mata, dengan menggunakan ilmu yang sama, dikejarnya Prabu Siliwangi lalu diserang secara membabibuta. Setelah pertempuran yang panjang Prabu Siliwangi mencoba untuk tidak melukai putranya sendiri, Kian Santang, hingga akhirnya Prabu Siliwangi menghentikan pertempuran dan mengambil sepotong kayu kaboa (sebuah pohon yang hanya hidup di pesisir Sancang), lalu berkata,

“Anaking, peganglah ujung pohon kaboa ini dan aku akan memegang ujung yang satunya”

Inilah adalah simbol dari tidak mungkin kedua ujung kayu itu bisa bertemu yang berarti bahwa tidak mungkin bagi Prabu Siliwangi untuk mengikuti ajakan Kian Santang. Ada beberapa versi cerita setelah kejadian tersebut, ada yang menyebutkan Prabu Siliwangi berubah menjadi harimau putih dan ada juga versi yang menyebutkan Prabu Siliwangi pada akhirnya ngahiang