DITOLAKNYA HASRAT SANG PUTRI AJENG LARANG SAKEAN KILAT BANCANA

Karena tak kuat lagi menahan rindu kepada sang bunda, akhirnya Bujangga Manik memutuskan untuk kembali ke Pakancilan di Dayeuh Pakuan. Dari pelabuhan (sungai) di Pemalang, Bujangga Manik menumpang kapal yang akan kembali ke Malaka.

Bujangga Manik berlayar kurang lebih selama 15 hari dari pelabuhan Pamalang menuju ke Pelabuhan Kalapa. Sesampainya di Pelabuhan Kalapa, Bujangga Manik merasa menjadi sudah menjadi seorang pelayar yang gagah, sehingga menyebut dirinya sebagai Ameng Layaran…sebuah pencarian identitas seorang anak muda.

Ngaraning Ameng Layaran/Namaku Ameng Layaran
Undur aing ti parahu/Saya meninggalkan perahu

Selepas dari pelabuhan Kalapa, Bujangga Manik melanjutkan perjalananya dengan berjalan kaki menuju Pakancilan di Dayeuh Pakuan. Setibanya di Pakancilan, Bujangga Manik langsung membuka pintu gerbang dan menuju ke kaputren ibunya.

Sacunduk aing ka Batur/Setelah saya sampai di Batur
Sadatang aing ka Pakancilan/Setiba saya di Pakancilan
Mukakeun panto kowari/Membuka pintu gerbang
Ngahusir ka lamin ading/Menuju ke kaputren
Lamin ading pancatulis/Kaputren yang dihias dengan baik

Setibanya di depan kaputren, saking rindunya kepada sang ibu , Bujangga Manik bergegas menaiki tangga dan menerobos masuk. Di dalam kaputren dilihatnya sang ibu sedang menenun kain yang sangat indah.
Betapa terkejut dan bahagianya sang ibu melihat kedatangan putra kesayangan, sang ibu menghambur dan melepaskan tenunannya, setengah berlari menuju ke arah Bujangga Manik.

Saur ambuing sakini/Kata ibuku
Itu ta eugeun si utun/Itu anak laki-lakiku
Ayeuna cunduk ti timur/Sekarang telah datang dari timur
Datangna ti Rabut Palah/Datangnya dari Rabut Palah

Berita kembalinya Bujangga Manik ke istana telah menyebar ke seluruh Dayeuh Pakuan, banyak orang yang penasaran dengan kembalinya sang tohaan dari petualangannya ke daerah timur.
Salah satunya adalah seorang putri bangsawan dari istana Padjadjaran bernama Ajeng Larang Sakean Kilat Bancana yang sedang menginjak remaja, usia ranum-ranumnya seorang gadis mendambakan seorang pria. Tapi sebagai seorang putri bangsawan, tentu saja Ajeng Larang tidak mungkin jika langsung mendatangi keputren Bujangga Manik. Apa kata orangtuanya, apa kata dunia jika dia lancang mendatangi seorang tohaan, sehingga dia memendam rasa penasarannya. Namun rasa penasaran yang semakin kuat membuat sang putri berfikir untuk mencari cara lain supaya bisa mengetahui sosok sang tohaan petualang. Dipanggilnya salah satu emban kepercayaannya yang bernama Jompo Larang lalu sang putri berkata,

“Jompong, mau kah engkau menolongku” kata sang putri memelas.
“Ada apa gerangan wahai putri cantik junjunganku, apapun titahmu akan aku laksanakan” jawab Jompo Larang.
“Tapi aku mohon agar hal ini dirahasiakan, aku tidak ingin ada orang lain tahu” kata sang putri lagi setengah berbisik.
“Aku ingin tahu, tentang tohaan yang baru kembali dari timur” bisik sang putri dengan muka yang memerah.
Jompo Larang tersenyum dengan berbisik pula dia menjawab,
“Baik putri junjunganku nan cantik, sekarang juga hamba akan menuju ke keputren ibunya tohaan Jaya Pakuan”

Bergegas Jompo Larang menuju ke kaputren ibunya tohaan Jaya Pakuan (Bujangga Manik). Sesampai di depan kaputren, pelan-pelan Jompo Larang membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam halaman kaputren. Kemudian dengan mengendap-ngendap Jompong Larang mendekati ruang tamu kaputren dan mencoba mengintip ke dalam dan betapa terpesonanya dia melihat tohaan Jaya Pakuan (Bujangga Manik) yang sedang duduk sidendang di atas bangku dipan sambil mengunyah pinang.

