Kemarin tanggal 9 November 2019, saya dengan Mr. Fandri dan Mr. Ahmad berkunjung ke tempat budidaya ikan lele di wilayah sekitar Rengasdengklok, Karawang. Sesampainya di sana kami disambut oleh Mr. Nana dan Mr. Aman pemilik usaha budidaya lele yang akan kami kunjungi.

Mr. Nana & Mr. Aman kakak beradik pemillik usaha budidaya lele

Kami berdiskusi banyak Mr. Nana sebagai pemilik kolam dan Mr. Aman pemilik jaring apung yang sangat menguasai seluk beluk usaha budidaya lele ini. Di bawah adalah feasibility (kelayakan) usaha budidaya lele langsung dari pengusaha di lapangan :
1. Jumlah jaring apung dan biaya pembuatan,
Menurut Mr. Aman, kita perlu membuat setidaknya 4 buah jaring apung untuk memulai usaha ini, 2 jaring apung akan diisi oleh bibit lele masing-masing kolam 2,000 ekor bibit lele. Sedangkan 2 jaring apung lainnya untuk menampung pada saat sortir lele berdasarkan ukuran, hal ini perlu dilakukan karena pada dasarnya lele adalah hewan kanibal. Jika tidak dipisahkan berdasarkan ukuran maka lele yang berukuran lebih besar akan memakan lele yang ukurannya lebih kecil. Pensortiran ini dilakukan setelah 2 minggu pertama pengisian bibit di kolam jaring apung dan secara kontinyu dilakukan perminggu atau setidaknya per 2 minggu.

Biaya pembuatan jaring apung

 
Biaya ini dengan asumsi kolamnya sudah tersedia, jika kolamnya belum ada maka biaya investasi awal akan jauh lebih besar. Menurut Mr. Aman, umur pakai kolam ini adalah 1,5 tahun atau 6 kali panen (1 kali panen adalah 3 bulan), tapi disini saya gunakan asumsi umur pakai adalah 1 tahun atau 4 kali panen. Berdasarkan perhitungan harga jaring, bambu penahan dan tukang maka setiap kali musim panen perlu ditambahkan biaya Rp. 275,000,- untuk mengembalikan biaya pembuatan kolam atau istilah kerennya adalah depresiasi.

2. Modal bibit, biaya pakan, biaya operational dan keuntungan,
Masih menurut Mr. Aman, harga bibit yang digunakan adalah harga Rp. 400,-/ekor, lalu biaya pakan per kolam adalah Rp. 500.000,-/bulan dan estimasi penyusutan akibat kematian bibit adalah 10%. Dibawah adalah perhitungan biaya dan potensi keuntungannya versi saya secara teoritik aktual dilapangan mungkinakan ada deviasi,

Kebutuhan biaya per 1 kali musim panen versi teoritis


Potensi margin versi teoritis

Memang secara teoritis margin yang didapatkan tidak terlalu besar tapi masih menurut Mr. Aman banyak manuver di lapangan yang bisa dilakukan diantaranya,

Menyiasati pakan dengan campuran sisa-sisa makanan reject dari pabrik, salah satunya yang dilakukan Mr. Aman adalah dengan membeli sisa-sisa produksi sosis dari salah satu pabrik. Menurut Mr. Aman hal ini dapat menekan biaya pakan hingga 30% dan secara otomatis memperbesar margn profit,
Perawatan, penyortiran dan pemberian pakan dilakukan sendiri sehingga mengurangi biaya operational dan memperbesar margin profit.

Kebutuhan biaya per 1 kali musim panen versi Mr. Aman


Potensi margin profit versi Mr. Aman

Kalau kita bandingkan margin profit versi teoritis dan versi Mr. Aman adalah,
Perbandingan margin profit antara versi teoritis vs versi Mr. Aman


Dari data di atas bisa dilihat perbedaan yang sangat jauh antara penanganan usaha versi teoritis dengan versi Mr. Aman, margin profit yang didapatkan oleh Mr. Aman bisa mencapai 750% lebih tinggi.

Dari sini kita bisa simpulkan bahwa,
“Sebaik-baiknya bisnis adalah ditangani langsung oleh pemilik (fokus) dan diperlukan improvisasi dalam menyikapi keadaan di lapangan”



Well done Mr. Aman….!!!