PUTRI MATARAM PEMIKAT HATI PANGERAN ANGKAWIJAYA

Cikal bakal kerajaan Sumedang Larang adalah Kerajaan Tembong Agung yang berdiri tahun 900M dan didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata putera bungsu Maharaja Galuh sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pakuan, Pajajaran. Lalu nama Kerajaan berubah menjadi Kerajaan Himbar Buana saat masa pemerintahan Prabu Tajimalela di tahun 950M. Tak lama kemudian Prabu Tajimalela merubah lagi nama kerajaan menjadi Kerajaa Sumedang Larang yang berasal dari ucapan Prabu Tajimalela yaitu Insun medal Insun madangan yang berarti Aku dilahirkan Aku Menerangi. Jadi Kerajaan Sumedang Larang berarti Aku Menerangi (insun madangan) dan tidak ada tandingannya (Larang).

Memasuki abad ke-15 pengaruh islam semakin kuat dengan didirikannya Kesultanan Cirebon oleh Pangeran Walangsungsang, hal ini berimbas kepada semua kerajaan kecil disekitarnya termasuk Kerajaan Sumedang Larang. Di samping wilayahnya yang memang berbatasan langsung, juga karena pengaruh nama besar Sri Baduga Maharaja Kanjeng Gusti Prabu Siliwangi yang merupakan ayahanda dari Pangeran Walangsungsang membuat Kerajaan Sumedang Larang sangat menghormati Kesultanan Cirebon. Bahkan di tahun 1529, penguasa Sumedang Larang Nyimas Ratu Dewi Inten Dewata yang bergelar Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Santri, cucu dari Pangeran Panjunan salah satu bangsawan dari Kesultanan Cirebon. Pernikahan ini membawa perubahan yang sangat besar ke dalam kehidupan di Kerajaan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun setelah menikah dengan Pangeran Santri akhirnya memeluk agama Islam dan menyerahkan pimpinan Kerajaan kepada suaminya serta merubah namanya menjadi Nyimas Setyasih.

Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri melahirkan seorang putra mahkota yang sangat tampan dan gagah bernama Pangeran Angkawijaya. Pangeran Angkawijaya dibesarkan dalam lingkungan keraton dengan pendidikan Islam yang sangat kuat. Bahkan untuk memperdalam ilmu agama Islam, Pangeran Santri mengirim Pangeran Angkawijaya ke Kesultanan Pajang di daerah Surakarta untuk belajar agama Islam. Selama lebih dari 5 tahun Pangeran Angkawijaya digembleng ilmu keagaaman di Kerajaan Pajang yang merupakan pusat agama islam di pulau Jawa pasca runtuhnya kerajaan Demak.

Namun di tahun 1580, Pangeran Angkawijaya diminta kembali ke Sumedang Larang oleh Pangeran Santri karena kedatangan empat orang utusan dari Prabu Surya Kencana yang mewariskannya Makuta Binokasih Sanghyang Pake yang melambangkan bahwa Pangeran Angka Wijaya sebagai penerus trah Kerajaan Pajajaran.

Setelah menerima kabar bahwa dirinya diminta segera pulang ke Sumedang Larang, Pangeran Angkawijaya segera menghadap Sultan Hadiwijaya penguasa Kesultanan Pajang untuk berpamitan.

“Ampun sinuwun Kanjeng Sultan, hamba mohon pamit untuk kembali ke Sumedang Larang” kata Pangeran Angkawijaya yang bersimpuh di hadapan Sultan Hadiwijaya sambil menundukkan kepalanya.

Sultan Hadiwijaya berdiri dari singgasananya tersenyum sambil menarik bahu Pangeran Angkawijaya untuk berdiri,

“Anak muda, berdirilah. Aku sudah mendengar kabar tentang kedatangan utusan Pajajaran kepada ayahmu.” ujar Sultan Hadiwijaya sambil menepuk-nepuk bahu Pangeran Angkawijaya.

“Ampun sinuwun Kanjeng Sultan, sebenarnya hamba berat untuk meninggalkan Pajang karena hamba merasa ilmu keagamaan hamba belum cukup” kata Pangeran Angkawijaya sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Entah mengapa Pangeran Angkawijaya merasa bahwa Sultan Hadiwijaya tidak menyukai keputusannya untuk kembali ke Sumedang Larang.

“Semua keputusan ada ditanganmu anak muda, apakah kamu siap meninggalkan Pajang dengan ilmu agama yang menurutmu sendiri masih kurang?” tanya Sultan Hadiwijaya sambil menatap tajam kepada Pangeran Angkawijaya.

