SIASAT PATIH BATARA SANG HYANG HAWU

Pagi itu suasana pendopo keraton Sumedang Larang terasa begitu hangat, berita pulangnya Pangeran Angkawijaya yang terkenal sangat tampan dan rendah hati itu telah membuat semua orang di lingkungan keraton merasa senang.

Setelah berpamitan dengan ibundanya, Nyimas Setyasih, Pangeran Angkawijaya bergegas menuju pendopo untuk menemui ayahnya yaitu Pangeran Santri. Setibanya di pendopo, pangeran Angkawijaya segera mengambil tempat duduk dihadapan singgasana ayahnya yangmasih kosong. Tak lama berselang setela salah seorang punggawa memberitahu kehadiran Pangeran Angkawijaya, Pangeran Santri terlihat memasuki pendopo diiringi oleh 4 orang lelaki gagah bertubuh tinggi besar.

Melihat kedatangan ayahandanya, Pangeran Angkawijaya segera berlutut dan mengangkat kedua jemarinya di atas kepala sebagai tanda hormat. Pangeran Santri tersenyum senang lalu duduk di singgasana sementara ke empat lelaki yang mengiringinya duduk berdampingan dengan Pangeran Angkawijaya.

Lalu Pangeran Santri berkata,
“Anaking Pangeran Angkawijaya, bahagia sekali engkau mau segera pulang setelah menerima pesan dariku. Itu tandanya engkau adalah seorang anak yang berbakti”.

“Anakmu menghaturkan sembah bakti ayahanda. Ada apa gerangan yang membuat ayahanda memanggil anakmu ini untuk segera pulang. Hamba merasa belum cukup ilmu yang hamba pelajari di Pajang” jawab Pangeran Angkawijaya.

“Bagus anaking, aku merasa senang bahwa dirimu masih merasa belum cukup ilmu, itu tandanya orang yang mau belajar dan rendah hati. Tapi dirimu sekarang ada amanat yang maha besar dari Kerajaan Pajajarankata Pangeran Santri lugas.

“Amanat apa kiranya ayahanda?” tanya Pangeran Angkawijaya.

Lalu Pangeran Santri memperkenalkan Pangeran Angkawijaya dengan keempat orang Kandaga Lante utusan Prabu Surya Kencana yaitu Batara Sang Hyang Hawu, Batara Pancar Buana, Batara Dipati Wiradjaya dan Batara Sang Hyang Kondang Hapa serta warisan Makuta Binokasih Sanghyang Pake yang melambangkan bahwa Pangeran Angka Wijaya sebagai penerus trah Kerajaan Pajajaran.

Patih Batara Sang Hyang Hawu (illustrasi gambar yukepo.com)

Tak lama dari hari itu, Pangeran Angkawijaya dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun dan keempat Kandaga Lante dari Pajajaran diangkat sebagai patihnya. Sementara itu Pangeran Santri dan istrinya Nyimas Setyasih memilih mengundurkan diri dari keraton dan mengasingkan diri untuk lebih mendekatkan kepada sang pencipta.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #1

Lima tahun berselang, Prabu Geusan Ulun (Pangeran Angkawijaya) berniat untuk mengunjungi Sultan Hadiwijaya di Kerajaan Pajang untuk bersilaturahmi sekaligus untuk mengucapkan terima kasih dan memberi kabar tentang pengangkatannya sebagai Raja Kerajaan Sumedang Larang. Ditemani oleh keempat patihnya yaitu Batara Sang Hyang Hawu, Batara Pancar Buana, Batara Dipati Wiradjaya dan Batara Sang Hyang Kondang Hapa mereka berangkat ke Kesultanan Pajang di daerah Surakarta.

Setibanya di Kerajaan Pajang, betapa kagetnya Prabu Geusan Ulun karena ternyata Prabu Hadiwijaya telah mangkat beberapa tahun yang lalu. Setelah mengucapkan belasungkawa dengan keluarga besar Kesultanan Pajang, Prabu Geusan Ulun bergegas pamit untuk kembali ke Kerajaan Sumedang larang.

Sepanjang perjalanan pulang sambil menunggang kuda, Sang Prabu terlihat murung dan tidak banyak berbicara. Patih Batara Sang Hyang Hawu sebagai seorang yang sakti mandraguna, weruh sadurung winarah akhirnya bertanya,
“Kanjeng Gusti Prabu, ada apakah yang mengganggu hatimu?”

Prabu Geusan Ulun hanya tersenyum pahit tidak menjawab sepatah katapun.

