CHAPTER #3 COCOKOLOGI

“A..mending ge neangan tempat istirahat heula, kejeun isuk-isuk urang ka Leuweung na” kata Ivan pelan sambil mulai menjalankan mobil meninggalkan rumah “Juru Kunci” berCamry.
(“A..lebih baik mencari tempat istirahat dulu, biar besok pagi saja kita ke Hutannya”).

“Ya sudah terserah” kata saya tanpa semangat.

“Di depan ada rumah Kang Asep yang termasuk juru kunci juga, kita bisa istirahat di sana” kata Yukay salah satu anggota tim yang kemana-mana selalu memakai kaos Manchester United.

“Emang kamu kenal Kay?” tanya saya.

“Ga juga bro, yang kenal teman tapi saya ada nomer hapenya ” kata Yukay sambil nyengir kuda mirip nyengirnya Ole waktu Manchester United dikalahkan oleh West Ham.

“Ya sudah kita ke sana saja” kata saya pasrah.

Mobil berjalan lambat meninggalkan perkampungan dan mulai memasuki perkebunan Jati yang cukup lebat. Laju mobil mulai oleng karena jalanan mulai berbatu dan tidak rata, Ivan yang mengemudikan kendaraan terlihat sangat berhati-hati.

Setelah kurang lebih perjalanan 30 menit akhirnya kami berhenti di depan sebuah rumah yang terpencil di tengah hutan jati. Kami pun tidak bisa meneruskan perjalanan karena jalan didepan terpasang portal.

“Berhenti di sini aja dulu Van” kata Yukay kepada Ivan.

Ivan memarkirkan kendaraan di depan rumah yang kelihatannya tidak berpenghuni.

Saya dan tim turun dari mobil sambil meregangkan otot yang kaku.

“Ini rumah Kang Asep teh Kay?” tanya saya ke Yukay.

“Mungkin, sebentar saya telpon dulu deh” kata Yukay

Kemudian Yukay mengeluarkan HP Xiomay nya dan mulai menelepon, terdengar dia berbincang cukup lama dengan lawan bicaranya, yang mungkin saja itu adalah Kang Asep.

“Ini bukan rumah Kang Asep bro…saya ke rumah kang Asep dulu, biar kita bisa buka portal” kata Yukay dengan semangat.

“Ya..sudah cepat pergi, jangan lama-lama” Ivan mendahului saya menjawab Yukay.

Saya terduduk lemas dan ngantuk di atas kursi panjang dari bambu yang ada di depan rumah itu, terdengar samar-samar suara mbak dari kejauhan. Saya pun mencoba untuk berkonsentrasi untuk “menyambung rasa” dengan penghuni alam gaib dari Leuweung Sancang. Tapi lagi-lagi energy yang terasa masih sangat lemah.

“Mungkin sudah telalu banyak orang yang berkeiaran di wilayah ini, sehingga para “karuhun” sudah makin menyingkir ke pinggir laut” batin saya dengan kecewa.

Tak lama kemudian dari kejauhan terdengar suara orang yang sedang berbincang, suaranya terdengar makin jelas.

“Itu mungkin suara Yukay dengan Kang Asep” kata saya kepada tim.

Benar saja tak lama kemudian Yukay muncul dar kegelapan bersama seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahunan.

Kemudian kami bersalaman dan sedikit berbasa-basi, maklum hari menjelang subuh sehingga rasa kantuk dan letih sangat terasa menyebabkan kami malas untuk berbicara banyak.
“Langkung sae, urang ka landeuh we…istirahat di saung abdi” kata Kang Asep dengan ramah.
(“Lebih baik kita ke bawah saja…beristirahat di gubuk saya”)

“Hatur nuhun Kang Asep, sae kitu ge..mung hapunten janten ngarepotkeun” kata saya menyambut keramahannya.
(“Terima kasih Kang Asep, baik kalo begitu…hanya maafkan kalo jadi merepotkan”)

Lalu Kang asep membuka portal yang menghalangi jalan di depan kami, saya dan tim kembali masuk ke dalam mobil.

“Maju aja dulu..biar setelah mobil lewat, portalnya saya kunci lagi” kata Kang Asep kepada Ivan yang sudah standby di balik kemudi.

Setelah mobil melewati portal, Kang Asep mengunci kembali portal lalu ikut masuk ke dalam mobil.

