Disadur dari tulisan Lacey Burns - therichest.com

Kebanyakan orang merencanakan liburan dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan untuk menyegarkan pikiran, dari melihat-lihat hingga mencicipi makanan eksotis hingga menyerap beberapa budaya di museum lokal. Namun, bermain dengan aman dan melakukan kesenangan keluarga bukan lagi sesuatu yang menarik bagi sebagian orang: beberapa orang mencari lebih banyak sensasi. Wisata seks, di mana tujuan utama perjalanan adalah untuk terlibat dalam aktivitas seksual, seringkali dengan pelacur, adalah industri global yang sedang berkembang pesat. Sebagian besar klien yang terlibat dalam pariwisata seks adalah pria, sementara mayoritas pekerja seks adalah wanita. Meskipun, pariwisata seks untuk perempuan ada tetapi dalam jumlah yang lebih kecil. Wisata seks adalah industri yang bernilai miliaran dolar yang diperkirakan melibatkan jutaan pekerja seks di seluruh dunia, dan praktiknya bisa legal atau ilegal, tergantung pada undang-undang regional, apakah kegiatan tersebut bersifat suka sama suka, dan apakah anak-anak atau perdagangan seks terlibat. Berikut adalah beberapa tujuan utama di dunia untuk pariwisata seks: pelacuran adalah legal di beberapa negara, tetapi tidak di semua negara yang terdaftar.

10. Republik Dominika


Banyak negara Karibia terlihat mengalami peningkatan dalam pariwisata seks, khususnya wisata seks wanita, dan Republik Dominika tidak terkecuali. Diperkirakan sekitar 60.000 hingga 100.000 wanita bekerja di perdagangan seks di Republik Dominika, dan banyak juga yang menyeberang dari Haiti. Prostitusi tidak ilegal di Republik Dominika, termasuk seks dengan anak di bawah umur, dan sayangnya banyak pekerja seks di sini adalah anak di bawah umur. Perdagangan pariwisata seks negara ini mungkin sangat populer karena aksesibilitas dari Amerika Serikat dan Eropa relatif lebih mudah.

9. Kamboja


Kamboja memiliki undang-undang yang ketat tentang pelacuran, tetapi praktiknya masih saja ada terjadi, dan Kamboja tetap menjadi tujuan populer untuk wisata seks. Sejarah keras dan sulit Kamboja selama abad kedua puluh, termasuk Khmer Merah, menyebabkan hukum tentang prostitusi naik dan turun dalam berbagai tingkat kesulitan. Saat ini, Kamboja terganggu oleh masalah dengan pariwisata seks anak. Terkena kemiskinan yang melemahkan, orang tua kadang-kadang menjual anak-anak mereka sendiri ke dalam perbudakan seks, sementara sebagian yang lain tertipu ke dalam industri. Keperawanan seorang anak seringkali sangat berharga dan akan dilelang kepada penawar tertinggi. Selain itu, kekerasan terhadap pekerja seks adalah hal biasa. Sayangnya, pariwisata seks telah membayangi Kamboja, dan sepertinya pemerintah Kamboja bekerja sangat keras untuk menanggulanginya sehingga diharapkan bisa menurun secara drastis.

8. Belanda


Amsterdam adalah tempat teratas untuk pariwisata seks di Belanda, berkat “Red Light Distric” nya yang terkenal. “Red Light Distric” ini populer baik untuk turis biasa maupun wisatawan seks, dan toko-toko seks, peep show, klub strip dan pelacur yang tak terhitung jumlahnya menjual barang dagangan mereka di balik jendela kaca berlampu merah berlimpah. Prostitusi legal dan diatur dengan baik di Amsterdam, yang bisa menciptakan kondisi yang lebih aman bagi pekerja seks. Harga di Amsterdam umumnya berkisar antara 35-100 Euro, tergantung pada waktu, serta usia dan daya tarik klien. Distrik lampu merah Amsterdam yang terkenal melayani segala jenis minat dan orientasi dan yang terbaik adalah, itu (relatif) aman.

7. Kenya


Seperti banyak tempat lain dalam daftar ini, kekuatan pendorong di belakang industri pariwisata seks yang berkembang di Kenya adalah kemiskinan. Prostitusi di kalangan kaum miskin, yang tidak berpendidikan dan seringkali menjadi pelacur muda di Kenya, telah mendorong penyebaran HIV / AIDS, karena sedikit pekerja seks yang dididik tentang bahaya penyakit kelamin. Seringkali, anak-anak semuda 12 tahun menjadi korban industri pariwisata seks di Kenya. Banyak gadis muda di Kenya hanya menggunakan kondom 60% dari sepanjang waktu melayani klien, meskipun mereka sering melayani hingga lima klien per hari. Terlepas dari bahaya ini, pelacuran tidak dianjurkan oleh Polisi Pariwisata Kenya, karena negara ini sangat membutuhkan dorongan ekonomi dari pariwisata.

