#1 KETURUNAN, POLA MAKAN, POLA HIDUP

Sekitar awal bulan Juni tahun 2019 sehabis lebaran, saya terkena flu cukup berat dan memaksa saya untuk pergi ke dokter klinik BPJS di daerah Cikarang. Setelah daftar saya menuju kursi suster di depan ruang pemeriksaan dokter. Seperti biasa, suster mengukur tekanan darah saya sambil berbasa-basi menanyakan tentang penyakit saya. Saya pun santai-santai saja waktu mbak suster bilang kalau tekanan darah saya cukup tinggi, dengan tersenyum saya menggodanya (kebiasan dari kecil yang terbawa sampai tua walopun lagi sakit ga boleh lihat barang bagus..hehe..),

”Pasti gara-gara saya deket ama mbake suster, makanya aliran darah saya jadi ga beraturan”

Mbak perawat pura-pura tidak mendengar gombalan saya, baginya mungkin saya adalah laki-laki ke seratus sekian yang mencoba menggodanya.

“Nanti bapak konsultasi juga ke dokter ya..jangan dibiarin. Bahaya loh hipertensi https://www.bedapandang.com/2019/10/menjinakkan-hipertensi-dengan-bersepeda.htmlitu bisa merambat ke penyakit-penyakit berat.” katanya lembut tapi tegas.

Akhirnya saya pun tahu diri untuk tidak meneruskan insting nakal saya dan memilih untuk duduk manis dikursi tunggu menanti panggilan dokter.

Foto Istimewa www.goredforwomen.com

 
Tak lama kemudian mbak perawat memanggil dan mempersilakan saya untuk masuk ke ruang dokter.

“Sakit apa pak?” tanya dokter dengan ramah sambil melihat-lihat riwayat kesehatan saya.

“Kayaknya flu dok, badan panas ama batuk-batuk mulu” kata saya menjelaskan kondisi badan saya.

“Hmmm…oke nanti saya kasih resep untuk obat panas ama batuknya, cuman bapak sepertinya harus lebih concern juga ama tekanan darah yang cukup tinggi” kata dokter sambil menatap saya sambil mengerutkan dahi.

“Emang tekanan darah saya berapa dok?” tanya saya penasaran, kebiasaan ke dokter hanya untuk minta surat dokter buat ke tempat kerja membuat saya abai terhadap data medis diri sendiri.

“Di sini tekanan darah bapak 180/140, nomalnya adalah 120/80” jawab dokter.

“Wah bedanya jauh juga ya dok” sahut saya masih santai.

“Iya pak, harus segera ditangani karena bisa berpotensi menjadi penyakit jantung, stroke bahkan penyakit ginjal” kata dokter meyakinkan saya.

“Waduh….seperti ituuuu” seru saya, kaget juga karena tidak pernah membayangkan efeknya akan sedahsyat itu, setau saya hipertensi atau biasa disebut darah tinggi efeknya cuman emosian alias gampang marah.

“Gini aja..nanti setelah bapak sembuh flu dan batuknya, datang lagi saja ke sini biar kita cek lagi tekanan darahnya” kata dokter sambil menyerahkan surat resep obat ke saya.

“Euh,,dok, jangan lupa surat izin sakit buat ke kantor” kata saya sambil nyengir.

“Nanti minta saja sama suster di depan sekalian ambil obat” kata dokter.

Sepulangnya dari dokter saya bergegas pulang, himbauan dokter masalah hipertensi tidak terlalu saya fikirkan, ada 3 faktor yang membuat saya tidak terlalu kaget dengan penyakit hipertensi yang mungkin saya idap:


Secara genetik, di keluarga memang ada yang mengidap penyakit hipertensi sehingga saya sadar bahwa potensi saya untuk mengidap penyakit yang sama cukup besar,

Pola makan, saya yang dibesarkan dengan tradisi makanan Minang memang dari kecil sudah terbiasa menyantap makanan bersantan dan daging merah, sampai sekarang pun saya masih lahap menyantap gulai cincang.

Pola hidup, kehidupan di kostan sejak masa kuliah membuat saya terbiasa  merokok dan minum kopi hitam dan kebiasaan buruk itu terbawa sampai bangkotan.

Setelah flu dan batuk sembuh saya pun tidak lagi mengingat saran dokter untuk kembali diperiksa tekanan darah saya. Saya berfikir,

“Ya sudahlah…ngapain mikirin penyakit malah ntar stress sendiri. Kalau mau mati mah mati aja”

Sampai suatu momen di akhir bulan Juni merubah semua sudut pandang dan cara berfikir saya. Malam itu tiba-tiba saya terbangun sekitar jam 1 pagi karena kebelet pengen buang  air kecil. Selesai dari kamar mandi saya sempatkan lagi memeriksa kunci rumah khawatir lupa ngunci lalu menuju ke kamar anak saya yang paling besar karena terlihat lampunya masih menyala terang.

“Ngapain c kaka jam segini belum tidur” fikir saya.

Saya ketuk pintunya sambil memanggilnya pelan,
“Ka, Ka…udah tidur belum?

Tidak ada jawaban, saya langsung dorong pintunya dan saya lihat c Kaka sudah tertidur pulas,
“Kebiasaan ni anak…” kata saya sambil mematikan lampu dan menutup kembali pintu kamarnya.

Selanjutnya saya menuju ke kamar anak saya yang paling kecil, perlahan saya dorong pintunya sambil menyalakan lampu, terlihat anak perempuan cantik dan menggemaskan itu sedang tertidur dengan damai. Saya pandangi wajahnya yang polos menggemaskan dan entah darimana datangnya ada rasa ketakutan akan kehilangan bidadari kecil ini,

“Bidadari kecilku, ayah berjanji akan menjagamu apapun yang terjadi sampai saatnya kamu dewasa” batin saya.

Baca juga : Mencegah Penyakit Jantung Dan Kanker Payudara Dengan Bersepeda