“Ampun sinuwun Kanjeng Sultan, hamba berjanji setelah semua urusan di Sumedang Larang selesai, hamba akan kembali untuk belajar” lirih Pangeran Angkawijaya menjawab.

“Kembali untuk belajar agama atau untuk menikahi gadis dari Mataram?” tanya Sultan Hadiwijaya sambil tersenyum.

Dhuaaarr…entah kenapa ucapan terakhir Sultan Hadiwijaya terasa seperti menampar muka dan menusuk hatinya, dengan muka memerah Pangeran Angkawijaya memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Sultan Hadiwijaya.

“Sudahlah anak muda, lebih baik kau segera berangkat dan sampaikan salamku pada ayahmu” kata Sultan Hadiwijaya.

“Hamba mohon pamit undur dari hadapan sinuwun Kanjeng Sultan, semoga hamba bisa segera kembali ke sini” kata Pangeran Angkawijaya sambil membungkukkan badannya.

Putri Mataram Pemikat Hati Sang Pangeran (Ilustasi ist. www.tautan.pro)

 
Sekeluarnya dari Keraton Pajang, Pangeran Angkawijaya segera menaiki kuda hitamnya dan memacunya ke arah barat menuju ke Kerajaan Sumedang Larang. Setelah menempuh perjalanan hampir dua hari dua malam, akhirnya Pangeran Angkawijaya sampai di Keraton Sumedang Larang dan langsung menuju ke Kaputren tempat ibunya yaitu Nyimas Setyasih. Ibundanya sangat senang dengan kehadiran putra semata wayangnya,

“Euleuh…utun anaking, rupanya dirimu telah tiba” sambut Nyimas Setyasih dengan menahan tangisnya saking menahan haru karena sudah hampir lima tahun tidak pernah bertemu Pangeran Angkawijaya.

“Ambu..maafkan anakmu yang lama tidak menjumpaimu” kata Pangeran Angkawijaya sambil memeluk erat ibunya.

Mereka berpelukan cukup lama saling melepas rindu,

“Anaking, malam ini kamu bermalam di sini saja, ambu akan masakan yang lezat-lezat untukmu. Ambu juga ingin mendengar cerita pengalamanmu selama di Pajang” kata Nyimas Setyasih sambil melepaskan pelukannya.

Malam itu Pangeran Angkawijaya bermalam di Kaputren Nyimas Setyasih, sampai jauh malam mereka mereka berbincang melepas rindu. Pangeran Angkawijaya bercerita betapa senangnya dia belajar agama Islam di Kesultanan Pajang dan satu saat dia ingin kembali ke Kesultanan Pajang. Nyimas Setyasih yang sangat mengenal sifat anaknya diam-diam merasakan merasa ada sesuatu yang membuat anaknya begitu bersemangat,
 “Apakah ada seorang wanita yang membuat anakku begitu bahagia di Pajang” batinnya.

Dipandanginya wajah anak kesayangannya dalam-dalam, Pangeran Angkawijaya merasa jengah dan bertanya,

“Ada apa Ambu, kenapa menatapku seperti itu” tanya Pangeran Angkawijaya sambil salah tingkah.

“Anaking…apakah ada seorang putri yang telah mencuri hatimu sehingga kau ingin kembali ke Kesultanan Pajang?” tanya Nyimas Setyasih lembut.

Wajah Pangeran Angkawijaya memerah tidak menyangka ibunya akan bisa membaca isi hatinya, sambil tersipu-sipu dia menjawab,

“Iya Ambu, ada seorang Putri dari Mataram yang membuat aku jatuh hati dan kalau Ambu setuju aku berniat untuk mempersuntingnya” jawab Pangeran Angkawijaya bergetar karena malu kepada ibunya.

“Tentu aku setuju, selama menurutmu putri itu baik dan cocok untukmu, setelah urusan dengan ayah dan utusan dari Pajajaran selesai, segeralah kau lamar dia” kata Nyimas Setyasih.

Pangeran Angkawijaya merasa sangat senang tidak menyangka bahwa ibunya akan menyetujui begitu saja putri pilihan hatinya, di cium tangan ibunya sambil berkata,

“Terima kasih Ambu, aku yakin tidak akan mengecewakanmu”.

“Sekarang sudah lewat tengah malam, istirahatlah besok kau temui ayahmu di pendopo keraton” kata Nyimas Setyasih sambil tersenyum.

Baca juga : Perlawanan terakhir ksatria Pajajaran #3