CHAPTER #2 JURU KUNCI ber”CAMRY”

Sambil menikmati segelas kopi panas dan semangkuk miedog (mie instan plus endog), saya berbincang dengan c Akang pemilik warung yang sayangnya lupa saya tanya namanya. Dari mulut c Akang mengalirlah cerita bahwa Leuweung Sancang saat ini banyak di eksploitasi dan direkayasa untuk kepentingan komersial. Dari mulai tukang ojek yang akan “menggetok” tarif maupun “juru kunci” yang banyak menawarkan jasa dengan mitos yang dibesar-besarkan.

Mendengar cerita c Akang warung, saya jadi pesimis akan mendapatkan pengalaman spiritual yang saya dambakan sejak kecil. Saya  kehilangan harapan akan bertemu dengan “maung bodas” dan membuat “iteuk” dari kayu Kaboa.

Tapi perjalanan sudah terlanjur dijalani, saya dan tim sudah sampai di “teras” Leuweung Sancang, pantang pulang sebelum mengunjungi “kediaman” pahlawan masa kecil saya yaitu Kanjeng Gusti Prabu Siliwangi, Sri Baduga Maharaja yang menyatukan wilayah Sunda dan Galuh.

Wilayah Kekuasaan Sunda & Galuh

Waktu sudah menunjukkan pukul 3.30 pagi waktu Leuweung Sancang, saya berpamitan dengan c Akang pemilik warung yang “keukeuh” menyarankan saya dan tim untuk menunda perjalanan sampai nanti pagi dengan alasan untuk menghindari “getokkan” para tukang ojek. Ah…sungguh baik hati c Akang warung ini, sesuatu yang masih tersisa dari adat urang Sunda.
Saya dan tim meneruskan perjalanan di gelap pagi yang dinginnya terasa menusuk kulit.

“Semoga semakin masuk ke dalam hutan, akan makin terasa kesakralan Leuweung Sancang ini” batin saya.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, setelah 15 menit perjalanan makin banyak rumah yang ditemui di pinggir jalan.

“Kenapa makin banyak rumah, bukannya semakin dalam harusnya hutannya tambah lebat?” saya bertanya kepada tim.

Salah seorang anggota tim yaitu Ivan menjawab dengan pelan (mungkin karena ngantuk atau bisa juga takut..hehe..)

“Jigana mah eta imah nu nungguan kebon karet” kata Ivan.
(“sepertinya itu rumah penjaga kebon karet”)

“Iya mudah-mudahan saja nanti di depan akan makin lebat hutannya. Terus dari sini masih jauh ga ke pantai Sancang?” saya bertanya lagi ke Ivan yang mengemudi mobil sambil mengikuti petunjuk mbah Google.

“Kuduna mah sakedeng deui, di hareup urang belok kanan” kata Ivan menjelaskan
(“Harusnya sih sebentar lagi, di depan kita belok kanan”)

Kemudian kami terdiam, suasana mobil menjadi hening, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak lama kemudian mobil berbelok ke kanan memasuki jalan kecil dengan gapura dua patung Harimau Putih.

Gerbang Sancang (Foto istimewa : ypamroe.blogspot.com)


“Ahay.…!!” saya bersorak dalam hati
“Sepertinya kita mulai masuk ke Leuweung Sancang yang sebenarnya” setengah berteriak saya berkata kepada tim, saking senangnya.

Tetapi….
Belum juga bibir saya kering, di depan sepertinya banyak rumah dan benar saja…ternyata kami memasuki sebuah perkampungan yang cukup modern diwarnai dengan rumah-rumah beton dan mobil-mobil yang cukup bagus.

“Bajilak…koq begini, bukannya kita memasuki hutan malah masuk perkampungan. Ini jalannya bener atau GPS nya yang ngaco?” sembur saya ke tim saking kesalnya karena yang di depan mata tidak sesuai dengan harapan.

Ivan meminggirkan kendaraanya di depan sebuah rumah cukup mewah yang di garasinya terparkir sebuah mobil Toyota Camry…ya Camry bro Camry…mobilnya bapak mentri!!!

“Jigana mah bener A, soalna itu aya tulisan Juru Kunci Sancang” kata Ivan sambil menunjuk ke arah rumah yang ada mobil Camry.
(“Sepertinya bener A, soalnya itu ada tulisan Juru Kunci Sancang”)

Mata saya mengikuti arah telunjuk Ivan dan benar saja disamping rumah berCamry itu terpampang dengan gagah sebuah plang “Abah xxxx Juru Kunci Sancang”.

Seketika badan saya lemas dan pikiran saya langsung teringat dengan sebuah tempat ziarah lain di daerah Garut yang juru kuncinya berjejer dari kaki bukit sampai puncak bukit tempat petilasan, yang kalau dihitung mungkin lebih dari 100 juru kunci. Dimana kah itu? Nanti akan saya ceritakan di waktu yang berbeda.

“Hadeuh…gagal total kalau begini” batin saya.

Ivan yang sepertinya bisa menebak isi pikiran saya, bertanya dengan pelan “Jadi kumaha A, rek diteruskeun?”
(“Jadi bagaimana A, mau diteruskan?”)

“Ya..sudah kita terus saja, masa sudah sejauh ini mau balik kanan. Kita lihat saja mudah-mudahan ada yang menarik.” kata saya menjawab Ivan.