PENGKHIANATAN CINTA RATU HARISBAYA

“Maafkan putri, kau akan kujadikan alat untuk membalaskan dendam seluruh rakyat Pajajaran” lirih sang patih sambil mendekati tempat tidur sang putri.

Setelah berada di samping tempat tidur, Patih Batara Sang Hyang Hawu lalu memejamkan matanya sambil merapal mantera, sementara Putri tergolek pulas tidak berdaya dengan baju yang berantakkan memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya yang umyang dan membusung membuat siapapun laki-lakinya pasti akan tergoda. Selesai merapal mantera, Patih Batara Sang Hyang Hawu meniup muka sang Putri sebanyak tiga kali dan ajaib seketika mata sang Putri membuka seperti orang yang baru bangun tidur, begitu matanya menangkap sesosok laki-laki tinggi besar berada di samping tempat tidurnya, sang Putri kaget bukan kepalang. Matanya melotot dan mulutnya terbuka lebar tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, bahkan dia tidak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya.

“Celaka, siapa orang ini? Tentu dia bermaksud jahat berada di kamarku dan kemana para pengawal?” batin sang Putri ketakutan.

Illustrasi source hystoryana.blogspot.com

Melihat sang Putri yang ketakutan, Patih Batara Sang Hyang Hawu tersenyum sinis dan mengangkat sepuluh jari tangannya di atas kepala sebagi tanda penghormatan.

“Kanjeng Gusti Ratu Harisbaya, ku harap kau jangan takut akan kehadiran diriku, aku tidak bermaksud jahat kepadamu…he..he..” ujar Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil terkekeh.

Sang Putri ternyata adalah Ratu Harisbaya istri kedua dari Sultan Panembahan yang merupakan persembahan dari Kesultanan Pajang kepada Kesultanan Cirebon.

Ratu Harisbaya menatap nanar kepada Patih Batara Sang Hyang Hawu, ketakutan dan kemarahan tergambarkan di kedua bola matanya, tapi dia tidak bisa melampiaskannya karena jangankan untuk bergerak, berbicara saja sulit.

“Aku mewakili junjunganku Gusti Prabu Geusan Ulun untuk menyampaikan pesan kepadamu Gusti Ratu Harisbaya” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu

Ratu Harisbaya terkejut setengah mati, matanya terbelalak mendengar nama Prabu Geusan Ulun mengutus orang ini untuk menyampaikan pesan kepadannya, ada sesuatu yang hangat jauh di dasar hatinya. Perlahan rasa ketakutan dan kemarahannya sirna berganti dengan rasa penasaran, rasa seperti anak remaja yang sedang dilanda asmara.

Patih Batara Sang Hyang Hawu dapat merasakan bahwa Ratu Harisbaya sudah tidak lagi marah bahkan dari sorot matanya dia yakin bahwa Ratu Harisbaya sudah berada dalam pengaruhnya.

“Aku akan melepaskan ajian lampah-lumpuh ku, tapi ku harap Kanjeng Gusti Ratu Harisbaya tidak berteriak ataupun membuat kegaduhan karena akan membahayakan nyawa kita berdua” kata Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil menatap mata Ratu Harisbaya.

Ratu Harisbaya mengedipkan kedua matanya sebagai tanda persetujuan atas permintaan Patih Batara Sang Hyang Hawu. Kemudian Patih Batara Sang Hyang Hawu memejamkan matanya sambil merapal mantera dan tangannya membuat gerakan seperti mendorong ke arah Ratu Harisbaya, Selarik angin dingin dirasakan melanda tubuh Ratu Harisbaya dan perlahan-lahan tubuhnya terasa hangat dan mulai bisa di gerakkan.

“Sekarang Kanjeng Gusti Ratu lebih baik berganti pakaian yang lebih pantas, aku akan menunggumu di ruangan depan” kata Patih Batara Sang Hyang Hawu lalu berbalik menuju pintu keluar kamar.
Sang Ratu Harisbaya seolah baru tersadar bahwa baju bagian atasnya terbuka lebar memperlihatkan kedua buah dadanya yang membusung ranum dan juga kain bawahnya tertarik ke atas memperlihatkan kaki dan pahanya yang berkulit koneng umyang menggoda. Jika saja Patih Batara Sang Hyang Hawu bukanlah ksatria yang menjunjung tinggi kehormatan niscaya Ratu Harisbaya tidak akan selamat. Setelah Patih Batara Sang Hyang Hawu keluar dari kamar, bergegas Ratu Harisbaya berganti pakaian dengan yang lebih tertutup karena walau bagaimanapun dia berhadapan dengan seorang pria asing.

Sementara Patih Batara Sang Hyang Hawu duduk bersila di ruangan depan kaputren menunggu kedatangan Ratu Harisbaya yang sedang berganti pakaian. Tak berapa lama pintu kamar terbuka dan Ratu Harisbaya keluar berjalan ke arah Patih Batara Sang Hyang Hawu lalu duduk berlutut di hadapannya. Patih Batara Sang Hyang Hawu mulutnya melongo dan matanya terbelalak melihat aura kecantikan yang memancar dari Ratu Harisbaya.

“Ladalah..cantik luar biasa bagai bidadari, pantas saja…..” batin Patih Batara Sang Hyang Hawu lalu segera menundukkan matanya, tidak berani dia berlaku kurang ajar.

“Siapa nama andika kisanak dan ada keperluan apa sampai malam-malam menerobos kamarku? Itu adalah tindakan yang sangat berbahaya kalau sampai ketahuan oleh penjaga keraton” kata Ratu Harisbaya lembut namun terdengar berwibawa.

