CHAPTER #1 MAUNG BODAS & POHON KABOA

Menyebut Leuweung Sancang di pikiran saya yang terbayang adalah 2 hal mistis yaitu, hal pertama adalah sebuah hutan larangan yang terletak di tepi laut kidul tempat ngahiangnya Kanjeng Gusti Prabu Siliwangi dan pasukannya lalu berubah menjadi “maung bodas” sesaat setelah pertempurannya dengan putra kandungnya sendiri yaitu Kian Santang sehingga di Leuweung Sancang dipercaya masih ada berkeliaran “maung bodas” .Dan hal yang kedua adalah tentang pohon Kaboa sebuah pohon yang keramat, pohon yang jika dibuat jadi “iteuk” atau tongkat akan mempunyai kesaktian yaitu bisa  mengeluarkan “maung bodas” jejadian.
 
Leuweung Sancang (foto istimewa :hellomotion.com)

Cerita super mistis mewarnai masa kecil saya di kampung, dimalam hari setelah pulang mengaji dari mesjid, sembari memijat kaki dan punggungnya aki. Bahkan saking sakralnya cerita ini, kata “maung” tidak pernah aki ucapkan dan di ganti dengan kata “ucing gede”. Bahkan saya dilarang menyebut “maung” yang konon jika sembarangan diucapkan akan mengundang kehadiran sang “maung bodas”.

Prabu Siliwangi dan maung pengawalnya, (Foto Istimewa historyofcirebon.co.id)

 
Pohon Kaboa (Foto Istimewa : herwiratno.blogspot.com)

Bagaimana? Cerita yang luar biasa bukan?

Dan cerita itu begitu membekas di alam bawah sadar saya dan berharap suatu waktu bisa mengunjungi Leuweung Sancang. Dan akhirnya “mimpi” itu  terwujud setelah saya dengan tim (sekitar 5 orang yang mempunyai minat yang sama untuk “nyukcruk galur nu kapungkur”) berencana untuk mengunjungi tempat sakral nan keramat ini. Saya bahkan berangkat dari rumah dengan harapan akan bertemu dengan “maung bodas” dan berniat untuk membawa pohon kaboa untuk akan dijadkan “iteuk”.

Hari itu tanggal 29 September 2019, saya dengan tim berangkat dari Bandung sekitar jam 8 malam dengan harapan akan sampai di Leuweung Sancang yang berada di ujung selatan Garut, menjelang pagi dan benar saja sesuai perkiraan kami menjelang jam 3 pagi  mobil mulai memasuki area leuweung Sancang ditandai dengan adanya plang penunjuk wilayah. Saya mencoba “sabisa-bisa” untuk bisa merasakan aura mistis yang sejak kecil saya impikan tapi sayang walaupun sudah “tipepereket” tapi “aura” itu tak kunjung terasa. Bahkan saya mencoba untuk “nyambat” Kanjeng Gusti Prabu Siliwangi untuk sekedar memberi tahu kalau ada “fans” beratnya beliau datang tapi keneh kehed, tidak ada getaran mistis yang terasa.

“Waduh…koq “sepi” begini?” pikir saya.

Akhirnya saya dan tim memutuskan untuk “reureuh” di sebuah warung yang berada di pinggir hutan karet. Hutan Karet ini  (menurut c Akang penjaga warung) sudah termasuk wilayah Sancang I yang dianggap sebagai pembuka menuju ke Leuweung Sancang 7 area paling “sanget” di dekat pantai. Harapan saya untuk mendapatkan pengalaman bertemu sang tokoh idola pun mulai muncul lagi.

“Hmm..mungkin seperti juga Baduy, ada Baduy Luar dan Baduy Dalam, jadi ini adalah Sancang Luar. Mungkin saja aura mistisnya belum terlalu kuat” kata saya menyemangati tim dan diri sendiri.