“Hati-hati nyetirnya karena jalannya masih tanah dan bergelombang” kata Kang Asep kepada Ivan.

Mobilpun melaju dengan sangat hati-hati menuruni bukit melalui jalan tanah yang bergelombang.

Suasana menjadi sedikit awkward karena adanya Kang Asep di dalam mobil sampai akhirnya Yukay yang memang dikenal supel dalam pergaulan akhirnya memecah keheningan.

“Kang Asep, ini termasuk Sancang berapa ya?” yukay bertanya ke Kang Asep.

“Banyak orang bilang ini adalah Sancang 4, tapi sebenarnya itu hanya rekaan manusia saja. Kalau Sancang mah tetep saja cuman satu yaitu Leuweung Sancang jawab Kang Asep.

“Oh..kitu, jadi nu sabenerna kumaha caritana Leuweung Sancang teh?” sambar Ivan menyambut jawaban Kang Asep sambil sibuk mengemudi supaya mobil baik jalannya…eh malah nyanyi!

Kang Asep tersenyum tipis, walaupun dalam kegelapan saya masih dapat melihat gerakan nan anggun dari bibirnya mirip senyuman Klopp saat ditanya tentang persaingannya dengan Manchester United.

Sambil bergoyang-goyang menjaga keseimbangan badan dalam mobil yang sepertinya makin liar saja goyanganya, Kang Asep menjawab “Jadi Sancang itu dulunya adalah Gunung Sancang sebelum akhirnya “ngarendet” jadi sepeti sekarang”.

“Maksudnya “ngarendet” gimana Kang? Yukay kembali bersuara.

Saya pura-pura tidur walaupun dengan badan yang terguncang-guncang sambil menyimak obrolan yang tidak berfaedah ini.

“Jadi dulu Pangeran Kalinyamat dari Demak datang ke Gunung Sancang lalu membacakan kitab Sancang” jawab Kang Asep masih dengan senyuman tipis nan pongahnya.

“Pangeran Kalinyamat…rek naon ka Sancang sengit Ivan seolah tidak bisa menerima jawaban dari Kang Asep.
“Dulu Pangeran Kalinyamat datang ke Gunung Sancang untuk menyebarkan Agama Islam, jauh sebelum zaman para wali” jelas Kang Asep.
Mendengar jawaban Kang Asep, saya makin yakin kalau obrolan ini benar-benar unfaedah…cocokologi istilah milenialnya.

“Lalu hubungannya denga Prabu Siliwangi apa?” tanya Toha yang duduk di jok barisan belakang.
Toha yang terkenal pendiam rupanya gatal juga mendengar obrolan yang makin ngawur ini.

Masih dengan level pede tingkat dewa, Kang Asep bersabda lagi “Ah..itu mah cerita rekaan dari Sutan Syahrir saja..tidak ada itu Prabu Siliwangi.”

Sebagai orang yang sangat menghormati Kanjeng Gusti Prabu Siliwangi, jelas saya merasa tersengat mendengar jawaban ngawur dari Kang Asep. Saya berdehem dengan maksud memberi kode kepada tim agar menghentikan obrolan yang makin tidak jelas juntrungannya.


Video obrolan yang tidak berfaedah

“Kang Asep, masih jauh rumahnya?” tanya saya memotong obrolan mereka.

“Sudah dekat..nah di depan dekat pohon besar itu saja parkirnya” kata Kang Asep.

Ivan menepi dan memarkirkan mobil di bawah Pohon Besar, lalu kami semua keluar dari mobil. Suara ombak makin jelas terdengar yang menandakan lokasi pantai sudah dekat.

“Hayu…urang ka saung, kopi-kopi wae mah aya” kata Kang Asep.

Akhirnya kami berlima berjalan menuju rumah Kang Asep yang berada ditengah hutan Jati.
Saat kami berjalan beriringan, saya mencoba “nyambat” lagi, menghabiskan kepenasaran

“Sampurasun..sampurasun Kanjeng Gusti Prabu Siliwangi, simkuring seja ngadehes………” batin saya terus memanggil nama beliau.

Tiba-tiba dari arah samping telinga saya terasa ada hawa dingin……

Baca juga : LEUWEUNG SANCANG "MENGHILANG" TANPA BEKAS #1