LUKA HATI SEORANG IBU

Semenjak kejadian ditolaknya lamaran Putri Ajeng Larang Sakean Kilat Bancana oleh Bujangga Manik, suasana di keputren ibunya terasa sangat muram dan sepi, Ibunya lebih banyak berdiam diri, tidak lagi seceria dan sehangat saat kedatangan Bujangga Manik. Hal ini sangat dimaklumi oleh Bujangga Manik, tentu ibunya sangat kecewa ketika anak laki-laki kesayangannya menolak untuk bersanding dengan Putri yang cantik jelita dari keraton Pajajaran.

Gambar istimewa www. deviantart.com

Tapi Bujangga Manik tidak bisa mengikuti kemauan ibunya, sejak kecil dia merasa bahwa ibunya telah mendidik dan mengarahkannya ke jalan yang salah…

Na urang anak pahatu, (aku anak piatu)
na ura(ng) ha(n)teu dibapa, (aku tidak mengenal ayahku) 
aya dii(n)dung kasarung, (ada juga ibu yang tersesat)
manghulukeun ku boboncaheun. (mengarahkanku ke arah yang tidak baik)

Hanya rasa kasih sayang yang besar yang membuat Bujangga Manik selalu menghormati dan menurut apapun kata ibunya. Hanya saja peristiwa lamaran Putri Ajeng Larang Sakean Kilat Bancana telah menyadarkan Bujangga Manik bahwa tidak bisa baginya untuk terus berada di samping ibunya karena tujuan hidup mereka berbeda. Ibunya lebih menyenangi hal-hal duniawi sedangkan Bujangga Manik lebih mementingkan kehidupan setelah mati nanti.
Pagi itu, Bujangga Manik bergegas menghadap ibunya yang sedang duduk termenung di bale kaputren, setelah duduk ngajeprok lalu berkata,

“Ambu, sekecewa itu kah dirimu atas penolakanku kepada Putri Ajeng Larang, sehingga engkau selalu murung dan berdiam diri?” lirih Bujangga Manik

“Ambu, aku tidak mau membuatmu selalu bersedih karena itu juga melukai hatiku. Oleh karena itu aku memohon restu untuk kembali pergi ngalanana agar bisa mengurangi kesedihan dan kekecewaanmu” sambung Bujangga Manik dengan suara bergetar menahan kesedihan yang mendalam.

Ibunya tidak menjawab, matanya nanar menatap Bujangga Manik, rasa kekecewaannya telah membuat hatinya hancur dan kehilangan harapan.

Mengetahui ibunya hanya diam, perlahan diambilnya tas kampek karancang diisinya dengan kitab termashyur termasuk kitab siksaguru. Dililitkan cambuknya yang terbuat dari rotan belatung ke pingangnya dan digenggamnya ditangan kanan tongkat sakti berkepala lima.

Horeng manana sakitu,  (ternyata sebegitu kecewanya)
A(m)buing karah sumanger, (ibuku hanya tertegun terdiam)
paw(e)kas pajeueung beungeut, (maka ini saat terakhir kita bertatap muka)


I(n)dit birit su(n)dah diri (berdiri dan pergi) 
lugay sila su(n)dah leu(m)pang (meregangkan kaki dan berjalan) 
Sadiri ti geusan calik, saturun ti tungtung suwung, galasar di panahtaran.
(Meninggalkan tempat di mana mereka duduk, turun dari ujung mimbar, berjalan turun pelan-pelan.)


Bujangga Manik meneteskan air matanya, tidak menyangka sekecewa itu ibunya sehingga jangankan restu bahkan sepatah kata pun tidak terucap darinya. Dipandangi wajah murung ibunya untuk yang terakhir kalinya, lalu perlahan mundur dari hadapannya dan bergegas menuju gerbang keputren. Tanpa diketahui Bujangga Manik, ibunya pun menangis tersedu saat memandang punggung anak kesayangannya meninggalkan keputren untuk untuk selamanya.

Langit mendadak mendung dan perlahan gerimis mulai mengguyur Dayeuh Pakuan seolah menangisi perpisahan ibu dan anak yang sebenarnya saling mengasihi.

Baca juga : Bujangga Manik, solo traveler dari abad XV #1