Sebelum menjawab, Patih Batara Sang Hyang Hawu mengangkat sepuluh jari tangannya di atas kepala lalu berkata,

“Kaula adalah Batara Sang Hyang Hawu, patih dari Prabu Geusan Ulun dari Kerajaan Sumedang Larang. Adapun maksud kedatangan kaula adalah untuk menyampaikan pesan dari Gusti Prabu kepada Gusti Ratu Harisbaya” jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil tetap menunduk.

Ah..Geusan Ulun, muka Ratu Harisbaya memerah lalu berkata,

“Pesan apa yang hendak disampaikan? Sekarang aku adalah istri dari Sultan Panembahan, tak elok rupanya jika berbalas pesan” ujar Ratu Harisbaya lirih walaupun dalam hatinya berkata lain.

“Gusti Ratu Harisbaya, memanglah tak elok jika di dengar orang tapi apakah juga elok jika seorang sahabat bahkan saudara merebut kekasih saudaranya sendiri?” Patih Batara Sang Hyang Hawu mulai mempengaruhi hati Ratu Harisbaya.

“Apa maksudmu wahai Kakang Patih? Kakanda Sultan Panembahan tidak merebut aku tapi ini semua kesalahan dari Kakanda Prabu Geusan Ulun yang meninggalkan aku tanpa kabar berita” jawab ratu Harisbaya dengan mata yang mulai memerah dan air mata mulai menggenang.

“Gusti Ratu, oleh karena itu junjungan kaula Gusti Prabu Geusan Ulun menyampaikan pesan ingin bertemu dengan dirimu untuk menyampaikan permintaan maafnya” ujar Patih Geusan Ulun was-was sang Ratu akan menolak permintaannya.

“Tidak mungkin, aku tidak mungkin bisa menemuinya” Ratu Harisbaya tersedu.

“Kenapa tidak mungkin Gusti Ratu? Saat ini Prabu Geusan Ulun sedang menunggumu di pendopo tamu negara” kata Patih Batara Sang Hyang Hawu sedikit memaksa, dia khawatir rencananya akan gagal berantakan.

“Geusan Ulun ada di pendopo tamu negara? Kenapa Kakanda Sultan tidak memberitahuku, apakah dia tidak mempercayai kesetiaanku” batin Ratu Harisbaya berkecamuk antara marah kecewa pada Sultan Panembahan yang tidak memberitahukan kedatangan Prabu Geusan Ulun kepadanya.

“Bagimana caranya aku bertemu Geusan Ulun, penjagaan di sini sangat ketat dan juga tidak pantas rasanya seorang istri menemui laki-laki lain” Ratu Harisbaya masih mencoba menolak permintaan Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Gusti Ratu jangan khawatir, kaula yang akan mengatur semuanya. Gusti Prabu Geusan Ulun sudah mengabil resiko besar untuk menemui Gusti Ratu, jadi kaula sangat berharap Gusti Ratu bersedia menemumuinya” Patih Batara Sang Hyang Hawu mencoba menekan Ratu Harisbaya untuk menemui Prabu Geusan Ulun.

Ratu Harisbaya semakin bimbang, terjadi perang batin yang luar biasa, sebagai seorang istri dan ratu sebuah kesultanan tentu hal ini sangat memalukan dan akan menjadi aib besar jika sampai diketahui tapi juga tidak dapat dipungkiri rasa rindu pada Prabu Geusan Ulun, cinta pertamanya, begitu menggelora.

Patih Batara Sang Hyang Hawu menyadari bahwa Rat Harisbaya sedang bimbang, maka dia mencoba meyakinkan lagi dan berkata,

“Gusti Ratu, ingatkah dulu saat Gusti Ratu dan Gusti Prabu Geusan Ulun menjalin kasih di pesantren Pajang, bukankan Gusti Sultan Panembahan pun mengetahuinya? Lalu kenapa Gusti Ratu dan Gusti Sultan Panembahan tega menghkhianati Gusti Prabu Geusan Ulun?”

“Gusti Prabu Geusan Ulun tidak meminta banyak, hanya meminta Gusti Ratu bersedia menemuinya. Kaula pikir itu tidak seberapa dibandingkan pengkhianatan Gusti Ratu” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu mencoba mengorek rasa bersalah Ratu Harisbaya.

Ratu Harisbaya menangis tersedu mendengar kata-kata Patih Batara Sang Hyang Hawu, dia merasa tidak berkhianat karena sudah menunggu kedatangan Geusan Ulun selama bertahun-tahun tapi tidak ada kabar berita yang diterimanya sampai akhirnya dia menerima permintaan Sultan Pajang yang merupakan guru ngajinya, untuk menikah dengan Sultan Panembahan.

Melihat Ratu Harisbaya menangis, Patih Batara Sang Hyang Hawu merasa senang karena tujuannya untuk menghasut Ratu Harisbaya berhasil.

“Gusti Ratu Harisbaya, baiklah jika tidak berkenan untuk menemui Gusti Prabu Geusan Ulun, kaula akan pergi. Walaupun kaula tidak berharap Gusti Ratu akan melukainya lagi untuk yang kedua kali” kata Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil mengangkat sepuluh jarinya di atas kepalanya tanda berpamitan kepada Ratu Harisbaya.

Ratu Harisbaya makin bimbang dan akhirnya naluri kewanitaannya mengalahkan segalanya,

“Tunggu, jangan pergi dulu Kakang Patih” lirih Ratu Harisbaya

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #1