MAKUTA BINOKASIH SANGHYANG PAKE

Seiring dengan masuknya agama Islam di abad ke-15 maka pamor Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh) makin memudar terutama setelah Kesultanan Banten di bagian barat dan Kesultanan Cirebon di bagian timur menyatakan merdeka dan tidak mau lagi berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh Sunda.

Tentu hal ini sangat ironis karena Kesultanan Cirebon didirikan oleh Pangeran Walangsungang yang merupakan anak dari Sri Baduga Maharaja Kanjeng Gusti Prabu Siliwangi dan Kesultanan Banten didirikan oleh  Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati  putra dari Dewi Rara Santang (adik Walangsungsang)  dan anaknya, Hasanuddin. Mereka berhasil merebut Banten setelah memanfaatkan wafatnya penguasa Banten yang dikenal dengan nama "Sanghyang", bersama-sama pasukan Demak mereka mengalahkan pasukan Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh) yang ada di Banten. Miris Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh) dihancurkan oleh anak dan cucunya Sri Baduga Maharaja Kanjeng Gusti Prabu Siliwangi!!!

Ibukota Pakuan Pajajaran (illustrasi istimewa www.alchetro.com)

 
Pada tahun 1579, Kesultanan Banten di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin dan anaknya Maulana Yusuf meruntuhkan sisa-sisa kejayaan Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh) setelah berhasil menghancurkan pasukan Prabu Surya Kancana di tempat pengasingannya di daerah Pandeglang. Selain itu Kesultanan Banten juga merampas PALANGKA SRIMAN SRIWACANA (batu tempat penobatan raja-raja Sunda Galuh) dan dibawanya ke Kesultanan Banten. Maulana Yusuf merasa berhak karena merasa masih ada garis keturunan dari buyut perempuannya yaitu Dewi Rara Santang yang merupakan putri Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh).

Namun seperti sikap semua Ksatria Pajajaran lainnya, mereka lebih baik ancur lebur tutumpuran daripada harus serah bongkokkan kepada musuh, Prabu Surya Kancana memutuskan untuk ngahiang, namun sebelum itu dia sempat memerintahkan 4 orang abdi dalem atau Kandaga Lante yaitu bangsawan kerajaan setingkat bupati yang sangat dipercayainya untuk menyelamatkan mahkota raja Pajajaran (Sunda Galuh) yaitu MAKUTA BINOKASIH SANGHYANG PAKE. Keempat orang itu adalah Batara Sang Hyang Hawu (lebih dikenal dengan Embah Jaya Perkasa), Batara Pancar Buana (Eyang Terong Peot), Batara Dipati Wiradjaya (Nganganan) dan Batara Sang Hyang Kondang Hapa.
Saat itu Prabu Surya Kancana yang terluka parah akibat peperangan dibawa menyingkir oleh empat orang Kandaga Lante dari arena pertempuran ke hutan pedalaman di daerah Pandeglang. Diantara cucuran darah yang membasahi seluruh tubuhnya, Prabu Surya Kancana meminta empat orang kepercayaannya untuk berhenti di pinggir sebuah sungai yang sangat teduh, Salah satu Kandaga Lante yaitu Batara Sang Hyang Hawu membimbing Prabu Surya Kancana untuk duduk di bawah sebuah pohon besar sedangkan ketiga Kandaga Lante lainnya segera berpencar untuk mengawasi keadaan karena khawatir musuh akan mengejar.

“Batara Sang Hyang Hawu, aku merasa bahwa kita tidak tidak akan bertahan, aku sudah tidak lagi mengenali mana kawan mana lawan” ujar sang Prabu sambil menahan sakit.

“Benar Gusti Prabu junjunganku, banyak dari pemimpin pasukan kita yang berkhianat. Mohon maafkan hamba yang tidak mampu menjaga kehormatan Gusti Prabu dan  Kerajaan” balas Batara Sang Hyang Hawu lirih menahan beban amarah didadanya.

“Sudahlah Batara, ini sudah kehendak Sang Hyang Widi dan sebagai makhluk kita hanya bisa menerimanya. Hanya satu permintaanku kepadamu Batara sebelum kita berpisah” ujar Prabu Surya Kancana lirih.

“Apapun perintahmu Gusti Prabu, akan saya laksanakan dengan jiwa saya sebagai taruhannya” jawab Batara Sang Hyang Hawu lantang.

“Aku perintahkan engkau wahai Batara kepercayaanku untuk membawa Makuta ini ke Kerajaan Sumedang Larang dan temuilah Nalendra Pangeran Kusumadinata. Sampaikan kepadanya bahwa Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh) sudah runtuh dan aku meminta anaknya yang bernama Pangeran Angkawijaya untuk meneruskan trah Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh)” perintah Prabu Surya Kancana pelan tapi tegas.

“Baiklah Gusti Prabu, hamba akan segera mempersiapkan segalanya untuk kita berangkat ke Kerajaan Sumedang Larang. Tapi sebelum itu, ijinkanlah hamba mengobati Gusti Prabu” jawab Batara Sang Hyang Hawu.