Setengah bergumam Jompo Larang berkata “Duh, aya ku gagah eta tohaan, badannya tegap, mukanya bersih dan sangat tampan”
Kemudian dengan bergegas Jompong Larang kembali meninggalkan kaputren ibunya tohaan Jaya Pakuan (Bujangga Manik) dan setengah berlari menuju ke istana putri Ajeng Larang. Sesampainya di gerbang istana dia terus berjalan menuju ke paviliun putri Ajeng Larang dan dilihatnya sang putri sedang menenun. Saking asyiknya menenun sampai tidak menyadari bahwa sebagian pakaiannya terbuka di daerah pinggang dan dadanya yang kelihatan membusung ranum.

Bujangga Manik & Putri Ajeng Larang Sakean Kilat Bancana


Putri Ajeng Larang melirik kedatangan Jompo Larang dengan sudut matanya, menengokkan dan melihat lalu menatap dengan seksama. Dengan tergesa-gesa Jompo Larang menaiki tangga lalu emok di atas lantai dan dengan sopan mengangkat jari jemarinya ke atas untuk memberikan penghormaan kepada putri Ajeng Larang.
Setelah putri Ajeng Larang memberi tanda untuk mulai bicara, Jompong Larang berkata, “Wahai sang putri cantik junjunganku, hasil pengamatanku kepada tohaan Jaya Pakuan, sangatlah indah, sangatlah tampan..hamba pikir akan sepadan dengan salira”

Putri Ajeng Larang yang mendengar laporan sang emban, merasa sangat senang, hatinya berbunga-bunga dan wajahnya memerah dadu. Sungguh kelihatan semakin cantik saat sang putri merasa jatuh cinta, siapapun laki-laki yang melihat sang putri saat itu nisaya akan tergoda.

“Benarkah itu tohaan Jaya Pakuan?” tanya sang putri malu-malu.
“Benar tuan putri, namun setelah perjalanan dari timur dia merubah namanya menjadi Bujangga Manik atau Ameng layaran. Dia seorang tohaan yang sangat tampan, lebih tampan dari semua ksatria di sini bahkan lebih tampan dari Silih Wangi” cerocos Jompong Larang.

“Teruskan ceritamu Jompong Larang” kata putri Ajeng Larangan.
Jompong Larang yang mengetahui bahwa putri junjungannya sangat tertarik dengan tohaan Jaya Pakuan meneruskan ceritanya dengan mimik wajah yang genit.

“Tohaan Jaya Pakuan adalah sosok lelaki tinggi dan idaman, sangat cocok untuk dipeluk dan dibelai di beranda, untuk ditimag-timang di ranjang dan dirangkul di ruang tidur” kata Jompo Larang sambil setengah memejamkan matanya seolah membayangkan sosok sang tohaan.

Mendengar cerita Jompo Larang, putri Ajeng Larang langsung membayangkan ketampanan dan gagahnya sang tohaan. Dia merasa terbakar karena cinta, nafsunya mulai tidak terkendali, diletakkannya kain tenunan karena terasa ada beban berat  di antara pahanya dan sesuatu seperti mengalir dari telapak kakinya. Lalu putri Ajeng Larang bangkit dari duduknya lalu berjalan masuk ke kamar meninggalkan Jompo Larang yang masih ngadeprok di lantai.

Sesampainya di kamar, putri Ajeng Larang langsung naik ke tempat tidurnya dan mengambil peti yang tersimpan di ujung dan membukanya. Dari dalam peti diambilnya sebuah baki yang sangat indah. Kemudian baki tersebut diletakkannya di atas meja di pojok kamar tidurnya kemudian siapkannya beberapa buah pinang terbaik, daun sirih dan kapur dari luar negeri yang didatangkan oleh nakhoda. Disusunnya semua itu diatas baki, disusun dengan sangat hati-hati dan ditutupinya dengan kain khusus untuk upacara. Ada benda-banda lain: Ditambah bedak dari batu kapur, guci penuh wewangian kayu cendana, bunga yang masih baru di jambangan, zat kelenjar rusa jantan dan majakani, jaksi dan kamisadi, jaksi pandan dan kemenyan, dua cabang wijen, diperciki dengan air mawar, narawastu agur-agur, semuanya dari seberang lautan. Seolah belum puas denga  barang-barang yang sedemikian banyak dan mahal, dicari tas besar miliknya, diambilnya pakaian lemur, ikat pinggang dengan gambar wayang, sebilah keris malela, semua benda itu menakjubkan.

Kemudian dibawanya semua barang-barang bagus dan mahal tersebut ke luar kamar lalu berkata kepada Jompong Larangan yang masih andeprok di lantai paviliun.