“Kanjeng Gusti Prabu, hamba punya usul sebelum kita kembali ke Kerajaan Sumedang Larang alangkah lebih baiknya kita mampir ke Kesultanan Cirebon menemui Sultan Panembahan Ratu. Bukankah beliau masih kerabat Kanjeng Gusti Prabu?” sambung Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Kenapa kita harus mampir ke sana Kakang Patih?” tanya Prabu Geusan Ulun.

Patih Batara Sang Hyang Hawu tersenyum penuh arti lalu berkata,
“Kanjeng Gusti Prabu lebih tahu apa maksud hamba, obat dari kesedihanmu hanya dapat ditemukan di sana.” jawab Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Akhirnya setelah dibujuk sedemikian rupa oleh Patih Batara, Prabu Geusan Ulun dan rombongan memutuskan untuk mampir ke Kesultanan Cirebon.

“Tapi ingat Kakang Patih, kita mampir ke sana hanya untuk bersilaturahmi kepada Kakanda Sultan Panembahan Ratu, tidak ada maksud lain” kata Prabu Geusan Ulun menegaskan.

Patih Batara Sang Hyang Hawu mengangkat kedua jemarinya di atas tangan sebagai tanda menyetujui ucapan Sang Prabu, sementara ketiga patih lainnya hanya saling pandang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Prabu Geusan Ulun dan Patih Batara.

Setibanya di Kesultanan Cirebon, Prabu Geusan Ulun di sambut dengan hangat penuh kekeluargaan karena selain mereka berkerabat, ternyata Sultan Panembahan Ratu dan istrinya Ratu Mas Pajang adalah teman nyantri Sang Prabu saat di Kesultanan Pajang. Setelah jamuan makan-makan Sultan Panembahan Ratu mempersilakan Prabu Geusan Ulun untuk beristirahat dan bermalam di salah satu pendopo khusus untuk tamu negara.

Sementara itu Patih Batara Sang Hyang Hawu dengan ketiga patih lainnya dipersilakan untuk beristirahat di salah satu rumah yang berada di sekitar pendopo. Menjelang tengah malam, Patih Batara Sang Hyang Hawu membangunkan ketiga  patih lainnya dan memintanya untuk berjaga-jaga,

“Rayi Patih semuanya, aku harap malam ini kalian berjaga-jaga mengawasi pendopo tempat Gusti Prabu beristirahat. Aku khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan” kata Patih Batara Sang Hyang Hawu.

“Sendika Kakang Patih, tapi apa yang harus khawatirkan?” bertanya Patih Batara Pancar Buana.

“Sudahlah Rayi Patih apapun yang terjadi, aku harap kalian bertiga tetap waspada. Malam ini aku akan pergi sebentar karena ada yang harus diselesaikan” berkata Patih Batara Sang Hyang Hawu tegas sambil menatap tajam kepada ketiga Patih lainnya.
Patih Batara Pancar Buana, Patih Batara Dipati Wiradjaya dan Patih Batara Sang Hyang Kondang Hapa hanya terdiam, semenjak dari perjalanan dari Pajang ke Cirebon, mereka merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Prabu Geusan Ulun dan Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Sementara itu Patih Batara Sang Hyang Hawu bergegas keluar rumah dan dengan menggunakan kesaktiannya berkelebat ke arah timur menuju ke komplek bangunan keputren tempat putri-putri istana tinggal. Dia terlihat melompat ke atap salah satu keputren yang terlihat cukup mewah, dilihatnya para punggawa sedang berjaga-jaga di gebang keputren.

“Hmmm…ketat juga penjagaan di sini, lebih baik aku sirep mereka supaya tertidur” batin Patih Batara Sang Hyang Hawu.

Kemudian dia memejamkan matanya sambil merapalkan mantra, beberapa saat kemudian terlihat para punggawa sudah tertidur pulas di depan gerbang keputren. Setelah dirasa cukup aman, Patih Batara Sang Hyang Hawu melayang turun ke halaman keputren, lalu mengendap-ngendap memasuki gerbang kaputren yang mewah dan sepertinya disediakan khusus untuk putri Sultan atau minimal untuk selir Sultan. Didorongnya pintu salah satu kamar yang berada di kaputren tersebut dan terlihat di dalam kamar seorang wanita cantik sedang tertidur pulas di atas tempat tidur yang sangat mewah. Saking pulasnya sang putri tidak sadar kalau kainnya terangkat memperlihatkan betis dan sebagian pahanya yang putih mulus.

“Ladalah…sungguh cantik perempuan ini, pantas saja Gusti Prabu sampai kapengpeongan” batin Patih Batara Sang Hyang Hawu sambil tersenyum sinis.

“Maafkan putri, kau akan kujadikan alat untuk membalaskan dendam seluruh rakyat Pajajaran” lirih sang patih sambil mendekati tempat tidur sang putri.

Baca juga : Bujangga Manik, Solo Traveler Dari Abad XV #1