CINTA SEGITIGA DI PONDOK KESULTANAN PAJANG



Ratu Harisbaya makin bimbang dan akhirnya naluri kewanitaannya mengalahkan segalanya,

“Tunggu, jangan pergi dulu Kakang Patih” lirih Ratu Harisbaya

Patih Batara Sang Hyang Hawu tersenyum penuh kemenangan, rencananya untuk membalaskan dendam Kerajaan Pajajaran kepada Kesultanan Cirebon mulai menampakkan jalan terang.

“Baik Gusti Ratu, kaula menunggu titahmu” kata Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Aku tahu, ini akan sangat membahayakan bagi hubungan Kesultanan Cirebon dengan Kerajaan Sumedang Larang lirih Ratu Hisbaya,
“Tapi aku juga tidak bisa membohongihati kecilku bahwa aku masih mengharapkan Geusan Ulun” sambungnya sambil menutup muka dengan kedua tangannya, sepertinya berat sekali masalah yang harus dihadapinya.

Patih Batara Sang Hyang Hawu tersenyum, sambil memperbaiki posisi duduk silanya dia berkata,

“Gusti Ratu, hari menjelang pagi, cepat kau putuskan sekarang” desak Patih Sang Hyang Hawu.

“Aku bersedia menemui Geusan Ulun, tapi tidak sekarang karena akan menimbulkan kegaduhan jika pergi sekarang. Besok malam temui aku di taman belakang kaputren ini” ujar Ratu Harisbaya.

“Baiklah Gusti Ratu, aku berpamitan sekarang tapi jangan lupa akan janjimu…kalau tidak maka akan terjadi huru hara di keraton ini” tegas Patih Batara Sang Hyang Hawu setengah mengancam.

“Pergilah, aku tidak mungkin mengingkari janjiku” lirih Ratu Harisbaya.

Setelah menghaturkan hormat kepada Ratu Harisbaya, Patih Batara Sang Hyang Hawu segera berkelebat melompati pagar keputren meninggalkan Ratu Harisbaya yang masih emok andeprok dengan air mata yang mulai bercucuran. Dia tidak menyangka bahwa pernikahannya dengan Sultan Panembahan Ratu akan mebawanya kepada situasi yang rumit seperti ini.

Beberapa saat kemudian, Ratu Harisbaya mengusap kedua matanya yag sembab sambil bediri dan berjalan menuju ke kamar tidurnya. Setelah mengunci pintu dan memeriksa semua jendela, khawatir akan ada yang menerobos masuk lagi seperti Patih Batara Sang Hyang Hawu, Ratu Harisbaya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dipejamkan matanya sambil pikirannya menerawang ke masa sekitar 5 tahun yang lalu saat dirinya masih nyantri di Kesultanan Pajang bersama Sultan Panembahan Ratu (yang saat itu belum menjadi Sultan dan bernama Zainul Arif) dengan Geusan Ulun. Kedua bangsawan dari tanah sunda ini memang sudah mencuri perhatian seluruh santriwati di pondok, selain sama-sama tampan, keduanya juga sangat pintar dalam ilmu keagamaan.

Sebagai santriwati paling cantik di pondok, Harisbaya seringkali dijodoh-jodohkan dengan kedua bangsawan Sunda itu oleh teman-teman maupun guru-gurunya di pondok. Namun hati Harisbaya telah memilih dan pilihannya jatuh kepada Geusan Ulun, pemuda bangsawan calon raja Sumedang Larang itu telah mencuri hatinya dan menghiasi mimpi-mimpi tidurnya. Tapi Harisbaya mencoba untuk menutupi rasa sukanya kepada Geusan Ulun, selain secara norma dan adat pesantren tidak baik rasanya jika perempuan yang mengungkapkan perasaan telebih dahulu, juga karena Harisbaya merasa tidak enak kepada Sultan Panembahan Ratu. Beberapa kali Zainul Arif mengirim pesan, melalui emban yang bertugas mengurus pondokan putri, memintanya untuk bertemu di luar pondok. Berkali-kali juga Harisbaya sudah menyampaikan penolakannya, namun sepertinya Zainul Arif tidak mau menyerah.

