SOLO TRAVELER DARI PAKUAN PAJAJARAN

Jauh sebelum “Solo Traveler” menjadi trend dan gaya hidup di masa sekarang ini, sekitar 500 tahun yang lalu Pangeran Jaya Pakuan a.k.a Bujangga Manik seorang bangsawan dari Kerajaan Pajajaran telah melakukannya yaitu dari Pakancilan di Dayeuh Pakuan, Ibukota Kerajaan Pajajaran, menyusuri Pulau Djawa menuju Pulau Bali.

Rute perjalanan Bujangga Manik menurut J. Noordyun

 
Kisah perjalanan ini di tuliskan oleh Bujangga Manik di atas daun nipah sebanyak 29 lembar yang masing-masing  memuat 56 baris dalam bentuk seperti puisi dalam larik delapan suku kata. Sejak tahun 1627 atau 1629, naskah kuno Bujangga Manik ini tersimpan di perpustakaan Bodleian di Oxford Inggris. Andai hidup di masa sekarang, mungkin saja jika Bujangga Manik menjadikan kisah perjalanannya menjadi content youtube akan menyaingi kepopuleran Atta Gledekwho knows right?
Bujangga Manik adalah termasuk bangsawan yang berjiwa pemberontak dan petualang, mungkin zodiaknya Aries atau Gemini, bayangkan saja saat itu kondisi Dayeuh Pakuan Pajajaran dalam puncak kemakmuran secara ekonomi. Para bangsawan bisa hidup bermewah-mewahan ataupun mengadakan pesta sindenan yang setiap malam tapi dia tidak tertarik untuk melakukannya. Bujangga manik merasa passionnya bukan disitu, Bujangga Manik lebih memilih hidup sebagai traveler yang bebas dari segala aturan kerajaan.

Pangeran Jaya Pakuan a.k.a Bujangga Manik (illustrasi penulis)


Pada sekitar tahun 1490-an adalah masa keemasan Kerajaan Sunda Galuh di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja , Bujangga Manik memutuskan untuk meninggalkan keraton dan memulai perjalanan untuk memuaskan jiwa petualangannya dan mencari tempat yang akan menjadi peristirahatnnya yang terakhir. Hal ini bisa kita lihat dalam catatannya baris ke 663~667 yang berbunyi,

Nyiar lemah pamasaran/Mencari tanah pekuburan
Nyiar tasik panghanyutan/Mencari situ untuk menghanyutkan
Pigeusanen aing paeh/Tempat aku mati
Pigeusanen nunda raga/Tempat menyimpan raga

See…betapa anti mainstreamnya seorang Bujangga Manik, disaat para bangsawan lain menikmati hidup dengan bersenang-senang, dia lebih memilih untuk mencari tempat yang cocok untuk mati. What a….

Tapi walaupun Bujangga Manik seorang bangsawan yang berjiwa rebel, sesungguhnya dia adalah seorang anak mami yang berhati lembut seputih salju. Sesaat sebelum pergi, Bujangga Manik menangis bersujud sambil memeluk kaki Ambu-nya (ibu), seperti diceritakan di baris ke-15~19,

Ambuing tatanghi tinggal/Ibu segera sadar (ikhlaskan)
Tarik-tarik dibuhaya/(walaupun) Ditarik-tarik oleh buaya
Pawekas pajeueung beunget/(ini tetap akan) Terakhir bertatap muka
Kita, Ambu deung anaking/Kita, Ambu dengan saya
Hengan sapoe ayeuna/Cuma sehari ini

Ini adalah ucapan terakhir Bujangga Manik kepada ibunya yang menyiratkan bahwa dia tidak akan kembali lagi untuk selamanya. Tetapi anak mami tetaplah anak mami, setelah menyusuri jalur utara Jawa dan sampai di Pemalang, Bujangga Manik tak dapat menahan rindu kepada Ambu-nya dan memutuskan untuk kembali ke Pakancilan di Dayeuh Pakuan dengan menumpang kapal dari Pelabuhan Pamalang ke Pelabuhan Sunda karena tidak mau melewati jalan yang sudah pernah ditempuhnya.

Seperti dicatat pada naskah,

Ku ngaing geus kaideran/Oleh saya telah terlewati
Lurah-lirih Majapahit/Wilayah-wilayah di Majapahit
Palataran alas Demak/Daerah di dataran Demak
Sanepi ka Jati Sari/Setiba di Jati Sari
Datang ngaing ka Pamalang/Aku datang ke Pamalang

Lalu dituliskan juga tentang rasa rindu Bujangga Manik ke Ibunya,

Di inya aing teu heubeul/Di situ aku tidak lama
Katineungna ka tuang Ambu/Rasa rindu kepada ibuku
Lawas teuing ditinggalkeun/Terlalu lama ditinggalkan
Tosta geura pulang deui/Aku harus segera pulang
Mumul nyorang urut ngaing/Tidak mau melalui jalan yang sudah kulewati