Prabu Surya Kancana tersenyum dan menggelengkan kepalanya,

“Tidak Batara, aku tidak perlu kau obati dan aku tidak akan ikut. Aku ingin segera meninggalkan Bwana Panca Tengah yang kian tidak karuan ini. Dirimu berangkatlah bersama Batara Pancar Buana, Batara Dipati Wiradjaya dan Batara Sang Hyang Kondang Hapa” ujar Prabu Surya Kancana.

Batara Sang Hyang Hawu tertunduk sedih karena berarti inilah pertemuan terakhirnya dengan Prabu Surya Kancana yang sangat dicintai dan dihormatinya. Seketika dadanya dipenuhi dendam dan kebencian kepada Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon yang dianggapnya sebagai keturunan keluarga  kerajaan yang telah durhaka dan berkhianat kepada Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh).

“Baiklah Gusti Prabu, hamba akan menjalankan semua titahmu, tapi sebelum itu, ijinkan hamba untuk kembali ke medan pertempuran. Akan hamba hancurkan semua pasukan Banten dan pasukan kita yang telah berkhianat” ujar Batara Sang Hyang Hawu, suaranya bergetar menahan sedih dan amarah yang membuncah didadanya.

Tidak Batara, kau tidak aku ijinkan untuk kembali ke medan pertempuran. Aku tahu karena dirimu menghormati darah karuhun Siliwangi yang ada di Kesultanan banten, kau tidak mau mengeluarkan semua kesaktianmu untuk melawan Maulana Yusuf. Tapi sudahlah, ini kehendak Sang Hyang Widi. Lebih baik kau segera berkemas untuk berangkat ke Kerajaan Sumedang Larang” ujar Prabu Surya Kancana.

“Dan ingat, kalian jagalah Pangeran Angkawijaya seperti kalian menjagaku. Setelah dia menjadi raja Pajajaran yang baru berilah dia gelar Prabu Geusan Ulun” sambung Prabu Surya Kancana.

Selesai berkata demikian, Prabu Surya Kancana melepaskan Makuta Binokasih Sanghyang Pake dari kepalanya lalu menyerahkannya kepada Batara Sang Hyang Hawu.

“Sekarang panggil Batara Pancar Buana, Batara Dipati Wiradjaya dan Batara Sang Hyang Kondang Hapa ke sini” ujar Prabu Surya Kancana.

Setelah menerima Makuta Binokasih Sanghyang Pake dari tangan Prabu Surya Kancana, Batara Sang Hyang Hawu segera membuka baju dan membungkus mahkota tersebut dengan bajunya dan meletakkannya di hadapan Prabu Surya Kancana. Setelah itu, Batara Sang Hyang Hawu memberi kode dengan suitan kepada ketiga teman Kandaga Lante lainnya yang sedang berjaga-jaga.

Sekejap kemudian melayang turun dari atas pohon dari seberang sungai tiga bayangan yang tidak lain adalah Batara Pancar Buana, Batara Dipati Wiradjaya dan Batara Sang Hyang Kondang Hapa. Ketiganya segera duduk di belakang Batara Sang Hyang Hawu sambil mengangkat kedua tangannya sebagai tanda hormat untuk Prabu Surya Kancana.

Prabu Surya Kencana tersenyum lalu berkata,

“Wahai ketiga abdiku, aku sangat menyayangi kalian seperti aku menyayangi Batara Sang Hyang Hawu, Kalian berempat adalah abdi yang sangat setia, aku sudah menjelaskan semuanya kepada Batara Sang Hyang Hawu dan aku harap kalian menuruti semua perintahnya seperti kalian menuruti perintahku”.

“Sembah dalem Gusti Prabu, kami akan menjalankan semua titahmu” jawab ketiganya hampir bersamaan.

“Terima kasih atas pengabdian kalian berempat, aku akan segera pergi ke swargaloka menghadap Sang Hyang Widi. Aku harap jika saatnya tiba kita akan segera bertemu di swargaloka” kata Prabu Surya Kencana.

Lalu Prabu Surya Kancana memejamkan kedua matanya dan tiba-tiba keajaiban terjadi, luka-luka di sekujur tubuhnya mendadak kering, sisa-sisa darah perlahan-lahan menghilang. Tubuh Prabu Surya Kancana terlihat kembali bersih, luka-luka ditubuhnya hilang dan kemudian sekelebat cahaya dari langit menyambar tubuh sang Prabu dan…….hilang tanpa karana.

Keempat Kandaga Lante menyadari bahwa Prabu Surya Kancana sudah ngahiang, moksa dan kembali ke swargaloka. Keempatnya segera menjura ke arah hilangnya sang Prabu dan setelah Batara Sang Hyang hawu menjelaskan semua perintah sang Prabu kepada ketiga Kandaga Lante lain, mereka bergegas meninggalkan tempat itu.

Batara Sang Hyang Hawu, Batara Pancar Buana, Batara Dipati Wiradjaya dan Batara Sang Hyang Kondang Hapa berjalan ke arah timur menuju ke Kerajaan Sumedang Larang.

Baca juga : Perlawanan Terakhir Ksatria Pajajaran #3