Sementara itu, Geusan Ulun pun rupanya mempunyai perasaan yang sama kepada Harisbaya, santriwati jelita dan pintar keturunan bangsawan Mataram. Namun Geusan Ulun mencoba untuk mengubur perasaannya karena dia mengetahui bahwa Zainul Arif dari Kesultanan Cirebon yang masih kerabatnya, juga menyukai Harisbaya. Beberapa kali setelah mereka belajar mengaji, Zainul Arif “curhat” mengenai rasa cintanya pada Harisbaya, hal ini membuat Geusan Ulun menjadi serba salah.
Tapi seperti kata pepatah modern “love will find away”, hal yang sama terjadi juga pada kisah cinta Geusan Ulun dengan Harisbaya. Selepas pengajian malam di Masjid Agung Keraton, para santri dan santriwati segera menuju kepondokan masing-masing namun malam itu Geusan Ulun memutuskan untuk beriti’kaf di masjid, malam itu Geusan Ulun ingin melupakan resah hatinya dengan mengaji sepanjang malam. Setelah mohon izin kepada kiai dan penjaga masjid, Geusan Ulun segera melanjutkan mengaji di dalam masjid. Baru saja beberapa lama Geusan Ulun mengaji terdengar sayup-sayup ada suara orang sedang berbincang di luar masjid, semakin lama suara itu semakin mendekat dan terdengar lebih jelas…deeeg jantung Geusan Ulun seolah mau copot, dia sangat mengenal suara itu.

“Harisbaya…ada apa malam-malam dia ke masjid? Apakah dia juga mau mengaji?” batin Geusan Ulun.

“Emban…kau saja yang masuk ke masjid, aku tunggu di luar” kata suara yang Geusan Ulun kenali sebagai suara Harisbaya.

“Hamba tidak berani Raden Ayu, di dalam sangat gelap, lebih baik kita masuk bersama-sama saja” balas suara yang sepertinya suara emban.

Geusan Ulun yang berada di dalam masjid menahan nafasnya, kegembiraan juga gugup bercampur aduk, rasanya tidak percaya bahwa malam itu dirinya bisa bertemu dengan Harisbaya, Ditutupnya kitab suci, dicium dan ditempelkanny ke atas kening sebelum meletakkannya di lantai, pelan-pelan Geusan Ulun berdiri dan berjalan ke pintu masjid, suasana masjid yang temaram membuat sosok Geusan Ulun sulit terlihat dari luar. Sekilas Geusan Ulun dapat melihat bahwa di sisi masjid yang dikhsususkan untuk perempuan, ada dua sosok yang sedang mengendap-ngendap seolah-olah sedang mencari sesuatu.


“Ehm..ehm…ehm…” Geusan Ulun beberapa kali mendehem supaya kedua sosok itu tidak kaget ketakutan. Lalu berkata,
“Siapa disana? Manusia kah atau demit?” tanya Geusan Ulun sambil menahan senyum karena sudah tahu bahwa sosok itu adalah Harisbaya dan emban pengurus pondokan putri.

“Kami manusia, siapakah di sana kisanak?” jawab suara emban bergetar seperti ketakutan.
“Kalau manusia jangan takut, aku Geusan Ulun” kata Geusan Ulun.

“Oalah..syukurlah Raden, aku emban dengan Raden Ayu Harisbaya” kata emban lagi.
“Sudikah Raden membantu kami?” suara emban lagi.

“Membantu apa? Sampaikan saja, kalau aku mampu pasti aku lakukan” kata Geusan Ulun sambil tetap berdiri di balik pintu masjid. Geusan Ulun tidak berani keluar masjid dan menemui mereka karena walau bagaimanapun saat itu sudah hampir tengah malam, khawatir akan menjadi fitnah.

“Selendangku ketinggalan di dalam masjid. Sudikah Raden mengambilnya untukku?” terdengar suara yang sangat merdu, suara yang selalu mengisi hari dan mimpi Geusan Ulun.

“Ba..baiklah, tapi dimana kau meninggalkannya?” Geusan Ulun menjawab dengan gugup.

“Tolong kau cari di tempat mengaji santri putri, tadi aku duduk di dekat rak kitab” terdengar suara Harisbaya seperti alunan musik di telinga Geusan Ulun.

“Baiklah, tunggu sesaat” kata Geusan Ulun.

Geusan ulun bergegas megambil lampu cempor yang menempel di dekat paimbaran, tempat imam memimpin sholat, lalu dibawanya cempor itu berjalan ke arah mesjid bagian belakang, tempat para santri putri mengaji. Dicarinya selendang seperti yang diceritakan Harisbaya tapi tak ditemukannya selendang itu. Geusan Ulun berulang mencari di sekitar ruangan masjid tapi tetap tidak di temukannya.

“Bagaimana Raden, sudah kau temukan?” terdengar suara Harisbaya seolah tidak sabar.

“Belum Raden Ayu, aku sudah di tempat santri putri mengaji tapi tidak ketemu, bahkan aku sudah mencari ke seluruh ruangan masjid tapi tetap tidak ketemu” jawab Geusan Ulun dengan nada menyesal.

“Bagaimana ini emban, ibundaku pasti marah kalau sampai selendang itu hilang” terdengar suara Harisbaya seperti mau menangis.

“Sebentar Raden Ayu, apakah selendangmu itu berwarna hijau” terdengar suara Geusan Ulun bertanya.

“Betul Raden, apakah kau menemukannya?” Harisbaya nyaris berteriak saking senangnya.