6. Filipina


Meskipun pelacuran adalah ilegal dan seringkali disertai dengan hukuman yang keras di Filipina, perdagangan pariwisata seks tetap hidup dan sehat. Ada sekitar 500.000 pekerja seks yang menyamar sebagai gadis bar di Filipina, dan sebagian besar klien adalah pengusaha dari Asia Timur atau negara-negara Barat. Warga Filipina cenderung sangat toleran terhadap gaya hidup yang beragam, yang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa prostitusi dan pariwisata seks berkembang di Filipina. Salah satu hal yang paling mengejutkan tentang pariwisata seks di Filipina adalah besarnya jumlah itu - 40-60% turis yang mengunjungi negara itu diperkirakan telah melakukan perjalanan ke Filipina untuk wisata seks saja. Pemerintah Filipina telah bekerja sangat keras untuk menghilangkan industri seks ini.

5. Kolombia


Banyak negara yang tercantum di sini berlokasi di Asia Tenggara, tetapi Kolombia, yang terkenal karena para raja obat bius yang hidup mewah, terletak di Amerika Selatan dan merupakan hot spot lain untuk pariwisata seks. Rumor di jalanan mengatakan banyak pekerja seks Kolombia akan menurunkan harga mereka jika klien itu menarik dan negosiator yang baik, yang mungkin mengapa negara ini sangat populer ketika terjun ke pariwisata seks. Namun, ribuan orang mungkin juga berduyun-duyun ke Kolombia berharap bahwa setiap wanita akan terlihat seperti wanita latin lainnya yang bertubuh molek.


3. Spanyol


Kota-kota seperti Ibiza, Madrid, dan Barcelona telah lama menjadi tujuan wisata untuk semua kegiatan klub malam, tetapi jenis kegiatan wisata baru mulai meningkat di Spanyol. Prostitusi legal di Spanyol, menjadikannya salah satu tujuan teratas di Eropa untuk pariwisata seks. Di Madrid, distrik lampu merah terhubung dengan jalan-jalan biasa, sehingga sangat mudah diakses, sedangkan di Barcelona, distrik lampu merah adalah objek wisata yang populer. Yang mengejutkan, seringkali ada lebih banyak pekerja seks Amerika Selatan yang hadir di Spanyol daripada pekerja seks asli Spanyol, dan banyak perempuan pada dasarnya adalah budak industri seks. Meskipun dalam Taken menggambarkan Perancis sebagai pemain utama dalam industri perdagangan seks, Spanyol adalah salah satu tujuan wisata seks paling populer di Eropa.

2. Brazil


Brasil selalu menjadi tujuan wisata yang populer karena kehidupan liar yang eksotis, orang-orang cantik, pantai indah dan festival seperti Karnaval. Tetapi tampaknya Brasil mungkin berlomba-lomba menjadi tempat nomor satu untuk pariwisata seks juga. Selain itu, Brasil adalah tujuan populer untuk wisata seks wanita, yang umumnya tidak melihat tingkat setinggi pariwisata seks pria. Pemerintah Brazil secara khusus mewaspadai pariwisata seks dan perdagangan seks selama persiapan untuk Piala Dunia lalu, tetapi perdagangan seks yang berkembang tampaknya tidak melambat.

1. Thailand


Tidak mengherankan bahwa Thailand berada di urutan teratas dalam daftar ini, mengingat popularitas distrik lampu merah di Bangkok dan menggambarkannya dalam film-film seperti The Hangover Part II. Undang-undang yang menentang pelacuran di Thailand tidak terlalu tegas, dan negara ini memiliki sedikit reputasi karena sifat permisif seksualnya. Banyak orang Thailand percaya bahwa pelacuran dan toleransi gaya hidup orang lain adalah bagian penting dari budaya Thailand, jadi 'profesi tertua di dunia' telah berkembang di sini, termasuk 'ladyboys' yang terkenal. Ada sekitar 3 juta pekerja seks di Thailand, di antaranya sekitar sepertiga adalah anak di bawah umur. Sayangnya, sejumlah besar pekerja seks di Thailand adalah pelacur melalui perdagangan manusia, meskipun industri ini sering diatur dengan baik dan pekerja seks ada di sana karena pilihan.