“Jompong kembalilah ke tempat tohaan, bawalah barang-barang ini dan sampikan kepada ibunya tohaan sebagai hadiah dariku, Putri Ajeng Larang Dan jika mereka berkenan menerima maka aku aka datang sendiri”

Mendengar perintah putri Ajeng Larang, segera Jompong Larang bergegas menuju ke kaputren ibunya tohaan Jaya pakuan, berjaan dengan peti di atas kepalanya, baki berisi pinang di tangan kirinya dan pakaian serta kain di tangan kanannya. Setibanya di kaputren, Jompo Larang segera menuju ke beranda dan dilihatnya sang ibu tohaan sedang duduk di atas matras. Sang ibu mulia ini menatap Jompong Larang yang mamng sudah dikenalnya sebagai emban istana dan bertanya,
“Hai..Jompong, apa gerangan yang membawamu ke sini dan apa yang kau bawa itu?”
“Cepatlah kau naik kemari wahai Jompong” sambung sang ibu mulia ramah.

Jompong Larang segara naik ke atas teras dan mempersembahkan semua bawaanya kepada sang ibu mulia. Sang ibu mulia menyambutnya dan menerima semua bawaan Jompo Larang sambil bertanya,
“Wahai..Jompong, persembahan apa ini dan dari siapa?”.

Sebelum menjawab, Jompo Larang dengan sopan menunjukkan jari jemarinya ke atas sebagai bentuk penghormatan lalu andeprok emok di hadapan sang ibu mulia.

“Hamba mohon ampun wahai ibu mulia, hamba diperintahkan oleh putri Ajeng Larang Sakean Kilat Bancana dari istana untuk mempersembahkan bawaan sebagai tanda bakti. Dan jika ibu mulia berkenan untuk menerimanya, sang putri sendiri yang akan datang ke sini” kata Jompong Larang sambil menunduk.

Sang ibu mulia lalu berdiri dan berjalan menuju ke dalam kaptren sambil berkata, “Baiklah, aku akan tanya langsung kepada anak kesayanganku, kau tunggulah di sini Jompong”.

Di dalam kaputren dilihatnya sang putra kesayangan, tohaan Jaya Pakuan (Bujangga manik), sedang membaca kitab dan segera meletakkannya begitu dilihat kedatangan ibunya. Ibunya tersenyum lalu berkata,
“Tohaan kesayangan ibu, di luar ada Jompo Larang membawa persembahan untukmu dari putri Ajeng Larang Sakean Kilat Bancana”.

Tohaan Jaya Pakuan terkejut mendengar ada persembahan dari seorang putri untuk dirinya,karena semua persembahan itu melambangkan sebuah hasrat dan nafsu sang putri kepadanya. Tidak akan seorang putri merendahkan dirinya untuk mengirimkan sesembahan untuk seorang laki-laki jika tidak ada hasrat yang terbendung. Lalu tohaan berkata kepada ibunya,
“Ambuing..ibu mulia, ibu tersayang, mana mungkin aku bisa menerima sebuah sesembahan yang menuntut aku unuk memenuhi hasrat sang putri? Aku bukanlah laki-laki semacam itu”.

Ibunya lalu berkata lagi dengan memelas,
“Anakku, janganlah kau menolaknya..kasihanilah sang putri, jika engkau mau menerimanya maka akan banyak lagi yang diberikannya”.
“Jika engkau mau menerimanya, maka sang putri akan datang sendiri ke sini dan memberikan dirinya untukmu, akan melayang seperti elang, menerkam seperti harimau dan akan melayanimu sebagai kekasih” sambung ibunya merayu sang tohaan.

Melihat anak kesayangannya hanya termenung, sang ibu kembali meneruskan ucapannya,
Mungkin kau tidak tahu, Sang Putri rupawan berkulit indah bercahaya, tubuh molek dan perilaku baik, selain cantik juga memunyai keahlian, terlindungi dengan baik dan tak dapat dikalahkan, rambut bewarna hitam kebiru-biruan, berilmu tanpa diajarkan, cantik dari sejak lahir, adil sejak dikeluarkan dari kandungan, dia tidak ada tandingannya”.

Mendengar perkataan sang ibu mulia yang sangat dihormati dan disayanginya, tohaan muda ini berkata,
“Ambuing..ibuku tersayang, tidak boleh kau ucapkan perkataan seperti itu, pamali. Lebih baik kita kembalikan saja sesembahan itu kepada sang putri”
“Aku lebih mencintai apa yang telah aku dapakan dari ibadah, petunjuk guruku dan petunjuk orang bijak” sambung sang tohaan.

Sang ibu tampak kecewa atas penolakkan sang putra kesayangan terhadap kasih sayang yang ditunjukkan oleh putri Ajeng Larang dari istana.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” lirih suara sang ibu hampir menangis.

“Kalau ibu mulia mau mendengar kata-kataku, pergilah bersama Jompong Larang ke istana untuk menemui putri Ajeng Larang, sampaikan dengan benar pesanku bahwa aku tidak tertarik dengan kehidupan duniawi semoga sang putri mau menerima dan tidak menjadi sakit hati” kata sang tohaan kepada sang ibu mulia.

Baca juga : Bujangga Manik, solo traveler dari abad XV #3