“Ya aku menemukannya. Sebentar aku keluar membawa selendangmu” kata Geusan Ulun.

Ternyata setelah Geusan Ulun berulangkali mencari, akhirnya selendang itu ditemukan terlipat rapi di dekat paimbaran, sepertinya selendang itu sudah ada yang meemukan sebelumnya dan sengaja disimpan di dekat paimbaran supaya kalau ada yang mencari bisa segera ditemukan. Dipeluk dan diciumnya selendang hijau na wangi itu oleh Geusan Ulun, Rasa kasih dan cintanya kepada Harisbaya seolah ditumpahkan ke selendang hijau milik Harisbaya.

“Cepat Raden, hari semakin malam, tidak baik kami berlama-lama di luar pondok” terdengar suara emban mengejutkan Geusan Ulun.

“Iya aku segera keluar” tergagap Geusan Ulun, hatinya menjadi malu setengah mati membayangkan bagaimana jika emban atau Harisabaya melihatnya sedang memeluk dan menciumi selendang itu.

Dengan hati yang ratug tutunggulan, Geusan Ulun segera keluar dari masjid sambil membawa selendang Harisabaya. Dilihatnya Harisbaya dan emban sedang menunggunya seolah tidak sabar, bahkan emban terlihat celingak celinguk mengawasi sekitar khawatir ada yang melihat mereka berdua sedang berada di luar pondokan putri malam-malam.

“Ini selendangmu Raden Ayu” lirih suara Geusan Ulun menyodorkan slendang hijau itu sambil menundukkan kepalanya, tidak kuasa menatap kecantikan Harisbaya.

Harisbaya menyambut uluran selendang dari Geusan Ulun juga dengan menunduk, walaubagaimanapun bagi seorang gadis remaja seperti dirinya, Geusan Ulun adalah dambaan. Geusan Ulun bertubuh tegap dan berkulit bersih dengan paras yang sangat tampan jauh mengalahkan ketampanan paras Zainul Arif. Karena keduanya menunduk dan juga sedikit gugup sehingga saat Geusan Ulun menyerahkan selendang, tangan Harisbaya secara tidak sengaja malah memegang jari-jari Geusan Ulun dan secara reflek, Geusan Ulun segera menggenggam tangan Harisbaya. Beberapa saat tangan mereka saling menggenggam walaupun tidak bersentuhan langsung karena terhalang oleh selendang, namun rasa hangat itu seolah menjalar ke seluruh tubuh kedua sejoli tersebut dan membuat tubuh keduanya seolah tergetar.

“Raden Ayu..cepat, kita haru kembali ke pondokan” suara emban mengagetkan Geusan Ulun dan Harisbaya, tangan merekapun segera terlepas.

“I..iya emban” kata Harisabaya gugup sambil segera membalikkan badannya dan bergegas berjalan ke arah pondokan putri diikuti oleh emban meninggalkan Geusan Ulun yang masih terpana oleh kejadian itu. Seolah mimpi yang menjadi kenyataan bagi Geusan Ulun.

Sepanjang jalan menuju pondokan putri, Harisbaya sesekali mengulum senyum bahagia membayangkan peristiwa yang baru saja terjadi tapi tiba-tiba dia berbalik,

“Emban, aku lupa mengucapkan terima kasih kepada Geusan Ulun” kata Harisbaya seolah sangat menyesal.

“Raden Ayu terlalu bahagia sehingga sehingga lupa akan semuanya. Bahkan lupa kepada emban..hihihi..” jawab emban sambil menggoda Harisbaya yang wajahnya langsung bersemu merah.

“Sudahlah Raden Ayu, besok emban akan sampaikan ucapan terima kasih Raden Ayu kepada Raden Geusan Ulun” sambung emban sambil tersenyum.

“Tapi rasanya lebih baik jika aku menyampaikannya langsung kepada Geusan Ulun” gumam Harisbaya.

Sejak saat itu Harisbaya dan Geusan Ulun secara diam-diam sering bertemu dan dengan bantuan emban yang setia, pertemuan mereka selalu berjalan dengan aman dan tidak banyak yang mengetahuinya. Sayangnya jalinan kasih mereka harus terputus ketika Geusan Ulun diminta pulang oleh ayahnya (Pangeran Santri) untuk kembali ke Sumedang Larang. Bertahun lamanya Harisbaya menahan rindu kepada Geusan Ulun namun sayang sang pujaan hati tidak pernah kembali, hingga akhirnya dengan berat hati, Harisbaya harus menerima pinangan dari Zainul Arif yang sudah diangkat menjadi Sultan Cirebon dengan gelar Sultan Panembahan Ratu.

Baca juga : PERLAWANAN TERAKHIR KSATRIA PAJAJARAN #1https://www.bedapandang.com/2019/11/perlawanan-terakhir-ksatria-pajajaran-5.html